Tanggal 3 Januari, Terkenang “Kereta Luar Biasa” Bung Karno

Lokomotif tipe C28 yang digunakan menarik rangkaian KLB (Kereta Api Luar Biasa) yang membawa Bung Karno, Bung Hatta, dan lain-lain dari kediaman Pegangsaan menuju Stasiun Tugu Yogyakarta, 2 – 3 Januari 1946. Foto: Roso Daras

AWAL Januari 1946 (72 tahun yang lalu), terjadi peristiwa penting yang kemudian menandai sejarah Indonesia. Seperti banyak dilansir dokumen sejarah, sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Indonesia masih mengalami masa gonjang-ganjing. Pada saat yang sama, kekuatan laskar yang menjadi benteng kemerdekaan juga belum terorganisasi dengan baik. Ditambah, Belanda yang memconceng Sekutu hendak bercokol kembali di bumi Indonesia.

Kliping yang menggambarkan gentingnya suarana kota Jakarta awal tahun 1946. Foto: Roso Daras

Tak pelak, Bung Karno, Bung Hatta dan para pentolan negara menjadi incaran musuh. Teror terjadi di mana-mana. Bahkan pernah satu masa, Bung Karno harus tidur berpindah dari satu rumah ke rumah penduduk. Ini untuk menghindari sergapan tantara bayaran Belanda yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan Bung Karno. Pernah terjadi, sebuah bus dibuat sedemikian rupa sehingga menabrak mobil yang biasa digunakan Bung Karno. Beruntung, Sukarno tidak ada di mobil itu.

Demi situasi kota yang semakin kritis, maka pada tanggal 1 Januari 1946, pimpinan kereta api di Jakarta diperintah langsung dan rahasia oleh Bung Karno agar menyiapkan suatu rangkaian kereta api khusus untuk membawa Presiden, Wakil Presiden, seluruh menteri kabinet dan para pejabat tinggi negara lainnya pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dalam hal ini Balai Yasa Manggarai diserahi tugas untuk mempersiapkan kereta api khusus tersebut dalam waktu secepatnya.

Karikatur yang melukiskan Bung Karno naik mobil kepresidenan sambil mengeluarkan setengah badan dan meneriakkan, “Hidup Jogja!!!” Foto: Roso Daras

Setelah diadakan penelitian oleh Kepala bengkel Hoediono dan wakilnya Ali Noor Ludin, diputuskan menggunakan kereta api khusus inspeksi yang pernah digunakan inspeksi Gubernur Jenderal pada zaman Belanda. Adapun kereta-kereta tersebut meski tidak pernah digunakan lagi sejak tahun 1942, kondisinya masih cukup baik. Masing-masing kereta bergandar empat (4 as) dan menggunakan sistem rem pakem.

Lokomotif yang digunakan menarik rangkaian kereta adalah lokomotif uap seri C28 yang dirancang oleh pabrik Henschel dari Jerman untuk dioperasikan oleh Staatsspoor en Tramwegen (SS & Tr). Spesialisasi lokomotif ini adalah untuk operasi kereta cepat dengan karakter kereta api (KA) commuter. Karena itu sebelum lokomotif listrik beroperasi, komomotif C28 aktif melayani KA commuter rute Jakarta-Bogor. Total sebanyak 58 unit lokomotif yang dipesan dan dioperasikan oleh SS & Ts sejak 1921.

Sejak 1 November 1934, lokomotif C28 dipakai untuk KA ekspres Jakarta-Bandung yang dinamakan “De Vlugge Vier” (empat cepat) dengan waktu tempuh 2 jam 45 menit. Lokomotit C28 juga digunakan untuk menarik KA ekspres Surabaya-Malang yang dinamakan “De Vlugge Vijf” (Lima Cepat). Jarak Surabaya-Malang ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit. Pada rute pegunungan antara Bangil-Malang, kereta ini dihela oleh dua lokomotif C28 (dobel traksi).

Nah, lokomotif inilah (seri C2849) yang digunakan mengungsikan Bung Karno dan Bung Hatta dari Jakarta ke Yogyakarta pada tanggal 3 Januari 1946. Saat ini masih ada 1 unit lokomotif seri C2821 yang menjadi koleksi Museum KA Ambarawa, Jawa Tengah.

Syahdan, perbaikan kereta dikerjakan selama 24 jam tanpa henti dan dilakukan bergantian. Untuk bagian kayu dikerjakan oleh Soemantri dkk. Bagian mesin dikerjakan Ismail dkk. Bagian pegas oleh Ali Noor Nurdin dkk. Ali juga mengerjakan bagian-bagian lain yang berhubungan dengan kereta. Bagian kereta oleh Zahar dkk. Selama masa persiapan, penjagaan di Balai Yasa Manggarai diperketat.

Pengerjaan selesai keesokan harinya pada tanggal 2 Januari 1946. Dua pejabat DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia) Eksploitasi Barat yang baru datang pagi-pagi langsung diberitahukan oleh Kepala Bengkel bahwa Kereta Api Luar Biasa (KLB) telah selesai dan kini dalam tahap pemeriksaan akhir. Pukul 17.00 diadakan acara serah terima KLB dari Kepala Bengkel Hoediono kepada B.S. Anwir dan Ngali, dua pejabat dari Eksploitasi Barat itu. Awak KLB terdiri dari Trein Bediende (Pelayan Kereta Api), Pelayan Restorasi, Pelayan Listrik, dan Pelayan Mekanik. Mereka baru diizinkan naik kereta setelah acara serah terima selesai. Para awak diusahakan agar tidak terlihat dari luar.

Setelah itu, KLB langsir dari Balai Yasa Manggarai menuju Halte Pegangsaan untuk menjemput Presiden dan Wapres. Di belakang rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur, kereta berjalan sangat pelan. Bung Karno, Ibu Fatmawati, Bung Hatta, para menteri dan rombongan lain naik kereta api yang berjalan sangat pelan dengan cara yang satu membantu yang lain.

Sebuah kursi kayu jati dengan anyaman rotan, yang diperkirakan menjadi tempat duduk Bung Karno setiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, 3 Januari 1946. Foto: Roso Daras

Saat itu, matahari sudah terbenam, Dari Manggarai kereta api melaju ke Jatinegara dalam kecepatan 25 km per jam. Selepas stasiun Klender lampu KLB dinyalakan. Selepas stasiun Bekasi, KLB dipacu sampai 60 km per jam. KLB berhenti di stasiun Cikampek pukul 20.00 WIB. Pemberhentian berikutnya adalah Purwokerto dan stasiun Tugu Yogyakarta keesokan paginya, 3 Januari 1946 pukul 07.00 WIB.

Nah, rangkaian kisah itu kini menjadi satu spot selfie yang menarik di Stasiun Tugu Yogyakarta. Selain menampilkan gambar ilustrasi yang menarik, juga dipajang kolase kliping koran masa lalu disertai keterangan. Bahkan di satu sudut, juga terdapat satu karikatur yang menampilkan sosok Bung Karno setiba di Yogyakarta. Tak ketinggalan satu kursi kayu jati dengan alas anyaman rotan juga dipajang di tempat itu. Itulah (kemungkinan) salah satu kursi yang sempat diduduki Bung Karno setiba di Stasiun Tugu pada tanggal 3 Januari 1946, di pagi hari yang cerah. ***

KA Bandara Soekarno-Hatta Segera Beroperasi

KERETA Bandara sebagai salah satu moda alternatif menuju Bandara Soekarno-Hatta dari Jakarta pembangunannya terus dikebut. Targetnya layanan ini  sudah dapat digunakan pada awal Desember 2017. Untuk memastikan proyek ini dapat tepat waktu dan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan pengecekan kesiapan proyek tersebut.

Budi Karya Sumadi melakukan uji coba operasi kereta api (KA) Bandara Soekarno-Hatta dengan rute Stasiun Manggarai – Stasiun Soekarno-Hatta pada Kamis (23/11) lalu. Dengan pengoperasian KA Bandara Soetta ini, kelak diharapkan bisa menambah pilihan bagi masyarakat dalam mengakses bandara terbesar di Indonesia ini.

Jika selama ini hanya tersedia pilihan transportasi berbasis jalan raya, maka sebentar lagi akan hadir layanan transportasi publik berbasis jalan rel yang mengusung kenyamanan bagi pelanggan. Adanya kereta bandara ini diharapkan 30 persen penumpang yang menuju Bandara Soekarno-Hatta dapat berpindah menggunakan moda kereta api. “Kita harapkan dengan kereta bandara ini 30 persen orang yang menuju bandara Soekarno-Hatta akan pindah ke kereta api. Karena kereta api ini kan dicintai masyarakat,” ujar Budi Karya Sumadi.

Sebelum mencoba KA Bandara, Rini melakukan pembelian tiket perdana KA tersebut melalui vending machine. Dia pun terlihat gembira saat tiket berhasil dicetak.  Proses cetak tiket membutuhkan waktu sekitar tiga sampai lima menit karena harus memilih asal stasiun dan tujuan kemudian mengisi biodata, seperti nama, nomor handphone dan email.

Rini pun selanjutnya memasuki KA Bandara Soekarno-Hatta menuju Stasiun Sudirman Baru. Railink sendiri menyiapkan 10 trainset KRL dengan setiap trainset-nya memiliki 6 kereta dengan keseluruhan jumlah tempat duduk 272 per trainset. KRL buatan INKA tersebut memiliki fasilitas premium mulai dari tempat duduk yang nyaman, full AC, wifi high speed, sampai dengan fasilitas toilet seperti di pesawat.

Menteri Rini menegaskan bawah pembangunan KA Bandara ini merupakan wujud sinergi BUMN. KA Bandara Soekarno-Hatta ini nantinya melayani penumpang di 5 Stasiun, yaitu: Stasiun Manggarai, Stasiun Sudirman Baru, Stasiun Duri, Stasiun batu Ceper, dan Stasiun Bandara Soekarno-Hatta. Namun, pada awal operasional baru akan melayani penumpang di dua stasiun terlebih dahulu yaitu Stasiun Sudirman Baru dan Stasiun Bandara Soekarno-Hatta.

Pada tahap awal pengoperasian hingga 31 Desember 2017 nanti, diberlakukan tarif promosi antara Rp20.000 sd Rp30.000. Sedangkan mulai tanggal 1 Januari 2018 bisa diterapkan tarif normal Rp100.000. Perlu diketahui, jarak tempuh yang dilayani KA BSH antara Manggarai sampai Bandara Soetta sepanjang 36,3 km dgn rincian, jalur eksisting (Manggari-Batuceper) sepanjang 24,2 km dan track baru (Batuceper-Bandara Soetta) sepanjang 12,1 km.

Stasiun yang dilayani oleh KA BSH meliputi Manggarai, BNI City (Sudirman Baru), Duri, Batuceper, Bandara Soetta PP. Untuk sementara waktu pada tahap awal pengoperasian KA BSH, belum dilayani naik turun penumpang di Manggarai karena masih dalam proses pembangunan peron dan jalur KA Bandara oleh Satuan Kerja Proyek DDT DJKA Kemenhub. Kedepannya diharapkan KA Bandara dapat memperluas jangkauan layanan hingga ke Bekasi, Bogor, Jakarta kota, dan lain- lain. ***