Perlu Dibangun Strategi Kebudayaan untuk Film di Indonesia

JAYAKARTA NEWS—  Sineas Garin Nugroho mengemukakan insan film di Indonesia (film komersial dan film art) sudah saatnya membangun strategi kebudayaan. “Dalam mengelola perfilman yang kusut masai ini perlu ada strategi kebudayaan,” lontar Garin Nugroho dalam diskusi webinar bertopik ‘Penerapan Keahlian Penyiaran dalam Kreasi Film Kreatif’ yang digelar oleh Sekolah Tinggi Multi Medis (STMM) Jogjakarta.

Di dunia film, dibagi 3 aliran yaitu film budaya populer, film seni (art) dan film yang mencoba memadukan keduanya. Dikatakannya, masalah selera adalah hak penonton.

Selera dibangun dengan kreativitas. Dan masing-masing sineas punya kreativitas dan ‘genuine’ nya. “Misalnya Joko Anwar yang meremake genre horor dan mengangkat kembali budaya komik ke film yaitu dengan membuat Gundala.

Anggi Umbara–foto instagram

Atau Anggi Umbara yang menggarap film lawas Warkop. Meremake kembali budaya populer menjadi budaya kekinian yang milenial itu nggak mudah. Perlu kecermatan, keahlian tersendiri dan kreativitas dengan pencapaian alias ‘rewind’ yang menyangkut aspek ekonomi dan memberi hidup masyarakat penonton film,” jelas Garin.

Dicontohkan oleh Garin, pencapaian yang dilakukan oleh sineas Korea benar-benar pantas ditiru. Sineas Korea membuat film dengan kreativitas mumpumi dan berhasil mencapai kelas Oscar (film terbaik Oscar 2019), dan pemerintahnya c q Bank membantu dengan memberikan fasilitas pinjaman bunga rendah.

Sebut saja ada sebuah film Korea yang meraih box office dengan 2 juta penonton, dia diberi kesempatan joint dengan Dewan Film Korea.

“Orang Korea itu berpikir kongkrit. Masyarakatnya membantu penuh dan bangga menonton film Korea. Di kita, enggak ada kebanggaan seperti orang Korea. Kita merasa sebagai bangsa terbesar dan terbaik di dunia, tapi pemerintah enggak punya pride dan proteksi nol. Kita bangsa kalah.”

“Pemerintah kita dari dulu sampai sekarang sibuk dengan jargon-jargon yang enggak ada pencapaian. ‘Film sebagai tuan rumah di negeri sendiri’ atau ‘lokomotif perfilman’ dll enggak jelas hasilnya.”

“Cobalah beri subsidi kepada     sineas-sineas pembuat film seni. Mereka selama ini berpikir menghadapi zaman baru dengan kreatifitas yang membawa nilai-nilai baru,” papar Garin.

Rachel Maryam Sayidina–foto instagram

Sedangkan Rachel Maryam Sayidina, aktris yang duduk di Komisi 1 DPR RI lebih banyak mengaitkan peran film dalam membangun ketahanan bangsa. “Jangan lupa. Hitler dan Mussolini pernah menggunakan film sebagai alat propaganda karena film punya kekuatan luar biasa di dunia politik,” kata Rachel Maryam yang sedang hamil anak ke dua.

Ditegaskan oleh Rachel Maryam yang bermain gemilang di film ‘Arisan’ dan ‘Eliana, Eliana’ ini bahwa Hitler pernah sesumbar bahwa ‘siapa yang menguasai media, dia akan menguasai dunia’. Dan film adalah termasuk di dalam unsur media.

“Kita pun sama. Film ‘G 30 S’ yang diputar tiap tahun dulu dibuat guna melanggengkan kekuasaan Orde Baru dan Soeharto. Setelah Soeharto tumbang, film ini dicoret dari TVRI dan TV lain,” tutur Rachel Maryam.

Anggi Umbara yang bicara setelah Rachel lebih banyak menyoroti aspek pasar di dunia film. Bagaimana dengan bujet minim bisa membuat film yang laris dan box office.

“Membuat film harus ada logika dan etika. Ada kedalaman cerita dan karakter yang kuat. Penonton sekarang makin kritis. Mereka enggak mau dibodohi film. Membuat film adalah kerja kolektif. Dari script, reading, bloking, editing sampai promosinya harus dipikirkan benar,” timpal Anggi Umbara.

Sementara itu, Arul Muchsen sebagai pegiat film dan pendiri Demi Film Indonesia (DFI) mengungkapkan ihwal budaya nonton di rumah dan diluar rumah dan kurangnya atensi dan dukungan dari pemerintah terhadap film nasional.

“Sampai Garin Nugroho harus berjuang sendiri memberangkatkan film ‘Setan Jawa’ ke festival film di luar negeri. Demikian pula Mouly Surya, Kamila Andini dll. Saya menjadi saksi dalam hal ini. Pemerintah mestinya malu,” cetus Arul.

Riza Pahlevi, alumni STMM yang kini menjadi kreator film pendek menceritakan pengalaman dirinya dari menyukai film sejak kecil sampai kuliah dan jadi sutradara film pendek dan terakhir menjadi sutradara film panjang/bioskop dengan membuat film berjudul ‘Ma’mum’.

Terakhir Rektor/Ketua STMM, Noor Iza menyatakan banyak kemajuan yang diperoleh alumni STMM. Baik di bidang broadcast (penyiaran), video dan film maker. “Meski harus berkarya di rumah alias Work From Home (WFH), toh kita bisa menghasilkan karya yang baik dan berbobot,” demikian Ketua STMM. (pik)

Garin Nugroho Ajak Seniman Muda dalam ‘Workshop Online Ruang Kreatif’

JAYAKARTA NEWS—  – Sineas Garin Nugroho dipercaya Galeri Indonesia Kaya dalam ‘Workshop Online Ruang Kreatif’ yang bertujuan untuk menumbuhkan bakat seniman-seniman muda di bidang seni pertunjukan di Indonesia. Garin akan menjawab pertanyaan-pertanyaan para pengamat seni yang sedang di rumah.

 ‘Workshop Online Ruang Kreatif’ berawal dari kompetisi di akun Instagram  @indonesia_kaya yang mengajak para penikmat seni untuk mengirimkan proposal dalam bentuk tulisan ide kreatif maksimal 2 halaman. Dari proposal yang masuk, terpilih 100 peserta dengan ide kreatif terbaik.

Peserta dapat memilih salah satu tema yang telah disiapkan dengan kapasitas masing-masing 50 peserta. Tema pertama ‘Mengolah ide kreatif’ yang telah digelat 30 Mei 2020 dan tema ke dua membahas ‘Dramaturgi dalam Penyutradaraan’ tayang 6 Juni 2020.

Sekitar  100 peserta merupakan pelaku seni pertunjukan yang berusia 18-35 tahun dari Aceh, Binjai, Padang, Palembang, dan Batusangkar. Juga yang berdomisili di Jawa dan Bali serta Jabodetabek.

Dari Malang, Semarang, Magelang, Sukabumi, Mojokerto, Banyuwangi, Ponorogo dan Den Pasar. Kalimantan asal Samarinda dan Balikpapan. Untuk wilayah Sulawesi dan Indonesia Timur diwakilkan oleh peserta dari Kolaka, Polewali, Sumba, Lombok, Makassar dan Jayapura.

Semua peserta wajib ikut workshop sampai selesai dan juga diminta menulis kembali ide kreatif mereka dengan mengolaborasi materi workshop yang diberikan Garin Nugroho. (pik)

Film Musik Makan 2019, 9 Maret di GoetheHaus

JAYAKARTA NEWS–Film Musik Makan 2019 akan digelar di GoetheHaus, Jakarta, pada 9 Maret mendatang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, gelaran yang digagas Kolektif Film ini akan kembali menampilkan film panjang, film pendek, fiksi, dan dokumenter.

Beberapa film pendek berprestasi yang akan tayang pada Film Musik Makan 2019 di antaranya Kado dari sutradara Aditya Ahmad (Pemenang Vice International Film Festival dan Singapore International Film 2018), Ballad of Blood and Two White Buckets dari Yosep Anggi Noen (Official Selection Toronto International Film Festival 2018), juga Kembalilah dengan Tenang karya Reza Fahriansyah yang baru-baru ini terpilih sebagai Official Selection Clermont-Ferrand Film Festival 2019. Untuk pertama kalinya, Woo Woo karya Ismail Basbeth serta Dan Kembali Bermimpi karya Jason Iskandar juga akan diputar. Jason Iskandar merupakan sutradara muda yang juga pernah menayangkan salah satu filmnya di Film Musik Makan 2018.

Selain itu, Film Musik Makan 2019 aka menampilkan sebuah omnibus bertajuk Asian Three Folds Mirror: Journey yang untuk pertama kalinya akan ditayangkan di Jakarta. Asian Three Folds Mirror: Journey merupakan hasil kolaborasi antara Japan Foundation dan Tokyo International Film Festival, omnibus ini disutradari oleh Degena Yun (Tiongkok), Daishi Matsunaga (Jepang), dan Edwin (Indonesia). Irisan tema pada ketiga film adalah kisah perjalanan. Salah satu aktor kenamaan Indonesia, Nicholas Saputra, akan muncul di ketiga episode omnibus tersebut. Salah satu bagian omnibus yang disutradarai Edwin, Variabel No. 3, diperankan oleh Oka Antara, Agni Prastitha, juga Nicholas Saputra.

Untuk kategori film panjang, yang akan tayang perdana pada gelaran tahun ini adalah Kisah Dua Jendela karya Paul Agusta. FIlm tersebut menampilkan nama-nama seperti Dinda Kanyadewi, Khiva Iskak, Joko Anwar, Djenar Maesa Ayu, Agnes Naomi, hingga Tadelesh Ilham. Dua Jendela terpilih sebagai Official Selection Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018. Film panjang lain yang turut ditayangkan di Film Musik Makan 2019 adalah Kado Hari JadiAt the Very Bottom of Everything, dan All is Forgiven for We Have Been Happy.

Satu film yang sudah membuat penasaran sejak sekarang adalah dokumenter berjudul Rising From Silence karya Shalahudin Siregar yang mengangkat kisah paduan suara Dialita, para penyintas dan eks-tahanan politik dari tragedi 1965. Paduan suara Dialita sendiri nantinya akan mengisi pertunjukan musik Film Musik Makan 2019.

Saat menghadiri jumpa pers Film Musik Makan 2019, ada beberapa menu super enak seperti nasi kluwek dari Nasi Pedes Cipete—milik produser dan aktris Lola Amaria—yang nantinya juga akan hadir di Film Musik Makan 2019. Akan ada lapak-lapak makanan milik individu-invidu dari industri sinema Indonesia pada Film Musik Makan 2019.

Film Musik Makan 2019 juga akan disertai dengan diskusi seputar film pendek dan masa depan industri sinema Indonesia bersama produser Ifa Isfansyah dan Meiske Taurisia.

Seperti yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, film-film dari Film Musik Makan 2019 juga akan ditayangkan di Makassar, Padang, dan Bandung. Namun, untuk tahun ini Sukabumi dan Surabaya juga akan menyambut film-film yang ditayangkan di Film Musik Makan 2019.

Bekerja sama dengan Smophyc Production dan Sukabumi Creative Hub, Film Musik Makan 2019 akan menyinggahi Sukabumi pada tanggal 31 Maret mendatang, dilanjutkan dengan pemutaran film di Surabaya pada awal April. Untuk Anda ketahui, kota-kota Anda juga berkesampatan untuk disinggahi—jika belum mendapat jadwal kunjungan—oleh Film Musik Makan 2019, untuk mewujudkan hal ini Anda dapat mengontak langsung pihak Kolektif Film.

Film Musik Makan 2019 dapat Anda hadiri dengan membayar donasi senilai Rp200 ribu untuk terusan acara musik dan film, serta bonus merchandise. (pik)

Sineas Edward Pesta Sirait Meninggal Dunia

Dunia perfilman Tanah Air kembali dirundung duka. Salah satu sutradara terbaik, Edward Pesta Sirait atau yang akrab dipanggik Edo tutup usia, Sabtu (12/1/2019).
Sutradara serial televisi Keluarga Cemara ini mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Edward meninggal dunia dalam usia 77 tahun.
Kabar duka ini disampaikan oleh rekan penggiat film, produser Amanda Latief melalui pesan singkat. Amanda Latief tak menyebutkan penyebab dari kematian sang sutradara senior tersebut.
“RIP Bang Edward P Sirait (Sutrada senior). Telah meninggal dunia, Eduard Pesta Sirait di RS. Pondok Indah 12 Januari pukul 17.55 WIB, pada usia 77 tahun,” tulis Amanda Latief.
Selama berkiprah di dunia perfilman, Edward P Sirait telah melahirkan setidaknya 17 judul film. Dari karya-karya yang diciptakannya, 5 judul film di antaranya berhasil mengantarkan Edward sebagai nominator dalam ajang Festival Film Indonesia.
Meskipun kini Edward Sirait sudah tak dapat ditemui di dunia, namun karya-karyanya akan abadi dan selalu diingat. Beberapa film populer yang telah digarap Edward antara lain Duo Kribo (1977), Buah Terlarang (1979), Sang Guru (1981), Gadis Penakluk (1981) dan Bila Saatnya Tiba (1985).
Sutradara berdarah Batak ini menunjukkan kebolehannya dalam serial televisi. Edward menjadi sutradara pertama dalam serial televisi populer Keluarga Cemara pada tahun 1996. Jenazah almarhum yg berusia 77 tahun akan dimakamkan di San Diego Hills, Karawang, Senin (14/1). ***(pik)

Aditya Ahmad Raih Film Pendek Terbaik di Venice International Film Festival

Aditya Ahmad Raih Film Pendek Terbaik di Venice International Film Festival–foto istimewa

Kabar gembira datang dari Italia, Sabtu 8 September 2018. Film pendek produksi Miles Films karya sutradara muda Aditya Ahmad terpilih sebagai Film Pendek Terbaik di kompetisi Orizzonti, 75th Venice International Film Festival.

Selain Aditya Ahmad yang akrab dipanggil Adit, Mira Lesmana dan Riri Riza selaku produser film KADO, juga Isfira Febiana dan Adin Amaruddin selaku pemeran utama dan manajer produksi film tersebut, pun turut serta hadir di Venesia untuk menghadiri perhelatan istimewa dan bergengsi itu.

Mira dan Riri mengaku bangga film karya Aditya Ahmad ini mampu mengalahkan 12 film pendek finalis lainnya, “KADO bersaing dengan film-film dari berbagai negara yang juga istimewa, jadi kemenangan ini sungguh kebanggan bukan hanya untuk kami, tapi juga untuk kita, Indonesia”, ujar Mira Lesmana.

Adit juga sangat berbahagia, “Saya sungguh tidak menyangka. Selain  berhasil memenangkan penghargaan bergengsi ini, saya juga mendapat kesempatan berada dalam satu ruangan dan berkenalan dengan sutradara-sutradara ternama dunia seperti Alfonso Cuarón (sutradara terbaik Oscar 2014 untuk film Gravity dan pemenang Golden Lion untuk film terbarunya Roma di Venesia) dan Guillermo del Toro (The Shape Of Water, film terbaik Oscar 2018).

Mereka begitu ramah dan memberikan ucapan selamat kepada saya”.

Aditya Ahmad sendiri bukanlah nama asing di sirkuit festival film Indonesia, maupun dunia. Tahun 2014 film pendek berjudul Sepatu Baru yang juga dibintangi Isfira Febiana dibuat Adit sebagai tugas akhir syarat  kelulusan dari Institut Kesenian Makassar.

On Stopping The Rain, demikian judul film tersebut dalam bahasa inggris, sukses menuai pujian, diantaranya Special Mention di kategori Generation Kplus yang merupakan bagian dari Berlinale, festival film internasional bergengsi di Berlin.

Film KADO, yang berjudul bahasa Inggris A Gift,  pengambilan gambarnya dilakukan di Makassar, Sulawesi Selatan dan kru serta pemainnya adalah anak-anak muda berbakat yang seluruhnya berasal dari Makassar.

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF), Pusat Pengembangan Film Kemendikbud Republik Indonesia serta Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Nurdin Abdullah turut mendukung keberangkatan delegasi film KADO ke Venesia sehingga dapat menerima langsung penghargaan ini.

“Pusbang Perfilman Kemendikbud akan memberikan beasiswa kepada Aditya Ahmad yang telah membanggakan,” tulis Sangupri mewakili Kapusbang. (pik)