Drumblek: Simbol “Perlawanan” yang Menjadi Ikon Salatiga

Oleh: Bambang Hermawan. (Jurrnalis, Pemerhati Kota Salatiga)

Hampir tak ada kesenian baru di Indonesia yang tumbuh secepat Drumblek. Usianya belum genap empat dekade, tetapi ia telah merasuk ke dalam kehidupan warga Kota Salatiga. Drumblek menjelma dari kesenian kampung menjadi ikon kota.

Bagi yang belum tahu, Drumblek dapat digambarkan secara ringkas sebagai drumband versi rakyat kecil. Versi “kaum kere”. Hampir seluruh instrumennya dibuat dari barang loak: tong plastik bekas wadah cairan kimia, kaleng rombeng, botol bekas kemasan minuman, hingga panci atau wajan rusak. Ungkapan versi “kaum kere” di sini bukan ejekan atau untuk merendahkan, melainkan penegasan posisi sosial yang justru menjadi sumber daya kreatifnya.

Di situlah daya pikat Drumblek. Bebunyian dari aneka barang rongsok itu diaransemen untuk memainkan lagu-lagu yang akrab di telinga penonton. Keunikan kostum para pemain dan keindahan koreografi kemudian menyempurnakan kemegahan pertunjukannya. Dari benda-benda yang dianggap tak bernilai, lahir tontonan yang ciamik, apik.

Nama Drumblek sendiri menyimpan makna simbolik yang kuat. Kata blek dihadapkan dengan band. Blek adalah kotak atau kaleng berbahan seng, tempat menyimpan kue atau kerupuk—simbol keseharian wong cilik. Ia sangat kontras dengan band, yang kerap diasosiasikan dengan kemewahan, kelas menengah-atas, serta instrumen musik mahal.

Dengan demikian, Drumblek adalah “pernyataan tegas” bahwa kreativitas tidak harus ditopang modal besar. Ia merupakan bentuk seni perlawanan estetika—sebuah pemberontakan halus terhadap seni “agung” yang kerap lahir dari kelas ningrat. Dalam Drumblek, keterbatasan ekonomi justru menjadi pemantik hadirnya karya artistik.

Kesenian ini memang lahir dari situasi darurat. Ide liar Drumblek muncul di kepala Didik Subiantoro—yang akrab disapa Didik Ompong—ketika kampungnya, Pancuran, Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, harus mengirimkan wakil kesenian untuk pawai peringatan 17 Agustus tingkat Kota Salatiga pada tahun 1986. Tak ada dana cukup. Yang ada hanya kreativitas, keberanian, dan barang-barang bekas.

Apa yang terjadi kemudian berlangsung perlahan namun pasti. Drumblek menjalar ke kampung-kampung lain, menjadi medium ekspresi kolektif warga kota. Hingga akhirnya, Pemerintah Kota Salatiga mengakuinya secara resmi sebagai kesenian khas daerah. Sejak saat itu, Drumblek naik kelas: bukan lagi kesenian pinggiran, melainkan bagian dari wajah budaya kota.

Drumblek tampil dalam berbagai acara resmi pemerintah. Kampus ternama seperti Universitas Kristen Satya Wacana secara rutin mengundang kelompok Drumblek untuk memeriahkan kegiatannya. Namun, meski telah mendapatkan legitimasi institusional, Drumblek tidak kehilangan watak dasarnya: kesenian rakyat yang terbuka, partisipatif, dan egaliter.

Fenomena ini menempatkan Drumblek dalam kategori ikon kesenian yang langka di Indonesia. Bandingkan dengan Reyog, misalnya. Ia menjadi identik dengan Ponorogo melalui proses sejarah panjang, melewati abad, dengan narasi konflik feodal dan simbol keperkasaan fisik yang ekstrem. Ondel-ondel Betawi pun berakar kuat pada masa lampau sebagai ritual tolak bala atau pengusir roh jahat, sebelum menjadi ikon Jakarta

Nah, Drumblek menawarkan dimensi ikonik yang berbeda dan sangat relevan dengan zaman ini. Ia tidak lahir dari mitos atau legenda. Usianya masih relatif muda—belum genap 40 tahun—namun daya hidupnya amat dahsyat.

Hari-hari ini grup Drumblek ada hampir di setiap Rukun Warga (RW) di Salatiga. Pengurus RW dinilai kurang aspiratif bila tidak memfasilitasi pembentukan Grup Drumbkek. Yang menarik, keberadaannya bukan untuk bersaing, berkompetisi, tapi untuk merayakan “pesta bersama” dan kegotongroyongan.

Kekuatan utama Drumblek terletak pada kemampuannya menyatukan seluruh warga kota, dari yang paling miskin hingga yang paling mapan, di bawah bendera kreativitas dan keguyuban. Siapa pun bisa terlibat, tidak ada pagar sosial yang menyekat.

Drumblek adalah simbol kebanggaan Salatiga: bukti bahwa sebuah kota kecil mampu menciptakan aset budaya yang otentik dan partisipatif. Aset budaya yang kelahirannya ‘hanya” bermodalkan barang – barang bekas dan ide liar yang tumbuh dari keterdesakan, keterbatasan. (*)

Menparekraf Dukung Pengajuan Salatiga Sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO

SALATIGA, JAYAKARTA NEWS – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata Sandiaga Salauddin Uno mendukung  pengajuan Kota Salatiga sebagai Anggota Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2023 (UNESCO Creative Cities Network (UCCN). 

Menparekraf Sandiaga dalam kegiatan workshop peningkatan inovasi dan kewirausahaan kabupaten/kota kreatif (KaTa Kreatif) Indonesia di Gedung Sekretariat Daerah Kota Salatiga, Kamis (14/9/2023), mengatakan kegiatan workshop ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam mendorong penetapan Kota Salatiga sebagai kota kreatif dunia. 

“Terima kasih Salatiga yang kembali memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dalam workshop ini. Saya sangat menghargai optimisme dan antusiasme dari pelaku ekonomi kreatif untuk mendorong Salatiga atas penetapannya sebagai kota kreatif dunia,” ujar Menparekraf Sandiaga. 

Kota Salatiga sebelumnya mengajukan diri sebagai kota gastronomi. Kota ini memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar pada subsektor kuliner. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai peluang pengembangan usaha oleh pelaku ekraf. Kreativitas dan inovasi pelaku ekonomi kreatif dalam menjangkau pasar yang lebih luas dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang saat ini. 

Menparekraf Sandiaga mendorong para pelaku ekonomi kreatif Kota Salatiga agar terus berinovasi dan berkarya serta membangun jejaring dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. 

“Terlebih tadi saya menangkap ada satu narasi baru yaitu tentang keberlanjutan lingkungan yang dilakukan dalam konsep dekarbonisasi dari industri pariwisata dan ekonomi kreatif yang akan memperkuat kedudukan Kota Salatiga sebagai kota kreatif nantinya,” ujar Sandiaga. 

Melalui kegiatan ini Kemenparekraf/ Baparekraf berupaya mendorong kebangkitan ekonomi kreatif dengan bentuk aktivasi kegiatan dengan memfasilitasi para pelaku ekonomi kreatif dan pelaku UMKM dalam mengeksplorasi dan mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif sehingga memiliki nilai tambah dan memberikan penguatan branding dari produk-produknya. 

“Mendukung terciptanya 4,4 juta lapangan kerja baru di tahun 2024,” kata Sandiaga.

Workshop KaTa Kreatif Kota Salatiga merupakan lokasi ke-29 dari rangkaian program Pengembangan Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) Indonesia tahun 2023. Kegiatan ini diikuti pelaku ekonomi kreatif yang berdomisili di Kota Salatiga dengan jumlah peserta sebanyak 200 orang. 

Kegiatan ini juga diisi oleh narasumber seorang Digital Marketer dan Manajer di Impala Network yaitu Bapak Agung Pambudi untuk berbagi pengalaman dan memberi materi tentang “Kunci Utama dalam Digital Marketing” sehingga diharapkan dapat memperkuat pemahaman para pelaku usaha ekonomi kreatif Kota Salatiga dalam memasarkan produk-produk kreatif mereka.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPR RI Komisi X Dapil Jawa Tengah I, A.S. Sukawijaya; serta Penjabat Wali Kota Salatiga, Sinoeng N. Rachmadi.  

Turut mendampingi Menparekraf Sandiaga, Inspektur Utama Kemenparekraf/Baparekraf, Bayu Aji; Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Hariyanto; Plt. Direktur Infrastruktur Ekonomi Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf, Oneng Setyaharini; serta Direktur Utama Badan Otorita Borobudur, Agustin Peranginangin.***/mel