Resensi Buku: Eksplorasi Holistik Wangsa Syailendra dalam Lapisan Sejarah dan Budaya Nusantara

Nama Pengarang : Asisi Suhariyanto
Judul Buku : Rahasia Nusantara; Candi Misterius Wangsa Syailendra
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2024
Halaman : 284

JAYAKARTA NEWS – Dalam bukunya yang menggugah rasa ingin tahu, “Rahasia Nusantara”, Asisi Suhariyanto mengajak pembaca untuk menjelajahi lorong-lorong tersembunyi sejarah dan budaya Indonesia. Buku ini menjadi sebuah pintu gerbang menuju dunia yang penuh dengan misteri, legenda, dan kearifan lokal yang telah lama terlupakan atau bahkan sengaja disembunyikan. Dengan kepiawaiannya dalam menggali dan menyajikan informasi, Suhariyanto berhasil menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya informatif, tetapi juga menghibur dan membuat pembaca terus bertanya-tanya.

Struktur dan Gaya Penulisan
Suhariyanto membagi bukunya menjadi beberapa bab yang masing-masing berfokus pada aspek berbeda dari “rahasia” Nusantara. Dimulai dari sejarah kuno, mitologi, kekayaan alam yang tersembunyi, hingga praktik-praktik budaya yang jarang diketahui, penulis menyusun narasi yang mengalir dengan lancar dan memikat. Gaya penulisannya yang ringan namun tetap intelektual membuat buku ini mudah dicerna oleh berbagai kalangan pembaca, mulai dari akademisi hingga pembaca umum yang tertarik dengan misteri dan sejarah Indonesia.

Setiap bab diawali dengan anekdot atau kisah menarik yang berfungsi sebagai pintu masuk ke pembahasan lebih dalam. Teknik ini efektif dalam menarik perhatian pembaca dan memberikan konteks yang relevan untuk informasi yang akan disajikan. Suhariyanto juga cerdik dalam memasukkan kutipan-kutipan dari sumber primer dan sekunder, memberikan bobot dan kredibilitas pada argumen-argumennya.

Konten dan Tema Utama:

1.Sejarah Tersembunyi
Salah satu aspek paling menarik dari buku ini adalah eksplorasi Suhariyanto terhadap bagian-bagian sejarah Indonesia yang jarang dibahas dalam buku teks atau narasi resmi. Ia menggali arsip-arsip kolonial, manuskrip kuno, dan tradisi lisan untuk mengungkap kisah-kisah yang selama ini luput dari perhatian. Misalnya, penulis membahas tentang jaringan perdagangan pra-kolonial yang kompleks di Nusantara, yang menunjukkan tingkat sofistikasi ekonomi dan diplomasi yang tinggi jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Suhariyanto juga mengupas lapisan-lapisan sejarah dari beberapa situs arkeologi terkenal, seperti Borobudur dan Prambanan, mengungkapkan fakta-fakta mengejutkan tentang proses pembangunan dan makna simbolis yang mungkin belum banyak diketahui publik. Ia berhasil menghubungkan temuan-temuan arkeologis ini dengan konteks sosial-politik pada masanya, memberikan pemahaman yang lebih kaya tentang dinamika kekuasaan dan spiritualitas di masa lalu.

2.Kekayaan Alam dan Potensi Tersembunyi
Bab-bab yang membahas tentang kekayaan alam Indonesia menjadi salah satu bagian paling eye-opening dalam buku ini. Suhariyanto tidak hanya membahas sumber daya alam yang sudah umum diketahui, tetapi juga mengungkap potensi-potensi tersembunyi yang belum banyak dieksplorasi. Ia menyoroti beberapa spesies endemik yang baru ditemukan, lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi sumber energi terbarukan, hingga kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan yang mungkin bisa menjadi solusi untuk krisis ekologi global.

Penulis juga mengangkat isu-isu kontroversial seputar eksploitasi sumber daya alam, memberikan perspektif yang seimbang antara kebutuhan pembangunan dan pelestarian lingkungan. Diskusi ini diperkaya dengan wawancara eksklusif dengan para ahli dan tokoh masyarakat adat, memberikan dimensi yang lebih manusiawi pada topik yang seringkali didominasi oleh angka dan statistik.

3.Mitologi dan Kepercayaan Lokal
Aspek yang tak kalah menarik adalah pembahasan Suhariyanto tentang mitologi dan sistem kepercayaan lokal di berbagai wilayah Nusantara. Ia tidak hanya menceritakan kembali legenda-legenda populer, tetapi juga menggali makna filosofis dan relevansi sosial dari kisah-kisah tersebut. Penulis berhasil menunjukkan bagaimana mitologi sering kali menjadi wadah untuk menyampaikan nilai-nilai moral, pengetahuan ekologis, dan kearifan hidup yang masih relevan hingga saat ini.

Suhariyanto juga membahas praktik-praktik spiritual yang jarang diketahui, seperti ritual-ritual kuno yang masih dijalankan di beberapa komunitas terpencil. Ia menyajikan informasi ini dengan sensitivitas dan rasa hormat, menghindari sensasionalisme dan sebaliknya berusaha untuk memahami signifikansi kultural dari praktik-praktik tersebut.

4,Inovasi dan Teknologi Tradisional
Salah satu bagian yang paling mengejutkan dalam buku ini adalah pembahasan tentang inovasi dan teknologi tradisional Nusantara. Suhariyanto mengungkap berbagai penemuan dan teknik kuno yang menunjukkan tingkat kecanggihan yang tinggi, mulai dari sistem irigasi subak di Bali hingga teknik metalurgi pamor dalam pembuatan keris. Ia berargumen bahwa banyak dari inovasi ini yang sebenarnya mendahului penemuan serupa di belahan dunia lain, namun kurang mendapat pengakuan dalam sejarah sains global.

Penulis juga mengeksplorasi potensi revitalisasi beberapa teknologi tradisional ini untuk mengatasi tantangan kontemporer. Misalnya, ia membahas bagaimana prinsip-prinsip arsitektur tradisional bisa diterapkan dalam desain bangunan modern yang ramah lingkungan dan tahan bencana.

5.Jejak Diaspora dan Pengaruh Global
Bab terakhir buku ini membawa pembaca dalam sebuah perjalanan mengikuti jejak diaspora Nusantara di berbagai belahan dunia. Suhariyanto mengungkap kisah-kisah menarik tentang komunitas-komunitas keturunan Indonesia di tempat-tempat yang tak terduga, seperti Suriname, Afrika Selatan, dan Sri Lanka. Ia menunjukkan bagaimana budaya dan pengetahuan dari Nusantara telah mempengaruhi perkembangan di wilayah-wilayah ini, seringkali dengan cara-cara yang tidak disadari.

Pembahasan ini membuka perspektif baru tentang peran Indonesia dalam sejarah global, menantang narasi Eurosentris yang dominan dan menunjukkan bahwa pengaruh Nusantara jauh lebih luas dan mendalam dari yang umumnya diakui.

Analisis Kritis:
Kekuatan utama buku “Rahasia Nusantara” terletak pada keluasan cakupan dan kedalaman penelitian yang dilakukan Suhariyanto. Ia berhasil menyajikan informasi yang kompleks dalam bahasa yang mudah dipahami tanpa mengurangi nuansa akademisnya. Pendekatan interdisiplinernya, yang menggabungkan perspektif sejarah, antropologi, ekologi, dan studi budaya, memberikan pemahaman yang holistik tentang “rahasia” Nusantara.

Namun, buku ini tidak lepas dari beberapa kelemahan. Terkadang, Suhariyanto terlihat terlalu antusias dalam menyajikan teori-teori yang kontroversial tanpa memberikan analisis kritis yang cukup. Beberapa klaimnya, terutama yang berkaitan dengan teknologi kuno, mungkin perlu didukung dengan bukti ilmiah yang lebih kuat. Selain itu, meskipun penulis berusaha untuk mencakup seluruh Nusantara, masih ada kecenderungan untuk lebih berfokus pada wilayah Indonesia bagian barat, khususnya Jawa dan Sumatra.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan kecil ini, “Rahasia Nusantara” tetap menjadi karya yang sangat berharga. Buku ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang sejarah dan budaya Indonesia, tetapi juga menginspirasi untuk mengeksplorasi lebih jauh dan melestarikan warisan kultural yang kaya ini.

Relevansi dan Dampak:
Di tengah era globalisasi dan homogenisasi budaya, buku Suhariyanto hadir sebagai pengingat akan kekayaan dan keunikan warisan Nusantara. Ia berhasil menunjukkan bahwa “rahasia” yang diungkapnya bukan sekadar curiosa sejarah, melainkan sumber kebijaksanaan dan solusi potensial untuk berbagai tantangan kontemporer.

“Rahasia Nusantara” memiliki potensi untuk mengubah cara kita memandang sejarah dan identitas Indonesia. Buku ini bisa menjadi katalis untuk penelitian lebih lanjut, mendorong akademisi dan peneliti untuk menggali lebih dalam aspek-aspek yang diangkat Suhariyanto. Bagi pembaca umum, buku ini bisa menumbuhkan rasa bangga dan apresiasi yang lebih dalam terhadap warisan budaya Indonesia, sekaligus mendorong sikap kritis terhadap narasi-narasi dominan.

Dalam konteks yang lebih luas, karya Suhariyanto berkontribusi pada wacana global tentang dekolonisasi pengetahuan. Dengan mengangkat perspektif dan kearifan lokal, ia menantang hegemoni epistimologi Barat dan menawarkan alternatif cara memahami dunia yang berakar pada tradisi Nusantara.

Kesimpulan:
“Rahasia Nusantara” karya Asisi Suhariyanto adalah sebuah eksplorasi yang menawan dan provokatif ke dalam aspek-aspek tersembunyi dari sejarah dan budaya Indonesia. Melalui penelitian yang mendalam dan narasi yang memikat, Suhariyanto berhasil mengungkap lapisan-lapisan misteri yang selama ini menyelimuti Nusantara, sekaligus menantang pembaca untuk memikirkan kembali asumsi-asumsi mereka tentang identitas dan warisan budaya Indonesia.

Buku ini bukan hanya sebuah kompilasi fakta-fakta menarik, tetapi juga sebuah undangan untuk menjelajahi lebih jauh, untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru, dan untuk menemukan kembali kekayaan yang mungkin telah lama terlupakan. Dalam prosesnya, Suhariyanto tidak hanya mengungkap rahasia Nusantara, tetapi juga membuka mata kita terhadap potensi dan kebijaksanaan yang tersembunyi di dalamnya.

Meskipun ada beberapa aspek yang mungkin masih bisa diperdebatkan atau memerlukan penelitian lebih lanjut, “Rahasia Nusantara” tetap menjadi bacaan yang sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang tertarik dengan sejarah, budaya, dan misteri Indonesia. Buku ini adalah bukti nyata bahwa kadang-kadang, rahasia terbesar terletak tepat di depan mata kita, menunggu untuk diungkap oleh mereka yang memiliki keberanian untuk melihat melampaui permukaan. (Heri)

Resensi Buku “Jerusalem: The Biography” Karya Simon Sebag Montefiore

Judul: Jerusalem: The Biography

Penulis: Simon Sebag Montefiore

Penerbit: Weidenfeld & Nicolson

Tanggal Terbit: 27 Januari 2011

Jumlah Halaman: 688 halaman

ISBN: 978-0297852650

Format: Hardcover, Paperback, eBook

Bahasa: Inggris

JAYAKARTA NEWS -“Jerusalem: The Biography” karya Simon Sebag Montefiore adalah karya monumental yang mencoba mengungkap sejarah panjang kota suci ini. Montefiore, seorang sejarawan terkenal, menyelami berbagai lapisan sejarah yang membentuk Jerusalem, dari masa prasejarah hingga era modern.

Buku ini bukan hanya narasi kronologis, tetapi juga sebuah biografi yang penuh warna dari salah satu kota paling diperebutkan dan penuh makna di dunia. Disini kita akan mengeksplorasi bagaimana Montefiore menggabungkan riset mendalam, gaya penulisan yang hidup, dan pandangan yang berimbang untuk menciptakan sebuah karya yang kaya dan mengesankan.

Latar Belakang dan Metodologi

Simon Sebag Montefiore dikenal dengan kemampuannya menghidupkan sejarah melalui narasi yang mendalam dan riset yang komprehensif. Dalam “Jerusalem: The Biography,” ia memanfaatkan berbagai sumber, termasuk dokumen sejarah, catatan arkeologi, dan kesaksian pribadi.

Montefiore juga mengunjungi banyak situs di Jerusalem untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang topik yang ia tulis. Pendekatan ini memberikan buku ini keaslian dan kedalaman yang jarang ditemukan dalam karya sejarah lainnya.

Struktur Buku

Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian yang mencakup berbagai periode penting dalam sejarah Jerusalem. Setiap bagian difokuskan pada era tertentu, menggambarkan perubahan politik, sosial, dan budaya yang terjadi di kota ini.

Montefiore memulai dengan zaman kuno, menceritakan kisah tentang bagaimana Jerusalem pertama kali didirikan dan bagaimana ia berkembang menjadi pusat spiritual bagi tiga agama besar: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Zaman Kuno dan Masa Biblika

Pada bagian awal, Montefiore menguraikan asal-usul Jerusalem, mulai dari permukiman pertama hingga zaman kerajaan Israel. Ia menjelaskan bagaimana Jerusalem menjadi pusat keagamaan dan politik di bawah pemerintahan Raja Daud dan Raja Salomo.

Kisah tentang pembangunan Kuil Salomo memberikan wawasan tentang pentingnya tempat ini bagi bangsa Yahudi. Montefiore juga menggambarkan berbagai konflik dan penaklukan yang dialami oleh Jerusalem, termasuk invasi oleh bangsa Babilonia dan kemudian oleh bangsa Persia.

Era Romawi dan Byzantium

Ketika kekuasaan Romawi mulai mendominasi, Jerusalem mengalami perubahan besar. Montefiore menyoroti peristiwa-peristiwa penting seperti penyaliban Yesus dan penghancuran Kuil Kedua oleh Romawi.

Era ini penuh dengan konflik dan pergolakan, termasuk pemberontakan Yahudi dan kebangkitan agama Kristen. Montefiore menggambarkan bagaimana agama Kristen mulai berkembang dan menyebar, dengan Jerusalem sebagai salah satu pusatnya.

Masa Islam dan Perang Salib

Setelah penaklukan oleh bangsa Muslim, Jerusalem menjadi bagian dari dunia Islam. Montefiore menjelaskan bagaimana kota ini menjadi penting bagi umat Islam dan bagaimana tempat-tempat suci seperti Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu dibangun.

Selama Perang Salib, Jerusalem menjadi pusat konflik antara Kristen dan Muslim. Montefiore menguraikan detail tentang bagaimana kedua belah pihak berusaha menguasai kota ini, serta dampak dari peperangan yang berkepanjangan terhadap penduduk lokal.

Era Ottoman dan Modern

Pada masa Ottoman, Jerusalem mengalami periode stabilitas relatif meskipun masih menghadapi berbagai tantangan. Montefiore menggambarkan bagaimana kota ini berkembang secara ekonomi dan sosial, serta bagaimana berbagai komunitas agama hidup berdampingan.

Memasuki era modern, Jerusalem menjadi pusat konflik politik, terutama dengan terbentuknya negara Israel dan konflik yang berkelanjutan dengan Palestina. Montefiore memberikan pandangan yang seimbang tentang kedua sisi konflik ini, mengakui penderitaan dan aspirasi kedua belah pihak.

Karakter dan Tokoh Penting

Salah satu keunggulan buku ini adalah penggambaran tokoh-tokoh penting yang berperan dalam sejarah Jerusalem. Montefiore tidak hanya fokus pada raja dan pemimpin politik, tetapi juga tokoh agama, pejuang, dan warga biasa yang memberikan kontribusi pada sejarah kota ini.

Misalnya, ia memberikan gambaran mendalam tentang tokoh seperti Raja Daud, Yesus, Nabi Muhammad SAW, dan Saladin. Montefiore juga mengangkat kisah-kisah individu yang kurang dikenal namun memiliki peran signifikan dalam sejarah kota ini.

Gaya Penulisan

Montefiore dikenal dengan gaya penulisannya yang hidup dan naratif, yang membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca. Ia berhasil menggabungkan fakta sejarah dengan narasi yang mengalir, menciptakan gambaran yang jelas tentang peristiwa dan tokoh-tokoh yang ia tulis. Penggunaan detail yang kaya dan deskripsi yang hidup membuat pembaca merasa seolah-olah berada di tempat kejadian, menyaksikan sejarah Jerusalem secara langsung.

Kekuatan dan Kelemahan

Kekuatan utama dari “Jerusalem: The Biography” adalah riset yang mendalam dan pendekatan naratif Montefiore. Ia berhasil menghidupkan sejarah kota ini dengan cara yang jarang dilakukan oleh sejarawan lain.

Namun, beberapa kritik mungkin menyoroti bahwa buku ini kadang-kadang terlalu padat dengan detail, yang bisa membuat pembaca merasa kewalahan. Selain itu, meskipun Montefiore berusaha untuk tetap objektif, beberapa pembaca mungkin merasa bahwa pandangannya tentang konflik modern sedikit bias.

Kesimpulan

“Jerusalem: The Biography” adalah karya luar biasa yang menawarkan wawasan mendalam tentang sejarah salah satu kota paling penting di dunia. Simon Sebag Montefiore berhasil menggabungkan riset yang komprehensif dengan gaya penulisan yang menarik, menciptakan sebuah narasi yang kaya dan mendalam.

Buku ini tidak hanya memberikan gambaran tentang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Jerusalem, tetapi juga tentang bagaimana kota ini mempengaruhi dan dipengaruhi oleh berbagai agama dan budaya. Bagi siapa pun yang tertarik dengan sejarah, agama, atau politik Timur Tengah, “Jerusalem: The Biography” adalah bacaan yang sangat berharga. (Heri)

Pembersihan Etnis Palestina: Fakta-Fakta yang Tersembunyi dari Sejarah Israel

Resensi buku The Ethnic Cleansing of Palestine, oleh Ilan Pappe

JAYAKARTA NEWS – Buku The Ethnic Cleansing of Palestine, yang ditulis oleh Ilan Pappe, seorang sejarawan dan akademisi asal Israel, adalah sebuah karya non-fiksi yang mengungkap fakta-fakta tentang pembersihan etnis Palestina yang telah dilakukan oleh gerakan zionis sejak tahun 1948. Buku ini berdasarkan pada dokumen-dokumen sejarah, kesaksian-kesaksian, dan analisis-analisis kritis yang menantang versi resmi Israel tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Palestina.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: Bagian pertama, yang berjudul The Drive for an Exclusively Jewish State, menjelaskan latar belakang dan motivasi dari gerakan zionis untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di atas tanah Palestina, yang dihuni oleh mayoritas penduduk Arab.

Pappe menunjukkan bagaimana zionis mengembangkan ideologi, strategi, dan rencana untuk mengusir atau membunuh penduduk Palestina, dengan mengacu pada dokumen rahasia yang disebut Plan Dalet. Pappe juga mengkritik peran Inggris, yang saat itu menjadi penguasa mandat Palestina, yang membiarkan dan bahkan membantu zionis dalam melaksanakan pembersihan etnis.

Bagian kedua, yang berjudul The 1948 War, memaparkan kronologi dan detail dari operasi-operasi militer yang dilakukan oleh zionis untuk merebut dan mengosongkan wilayah-wilayah Palestina, dengan menggunakan kekerasan, teror, dan propaganda.

Pappe menggambarkan bagaimana zionis menyerang dan menghancurkan desa-desa, kota-kota, dan perkampungan-perkampungan Palestina, serta membantai, mengusir, dan menangkap penduduknya. Pappe juga menyoroti perlawanan dan pembelaan yang dilakukan oleh pejuang-pejuang Palestina, meskipun dengan sumber daya yang terbatas dan tanpa dukungan internasional.

Bagian ketiga, yang berjudul The Completion of the Ethnic Cleansing, menguraikan dampak dan akibat dari pembersihan etnis Palestina, baik bagi para korban maupun pelaku. Pappe mengungkapkan bagaimana zionis mencoba untuk menghapus jejak dan ingatan tentang keberadaan dan kebudayaan Palestina, dengan merubah nama-nama, menghancurkan situs-situs, dan membangun pemukiman-pemukiman Yahudi.

Pappe juga mengekspos bagaimana zionis melanjutkan pembersihan etnis terhadap sisa-sisa penduduk Palestina yang masih bertahan di wilayah Israel, dengan menerapkan diskriminasi, konfiskasi, dan deportasi. Pappe juga menyajikan kisah-kisah dan pengalaman-pengalaman dari para pengungsi Palestina, yang terus berjuang untuk kembali ke tanah air mereka.

Buku ini merupakan sebuah karya yang penting, provokatif, dan berani, yang menantang narasi dominan dan mitos-mitos yang dibangun oleh Israel untuk membenarkan penjajahan dan pendudukan mereka di Palestina.

Buku ini juga merupakan sebuah karya yang menyedihkan, mengharukan, dan memilukan, yang menyuarakan penderitaan dan ketidakadilan yang dialami oleh rakyat Palestina, yang terus berlangsung hingga saat ini. Buku ini wajib dibaca oleh siapa saja yang ingin mengetahui dan memahami sejarah, politik, dan konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Palestina. (Heri)

RESENSI BUKU: ‘Jaguar Mengawal Arjuna’

Oleh Egy Massadiah

KITA pertegas dulu tentang nama penulis: Mohamad Hasan, lahir di Bandung Jawa Barat. Dia adalah perwira tinggi bintang dua, Mayor Jenderal TNI Mohamad Hasan, berdarah Minangkabau. Tepatnya Jorong Gantiang Koto Tuo, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Saat ini menjabat Panglima Kodam Jaya/Jayakarta.

Nah, jenderal menulis buku. Sesuatu yang langka. Buku setebal 300 halaman ini berisi catatan-catatan tugas saat Hasan menjabat Komandan Grup A, Pasukan Pengamanan Presiden, 5 Februari 2016 – 12 Januari 2018. Tak kurang dari 165 penugasan pengamanan fisik langsung jarak dekat. Dari jumlah itu, hanya sekitar 40 saja yang ia nukil menjadi buku.

Pada “Preambule” atau pembuka kisah, Hasan menuliskan statement sekaligus sikap atas bukunya. Tulisnya, “Buku ini hanyalah catatan yang berisi beberapa uraian peristiwa yang dialami dan dicatat oleh seorang prajurit yang mendapat keberuntungan mengawal seorang anak bangsa yang dipercaya rakyatnya memimpin Nusantara ini” (halaman xv).

Kata “Nusantara” sudah ada sejak ia berangan-angan membukukan catatannya. “Dan menjadi kebetulan ketika Presiden menamakan calon ibu kota negara dengan nama Nusantara,” ujarnya, saat berpidato di peluncuran bukunya, 26 Juli 2023 di Taman Mini Indonesia Indah, ditemani Suhartono wartawan senior Kompas yang bertindak sebagai editor.

Hasan juga menulis: buku ini bukan semata-mata berisi pujian atau sanjungan seorang pengawal pribadi yang setiap hari ‘nempel’ dengan seorang presiden. Buku ini juga tentunya bukan hanya untuk membesar-besarkan ketokohan seorang pemimpin… (halaman xv)

Hal unik lain dari buku yang dibanderol dengan harga Rp 189.000 ini adalah adanya pencantuman barcode (kode Batangan) di sejumlah judul. Itulah cara Hasan menghadirkan audio-visual dalam deretan teks buku.

Dengan men-scan barcode pembaca akan dihubungkan ke tautan video yang diambil sendiri oleh Hasan. Video-video yang sangat menarik dari aktivitas mengawal Jokowi. Misalnya video saat Jokowi menghadiri pawang rusa Istana Bogor yang mantu (halaman 61). Ada juga video yang diambil dari medsos Presiden Jokowi: Welcome to Mandalika (halaman 166).

Lapangan Tembak

Tentang Hasan, bukan kebetulan, jika saya mengenal baik sosok dan kepribadiannya. Bahkan saya mengenalnya sejak ia masih berpangkat letnan dua di korps baret merah. Saya pun masih menyimpan foto kami berdua yang dikutip dengan kamera rol film tahun 1998 di lapangan tembak dekat kolam renang Cijantung, Jakarta Timur.

Letda Mohamad Hasan dan Egy Massadiah (foto 1998)

Tak hanya Hasan, tetapi juga teman seangkatan yang lain (Akmil 1993), termasuk senior-seniornya, seperti Maruli Simanjuntak, Richard Tampubolon, Iwan Setiawan (Akmil 1992), dan lain-lain.

Di antara koleganya, Hasan terbilang salah satu prajurit yang menyadari betul pentingnya sebuah catatan. Tahu betul filosofi Yunani kuno yang menyebutkan : Verba Volant Scripta Manent. Segala yang terucap akan sirna, yang tertulis akan abadi. Itu pula yang ia lakukan saat bertugas sebagai “jaguar” pengawal Arjuna (sebutan untuk Presiden).

Mandalika yang Pertama

Buku “Menjaga Jokowi, Menjaga Nusantara” ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian Satu: Nusantara Barat. Isinya, 19 tulisan pengawalan Jokowi di wilayah Indonesia Barat.

Bagian Dua: Nusantara Tengah. Isinya, pernak-pernik pengawalan di Indonesia Tengah. Bagian Tiga: Nusantara Timur, berisi delapan tulisan pengawalan di Indonesia Timur. Sedangkan, Bagian Empat: Momen Tergila Mengawal Jokowi, berisi empat tulisan menarik.

Karena dibagi berdasar wilayah, maka tentu saja story yang tertuang dalam buku ini tidak mencerminkan urutan waktu kejadian. Seperti misalnya kisah menarik bagaimana hari pertama ia bertugas mengawal Jokowi, ada di halaman 147 dalam judul Tugas Pertama, Mandalika.

Hasan menulis: “Lazimnya tugas pertama sebagai Komandan Grup A Paspampres saya pun merasa gugup dan takut salah. Walaupun sebelum dilepas sendiri memimpin pengawalan fisik Presiden Jokowi, saya sudah mengikuti beberapa kegiatan Presiden. Waktu itu, saya di bawah pimpinan pendahulu saya, Kolonel Inf Maruli Simanjuntak. Meski demikian, rasa gugup dan canggung tetap datang….:

Tak urung, tugas pertama ia langsung mendapat “isyarat” khusus dari Jokowi. Itu terjadi saat tugas mengawal Jokowi menghadiri peringatan Hari Pers Nasional 9 Februari 2016 di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB.

Melihat tingginya antusiasme tamu undangan menyalami Presiden Jokowi, membuat Hasan khawatir, dan terlalu agresif dalam mengawal Jokowi. Agresivitas seorang pengawal Presiden tentu bisa Anda bayangkan. Tidak saja melindungi Presiden, tetapi ada kalanya harus menghalau massa yang mendekat dengan sikutnya.

Yang terjadi kemudian, Jokowi melihat Hasan dan memberinya isyarat. Sebuah sinyal agar ia menurunkan tensi pengamanan. Sejak itu, ia mulai menyadari sosok presiden yang dikawalnya adalah sosok yang terbilang unik. Alhasil, pengamanan pun diusahakan lebih humanis dan tidak mengganggu kenyamanan masyarakat saat mendekati objek yang dilindunginya.

Belak-belok Arah

Semakin hari, semakin banyak pengalaman Hasan yang sama sekali berbeda dari stigma pengawalan VVIP. Jadwal kunjungan kerja ke tiga titik, mendadak menjadi tujuh titik. Atau suara di perangkat radio dari ajudan yang mengatakan, “Bapak Turun… Bapak Turun….”. Itu artinya, Presiden turun dari mobil kepresidenan dan berjalan kaki ke satu titik.

Kali lain, bahkan berbelok arah dari yang direncanakan. Satu contoh terjadi di Desember 2017, saat Jokowi menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Tiga Pilar Demokrasi di ICE Bumi Serpong Damai. Dalam agenda disebutkan, usai acara Presiden langsung menuju Base Ops Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, terbang ke Yogyakarta menghadiri rangkaian kegiatan selanjutnya.

Apa yang terjadi? Dalam rakornas tadi ternyata hadir mantan presiden BJ Habibie. Usai acara, Jokowi dengan santainya mengajak BJ Habibie naik satu mobil. Rupanya, Jokowi berkenan mengantar Habibie pulang ke kediamannya di Patra Kuningan. Anda bisa bayangkan, betapa Paspampres harus sigap menyisipkan agenda “mengantar Habibie” sebelum ke Halim.

Tiba di Patra Kuningan, Jokowi sigap keluar dari pintu kiri, memutar lewat belakang mobil kepresidenan dan membukakan pintu sebelah kanan, tempat Habibie duduk. Tak hanya itu, Jokowi menyempatkan diri singgah ke kediaman Habibie. Usai melihat-lihat rumah Habibie dan sedikit obrolan, Jokowi pun pamit.

Rupanya, agenda “mengantar senior” bukan kali itu saja. Hasan menuturkan, peristiwa yang sama pernah Jokowi lakukan saat mengantar Megawati Soekarnoputri dan Jusuf Kalla ke kediaman masing-masing, pada bentang waktu yang berbeda.

Momen “Gila”

Lalu moment pengawalan mana yang paling mengesankan? Jawabnya ada di Bagian Empat buku ini: Moment Tergila Mengawal Jokowi. Dari empat peristiwa tersebut, dua di antaranya terbilang “gila”.

Yang pertama saat mengawal Jokowi menembus lautan manusia pada aksi 212 di Monas, April 2018 yang merupakan lanjutan dari aksi 411.

Hari itu hari Jumat. Biasanya, Presiden, Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah pejabat melakukan shalat Jumat di Masjid Baiturrahim yang ada di lingkungan Istana. Mendadak Jokowi berkata kepada JK, “Ayo Pak, kita salat di Monas.” JK terkejut sejenak, dan spontan menjawab, “Ayo, pak.”

Perintah buka gerbang pun diluncurkan. Situasi di luar hujan gerimis. Tapi itu tak menyurutkan niat Jokowi, JK diiringi pejabat lain salat Jumat di Monas, bersama aktivis 212. Hasan dan pasukan Paspampres lain pun sigap mengamankan keadaan yang memang genting. Di dalam buku Hasan mengisahkannya dengan detail.

Setelah semua ketegangan terjadi, di perjalanan menuju Istana, Jokowi menepuk punggung Hasan. “Aman ya, pak Hasan.” Lekas Hasan menyahut, “Siap, alhamdulillah, aman.” Tapi Jokowi tidak tahu, degup jantung Hasan masih sangatlah kencang.

Kejadian “gila” lain yang tak mungkin hilang dari ingatan (dan catatan) Hasan adalah saat berkunjung ke Papua, tepatnya ke Kabupaten Jayawijaya melihat dari dekat pembangunan infrastruktur. Di luar dugaan, Presiden menghendaki peninjauan sampai ke dalam, menggunakan motor trail dari Wamena ke Danau Habema.

Disebut “gila” karena Wamena hingga kini masih dianggap daerah “merah” atau berbahaya. Apalagi perjalanan melalui pegunungan dan hutan di kiri kanan jalan menuju arah Tiom, Kabupaten Lanny Jaya. Di situ juga terbilang rawan, karena masih sering terjadi penghadangan terhadap masyarakat dan aparat TNI/Polri oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka) atau yang kini disebut KKB (Kelompok Keamanan Bersenjata).

Singkat cerita, perjalanan 10 km itu pun lancar dan aman.

Begitulah, tetap saja, itu sebuah perjalanan ‘gila’. Dan Hasan mencatat semuanya dengan rinci, lalu menyajikannya menjadi sebuah kisah pengawalan yang menarik.

Selamat menyimak bacaan yang renyah di dalam buku Hasan.

(Egy Massadiah, wartawan senior dan konsultan media)