Bunyi yang Tak Mau Diam: Catatan dari Sebuah Demonstrasi yang Direkam

Oleh : Heri Mulyono

Di sebuah bar kecil bernama Emma di Medan, pada malam 14 Agustus, sekelompok penikmat musik duduk berhimpitan mendengarkan tujuh lagu yang, menurut penciptanya, bukan sekadar album, melainkan sebuah demonstrasi yang direkam dalam bunyi.

Perempuan yang duduk di tengah ruangan itu bernama Rani Jambak—komposer, produser, perancang instrumen, field recordist, sekaligus vokalis berdarah Minangkabau kelahiran Medan. Album yang ia bedah malam itu berjudul LARA(NGAN), dirilis 10 Agustus lalu lewat Yes No Wave Music, netlabel nirlaba asal Yogyakarta yang sejak 2007 dikenal menaungi musik independen, eksperimental, elektronik, dan karya-karya yang sengaja memilih jalan di luar arus utama industri musik nasional.

Suasana listening session itu jauh dari kesan seremonial peluncuran album pada umumnya. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada tata lampu megah. Yang ada hanya sound system sederhana, kursi-kursi yang berdempetan, dan Rani yang duduk sejajar dengan penonton, menjelaskan satu per satu gagasan di balik tujuh komposisinya sebelum setiap lagu diputar. Keintiman semacam itu tampak disengaja: album ini memang tidak dirancang untuk didengar sambil lalu, melainkan untuk direnungkan bersama, dalam ruang yang cukup kecil untuk membuat setiap orang saling mendengar napas satu sama lain.

Momentumnya tidak kebetulan. Peringatan 81 tahun kemerdekaan tahun ini terasa berbeda dari perayaan-perayaan sebelumnya. Di Aceh, tenggat 15 Agustus kembali mengingatkan publik pada janji perdamaian Helsinki yang hingga kini belum sepenuhnya terlaksana, menyisakan pertanyaan lama yang belum juga menemukan jawaban tuntas. Di berbagai daerah lain, ketimpangan pembangunan dan sengketa pengelolaan sumber daya alam terus memantik kegelisahan warga yang merasa pembangunan belum sampai ke halaman rumah mereka. Dan sehari setelah 17 Agustus, mahasiswa Universitas Indonesia bersama sejumlah elemen masyarakat sipil turun ke jalan dalam aksi bertajuk #MerebutKemerdekaan, seolah menegaskan bahwa kemerdekaan yang dirayakan secara seremonial belum tentu selaras dengan kemerdekaan yang dirasakan.

Rani sengaja melepas albumnya sebelum tanggal keramat itu tiba. Ia mengaku terlalu miris dan menyakitkan menyaksikan cara pemerintah merayakan kemerdekaan tahun ini, di tengah tumpukan persoalan yang belum juga selesai. Baginya, merilis LARA(NGAN) tepat sebelum 17 Agustus bukan sekadar strategi promosi, melainkan pernyataan sikap.

Bagi sebagian orang, keresahan semacam itu berlabuh di jalanan. Bagi Rani, keresahan menemukan jalan lain: bunyi.

Ketika Panggung Berpindah

Rani bukan orang asing bagi ruang-ruang protes. Awal Juli lalu, ia turut ambil bagian dalam aksi “Liburan Tetap Melawan” di Bundaran UGM, berbaur dengan komunitas Ibu Berisik dan elemen masyarakat sipil lain, membawa musik sebagai bagian dari penyampaian aspirasi. “Intinya, kita jangan sampai kehilangan kedaulatan atas diri sendiri untuk bersuara,” ujarnya suatu waktu.

Namun ketika kembali ke ruang artistiknya, cara Rani bersuara berubah wujud. “Kalau mahasiswa atau aktivis, aksinya dengan demonstrasi. Musisi, selain bisa ikut demonstrasi, juga bisa melahirkan karya-karya tentang perlawanan,” katanya, merumuskan posisinya sebagai seniman di tengah gaduhnya zaman.

Itulah yang membedakan LARA(NGAN) dari sekadar rilisan musik biasa. Rani tidak menuliskan slogan politik yang gamblang di baris liriknya. Ia justru menanamkan rekaman suara demonstrasi ke dalam tekstur album, membiarkan pendengar menangkap sendiri kritik yang tersembunyi di balik bunyi. “Semua trek dikerjakan dengan hati yang lirih dan marah pada saat yang bersamaan. Kadang saya bertanya-tanya, mungkinkah harapan masih bisa kita miliki?” katanya.

Bunyi sebagai Cara Membaca Dunia

Untuk memahami mengapa Rani memilih jalan sunyi semacam ini, orang perlu menengok ke belakang, ke cara kerjanya yang jauh dari konvensi industri musik. Baginya, bunyi bukan hiburan, melainkan metode membaca kebudayaan—dari suara alam dan aktivitas sosial, hingga pengetahuan dan warisan Nusantara yang nyaris terlupakan.

Dalam karya berjudul Kincia Aia, misalnya, ia mengolah teknologi kincir air tradisional Minangkabau menjadi instrumen musik bersensor, mengubah benda fungsional warisan leluhur menjadi sumber bunyi baru. Dalam Pamedangan, ia mempertemukan teknik sulam tradisional Minangkabau dengan video dan komposisi audio, membongkar warisan budaya dari statusnya sebagai benda mati masa lalu menjadi material yang terus hidup dan berbunyi.

Pendekatan itu bukan tanpa pengakuan. Pada 2022, praktiknya membawanya meraih The Oram Awards kategori internasional di Inggris, penghargaan yang mengapresiasi inovasi dalam suara, musik, dan teknologi.

Tetapi bagi Rani, eksperimen bunyi tidak pernah berhenti sebagai latihan estetika semata. Desember tahun lalu, dalam program Sounds from Sumatra di Melbourne, ia membawa persoalan krisis ekologis dan bencana yang melanda Sumatera ke panggung internasional. “Saat itu saya tidak datang membawa kegembiraan. Saya datang membawa kabar duka dari Sumatera,” katanya mengenang penampilan itu.

Dari warisan budaya menuju krisis ekologis, garis kerja Rani sesungguhnya konsisten: bunyi selalu menjadi caranya membaca sekaligus menyuarakan apa yang terjadi di sekitarnya, entah itu peninggalan leluhur atau luka lingkungan yang masih basah. Ia tidak memisahkan dirinya sebagai seniman panggung dari dirinya sebagai peneliti bunyi; keduanya berjalan pada rel yang sama, saling mengisi, dan pada akhirnya bertemu dalam album yang malam itu ia bedah di Emma.

Cara kerja semacam ini menempatkan Rani pada garis yang agak berbeda dari kebanyakan musisi arus utama. Ia tidak memulai proses penciptaan dari melodi atau lirik, melainkan dari pertanyaan: bunyi apa yang selama ini luput didengar, dan mengapa? Pertanyaan itulah yang kemudian menuntunnya masuk ke kincir air, ke teknik sulam, ke rekaman lapangan, hingga akhirnya ke arsip kolonial yang kini sedang ia tekuni.

Dua Kata yang Bertemu

Nama album ini sendiri lahir dari pertemuan dua kata yang secara bunyi mirip, namun menyimpan jarak makna yang dalam: larangan dan lara. Dalam kosmologi Nusantara yang menjadi pijakan berpikir Rani, larangan adalah batas yang menjaga relasi manusia dengan adat, spiritualitas, dan alam. Begitu batas itu dilanggar, yang muncul kemudian adalah lara—luka yang menjalar dari tanah, merambat hingga ke tubuh manusia.

Konsep itu menuntun tujuh komposisi dalam album menjadi semacam kurva eskalasi emosi, dari kelahiran hingga kemungkinan pemulihan. Pedogenesis membuka album dengan berbicara tentang kelahiran tanah dan keserakahan manusia atas kekayaan alam Sumatera. “Tanah yang menyuburkan tanaman dan melahirkan keanekaragaman hayati jauh lebih penting daripada emas. Kita bernapas dengan oksigen, bukan emas,” kata Rani menjelaskan gagasan di baliknya.

Trek berikutnya, Mikroseisme, mengambil istilah dari getaran bumi yang sangat halus, hanya dapat ditangkap oleh seismograf, sebagai metafora suara rakyat yang tak pernah benar-benar didengar penguasa yang “tidak memasang telinganya.” Regang menggambarkan kehidupan yang tumbuh pucat karena kehilangan cahaya, sebelum kemarahan itu berkembang menjadi rasa sakit yang dipikul bersama dalam Saseso, dan akhirnya menyentuh titik mati rasa dalam Abih Raso—ketika manusia telah terlalu terluka atau kehilangan empatinya.

Setelah titik nadir itu, Kun menghadirkan kemungkinan bumi memulihkan dirinya sendiri, sebelum Utopia menutup album dengan membayangkan dunia damai yang barangkali hanya akan menjadi impian bagi manusia yang sudah telanjur merusaknya. Dari luka menuju kemungkinan pemulihan, begitulah arah perjalanan album ini dirancang.

Namun keresahan Rani, ia menegaskan, tidak berhenti pada persoalan ekologis semata. “Tanah kita, saudara-saudara kita di berbagai wilayah Nusantara tidak berada dalam kondisi yang adil. Hari ini kita mendengar lagi dan lagi ‘Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’. Di dalam hati saya hanya ada satu pertanyaan: bagi siapa?” Pertanyaan itulah yang, menurutnya, menjadi kunci untuk membaca LARA(NGAN)—bukan semata tentang alam yang terluka, melainkan tentang manusia yang kehilangan hubungan dengan tanah, sesama, empati, bahkan sesuatu yang dulu dianggap sakral.

Arsip yang Belum Selesai Dibaca

Kegelisahan Rani terhadap siapa yang berhak bersuara dan siapa yang berhak didengar rupanya tidak lahir dari ruang kosong. Kini ia tengah memperdalam persoalan itu lewat studi doktoral bertajuk Sound Heritage, dalam program Re:Sound, kerja sama Universitas Gadjah Mada dengan Universiteit van Amsterdam. Akhir Agustus ini, Rani dijadwalkan berangkat ke Amsterdam untuk tinggal setahun, meneliti koleksi suara peninggalan Jaap Kunst, etnomusikolog Belanda yang merekam musik di Hindia Belanda sepanjang 1919 hingga 1934.

Koleksi itu menyimpan rekaman suara, foto, film, dan dokumen tentang kehidupan musik Nusantara pada masa kolonial—arsip yang selama puluhan tahun tersimpan jauh dari tangan masyarakat yang suaranya direkam. Lewat isu dekolonisasi dan repatriasi, Rani hendak membaca ulang arsip tersebut dengan mempertanyakan siapa yang dulu merekam, siapa yang berwenang menentukan cara kebudayaan dijelaskan, dan bagaimana masyarakat sumber aslinya kini bisa membaca kembali warisan yang pernah diambil dari mereka.

Bagi Rani, pertanyaan itu tidak berhenti di masa kolonial. Ketika satu pengetahuan dianggap paling sahih sementara pengetahuan dan suara kelompok lain disisihkan, pola yang sama, menurutnya, bisa muncul kembali dalam wajah baru di zaman sekarang—termasuk di Indonesia hari ini, ketika suara mahasiswa, warga terdampak proyek pembangunan, atau masyarakat adat kerap kali harus berteriak lebih keras hanya untuk didengar sejenak oleh mereka yang berwenang mengambil keputusan.

Dalam pengertian itu, riset Rani tentang arsip kolonial dan albumnya tentang keresahan hari ini sebenarnya berbicara tentang persoalan yang sama, hanya dipisahkan oleh jarak waktu satu abad: siapa yang diberi ruang untuk bersuara, dan siapa yang harus puas menjadi objek yang direkam, dijelaskan, lalu dilupakan.

Demo yang Bisa Diputar Ulang

Kembali ke malam di Emma, ketika mahasiswa di Jakarta bersiap turun ke jalan menuntut perubahan, Rani merasa kesadaran kolektif itu tetap menyala dari arah yang berbeda. “Perjuangan harus tetap dijaga, dinyalakan, dan terus diingatkan. Dengan berbagai cara. Saya memilih cara musikal, tetap menyalakan ingatan melalui LARA(NGAN),” ujarnya.

Ada gambaran yang mengendap dari pertemuan malam itu: mahasiswa turun ke jalan, sementara Rani membuat album. Keduanya bukan dua jalan yang saling menggantikan, melainkan dua jalan yang berjalan berdampingan, masing-masing mengambil rute sendiri untuk sampai pada tujuan yang serupa. “Aksi seorang komposer atau musisi adalah melalui karya album. Tentang perlawanan,” kata Rani merumuskan sikapnya.

Barangkali karena itu pula LARA(NGAN) lebih pas dibaca bukan sebagai album yang sekadar diluncurkan ke pasar musik, melainkan sebuah demonstrasi yang kebetulan direkam dalam bunyi. Bedanya dengan demonstrasi di jalanan, demonstrasi semacam ini tidak selesai begitu massa membubarkan diri dan spanduk digulung. Ia bisa diputar kembali, didengar kembali, dan diingat kembali—kapan pun pendengarnya membutuhkan alasan untuk tetap gelisah, atau sekadar ingin tahu bagaimana rasanya seorang seniman menahan diri agar tidak berhenti bersuara.

Di ruangan sempit bar Emma malam itu, tidak ada yel-yel, tidak ada spanduk, tidak ada barisan massa yang berjalan. Yang ada hanya bunyi—kincir air yang berubah jadi instrumen, getaran bumi yang jadi metafora, dan seorang perempuan yang memilih merekam kegelisahannya alih-alih meneriakkannya.

Ketika sesi mendengarkan itu usai, tidak ada orasi penutup, tidak ada seruan untuk kembali bertemu di titik kumpul berikutnya. Rani hanya mengucapkan terima kasih, dan para penonton perlahan beranjak ke luar bar, membawa tujuh lagu yang baru saja mereka dengar entah ke mana. Sebagian mungkin akan memutarnya lagi di kamar kos, sebagian lain mungkin hanya mengingat satu dua kalimat yang sempat terucap malam itu. Namun justru di situlah letak kekuatan sebuah karya dibanding sebuah aksi jalanan: ia tidak bergantung pada jumlah massa yang hadir pada satu waktu tertentu, dan ia tidak selesai begitu lampu panggung dimatikan.

Ketika suatu hari nanti keresahan yang sama muncul kembali—entah karena persoalan ekologis yang belum terselesaikan, atau karena suara rakyat yang kembali tidak didengar oleh mereka yang berkuasa—LARA(NGAN) akan tetap ada, siap diputar ulang, membawa kembali pertanyaan yang sama: bagi siapa sebenarnya kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran itu diperjuangkan? Sebuah demo, dengan medium yang berbeda, yang tidak akan pernah benar-benar selesai selama pertanyaan itu belum terjawab. (*)

Mamasak Asa: Ketika Jarum dan Bunyi Merawat Ingatan Minangkabau

Rani Jambak mengubah sulam tradisional menjadi medium bunyi eksperimental di panggung IWA #4: On The Map, Galeri Nasional Indonesia.

Oleh : Heri Mulyono

Pada Sabtu siang, 16 Mei 2026, sebuah sudut Galeri Nasional Indonesia Jakarta berubah menjadi ruang meditatif yang luar biasa: seorang seniman perempuan menyulam, dan setiap tusukan jarumnya melahirkan bunyi yang memenuhi seluruh langit-langit gedung.

Itulah momen pembuka Mamasak Asa—pertunjukan performans Rani Jambak yang berlangsung di tengah keramaian pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map. Kurang dari satu jam, pertunjukan itu mengubah asumsi tentang apa yang bisa dilakukan oleh sepotong kain, seutas benang, dan sebatang jarum di dalam ruang seni kontemporer Indonesia.

Tidak ada gitar. Tidak ada synthesizer yang terhubung ke laptop dengan ratusan plugin. Tidak ada perkusi atau piano. Yang ada hanya sebuah bingkai kayu sulam tradisional Minangkabau—disebut pamedangan—dan seorang perempuan yang duduk di hadapannya dengan konsentrasi penuh. Namun ruang Gedung A Galeri Nasional itu perlahan dipenuhi lapisan suara yang kaya: dengung elektronik, desah sarunai, gesekan benang pada kain, dan alunan pembacaan naskah kuno Minangkabau.

Di situlah letak kejeniusan Rani Jambak sebagai seniman bunyi: ia menemukan musik di dalam tindakan yang paling sehari-hari dan paling sering diabaikan—tindakan menyulam.

Tubuh sebagai Konduktor

Secara teknis, cara kerja Mamasak Asa sesungguhnya bertumpu pada konsep yang sederhana namun mencengangkan. Rani menyulam di atas kain tembaga EMF anti-radiasi yang terhubung dengan perangkat elektronik Touch Me dari Playtronica. Ketika jarum menyentuh permukaan kain itu, arus listrik mengalir melalui tubuh Rani dan mengirimkan sinyal MIDI ke sistem audio. Sinyal itu diproses secara real-time menjadi komposisi bunyi yang berubah-ubah sesuai ritme dan pola sulaman yang ia kerjakan.

Dengan kata lain, tubuh Rani bukan sekadar instrumen ekspresi estetik—ia secara harfiah adalah konduktor listrik yang menghubungkan jarum, benang, kain, dan bunyi. Setiap pilihan estetik dalam menyulam—seberapa dalam tusukan, seberapa cepat tarikan benang, di titik mana jarum menghujam—menjadi keputusan komposisi musikal sekaligus.

Dalam tradisi seni bunyi (sound art) global, pendekatan semacam ini bukan tanpa preseden. John Cage pernah mengubah keheningan menjadi musik. Alvin Lucier merekam gelombang otaknya sendiri. Namun apa yang dilakukan Rani berbeda dalam satu hal yang krusial: ia tidak mengambil objek netral atau acak sebagai medium. Ia mengambil sulam—praktik yang secara historis dan budaya telah lama dipikul oleh perempuan sebagai kewajiban domestik, bukan sebagai ekspresi diri.

Pilihan itu bukan sekadar keputusan teknis. Ia adalah pernyataan kritis.

Marapi, Tambo, dan Kosmologi Minangkabau

Mamasak Asa tidak hadir dalam ruang hampa. Ia lahir dari kedalaman narasi, baik personal maupun historis, yang menjadikan Gunung Marapi sebagai pusat simboliknya.

Rani tinggal di Lasi, sebuah kawasan di kaki Gunung Marapi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Gunung berapi aktif yang belakangan sering bergejolak itu bukan semata fenomena geologis baginya. Dalam Tambo Alam Minangkabau—naskah besar yang merekam kosmologi, sejarah, dan sistem adat masyarakat Minangkabau—disebutkan bahwa leluhur pertama Minangkabau turun dan menapakkan kaki di Gunung Marapi ketika bumi masih tampak sekecil telur itik. Dari puncak gunung itulah kehidupan, pertanian, dan peradaban Minangkabau berkembang.

Marapi adalah ibu pertiwi dalam pengertian yang paling harfiah: ia tanah asal, ia akar genealogi, ia pusat gravitasi kebudayaan.

Ketika gunung itu bergejolak—ketika ledakan terdengar dan abu vulkanik membubung tinggi—Rani merasakan sesuatu yang paradoksal: rasa takut yang bercampur kekaguman, rasa kecil di hadapan alam yang bercampur keharusan untuk merespons. Karya seni, baginya, adalah cara terbaik untuk merespons perasaan yang tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata biasa.

Dalam Mamasak Asa, respons itulah yang berwujud. Motif sulaman yang ia kerjakan menggunakan teknik Suji Caia—teknik sulam tradisional Minangkabau—adalah representasi Marapi. Sementara soundscape yang mengiringi pertunjukan menggabungkan rekaman pembacaan Tambo Alam Minangkabau dari Surau Parak Laweh dengan komposisi elektronik yang dibentuk oleh gerakan tubuh Rani sendiri.

Hasilnya adalah semacam ritual pendengaran: penonton tidak sekadar menonton seniman bekerja, tetapi ikut mendengarkan ingatan yang mengalir dari tangan, tubuh, kain, dan suara yang berlapis-lapis. Salah satu dimensi penting soundscape tersebut berangkat dari proyek kolaborasi sebelumnya bersama M. Hario Efenur di SOAS University of London, bertajuk Resonant Pages: Baco Aso Curah Raso—sebuah interpretasi pertunjukan musik dari naskah Tambo itu sendiri.

Rohana Kudus dan Warisan yang Hidup

Membaca karya Rani secara penuh tidak bisa dilakukan tanpa menempatkannya dalam silsilah panjang perempuan Minangkabau yang menjadikan sulam sebagai ruang berdaya.

Pada 1915, Rohana Kudus—tokoh yang kemudian dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia—mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang, Agam. Rumah itu bukan sekadar tempat belajar menyulam. Ia adalah institusi pendidikan perempuan yang melampaui zamannya: perempuan belajar keterampilan tangan, membangun kemandirian ekonomi, dan memperkuat solidaritas komunitas mereka melalui satu medium yang selama ini dianggap remeh.

Di tangan Rohana, sulam menjadi alat emansipasi. Ia mengubah ruang domestik menjadi ruang politik dan pedagogis.

Rani mewarisi semangat itu—bukan secara sentimental, tetapi secara kritis. Ia tidak memuliakan sulam sebagai nostalgia atau romantisasi masa lalu, melainkan mengajukannya kembali sebagai pertanyaan: jika dulu perempuan membangun ruang pengetahuan melalui sulaman, apa yang bisa dilakukan sulaman hari ini?

Jawabannya, melalui Mamasak Asa dan instalasi interaktifnya Pamedangan, adalah: sulam bisa menjadi bunyi, sulam bisa menjadi komposisi, sulam bisa menjadi antarmuka antara tubuh manusia dan teknologi digital, sulam bisa menjadi cara merawat ingatan kolektif lintas generasi.

Proses pengembangan Pamedangan sendiri tidak dikerjakan Rani sendirian. Ia belajar langsung dari penyulam tradisional di Koto Tuo dan berkolaborasi dengan Essy Hariya, penyulam generasi keempat yang mewarisi teknik dan motif dari keluarganya. Kolaborasi itu menempatkan karya Rani bukan sebagai apropriasi atas tradisi, melainkan sebagai perpanjangan hidup dari pengetahuan yang sudah ada—sebuah rantai pewarisan yang terus bergerak.

Pamedangan: Ruang Partisipasi dan Instalasi Interaktif

Mamasak Asa adalah performans; Pamedangan adalah instalasi. Keduanya lahir dari ekosistem artistik yang sama dan dipamerkan bersama dalam IWA #4, yang berlangsung sejak 10 April hingga 30 Juni 2026.

Dalam Pamedangan, Rani membangun pengalaman yang lebih terbuka dan partisipatif. Pengunjung diajak untuk ikut menyulam di atas kain tembaga yang sama dan menghasilkan bunyi dari aktivitas mereka sendiri. Instalasi ini mempertemukan dimensi visual (motif sulaman), dimensi bunyi (sound art berbasis sentuhan), dimensi video (dokumentasi dan narasi visual), dan dimensi partisipasi publik dalam satu ruang yang kohesif.

Efek yang dihasilkan melampaui sensasi teknologi. Ketika tangan pengunjung menyentuh kain dan bunyi mengalir, ada momen di mana batas antara penonton dan karya seni memudar. Tiba-tiba siapa pun—dengan latar belakang apa pun—bisa merasakan bahwa tubuhnya sendiri adalah sumber musik, dan bahwa tindakan paling sederhana sekalipun bisa menjadi ekspresi.

Dalam bahasa kritik seni kontemporer, pendekatan semacam ini sering disebut sebagai relational aesthetics—seni yang mengutamakan interaksi dan hubungan antar-manusia sebagai substansi karyanya. Namun Rani memberikan dimensi tambahan: hubungan itu tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga temporal. Ia menghubungkan orang-orang yang hadir di galeri dengan ingatan kolektif yang jauh lebih panjang dari usia mereka sendiri.

IWA #4 dan Peta Perupa Perempuan Indonesia

Kehadiran Mamasak Asa tidak bisa dibaca sepenuhnya tanpa konteks kuratorial yang lebih besar. IWA #4: On The Map adalah pameran keempat dari platform Indonesian Women Artists yang diselenggarakan Yayasan Cemara Enam bersama Galeri Nasional Indonesia.

Dikuratori oleh Carla Bianpoen, Nyoman Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi, pameran ini menghadirkan dua belas perupa perempuan Indonesia yang bekerja lintas medium dan lintas generasi. Di satu sisi ada nama-nama mapan seperti Sri Astari Rasjid, Umi Dachlan, dan Lucia Hartini—perupa senior yang jejak estetiknya telah lama menjadi bagian dari kanon seni rupa Indonesia. Di sisi lain ada generasi yang lebih muda seperti Rani Jambak, Ve Dhanita, Citra Sasmita, dan Irene Agrivina—seniman-seniman yang praktiknya berakar dalam kegelisahan kontemporer tentang identitas, tubuh, teknologi, dan lingkungan.

Pertemuan dua generasi ini bukan sekadar gestur inklusif. Ia mencerminkan argumen kuratorial yang lebih mendasar: bahwa seni rupa perempuan Indonesia tidak hadir dalam vakum, tetapi merupakan percakapan panjang lintas waktu yang belum selesai. Ketika Rani Jambak menyulam dan menghasilkan bunyi, ia tidak hanya berbicara kepada penonton di Galeri Nasional—ia juga berbicara kepada seluruh silsilah perempuan yang pernah memegang jarum sebelumnya.

Tema On The Map sendiri membawa ironi yang produktif. Dalam bahasa kartografi, memetakan berarti menempatkan sesuatu dalam koordinat yang dikenali, memberi nama, memberi lokasi. Namun dalam konteks seni perempuan Indonesia, banyak praktik artistik yang selama ini justru tidak masuk peta—dipinggirkan oleh kanon yang didominasi nama dan perspektif laki-laki, atau diabaikan karena berangkat dari medium yang dianggap rendah. IWA #4 mengajukan pertanyaan: peta siapa yang selama ini kita gunakan?

Ritme yang Lambat sebagai Pernyataan

Di era ketika seni digital dan kecerdasan buatan berlomba menghasilkan karya dalam hitungan detik, ada sesuatu yang tegas dan bahkan subversif dalam pilihan Rani untuk bekerja dengan ritme sulaman.

Menyulam adalah aktivitas yang lambat, berulang, dan penuh perhatian. Satu motif bisa membutuhkan jam, bahkan hari untuk diselesaikan. Di tangan Rani, kelambatan itu bukan keterbatasan—ia adalah konsep. Ia adalah cara untuk menghadirkan kembali jenis perhatian yang makin langka di tengah percepatan digital: perhatian yang hadir sepenuhnya, yang merasa, yang mendengar.

Dalam Mamasak Asa, penonton yang semula bergerak cepat di antara karya-karya pameran mendadak berhenti. Ritme sulaman Rani menarik mereka masuk ke dalam frekuensi yang berbeda—lebih lambat, lebih dalam, lebih penuh resonansi. Sekitar seratus orang hadir dan menyaksikan pertunjukan itu dari awal hingga akhir, sebagian besar dalam keheningan yang penuh perhatian.

Itu bukan hal kecil. Dalam budaya pameran seni kontemporer yang sering kali bergerak dalam mode turisme visual, kemampuan sebuah karya untuk benar-benar menghentikan langkah penonton adalah ukuran tersendiri dari keberhasilan estetik.

Mendengar Ulang

Pada akhirnya, Mamasak Asa adalah undangan untuk mendengar ulang—bukan hanya bunyi di dalam ruang galeri, tetapi juga suara-suara yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih sering terlupakan.

Suara perempuan-perempuan yang pernah menyulam di dapur dan di balai-balai surau, yang merawat motif-motif budaya dalam keheningan kerja tangan mereka. Suara Rohana Kudus yang mengajarkan bahwa jarum dan benang bisa menjadi alat kemerdekaan. Suara Tambo yang merekam memori tentang asal-usul di puncak gunung yang masih bergejolak hingga hari ini.

Rani Jambak tidak menciptakan narasi baru dari nol. Ia mendengarkan narasi yang sudah ada, menemukan frekuensinya, dan menyiarkannya kembali melalui bahasa artistik yang berbicara kepada masa kini.

Di Galeri Nasional Jakarta, pada Sabtu siang itu, sebuah jarum menyentuh kain tembaga, dan bunyi mengisi ruangan. Itu bukan sekadar pertunjukan. Itu adalah cara sebuah kebudayaan mengingat dirinya sendiri—perlahan, teliti, dan meninggalkan gema yang panjang. (*)