• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Mamasak Asa: Ketika Jarum dan Bunyi Merawat Ingatan Minangkabau

Mamasak Asa: Ketika Jarum dan Bunyi Merawat Ingatan Minangkabau

May 21, 2026
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

October 19, 2026
Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

October 18, 2026
Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

October 18, 2026
Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

October 18, 2026
Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

October 18, 2026
Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

October 18, 2026
Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

October 17, 2026
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

October 17, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Monday, October 19, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Mamasak Asa: Ketika Jarum dan Bunyi Merawat Ingatan Minangkabau

by admin
May 21, 2026
in Kabar
0
Mamasak Asa: Ketika Jarum dan Bunyi Merawat Ingatan Minangkabau
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Rani Jambak mengubah sulam tradisional menjadi medium bunyi eksperimental di panggung IWA #4: On The Map, Galeri Nasional Indonesia.

Oleh : Heri Mulyono

Pada Sabtu siang, 16 Mei 2026, sebuah sudut Galeri Nasional Indonesia Jakarta berubah menjadi ruang meditatif yang luar biasa: seorang seniman perempuan menyulam, dan setiap tusukan jarumnya melahirkan bunyi yang memenuhi seluruh langit-langit gedung.

Itulah momen pembuka Mamasak Asa—pertunjukan performans Rani Jambak yang berlangsung di tengah keramaian pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map. Kurang dari satu jam, pertunjukan itu mengubah asumsi tentang apa yang bisa dilakukan oleh sepotong kain, seutas benang, dan sebatang jarum di dalam ruang seni kontemporer Indonesia.

Tidak ada gitar. Tidak ada synthesizer yang terhubung ke laptop dengan ratusan plugin. Tidak ada perkusi atau piano. Yang ada hanya sebuah bingkai kayu sulam tradisional Minangkabau—disebut pamedangan—dan seorang perempuan yang duduk di hadapannya dengan konsentrasi penuh. Namun ruang Gedung A Galeri Nasional itu perlahan dipenuhi lapisan suara yang kaya: dengung elektronik, desah sarunai, gesekan benang pada kain, dan alunan pembacaan naskah kuno Minangkabau.

Di situlah letak kejeniusan Rani Jambak sebagai seniman bunyi: ia menemukan musik di dalam tindakan yang paling sehari-hari dan paling sering diabaikan—tindakan menyulam.

Tubuh sebagai Konduktor

Secara teknis, cara kerja Mamasak Asa sesungguhnya bertumpu pada konsep yang sederhana namun mencengangkan. Rani menyulam di atas kain tembaga EMF anti-radiasi yang terhubung dengan perangkat elektronik Touch Me dari Playtronica. Ketika jarum menyentuh permukaan kain itu, arus listrik mengalir melalui tubuh Rani dan mengirimkan sinyal MIDI ke sistem audio. Sinyal itu diproses secara real-time menjadi komposisi bunyi yang berubah-ubah sesuai ritme dan pola sulaman yang ia kerjakan.

Dengan kata lain, tubuh Rani bukan sekadar instrumen ekspresi estetik—ia secara harfiah adalah konduktor listrik yang menghubungkan jarum, benang, kain, dan bunyi. Setiap pilihan estetik dalam menyulam—seberapa dalam tusukan, seberapa cepat tarikan benang, di titik mana jarum menghujam—menjadi keputusan komposisi musikal sekaligus.

Dalam tradisi seni bunyi (sound art) global, pendekatan semacam ini bukan tanpa preseden. John Cage pernah mengubah keheningan menjadi musik. Alvin Lucier merekam gelombang otaknya sendiri. Namun apa yang dilakukan Rani berbeda dalam satu hal yang krusial: ia tidak mengambil objek netral atau acak sebagai medium. Ia mengambil sulam—praktik yang secara historis dan budaya telah lama dipikul oleh perempuan sebagai kewajiban domestik, bukan sebagai ekspresi diri.

Pilihan itu bukan sekadar keputusan teknis. Ia adalah pernyataan kritis.

Marapi, Tambo, dan Kosmologi Minangkabau

Mamasak Asa tidak hadir dalam ruang hampa. Ia lahir dari kedalaman narasi, baik personal maupun historis, yang menjadikan Gunung Marapi sebagai pusat simboliknya.

Rani tinggal di Lasi, sebuah kawasan di kaki Gunung Marapi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Gunung berapi aktif yang belakangan sering bergejolak itu bukan semata fenomena geologis baginya. Dalam Tambo Alam Minangkabau—naskah besar yang merekam kosmologi, sejarah, dan sistem adat masyarakat Minangkabau—disebutkan bahwa leluhur pertama Minangkabau turun dan menapakkan kaki di Gunung Marapi ketika bumi masih tampak sekecil telur itik. Dari puncak gunung itulah kehidupan, pertanian, dan peradaban Minangkabau berkembang.

Marapi adalah ibu pertiwi dalam pengertian yang paling harfiah: ia tanah asal, ia akar genealogi, ia pusat gravitasi kebudayaan.

Ketika gunung itu bergejolak—ketika ledakan terdengar dan abu vulkanik membubung tinggi—Rani merasakan sesuatu yang paradoksal: rasa takut yang bercampur kekaguman, rasa kecil di hadapan alam yang bercampur keharusan untuk merespons. Karya seni, baginya, adalah cara terbaik untuk merespons perasaan yang tidak bisa diselesaikan dengan kata-kata biasa.

Dalam Mamasak Asa, respons itulah yang berwujud. Motif sulaman yang ia kerjakan menggunakan teknik Suji Caia—teknik sulam tradisional Minangkabau—adalah representasi Marapi. Sementara soundscape yang mengiringi pertunjukan menggabungkan rekaman pembacaan Tambo Alam Minangkabau dari Surau Parak Laweh dengan komposisi elektronik yang dibentuk oleh gerakan tubuh Rani sendiri.

Hasilnya adalah semacam ritual pendengaran: penonton tidak sekadar menonton seniman bekerja, tetapi ikut mendengarkan ingatan yang mengalir dari tangan, tubuh, kain, dan suara yang berlapis-lapis. Salah satu dimensi penting soundscape tersebut berangkat dari proyek kolaborasi sebelumnya bersama M. Hario Efenur di SOAS University of London, bertajuk Resonant Pages: Baco Aso Curah Raso—sebuah interpretasi pertunjukan musik dari naskah Tambo itu sendiri.

Rohana Kudus dan Warisan yang Hidup

Membaca karya Rani secara penuh tidak bisa dilakukan tanpa menempatkannya dalam silsilah panjang perempuan Minangkabau yang menjadikan sulam sebagai ruang berdaya.

Pada 1915, Rohana Kudus—tokoh yang kemudian dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia—mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang, Agam. Rumah itu bukan sekadar tempat belajar menyulam. Ia adalah institusi pendidikan perempuan yang melampaui zamannya: perempuan belajar keterampilan tangan, membangun kemandirian ekonomi, dan memperkuat solidaritas komunitas mereka melalui satu medium yang selama ini dianggap remeh.

Di tangan Rohana, sulam menjadi alat emansipasi. Ia mengubah ruang domestik menjadi ruang politik dan pedagogis.

Rani mewarisi semangat itu—bukan secara sentimental, tetapi secara kritis. Ia tidak memuliakan sulam sebagai nostalgia atau romantisasi masa lalu, melainkan mengajukannya kembali sebagai pertanyaan: jika dulu perempuan membangun ruang pengetahuan melalui sulaman, apa yang bisa dilakukan sulaman hari ini?

Jawabannya, melalui Mamasak Asa dan instalasi interaktifnya Pamedangan, adalah: sulam bisa menjadi bunyi, sulam bisa menjadi komposisi, sulam bisa menjadi antarmuka antara tubuh manusia dan teknologi digital, sulam bisa menjadi cara merawat ingatan kolektif lintas generasi.

Proses pengembangan Pamedangan sendiri tidak dikerjakan Rani sendirian. Ia belajar langsung dari penyulam tradisional di Koto Tuo dan berkolaborasi dengan Essy Hariya, penyulam generasi keempat yang mewarisi teknik dan motif dari keluarganya. Kolaborasi itu menempatkan karya Rani bukan sebagai apropriasi atas tradisi, melainkan sebagai perpanjangan hidup dari pengetahuan yang sudah ada—sebuah rantai pewarisan yang terus bergerak.

Pamedangan: Ruang Partisipasi dan Instalasi Interaktif

Mamasak Asa adalah performans; Pamedangan adalah instalasi. Keduanya lahir dari ekosistem artistik yang sama dan dipamerkan bersama dalam IWA #4, yang berlangsung sejak 10 April hingga 30 Juni 2026.

Dalam Pamedangan, Rani membangun pengalaman yang lebih terbuka dan partisipatif. Pengunjung diajak untuk ikut menyulam di atas kain tembaga yang sama dan menghasilkan bunyi dari aktivitas mereka sendiri. Instalasi ini mempertemukan dimensi visual (motif sulaman), dimensi bunyi (sound art berbasis sentuhan), dimensi video (dokumentasi dan narasi visual), dan dimensi partisipasi publik dalam satu ruang yang kohesif.

Efek yang dihasilkan melampaui sensasi teknologi. Ketika tangan pengunjung menyentuh kain dan bunyi mengalir, ada momen di mana batas antara penonton dan karya seni memudar. Tiba-tiba siapa pun—dengan latar belakang apa pun—bisa merasakan bahwa tubuhnya sendiri adalah sumber musik, dan bahwa tindakan paling sederhana sekalipun bisa menjadi ekspresi.

Dalam bahasa kritik seni kontemporer, pendekatan semacam ini sering disebut sebagai relational aesthetics—seni yang mengutamakan interaksi dan hubungan antar-manusia sebagai substansi karyanya. Namun Rani memberikan dimensi tambahan: hubungan itu tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga temporal. Ia menghubungkan orang-orang yang hadir di galeri dengan ingatan kolektif yang jauh lebih panjang dari usia mereka sendiri.

IWA #4 dan Peta Perupa Perempuan Indonesia

Kehadiran Mamasak Asa tidak bisa dibaca sepenuhnya tanpa konteks kuratorial yang lebih besar. IWA #4: On The Map adalah pameran keempat dari platform Indonesian Women Artists yang diselenggarakan Yayasan Cemara Enam bersama Galeri Nasional Indonesia.

Dikuratori oleh Carla Bianpoen, Nyoman Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi, pameran ini menghadirkan dua belas perupa perempuan Indonesia yang bekerja lintas medium dan lintas generasi. Di satu sisi ada nama-nama mapan seperti Sri Astari Rasjid, Umi Dachlan, dan Lucia Hartini—perupa senior yang jejak estetiknya telah lama menjadi bagian dari kanon seni rupa Indonesia. Di sisi lain ada generasi yang lebih muda seperti Rani Jambak, Ve Dhanita, Citra Sasmita, dan Irene Agrivina—seniman-seniman yang praktiknya berakar dalam kegelisahan kontemporer tentang identitas, tubuh, teknologi, dan lingkungan.

Pertemuan dua generasi ini bukan sekadar gestur inklusif. Ia mencerminkan argumen kuratorial yang lebih mendasar: bahwa seni rupa perempuan Indonesia tidak hadir dalam vakum, tetapi merupakan percakapan panjang lintas waktu yang belum selesai. Ketika Rani Jambak menyulam dan menghasilkan bunyi, ia tidak hanya berbicara kepada penonton di Galeri Nasional—ia juga berbicara kepada seluruh silsilah perempuan yang pernah memegang jarum sebelumnya.

Tema On The Map sendiri membawa ironi yang produktif. Dalam bahasa kartografi, memetakan berarti menempatkan sesuatu dalam koordinat yang dikenali, memberi nama, memberi lokasi. Namun dalam konteks seni perempuan Indonesia, banyak praktik artistik yang selama ini justru tidak masuk peta—dipinggirkan oleh kanon yang didominasi nama dan perspektif laki-laki, atau diabaikan karena berangkat dari medium yang dianggap rendah. IWA #4 mengajukan pertanyaan: peta siapa yang selama ini kita gunakan?

Ritme yang Lambat sebagai Pernyataan

Di era ketika seni digital dan kecerdasan buatan berlomba menghasilkan karya dalam hitungan detik, ada sesuatu yang tegas dan bahkan subversif dalam pilihan Rani untuk bekerja dengan ritme sulaman.

Menyulam adalah aktivitas yang lambat, berulang, dan penuh perhatian. Satu motif bisa membutuhkan jam, bahkan hari untuk diselesaikan. Di tangan Rani, kelambatan itu bukan keterbatasan—ia adalah konsep. Ia adalah cara untuk menghadirkan kembali jenis perhatian yang makin langka di tengah percepatan digital: perhatian yang hadir sepenuhnya, yang merasa, yang mendengar.

Dalam Mamasak Asa, penonton yang semula bergerak cepat di antara karya-karya pameran mendadak berhenti. Ritme sulaman Rani menarik mereka masuk ke dalam frekuensi yang berbeda—lebih lambat, lebih dalam, lebih penuh resonansi. Sekitar seratus orang hadir dan menyaksikan pertunjukan itu dari awal hingga akhir, sebagian besar dalam keheningan yang penuh perhatian.

Itu bukan hal kecil. Dalam budaya pameran seni kontemporer yang sering kali bergerak dalam mode turisme visual, kemampuan sebuah karya untuk benar-benar menghentikan langkah penonton adalah ukuran tersendiri dari keberhasilan estetik.

Mendengar Ulang

Pada akhirnya, Mamasak Asa adalah undangan untuk mendengar ulang—bukan hanya bunyi di dalam ruang galeri, tetapi juga suara-suara yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih sering terlupakan.

Suara perempuan-perempuan yang pernah menyulam di dapur dan di balai-balai surau, yang merawat motif-motif budaya dalam keheningan kerja tangan mereka. Suara Rohana Kudus yang mengajarkan bahwa jarum dan benang bisa menjadi alat kemerdekaan. Suara Tambo yang merekam memori tentang asal-usul di puncak gunung yang masih bergejolak hingga hari ini.

Rani Jambak tidak menciptakan narasi baru dari nol. Ia mendengarkan narasi yang sudah ada, menemukan frekuensinya, dan menyiarkannya kembali melalui bahasa artistik yang berbicara kepada masa kini.

Di Galeri Nasional Jakarta, pada Sabtu siang itu, sebuah jarum menyentuh kain tembaga, dan bunyi mengisi ruangan. Itu bukan sekadar pertunjukan. Itu adalah cara sebuah kebudayaan mengingat dirinya sendiri—perlahan, teliti, dan meninggalkan gema yang panjang. (*)

Tags: Galeri Nasional Indonesiaindonesian women artistsrani jambaksulaman menjadi medium bunyi
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

October 19, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version