Mereka Ngerumpi Solar Power

Kiri: Paulus, direktur PT ATW Sejahtera dan Hendiarto mantan Direktur Bank Muammalat. Kanan: Victor, perwakilan REC Pty Ltd Singapura diwawancarai Jawa Pos TV. Foto: Joko Intarto

EFISIENSI DAN ELEKTRIFIKASI YANG MEMPERTEMUKAN

SILATURAHMI Solar Power (SSP) I itu akhirnya terlaksana. Dari 15 yang mengonfirmasi, tiga tidak bisa datang. Yang dua karena acara pagi baru selesai lepas tengah hari. Yang satu karena tidak bisa menemukan alamat Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Furqon. Meski sudah dipandu google maps.

Tapi ada tiga peserta yang baru menginformasikan akan ikut Sabtu pagi. Ditambah beberapa wartawan media online dan televisi, total jenderal ada 22 orang. Cukup ramai.

Diskusi non formal berlangsung dua sesi. Sesi pertama dilakukan di meeting point Bintaro Exchange Mall. Titik kumpul sebelum berangkat ke pondok pesantren. Diskusi kedua tentu saja berlangsung di pesantren. Yang berlokasi di Jl Swadaya Kawasan Sektor 9 perumahan Bintaro Jaya itu.

Hendiarto, mantan Direktur Bank Muammalat berdiskusi dengan Gatot Adhi Prasetyo, Direktur Bank BTPN Syariah dan Mohammad Bahrun, arsitek green building dari Yayasan Pena. Foto: JTO

‘’Kami berencana memasang solar power untuk pesantren ini,’’ kata Pak Marjana, direktur Bank Mega Syariah. Yang juga pendiri dan pengasuh pondok pesantren tahfiz Qur’an

‘’Jangan buru-buru memasang solar power karena alasan ingin menurunkan biaya listrik PLN. Lakukan dulu dua tahap wajibnya,’’ kata Pak Weno, chairman PT ATW Sejahtera, ATPM produk solar panel REC Norwegia untuk Indonesia.

Apa dua tahap tersebut? Pertama, pastikan jaringan kabel listrik yang eksisting dalam keadaan normal dan baik. ‘’Kabel yang sudah tua atau kualitasnya rendah tidak bisa mengantarkan arus dengan baik. Ini sumber pemborosan pertama,’’ sambung Pak Paulus, direktur PT ATW Sejahtera.

Penulis berselfi ria bersama para peserta. Foto: JTO

Bila kabel-kabel sudah dipastikan berfungsi sempurna tetapi konsumsi listriknya masih boros juga, lakukan penggantian bola lampu yang ada dengan lampu LED. ‘’Saat ini banyak lampu yang mengklaim hemat energi tetapi bukan LED,’’ lanjut Paulus.

Setelah dua langkah itu dilakukan, lihat konsumsi listriknya. Bandingkan dengan pemakaian listrik periode sebelumnya. Berapa lebih hemat? Apakah dengan penghematan itu, masih juga dinilai terlalu mahal? ‘’Bila masih dianggap mahal, barulah solar power menjadi pilihan dengan target menurunkan biaya sampai angka yang diinginkan.’’ papar Paulus.

Penulis bersama Mohammad Bahrun, arsitek green building dari Yayasan Pena dan Regy Wahono dari Tim Nasional Percepatan Penanggulanan Kemiskinan (TNP2K) Kantor Staf Wakil Presiden RI. Foto: JTO

Setelah memastikan penurunan biaya listrik PLN dengan solar power, barulah masuk ke tahap memilih produk yang akan digunakan. ‘’Gunakan produk yang berkualitas baik, berkinerja baik dan bergaransi. Gunakan yang umur pakainya panjang dan sudah teruji,’’ saran Victor, perwakilan REC Pty Ltd Singapura.

‘’Jadi, tahapnya tidak langsung pasang solar power?’’ tanya saya.

‘’Jangan langsung. Dua tahapan itu mesti dilakukan lebih dulu, sebelum memutuskan untuk memasang solar power,’’ sambung Paulus.

Mardjana, Direktur Bank Mega Syariah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Quran Nurul Furqon berdiskusi dengan Victor, perwakilan REC Pty Ltd Singapura. Foto: JTO

Penjelasan itu rupanya menarik perhatian Pak Harry AS Sukadis, mantan Dirut Bank PTPN Syariah dan Pak Hendiarto, mantan Direktur Keuangan Bank Muammalat. Keduanya mengundang ATW Sejahtera untuk mendiskusikan teknis rencana pemanfaatan solar power di rumah mereka di Menteng Regency, Bintaro Jaya.

Demikian pula halnya Pak Gatot Adhi Prasetyo, Direktur Bank BTPN Syariah. Pak Gatot juga ingin mendiskusikan lebih jauh pemanfaatan solar power itu untuk rumahnya di cluster The Green, BSD City.

Biaya konsumsi listrik memang menjadi persoalan semua pelanggan PLN. Namun hal itu bukan satu-satunya problem. Ada masalah lain, yakni adanya kelompok masyarakat yang belum bisa menikmati listrik. ‘’Elektrifikasi nasional baru menjangkau 90 persen. Masih ada 10 persen masyarakat kita belum bisa menikmati listrik,’’ papar Pak Regy Wahono, dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), yang berada di dalam koordinasi Kantor Sekretariat Wakil Presiden itu.

paulu

Kelompok masyarakat tersebut, lanjut Pak Regy, berada di daerah yang secara geografis sulit dilayani jaringan PLN. Bisa karena keterbatasan daya listrik. Bisa juga karena kesulitan infrastruktur jaringan. ‘’Misalnya masyarakat di pulau-pulau kecil atau di pedalaman. TNP2K mendorong semua pihak untuk menyediakan solusi berupa sumber energi listrik yang mandiri kepada kelompok masyarakat ini,’’ kata Pak Regy.

Waktu setengah hari untuk membahas listrik tenaga surya ternyata belum cukup. ‘’Harus ada pertemuan lagi agar semua gagasan yang sudah muncul bisa diimplementasikan sebagai solusi,’’ kata Pak Mohammad Bahrun, arsitek dari Yayasan Pena yang concern pada konsep green building itu.

Memang waktu setengah hari itu tidak cukup. Meski demikian, semua peserta merasa senang karena tujuan utama pertemuan itu adalah untuk menjalin silaturahmi.

Beberapa orang yang hadir sebenarnya sudah saling mengenal. Tetapi kesibukan membuat mereka jarang berjumpa. Ternyata isu pemberdayaan melalui solar power yang ramah dan murah telah mempertemukan mereka kembali.

Sebagai nara hubung pertemuan ini, saya mengucapkan terima kasih. Mohon maaf bila ada yang kurang sempurna. ***

Kejutan “Indonesia Terang” dari TNI

Paulus, Direktur PT ATW Sejahtera, dalam sebuah acara presentasi.

Ada program ‘’Indonesia Terang’’ yang tak kalah menarik dibanding program serupa yang dimotori Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Pelaksananya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sama-sama mencanangkan program penerangan rumah penduduk yang tidak teraliri listrik PLN dengan lampu hemat energi. Sama-sama bertujuan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan kelompok masyarakat miskin dan tertinggal. Bedanya hanya pada pilihan produknya.

TNP2K yang berada di bawah Kantor Sekretariat Wakil Presiden itu menggunakan lampu listrik tipe LED dengan panel surya sebagai sumber energi. Sedangkan TNI menggunakan lampu LED yang dihidupkan dengan genset.

Lampu bertenaga matahari bisa menyala pada malam hari karena menerima energi yang tersimpan dalam baterai. Baterai mendapat energi dari panel surya. Panel surya memperoleh energi dari sinar matahari (light) pada siang hari. TNP2K memberikan bantuan lampu tenaga surya dengan paket 3 lampu ditambah 1 baterai dan 1 solar panel. Satu sistem itu bekerja secara independen.

Paket yang diberikan TNI sedikit berbeda. Masyarakat menerima bantuan berupa 5 lampu ditambah 1 aki. Dalam setiap kelompok dengan jumlah tertentu, TNI memberikan sebuah genset.

Fungsi genset tentu saja untuk mengalirkan setrum ke aki. Sekali charge dengan waktu sekitar 3 jam, cukup untuk menghidupkan 5 lampu selama sebulan. Jadi, penerima bantuan harus nge-charge aki sebulan sekali.

Meski program ini sudah bisa menjadi solusi, menurut saya masih ada kendala teknisnya. Misalnya, bagaimana kalau genset tidak bisa dioperasikan karena daerah itu sulit memperoleh bahan bakar minyak (BBM)? Bagaimana kalau pusat penjualan BBM lokasinya sangat jauh? Alangkah repotnya mencari BBM agar bisa melayani masyarakat yang ingin menyetrumkan aki?

Terpikir sebuah ide, untuk mengganti genset berbahan bakar minyak itu dengan ‘’genset’’ berbahan bakar terbarukan. Yang jumlahnya melimpah ruah. Yang bisa dimanfaatkan secara gratis: tenaga sinar matahari!

Dengan panel surya yang jumlahnya memadai, pasti bisa menghasilkan listrik yang setara dengan genset BBM. Berarti keberadaan genset BBM itu bisa digantikan.

Dengan panel surya, penyedia jasa setrum aki tidak punya ketergantungan lagi dengan BBM. Tidak perlu pusing mencari BBM yang mungkin jauh lokasinya. Tidak perlu pusing mencari BBM yang mungkin stoknya habis. Selama matahari masih bersinar, berarti genset ramah lingkungan itu akan terus beroperasi. Bisa di hutan-hutan, di gunung-gunung, bahkan di pulau-pulau terpencil yang tak terjamah listrik.

Segera saya kontak Paulus, Direktur PT ATW Sejahtera. Perusahaan itu bergerak dalam bidang penyedia solusi energi surya untuk residensial dan industrial. Saya hanya ingin memastikan, ketersediaan produk solar cell yang bisa menggantikan genset BBM itu.

Paulus tentu saja gembira mendengar cerita saya. Minggu depan, pria asal Banyumas itu mengundang saya ke kantornya untuk mendiskusikan genset tenaga surya. Mudah-mudahan, pertemuan ini bisa menghasilkan sebuah solusi baru: menghadirkan Indonesia Terang hingga jauh ke pedalaman Nusantara.

TNI hebat! ***