Rumah Hancur, Pilih Pulang Kampung

JAYAKARTA NEWS—–Menyaksikan rumahnya hancur karena gempa bumi, sebagian warga asal Jatim yang tinggal di Sulbar memutuskan kembali ke kampung halaman di wilayah Jawa Timur.

Sedikitnya ada 48 warga Sulbar asal Jatim yang datang ke Jatim hari ini, Kamis (21/1/2021). Mereka tiba di Bandara Abdurrahman Saleh, Malang, sekitar pukul 12.30 Wib dengan pesawat TNI AU, Hercules A-1330.

Pemprov Jatim langsung menyambut kedatangan pengungsi yang berasal dari berbagai daerah di Sulbar tersebut. Proses penyambutan dilakukan dengan menggunakan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat didukung tim kesehatan Bandara Abdurrahman Saleh.

Saat penyambutan, masing-masing pengungsi diberi makan siang terlebih dahulu. Selanjutnya, mereka menerima bantuan paket sembako, paket sandang dan uang senilai Rp 1 juta untuk setiap KK.

Paket sembako terdiri dari beras 5 kg, gula pasir 1 kg, minyak goreng 2 liter, mie instan 5 bungkus dan kecap. Sedang paket sandang perempuan berisi, jarit, baju, pakaian dalam, peralatan mandi, handuk dan sandal.

Berdasar assesment yang dilakukan Pemprov Jatim, dari 48 pengungsi, 38 orang berasal dari Lamongan, 4 orang berasal dari Gresik, 4 orang dari Tuban, dan, 2 orang dari Lumajang.

Kadinsos Jatim Alwi selaku koordinator penjemputan pengungsi mengungkapkan, selain bantuan sembako, sandang dan uang, para pengungsi juga difasilitasi kepulangan dengan bus milik Pemprov Jatim ke daerah masing-masing.

“Mereka akan diantar ke kantor dinsos daerahnya. Selanjutnya, mereka akan diantar petugas kabupaten ke desa masing-masing,” ujarnya.

Sayib (49), pengungsi asal Mamuju kelahiran Lumajang mengaku sangat berterimakasih dengan bantuan yang diterima dari Pemprov Jatim.

Bersama sang istri, Nur Haidah (47) yang asli Mamuju, ia memutuskan pulang ke Lumajang karena kondisi rumahnya rusak parah, dan tidak bisa melakukan aktivitas ekonomi.

“Kalau kondisi disana nanti sudah normal. Rencananya, kami akan kembali lagi. Sebetulnya, saat proses penantian ini, kami berharap adanya bantuan pemerintah. Tapi ini tadi sudah dikasih. Kami sampaikan terima kasih yang banyak,” ujar pria yang tinggal di Desa Binanga, Kec. Mamuju, Kab. Mamuju ini.

Sementara, hadir dalam penjemputan tersebut, Danlanud Abd Saleh, Marsma TNI Wayan Superman, Kadinsos Jatim Alwi, Sekretaris BPBD Jatim Erwin Indra Widjaja, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Gatot Soebroto, Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jatim Andika N. Sudigda, Tenaga Ahli Kebencanaan, Suban Wahyudiono dan Kabag Pendidikan Biro Kessos Jatim, Dony Nugroho.

Turut terlibat dalam penjemputan para pengungsi tersebut, tim TRC BPBD Jatim, Tagana Dinsos Jatim, Dishub Jatim, Biro Kessos Setdaprov Jatim, personel TNI AU di lingkungan Bandara Abdurrahman Saleh Malang dan relawan dari ACT (Aksi Cepat Tanggap) Kota Malang. (poedji)

Dilema Pengungsi Tsunami: Apa Boleh Buat, Pisang Mentah pun Dimakan

SUARA kapal kayu pecah di luar rumah Maskah (39) pada Sabtu malam tanggal 23 Desember 2018, membangunkannya dari tidur warga Desa Sukaraja di Kabupaten Lampung Selatan tersebut.

“Saya tahu itu adalah tsunami, jadi saya berlari ke jalan di sebelah rumah saya dan lari sekencang mungkin  ke arah pegunungan,” kata Maskah. Dalam situasi darurat seperti itu, ia sama sekali tidak mengingat membawa apa-apa kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya. “Saya  tidak membawa apa-apa, hanya pakaian yang kupakai.”

Penduduk desa lainnya juga mengikuti langkag Maskah. Mereka banyak yang membawa anak kecil. Mereka bergegas ke arah pegunungan dengan menyusuri  jalan berlumpur di Gunung Rajabasa. Mereka berusaha menuelamatkan diri dengan mencari ruang terbuka yang lebih tinggi.  Kebun Damos nama tempat itu.

Malam itu, sejumlah keluarga warga sedesa dengan Maskah, rela  menghabiskan malam dengan meringkuk bersama di bawah pohon dan tidur di atas daun pisang. “Hujan deras dan kami semua basah kuyup,” tutur  Maskah  berkisah.

Drama penyelamatan diri itu terjadi setelah tsunami dahsyat melanda provinsi Banten dan Lampung pada Sabtu malam.  Letusan gunung berapi Anak Krakatoa di Selat Sunda, sejauh ini dianggap menjadi penyebab utama terjadinya gelombang besar.

Sedikitnya  16.000 orang kini mengungsi, tidak terkecuali warga  dari desa Sukaraja, yang selama ini menetap di  dekat dengan garis pantai. Pada umumnya, mereka masih takut pulang, karena mengkhawatirkan terjadinya tsunami susulan yang akan menghantam desa mereka lagi.

 

 

Takut Serangan Gelombang
Pagi pasca terjadinya  tsunami, Maskah dan keluarga lainnya kembali ke rumah mereka untuk mengumpulkan pakaian dan barang-barang pribadi lainnya, sebelum kembali ke lokasi penyelamatan diri di  lereng gunung Raja Basa. Para warga benar-benar merasa takut  kalau-kalau Anak Krakatau kembali  meletus. Mereka terlalu trauma untuk pulang sampai saat ini.

“Suara itu di kejauhan bukan guntur,” kata Ruminah, 32, yang bertenanggaan dengan Maskah di  Sukaraja.

“Ini gunung berapi yang bergemuruh dan semakin keras. Anak Krakatau masih aktif.  Jadi kita harus waspada,” ujar Ruminah menambahkan.

Situasi di kamp pengungsian memang tidak nyaman, serba kekurangan. Tapi, bagi mereka, tempat itulah yang terbaik saat ini untuk lebih terjaminnya keamanan dan keselamatan para warga. Makanan, sejauh pengakuan warga, masih langka.  Hingga hari Rabu kemarin, para warga desa tersebut  belum menerima bantuan yang memadai dari pemerintah.

Para warga pun membangun tenda dengan bergotong royong dengan memanfaatkan  terpal dan kelambu yang ada di mereka. “Pada  malam hari, kita tidak bisa tidur,” kata Ruminah.

“Kami khawatir tentang ular dan laba-laba. Tadi malam, seekor kelabang besar masuk ke dalam tenda kami,” Ruminah bercerita.

Menurutnya, para warga sangat membutuhkan uluran bantuan dari pemerintah  untuk segera mengirimkan tenda yang tepat,  selimut dan peralatan memasak. Saat ini, mereka membuat api dari kayu yang dapatkan  di hutan untuk menyiapkan makanan mereka.

Masyarakat Lampung yang tidak terdampak bencana tsunami, sudah turun tangan dengan  menyumbangkan kerupuk, mie instan, dan air. Tapi, sumbangan yang datang dari warga sedesa dan tetangga desa itu masih belum mencukupi, mengingat kelompok pengungsi dari Sukaraja jumlahnya lebih dari 100 orang.

Para keluarga yang kehilangan tempat tinggal, tampaknya juga  telah mencoba untuk melengkapi makanan mereka dengan makanan yang diambil dari hutan di sekitarnya. Dalam situasi seperti sekarang ini, mereka bahkan mengkonsumsi pisang yang belum  matang dengan mereka rebus terlebih dahulu agar dapat dimakan.

Kesulitan Memberikan Bantuan
Seperti penduduk desa lainnya, Maskah dan Ruminah sangat kritis terhadap respons pemerintah terhadap bencana. Mereka menilai bahwa apa yang terjadi  sungguh  “mengecewakan”, karena bantuan belum menjangkau mereka.

Rabu (26/12/2018), Jarco, perwakilan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), sebuah organisasi pemerintah non-struktural yang melapor kepada presiden, tiba di Kebun Damos untuk mencatat dan menilai  kebutuhan penduduk yang dipindahkan.

Menurut Jarco,  respons pemerintah yang lamban adalah karena masalah penyaluran logistik untuk mendapatkan bantuan ke daerah-daerah terpencil tersebut.

“Aksesnya sulit. Kami telah menawarkan warga kesempatan untuk berlindung di gedung sekolah menengah setempat, tetapi mereka tidak mau,” katanya.  Sejauh ini, bantuan warga lain  telah berusaha untuk mengisi kekosongan ini.

Hari Purnomo, seorang warga dari desa tetangga Rajabasa, sedang mengoordinasikan respons masyarakat setempat terhadap para warga  desa yang dipindahkan, sambil  mereka menunggu bantuan pemerintah tiba.

Selain kamp pengungsi di Kebun Damos, ada beberapa kamp pengungsi lainnya dari desa-desa lain yang tersebar di sekitar Gunung Rajabasa.

Hari Purnomo pun  mengumpulkan sumbangan untuk dibawa ke kamp. Dalam amatannya, Pemda setempat  hanya fokus pada distribusi bantuan di sepanjang pantai, sementara daerah yang lebih jauh ke pedalaman, terabaikan. Menurutnya,  sulit untuk memberikan bantuan kepada sekelompok yang lebih dari 1.000 orang itu dari wilayah pantai di Lampung Selatan, dimana mereka berlindung lebih jauh ke pedalaman di sepanjang lereng gunung.

“Saya sudah mencoba berbicara dengan mereka dan meminta mereka untuk datang sedikit lebih jauh ke bawah gunung,” katanya.

“Sangat sulit bagi kita untuk membantu mereka dan membawa makanan atau persediaan lain, karena tidak ada jalan di sini. Kita harus datang dengan sepeda motor dan kemudian berjalan kaki.” Masalahnya, warga desa Sukaraja, masih belum bersedia karena khawatir saat diminta ke lokasi yang lebih rendah.

Sulit Dijangkau
Otoritas setempat yang memberikan bantuan medis juga berusaha mengatasi hambatan serupa. Minak Wardan, sekretaris klinik kesehatan pusat di kabupaten Rajabasa, yang termasuk desa Sukaraja, mengatakan bahwa otoritas kesehatan telah mendirikan serangkaian klinik keliling yang telah mendorong ke daerah pegunungan untuk mendistribusikan obat-obatan.

Meskipun telah melakukan tiga perjalanan sejak tsunami, klinik-klinik tersebut belum dapat mencapai semua kamp karena kesulitan dalam mendapatkan akses.

Seperti Purnomo, Wardan telah mencoba berunding dengan warga. “Saya sudah berbicara dengan mereka dan meminta mereka untuk mempertimbangkan untuk turun, tetapi mereka tidak mau,” katanya  menjelaskan. “Mereka trauma.”

Maskah dan Ruminah sejauh ini belum punya  rencana untuk kembali ke rumah mereka di desa Sukaraja. Mereka mengatakan akan tetap berada di hutan sampai ancaman meletusnya Anak Krakatau yang memicu tsunami mematikan lainnya sudah tidak ada lagi.

Kepala Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi Indonesia, Dwikorita Karnawati telah meminta orang-orang untuk menghindari daerah pantai karena cuaca badai dan ombak tinggi terus mengganggu daerah tersebut.

“Semua kondisi ini berpotensi menyebabkan tanah longsor di tebing kawah ke laut, dan kami khawatir hal itu dapat memicu tsunami,” katanya.

Sebelas warga dari desa Sukaraja hilang dan diduga meninggal. Penduduk yang dipindahkan merasa bahwa kemungkinan terjadinya erupsi dan tsunami lain adalah tinggi.

“Petir di sekitar gunung berapi semakin buruk,” kata Maskah. “Di sini dingin dan berangin, tapi kami tidak ingin pulang. Kami takut laut.” (Aljazeera)

Nowhere to Hide: Potret Irak yang Dilanda Perang Melawan Kekuatan Baru

Kurdish filmmaker’s award-winning documentary on Iraq airs on PBS

LIMA belas tahun setelah invasi koalisi pimpinan Amerika Serikat ke Irak, negara di Teluk ini terus mendominasi berita utama dengan kisah-kisah kekerasan sektarian, pemboman, kemiskinan dan perpindahan manusia.

Film dokumenter “Nowhere to Hide” karya seneas Kurdi-Norwegia Zaradasht Ahmed, memberi gambaran bagaimana kondisi Irak

Pada tahun 2011, Ahmed kembali ke negara kelahirannya, menuju ke salah satu wilayah paling berbahaya di dunia, “Segitiga Kematian” di Irak tengah.

Ketika pasukan Amerika mundur, dia mengikuti perawat Nori Sharif dan keluarganya selama lima tahun. Itulah saat mereka mengarungi sebuah negara yang dilanda perang dimana kekosongan kekuasaan membuat warga rentan terhadap kekuatan baru yang mengancam: ISIS.

Film ini telah memenangkan penghargaan internasional, termasuk Dokumenter Panjang Fitur Terbaik di IDFA, Dokumenter Terbaik di Festival Hak Asasi Manusia Sedunia, Penghargaan Nestor Almendros untuk keberanian dalam pembuatan film di Festival Film Human Rights Watch, dan beberapa penghargaan lainnya di festival film.

Fim Bergerak

Sebuah film bergerak yang penuh dengan emosi mentah dan rekaman tanpa filter bertajuk   “Nowhere to Hide” ini disiarkan  di AS. Dokumenter panjang ini mengikuti kehidupan seorang perawat laki-laki bernama  Nori Sharif, yang, seperti banyak warga sipil lainnya di Irak, mendapati dirinya terperangkap dalam baku tembak  perang yang tidak dapat diprediksi di Irak.

Film ini mencakup periode lima tahun dari 2011, ketika Amerika Serikat menarik pasukannya dari Irak delapan tahun setelah penggulingan rezim Saddam Hussein, hingga 2016, juga menjadi ancaman terbaru di negara itu dalam bentuk yang disebut Islam Negara (IS).

Berbicara kepada Kurdistan 24,  Zaradasht Ahmed, si pembuat film tentang film dokumenter ini, menjelaskan bagaimana dia menyoroti kesedihan yang sedang berlangsung dari manusia tak berdosa yang menderita karena keputusan para pemimpin politik.

Salah satu anak Nori Sharif, Sarah, menunjukkan selongsong peluru yang dia temukan di dekat rumahnya ketika keluarga tersebut mengungsi setelah datang ISIS. (Photo: Ten Thousand Images)

 

Pendekatan Humanistik 

Film ini memberikan catatan tangan pertama tentang manusia yang terperangkap dalam baku tembak perang. Ini menyoroti krisis yang sedang berlangsung dari Pengungsi Internal (IDP) dan pengungsi dalam perang IS di Irak.

Ahmed mengatakan penting untuk berbicara tentang IDP dan pengungsi ini sebagai individu, bukan hanya kelompok. Meskipun filmnya memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan kesadaran tentang krisis, pembuat film Kurdi mengatakan waktu untuk meningkatkan kesadaran telah lama berlalu.

“Ini bukan waktunya untuk meningkatkan kesadaran, karena masalahnya sudah ada. Tapi, mungkin waktu untuk mencari solusi tentang bagaimana kami dapat membantu, bagaimana kami dapat memengaruhi orang lain, [dan mempengaruhi] para pengambil keputusan untuk membantu.”

Wilayah Kurdistan terus menyediakan tempat perlindungan bagi jutaan pengungsi  yang melarikan diri dari konflik di bagian tengah dan selatan Irak, serta Suriah. Kebijakan ini  sebagai upaya untuk merekonstruksi wilayah-wilayah yang dibebaskan dan memberikan keamanan bagi para pengungsi tidak lengkap.

Ahmed mengatakan satu solusi utama untuk menyelesaikan krisis adalah menjamin keamanan. “Daerah-daerah seperti Mosul tidak aman. Diyala tidak aman. Anbar tidak aman. Biasanya, itu masalah politik karena orang masih merasakan penderitaan karena kehilangan nyawa dan rumah mereka dan tidak bisa mengkritik apa pun karena mereka akan diculik atau dibunuh, ”katanya seperti dikutip Kurdistan 24.

“Jadi, pertama-tama, inilah masalahnya: apakah itu di Suriah, Irak, Yaman, atau Libya, Anda harus masuk secara lokal untuk memaksa pemerintah mulai bekerja dengan baik di semua bagian masyarakat dan mulai membangun negara. Itu harapan bagi orang-orang. Bahkan orang-orang dari luar negeri akan kembali dan membantu membangun, tetapi tidak ada yang seperti itu terjadi. ”

 

Nori Sharif berpose untuk pengambolan foto bersama dengan anak-anaknya sebelum meninggalkan rumah mereka di Jalawla. (Photo: Ten Thousand Images)

Tokoh utama dalam “Nowhere to Hide” adalah salah satu contoh penderitaan warga sipil yang tidak berdosa yang terpaksa bertahan akibat perang, khususnya ketidakstabilan perang Irak dan akibatnya.

“Kita perlu bicara tentang gambaran yang lebih besar,” kata Ahmed menggarisbawahi.  “Kami tidak bisa hanya berbicara tentang pengungsi atau pengungsi. Pengungsi adalah bagian dari masalah, itu adalah reaksi dari masalah, tetapi masalahnya sendiri bukan IDP atau pengungsi, itu adalah perang. ”

“Para pengungsi bukan pertanyaannya; itu adalah perang dan keamanan, penghidupan. Jika Anda tidak dapat menjamin keselamatan anak-anak Anda untuk menjamin mereka memiliki makanan di atas meja, Anda harus melakukan sesuatu. Anda pergi, atau Anda tinggal di mana Anda memberi mereka makan. Jadi, kita harus pergi dan membuat orang merasa aman lagi, [dan percaya] dalam gagasan bahwa ‘ini adalah negara saya, ini adalah tempat saya, saya bisa membangunnya, itu tidak akan hancur lagi. ’”

 

Nori Sharif, tokoh sentral dalam film dokumenter ini, sedang mengoperasi seorang pasien di Jalawla Medical Center. (Photo: Ten Thousand Images)

Tidak Ada Tempat Bersembunyi 

Film dokumenter itu adalah hasil kerja bertahun-tahun, dan kerangka produk akhir berevolusi ketika konflik di Irak dibentuk dari satu teror ke teror lainnya. Pada Desember 2011, Amerika mengumumkan penarikan pasukannya dari negara tersebut.

Ahmed mengatakan kepada  ide untuk film itu ada pada tahun 2010 sebelum penarikan Amerika. Dia mengatakan dia ingin membuat film dokumenter tentang perang di Irak sementara pasukan AS masih ada tetapi gagasan itu berkembang dengan meningkatnya konflik di negara itu.

“Ada banyak eskalasi kekerasan, dan ada banyak konflik internal, dan orang Amerika berjuang untuk melakukannya dengan benar, untuk mengelola negara, dan ada pertanyaan apakah itu disengaja atau hanya kegagalan.

“Jadi, saya ingin mengeksplorasi itu, tetapi kemudian ketika saya berada di sana, saya menyadari hampir tidak mungkin berada di daerah-daerah itu, di Irak tengah, pada waktu itu karena al-Qaeda sangat efisien di daerah-daerah dan mereka membunuh orang-orang yang bekerja sama dengan media, dan orang luar.

“Ketika kami sedang syuting, Amerika ditarik keluar, dan kami memutuskan untuk tinggal [di Irak] untuk melihat bagaimana segala sesuatunya akan berjalan setelah penarikan mereka, tetapi semuanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk.”

Ahmed mengatakan, film itu memakan waktu enam tahun untuk diselesaikan karena “pergeseran dalam politik, dan juga tingkat kekerasan di Irak.”

“Film ini dimaksudkan untuk menjadi emosional tanpa batas, untuk membuat orang-orang melekat pada mereka yang terlibat dalam film secara emosional dan bukan dalam media berbasis fakta.  Jadi, tentu saja, periode [2011 hingga 2016] membantu kami membentuk film seperti yang Anda lihat karena butuh waktu enam tahun untuk menyelesaikannya. Ada syuting tanpa henti selama enam tahun ini, ” jelasnya.

Pembuat film Kurdi itu mengatakan bahwa sulit untuk menangkap adegan-adegan tertentu, dan selalu ada unsur ketidakpastian termasuk beberapa cuplikan, seperti setelah pembunuhan massal, pemboman bunuh diri, dan pemboman mobil.

Ahmed mengatakan, dirinya memutuskan untuk menggunakan rekaman itu “karena itu adalah rasa sakit yang dialami orang-orang, bukan karena sensasional, tetapi lebih dari itu menyakitkan.”

“Itu adalah penderitaan populasi yang mereka alami. Itu benar-benar sakit. Jadi, kami memutuskan untuk menggunakannya. ”

Nori Sharif, tokoh sentral film ini, bekerja sebagai tenaga medis di Pusat Medis Jalawla sebelum kota itu diserang oleh ISIS. (Foto: Nori Sharif)

Nori Sharif 

Sharif, tokoh utama dalam film itu, termasuk di antara selusin dokter yang mendampingi Ahmed di Irak. Dalam satu tahun, pembuat film Kurdi melatih kelompok petugas medis tentang bagaimana membuat film dan melakukan wawancara kualitatif, mirip dengan metode yang digunakan dalam penelitian medis. Namun, ketika konflik di Irak memburuk setelah penarikan Amerika, Sharif lebih fokus.

“Saya berbicara tentang 2011 dan 2012 di mana fenomena [bom bunuh diri] tidak dikenal. Itu masih sangat mengejutkan ketika IS pertama kali memulai pembunuhan massalnya. Gambar-gambar itu tidak terlalu dikenal. ”

Menurut Ahmed, Sharif adalah “salah satu orang yang paling berkomitmen dalam kelompok” yang mengapa dia tetap ada sampai akhir dan menjadi tokoh sentral dari film dokumenter.

Identitas Sharif sebagai Arab Sunni tidak terungkap dalam film ini. Pembuat film Kurdi menjelaskan bahwa dia memilih untuk tidak membuat film politik “karena itu akan seperti meletakkan minyak di atas api dan itu bisa membuat film lebih sulit, dan rumit, dan tak manusiawi.”

 

 

“Saya memutuskan hanya untuk menggambarkan seorang medis yang buta pada isu-isu seperti etnis dan agama; dia hanya melakukan pekerjaannya sama untuk semua orang. Itu kekuatannya. [Sharif] sedang membantu banyak orang, pergi ke rumah mereka, mereka adalah Syiah, mereka orang Kurdi, dan mereka Sunni. Jadi, bagi saya, itu sebabnya saya memercayainya, dia adalah karakter yang dapat saya masukkan banyak usaha.”

Sharif dan istrinya, bersama dengan anak-anak mereka, saat ini tinggal di kamp IDP Saad di Provinsi Baqubah, yang berada di bawah administrasi pemerintah Irak. Menurut Ahmed, Sharif senang dan bekerja di klinik di pusat kesehatan kamp dan masih memiliki harapan bahwa hal-hal di Irak akan kembali normal.

 

Reaksi Internasional

Sejak pemutaran pertamanya di tahun 2016, “Nowhere to Hide” telah meraih beberapa penghargaan bergengsi termasuk penghargaan Film Dokumenter Film Internasional Amsterdam (IDFA) untuk Dokumenter Panjang-Fitur Terbaik pada tahun 2016 dan Amanda Award untuk Film Dokumenter Terbaik di tahun 2017.

Meskipun prestasi ini, Ahmed mengatakan sebelum hadiah, film itu sendiri telah membantunya mencapai tingkat yang ia tidak pernah impikan sebelumnya.

“Saya berhasil berbicara dengan ribuan orang melalui film. Saya berhasil mempromosikan ide-ide saya, pikiran saya, kemanusiaan saya, kisah saya — seperti Anda tahu, kisah Nori — kepada dunia. Jadi, film itu begitu kuat menyentuh siapa pun yang menontonnya. ”

Memenangkan penghargaan adalah “besar karena membantu film untuk bepergian dan mendapatkan perhatian dan memiliki umur panjang. Dan sekarang ‘Nowhere to Hide’ telah hidup tiga tahun. Ini sudah tahun ketiga dan masih banyak tuntutan yang sangat bagus. Tidak terlalu banyak film yang ditayangkan selama satu tahun. Hadiahnya bagus yang akan membantu perjalanan film dan menjangkau lebih banyak penonton, ”katanya. ***

 

Butuh Bantuan Tepat Waktu

SEBAGIAN wilayah Jakarta masih tergenang, warga pun masih sebagian pula yang bertahan di lokasi pengungsian. Untungnya, penguasa tanggap, bantuan segera disalurkan dan tak tertahan.

Ya, Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta telah mendistribusikan bantuan makanan siap saji dan lainnya kepada pengungsi korban banjir di lima wilayah kota. Bantuan tersebut, disalurkan melalui dapur umum yang didirikan suku dinas sosial di wilayahnya masing-masing.

Kepala Perlindungan Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta, Tarmijo Damanik menuturkan, untuk wilayah Jakarta Selatan makanan siap saji sudah didistribusikan ke Kelurahan Kuningan Timur sebanyak 200 bungkus, Kelurahan Kalibata 50 bungkus, dan Rawajati 250 bungkus.

Untuk wilayah Jakarta Barat telah didistribusikan makanan siap saji di Kelurahan Kembangan Utara 1.350 bungkus, Rawabuaya 600 bungkus, dan Kedaung Kali Angke 500 bungkus. Sedangkan Suku Dinas Sosial Jakarta Utara telah mendistribusikan makanan siap saji di Kelurahan Kampung Capata 500 bungkus, Sunter Barat 200 bungkus, dan Kelurahan Sukapura 100 bungkus.

Sementara di Jakarta Timur, makanan siap saji didistribusikan ke Kelurahan Cipinang Melayu sebanyak 800 bungkus dan Kelurahan Cipinang Muara 350 bungkus. “Selain bantuan makanan siap saji, di wilayah kota juga kami distribusikan bantuan natura seperti beras, mie instan, kecap, sarden, minyak goreng. Kami juga berikan matras dan terpal,” ujar Tarmijo.

Saat ini, katanya, Petugas Sosial Kesiapsiagaan Bencana (PSKB) yang terdiri dari pegawai dan Taruna Siaga Bencana juga sedang melakukan pendampingan terhadap pengungsi. “Bantuan itu sifatnya masih sementara, kami akan berkoordinasi dengat aparat setempat di  samping juga melihat kondisi banjir apabila mulai surut,” tandasnya. ***