Giliran Prancis untuk mendominasi kekuatan dunia sepak bola

Generasmi muda Prancis, generasi emas, yang siap mendominasi jagat sepak bola di tahun-tahun mendatang.

SETELAH  memenangkan Piala Dunia, sulit untuk berpikir bahwa hari-hari terbaik masih akan datang, tetapi itulah situasi tepatnya bagi Perancis setelah mendapatkan tropi  kedua di baju biru mereka yang terkenal.

Sisi Didier Deschamps, yang sekarang duduk sebagai pelatih teratas di  dunia sepakbola. Tampaknya, dia masih berhasrat  untuk tetap memegang kendali Timnas Prancis untuk  beberapa waktu kedepan, untuk mengukir sukses berikutnya di Piala Eropa yang akan datang.

Meskipun siklusnya secara resmi dimulai di Moskow, seperti hidangan kompi, ini adalah sesuatu yang telah diseduh.

Griezmann dan Mbappe berpelukan merayakan gol ketiga Prancis atas Kroasia.

Perancis yang merupakan runner-up di Kejuaraan Eropa pada tahun 2016, dan banyak dari hasil sukses saat ini seperti di  level U-20 di Turki pada tahun 2013. Tanda-tanda itu tidak menyenangkan bagi dunia, dan masa depan tampaknya amat dekat dengan siklus dimana dominasi menjadi milik Prancis.

Prancis telah memenangkan Piala Dunia ini dengan tim termuda dalam turnamen, seperti  dengan adanya Kylian Mbappe, yang, pada usia 19 tahun, menjadi remaja pertama yang sukses melesakkan gol  di final sejak Pele.

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, yang selama ini mendominasi Ballon d’Or memiliki tanggal kadaluwarsa yang terus memendek.

Jika berbicara mengenai Ballon d’Or,  siapa saja yang kelihatannya akan menjadi kandidat yang berikutnya untuk merebut mahkota, itu adalah penyerang Paris Saint-Germain.

Pemain harapan dunia lainnya selain Mbappe, adfa Antoine Griezmann, masih memiliki banyak kesempatan  berkembang untuk pemain ini. Artinya, masaih ada peluang besar bagi Prancis untuk lebih sukses di Eropa.

Dari mereka yang tampil di final Piala Dunia, hanya Hugo Lloris, Blaise Matuidi dan Olivier Giroud yang berusia lebih dari 30.

Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez baru berusia 22 tahun, juga ada rekannya di sektor pertahanan yakni Samuel Umtiti dan Raphael Varane yang berusia sekitar 25.

N’Golo Kante bisa saja  merasa lebih tua di tim ayam jantan ini dengan usianya  di 27, sementara salah satu bintang menonjol mereka musim panas ini, Paul Pogba, masih  berumur 25.

Saat ini bagi Prancis, tampak masa  depan yang terlihat meyakinkan. Bakat yang mereka miliki melampaui orang-orang yang memulai musim panas ini juga, dengan Corentin Tolisso, Nabil Fekir, Thomas Lemar, dan Ousmane Dembele semua menunggu dalam bayang-bayang.

Prancis merayakan kesuksesan setelah memenangi final Piala Dunia 2018.

Seandainya mereka memiliki kewarganegaraan lain, Karim Benzema, Anthony Martial, Kingsley Coman, Adrien Rabiot, Aymeric Laporte, dan Clement Lenglet, pasti akan ditampilkan di Rusia, tetapi Deschamps memiliki kemewahan untuk memilih timnya, membawa siapa saja  bintang-bintang yang akan berlaga di Rusia.

Pilihan yang dilakukan Deschamps, tidak membuat publik Prancis merasakan ketidakhadiran para bintang itu untuk sementara.

Piala Dunia telah berakhir dengan  Prancis sebagai Juara Dunia. Tampaknya,  dominasi Prancis  baru saja dimulai, untuk level Eropa dan Dunia. ***

Wawancara Capello: Real Madrid Arogan Bernegosiasi dengan Lopetegui

Fabio Capello

MANTAN pelatih Real Madrid, Fabio Capello meyakini  bahwa Spanyol telah membuat kesalahan dengan  memecat Julen Lopetegui. Namun, situasi ini juga tidak lepas dari  arogansi Real Madrid, dimana Los Blancos menjadi sumber masalah, saat Lopetegui memutuskan untuk menukangi tim Ibukota Spanyol tersebut menggantikan Z Zidan.

Pelatih asal Italia, yang melatih Madrid pada 1996/97 dan 2006/07 itu berbicara kepada radio Italia, ia juga mengomentari pertandingan mengecewakan Lionel Messi untuk Argentina.

“Saya ingin berada di belakang Fernando Hierro yang merupakan salah satu pemain saya, tetapi saya pikir Spanyol salah untuk menyingkirkan Lopetegui, Anda tidak melakukannya seperti itu,” katanya.

“Real Madrid sombong untuk berbicara dengan pelatih tanpa memberi tahu federasi, tetapi kami tahu bagaimana Florentino Perez dan federasi itu salah untuk memecat pelatih,” katanya.

Lionel Messi  gagal mengeksekusi  penalti, ketika Argentina melakukan pertandingan pembukaan Piala Dunia melawan Islandia. “Setelah kehilangan penalti, permainan Argentina memburuk, dan Messi tidak bisa melakukan apa yang biasanya dia lakukan untuk Barcelona,” ujar Capello.

Argentina tidak memiliki lini tengah Barcelona, ​​mereka terlalu lambat dan dapat dengan mudah dibaca lawan,  tambah Capello.

“Kesalahan itu  terlihat terlalu banyak bagi Messi untuk mencetak gol setelah penalti gagal. Messi tidak terlihat dalam performa bagus, tapi semoga ini  karena (pesta) baru saja memulai.”

Neymar juga berjuang dalam pertandingan pertamanya dengan Brasil yang bermain imbang dengan Swiss, ia bermain setelah kembali dari cedera yang membuatnya absen di akhir musim.

“Dia memiliki kecepatan tinggi, tetapi dia tidak bersinar dan terlihat khawatir tentang kakinya,” kata Capello, yang merasa terlalu cepat untuk membandingkannya dengan pemain  hebat.

“Pele, Maradona dan juga Messi, berasal dari planet lain. Pele memimpin timnya, menciptakan gol, memberi assist dan ini adalah sesuatu yang benar-benar berbeda.”