Soal Perundungan Pasien oleh Tenaga Medis di Medsos, PB IDI: Dugaan Pelanggaran Etik akan Diproses!

JAYAKARTA NEWS— Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menegaskan bahwa dokter wajib mematuhi pedoman etik dalam menggunakan media sosial sebagaimana diatur dalam Fatwa Etik Nomor 024 Tahun 2021.

Penegasan tersebut disampaikan menyusul dugaan perundungan terhadap pasien oleh tenaga medis di media sosial. PB IDI memastikan setiap dugaan pelanggaran etik akan diproses melalui mekanisme pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Wakil Ketua PB IDI, dr. Wieweka, mengatakan organisasi profesi telah mengantisipasi perkembangan teknologi, termasuk media sosial, dengan menyusun fatwa etik sebagai pedoman bagi dokter dalam menjaga profesionalisme, integritas, dan martabat profesi di ruang digital.

“Fatwa etik ini dibuat ketika terjadi perkembangan teknologi, termasuk media sosial. Walaupun tidak terkait langsung dengan hubungan dokter dan pasien, tetapi segala sesuatu yang menyangkut pasien di media sosial tetap harus mengacu pada pedoman etik,” ujar dr. Wieweka, dilansir InfoPublik.

Menurutnya, Fatwa Etik Nomor 024 Tahun 2021 diterbitkan sebagai pedoman bagi dokter dalam memanfaatkan media sosial secara bertanggung jawab. Fatwa tersebut memuat prinsip-prinsip profesionalisme, integritas, serta kewajiban menjaga kehormatan dan martabat profesi dalam setiap aktivitas di ruang digital.

Penegakan Etik Diproses Melalui Mekanisme

Terkait dugaan perundungan terhadap pasien oleh tenaga medis di media sosial, dr. Wieweka menegaskan bahwa penegakan etik dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan dan tidak serta-merta berujung pada pemberian sanksi.

“Pertama tentu dilakukan tabayun dan klarifikasi kepada sejawat yang bersangkutan. Setelah itu, apabila Majelis Kehormatan Etik Kedokteran menilai terdapat dugaan pelanggaran etik, barulah dilakukan sidang etik,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sanksi etik yang dijatuhkan akan disesuaikan dengan tingkat atau gradasi pelanggaran yang terbukti dalam proses pemeriksaan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran.

Meski demikian, PB IDI menegaskan bahwa tujuan utama penegakan etik bukan semata-mata memberikan sanksi, melainkan membina dokter agar kepatuhan terhadap etika profesi menjadi budaya yang melekat dalam praktik kedokteran.

“Sanksinya juga sesuai dengan gradasi dugaan pelanggaran. Tapi konsepnya kita tetap adalah pembinaan. Karena etika itu perlu dilakukan pembinaan, drill yang berulang-ulang sehingga bisa menjadi budaya,” pungkas dr. Wieweka. (*/di)

IDI Lebih Baik Hadapi Tantangan Debat Unhas daripada Menghadap Petinggi Militer

JAYAKARTA NEWS— Respons keras ditunjukkan pihak Universitas Hasanuddin (Unhas) terkait tudingan salah seorang pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Rianto Setiabudy, yang menyebut disertasi dokter Terawan Putranto tentang “cuci otak” tidak kredibel. 

Bahkan disebutkan, adanya dugaan tekanan yang diterima para pembimbing dokter Terawan sehingga lulus dalam disertasi berisi metode “cuci otak” tersebut. 

Alih-alih menanggapi tantangan tersebut, PB IDI malah mengunjungi Panglima TNI Andika Perkasa di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta pada Selasa, 5 April 2022. 

Kunjungan tersebut diungkap dokter Arif Budi Satria, ahli bedah RSU Pusat Surakarta melalui akun twitternya. 

Menanggapi pertemuan tersebut, Ketua Umum Forum Pimred Siber Indonesia, Bernadus Wilson Lumi mengatakan bahwa pertemuan PB IDI ke Panglima TNI bukan saat yang tepat.

“Bukan saat yang tepat jika IDI melakukan audiensi ke Panglima TNI disaat sedang menjadi sorotan masyarakat,” kata Wilson Lumi, Rabu, (13/4).

Menurutnya, pertemuan tersebut terkesan mencari dukungan ke Panglima TNI, kendati katanya bertujuan untuk sinergitas IDI dengan TNI untuk ketahanan kesehatan.

“IDI saat ini tengah menjadi sorotan, oleh sebab itu lebih baik para pengurus membenahi masalah internal terlebih dahulu. Apakah kunjungan itu karena IDI khawatir jika akan terbentuk Ikatan Dokter Militer seperti usulan Hendropriyono?” sergah Wilson.

Daripada menghadap Panglima TNI, lanjut Wilson Lumi, lebih baik PB IDI melayani tantangan debat yang dilontarkan pihak Unhas.

“Unhas itu universitas tertua di wilayah timur Indonesia dan telah meluluskan banyak dokter dengan kualitas yang tidak diragukan,” ucap Bernardus Wilson Lumi yang juga mantan Stafsus Bidang Media di TNP2K dimasa pemerintahan SBY-Boediono.

Sebagai orang Sulawesi Wilson merasa terusik jika PB IDI meragukan kredibilitas Universitas Hasanuddin dan meminta agar pengurus IDI intropeksi diri karena di dalam tubuh PB IDI banyak kepentingan yang bermain.***/ks