“I Love Indonesia” Cinta Perupa untuk Negeri

JAYAKARTA NEWS Suhu politik yang naik seiring dengan pelaksanaan pesta demokrasi diharapkan tidak membuat masyarakat terpecah belah.  Karena itu  Pameran Seni Rupa Online#2 (PSRO) mengambil tema “Salam KenaI, I Love Indonesia”.  Pameran akan dibuka malam ini (3/3) pukul 19.30 Wib. PSRO#2 bisa diakses lewat media sosial antara lain FB Sukoco Hayat dan website ORI Rekor Indonesia dengan alamat www.originalrekorindonesia.co.id, sampai 30 Maret mendatang.

“Saat ini  kita memasuki rangkaian pesta demokrasi.  Supaya bangsa ini tetap bersatu dan tidak tercerai berai, maka kami mengambil tema “Salam Kenal, “I Love Indonesia”,” kata Sukoco Hayat DP, si pemrakarsa, sesaat sebelum pembukaan pameran.  Selain alasan demi persatuan bangsa, tema itu merupakan wujud cinta para perupa terhadap negeri tempat mereka lahir dan berproses sebagai seniman.

Kata “Salam Kenal”  dicantumkan, karena PSRO#2 ini merupakan lanjutan dari yang pertama.  Pameran ini bertujuan memperkenalkan seniman dan karyanya.  Seperti PSRO pertama, yang kedua  ini mencantumkan informasi  perupa secara lengkap yakni nama, alamat rumah, nomor kontak telepon, alamat email, judul karya, tahun pembuatan, media, ukuran karya dan rekam jejak perupa.  Upaya itu mempermudah penikmat mengenali perupa dan karyanya, sekaligus sebagai  akses  untuk membuka komunikasi di antara mereka.

Perupa peserta PSRO#1 bergambar bersama President ORI Rekor Indonesia, Guruh Susanto.
President ORI Rekor Indonesia menyerahkan piagam kepada Sukoco Hayat DP.

Sukoco memaparkan bahwa pelaksanaan PSRO#1 cukup sukses.  Antusias pengunjung lumayan besar, demikian juga partisipasi perupa.   PSRO kedua diadakan untuk menampung perupa yang belum bisa berpartisipasi pada even yang pertama.  Selain itu, PSRO mendapat penghargaan dari Original Rekor Indonesia (ORI) Bandung sebagai penyelenggara Pameran Online yang pertama.

Guruh Susanto, Presiden ORI Rekor Indonesia mengatakan bahwa PSRO ini masuk kategori rekor karena  baru pertama kali diadakan dan merupakan sebuah terobosan baru sebagai galeri milenial.  “Kami mengapresiasi pameran online ini karena bisa merangkul perupa dari seluruh Indonesia, semua usia, tanpa terhalang waktu, beaya dan tempat,” papar Guruh saat dihubungi terpisah.  Ia menambahkan bahwa penonton pun bisa melihat karya dengan leluasa, dimanapun  mereka berada dan kapanpun waktu yang mereka mau.  Pameran mudah diakses cukup dengan hape pintar dan jaringan internet.

Kepada setiap  perupa peserta PSRO#1, ORI Rekor Indonesia memberikan piagam penghargaan.  Kamis, (28/2) Guruh Susanto  menyerahkan Piagam kepada para perupa peserta PSRO#1 di Studio Sukoco Hayat DP, Gunung Sempu, Bantul, DIY.   Tidak semua perupa hadir.  Mereka yang mewakili diataranya Indah Nya, Efrie Irmasari, S. Priadi,  Nur Azizah, Chamit Arang, Pancakasih Atmajani, Budi A dan Sukoco Hayat. (Ernaningtyas)

I Gde Sukarda, Salah satu dari 50 peserta PSRO#2 asal Denpasar Bali

Yani Saptohudoyo dan Niluh Sudarti tentang Pameran Seni Rupa Online

Yani Saptohudoyo

JAYAKARTA NEWS – Sudah waktunya para perupa memanfaatkan kemajuan  teknologi informasi untuk mempersembahkan karya seni pada khalayak global di jaman yang serba digital sekarang ini. Pameran lewat dunia maya itu pada akhirnya akan mempromosikan karya seni dan membuka pangsa pasar baru yang tidak mampu dijangkau pameran seni yang digelar di gedung-gedung atau galeri.  Demikian rangkuman tanggapan dari Yani Saptohudoyo dan perupa Niluh Sudarti terhadap Pameran Seni Rupa Online pertama di Indonesia “Ini Karyaku” yang berlangsung 10-28 Februari. Keduanya dihubungi secara terpisah, Kamis (14/2).

“Pada zaman yang serba online ini, kita harus mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi untuk mempromosikan karya perupa,” kata Yani Saptohudoyo.  Menurut Bunda Yani, demikian ia akrab disapa, pemeran lukisan di galeri berbiaya mahal dengan persiapan panjang dan melelahkan. Jumlah pengunjung belum tentu sesuai harapan. “Biasanya hanya di saat pembukaan pengunjung yang hadir banyak, setelah itu sepi,” tutur istri almarhum pelukis legendaris Saptohudoyo ini. Dari pengujung yang terbatas itu, menurut ibu pelukis Sekar Langit ini, hanya segelintir saja yang pada akhirnya menjadi pembeli. “Biasanya maksimal  10 persen saja lukisan yang laku terjual di ajang pameran,” tambahnya. Pengalamannya selama ini, angka 10 persen tersebut sudah terbilang tinggi.

Bunda Yani mengaku salut luar biasa terhadap ide membuat pemeran senirupa online “Ini Karyaku”. Di samping berbiaya lebih murah dibanding pameran biasa, perupa tidak perlu repot mengangkut lukisannya kesana kemari. Niluh Sudarti juga berpendapat sama, biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk pameran online terbilang jauh lebih murah, sementara kesempatan meraih pangsa pasar baru terbuka seluas-luasnya. “Seperti saya misalnya yang tinggal di kaki Bukit Menoreh Borobudur Magelang, kapan pun saya bisa berselancar melihat pameran dari satu galeri online ke galeri online yang lain hanya lewat ponsel,” kata Niluh.

Niluh menyatakan bahwa sebenarnya tidak mudah juga menggelar pameran seni rupa online. Tantangan ada pada konten atau isi dari seluruh paket produk digital yang akan disampaikan kepada khalayak, yaitu konsep karya, bahasa, aspek estetika seni sebagai galeri digital, durasi, audio dan video. Semua itu harus dikemas agar terlihat  apik dan menarik untuk ditampilkan di dunia maya.

Bunda Yani mengatakan bahwa melihat hasil karya seni di gambar digital  dan di kenyataan sangat  berbeda. “Lebih puas melihat langsung,” tutur Bunda.  Karena itu, penyajian menjadi faktor penting.  Dari situlah, pada akhirnya, bisa menarik pengunjung untuk menyaksikan dan kemudian tertarik membelinya.

Sementara Niluh menambahkan, ada tantangan lain yang datangnya dari para seniman sendiri.  Tidak semua perupa bisa beradaptasi dengan dunia digital ini.  “Tidak sedikit seniman yang terus asyik berkarya dan tidak peduli pada perkembangan teknologi digital,” tutur Niluh.

Bunda Yani dan Niluh Sudarti sependapat bahwa pameran seni rupa online ini harus terus menerus digelar, sambung menyambung, sehingga tidak berhenti pada satu pameran saja. Upaya ini penting agar khalayak semakin akrab dengan pameran digital, dan ini akan menjadi tren baru  pameran seni rupa di tanah air. “Lewat pameran online, akan semakin banyak perupa baru menjadi peserta, dan akan semakin banyak juga pameran ini mendapatkan pengunjung,” kata Bunda Yani. Penggagas pameran online, Sokoco Hayat DP, akan segera meluncurkan seri kedua dengan judul “Salam Kenal” I Love Indonesia.  Pameran akan berlansung tanggal 3 sampai 20 Maret 2019. “Saya berharap pameran ini semakin mempererat persaudaraan di antara para perupa serta menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri ini,” kata Sukoco. (Ernaningtyas)

Plukis Niluh Sudarti Dan karyanya yang terpampang Di Pameran Semi Rupa Online “Ini Karyaku”

Pameran Lukisan Online, Membangun Galeri Milenial

JAYAKARTA NEWS – Minggu 10 Februari 2019, pukul 19.30 wib, pameran  lukisan online “Ini Karyaku” resmi dibuka. Pameran ini diprakarsai pelukis, pebisnis, sekaligus jurnalis, Sokoco Hayat DP.  “Melalui pameran online ini, saya ingin membangun sebuah galeri milenial. Galeri yang  dengan mudah dan murah bisa menjadi wadah perupa untuk memamerkan karya, sekaligus bisa dengan gampang diakses penikmat atau kolektor kapanpun dan di manapun mereka berada, cukup dengan menggunakan hape cerdas dan jaringan internet,” kata Sukoco, sesaat sebelum acara pembukaan.

Selama ini, sebuah pameran seni rupa selalu bertempat di sebuah gedung, di sebuah kota.  Perupa dan pengunjung memiliki keterbatasan waktu dan tempat untuk mengapresiasinya.   Hanya mereka yang dekat dengan lokasi pameran yang bisa dengan mudah mengaksesnya.Sementara beayanya pun lumayan besar.  Sukoco Hayat mencoba sebuah terobosan baru dengan mengadakan pameran online. Ia beri  judul “Ini Karyaku”.  Judul ini dipilih karena informasi yang diberikan sangat lengkap.

Jika pada pameran seni rupa biasa hanya mencantumkan nama, judul karya, ukuran dan media, maka pameran seni rupa online “Ini Karyaku” melengkapi informasi perupa  dengan alamat rumah, no hape, alamat email, cv lengkap sekaligus rekam jejak si perupa. “Dengan informasi lengkap, para kolektor atau penikmat seni bisa dengan mudah menghubungi si perupa,” kata Sukoco. Pameran ini diikuti oleh 80-an perupa, baik dewasa maupun anak-anak. Mereka berasal dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

Untuk pameran online pertama ini, Sukoco memanfaatkan media sosial facebook (fb) dengan alamat: sukocohayat, Youtube dengan judul: Pameran seni rupa online dan Instagram (ig)  dengan pintu masuk: pameransenirupaonline.

“Yang akan datang, saya akan membuat website untuk mewadahi pameran seni rupa online seperti ini,” tambah Sukoco. Ia menyatakan  bahwa pihakya sudah membuka pendaftaran untuk pameran seni rupa Online kedua yang diberi judul “Salam Kenal”. Pameran ini akan digelar tanggal 3 hingga 15 Maret 2019. Saat ini, pendaftaran pameran online kedua “Salam Kenal” sudah mulai dibuka. Para peminat bisa menghubungi Sukoco Hayat di nomor wa 085701798344. Sejak dibuka Minggu malam pukul 19.30, Pameran senirupa Online “Ini Karyaku” sudah dikunjungi oleh 500-an orang lewat akun FB Sukoco Hayat.

Guruh Susanto, Ketua Original Rekor Indonesia (ORI) mendukung penuh acara pameran seni rupa online yang baru pertama kali diadakan di Indonesia ini. “Saya mengapresiasi  penuh acara pameran yang menyatukan seniman khususnya perupa tanpa terkendala umur, jarak atau tempat para seniman berkarya. Mereka semua bisa unjuk karya melalui pameran online ini,” kata guruh.  Ditambahkan, pameran seni rupa online ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki pelukis-pelukis hebat di sekuruh daerah. Guruh berharap, para perupa bisa dikenal luas di Ondonesia dan macanegara. (nina) 

Renate, peserta terkecil “Ini Karyaku”
Karya perupa di pameran online “Ini Karyaku”
Torres, pemilik 600 an piala dari Lomba lukis, ikut meramaikan pameran online “Ini Karyaku”.