Sebanyak 69 Negara Hadir di CdM Meeting AWBG Bali, Israel tidak Ikut

JAYAKARTA NEWS— Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) siap menyambut NOC perwakilan dari 69 Negara (daftar lihat data terlampir) yang akan hadir dalam Chef de Mission (CdM) Meeting 2nd ANOC World Beach Games 2023 di Bali pada 28 April-1 Mei mendatang. 

Kepastian tersebut didapat dalam surat resmi yang dikirim Sekretaris Jenderal ANOC Gunilla Lindberg kepada Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari, Senin (17/04) petang.

“Berdasarkan surat resmi ANOC kepada kami,  69 negara  yang  akan hadir pada CdM Meeting AWBG di Bali, akhir April nanti. Informasi ini telah kami teruskan ke Kemenpora dan Pemerintah Provinsi Bali,” kata Okto, sapaan karib Raja Sapta, Selasa (18/04). Demikian dikutip dari kemenpora.go.id

“Kualifikasi AWBG masih berlangsung hingga Juli, tetapi yang hadir di  CdM Meeting ini adalah gambaran peserta yang berpartisipasi di AWBG Bali 2023.”

Sebagai informasi, NOC adalah organisasi non-pemerintah yang terafiliasi dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan merepresentasikan negaranya dalam perhelatan olahraga. Sementara, CdM Meeting adalah pertemuan Ketua Kontingen yang telah ditunjuk NOC peserta multi event.

Okto mengatakan Indonesia harus dapat memanfaatkan penyelenggaraan AWBG dengan maksimal. Terlebih, AWBG merupakan multi event ketiga terbesar di dunia setelah Olimpiade Musim Panas dan Olimpiade Musim Dingin.

Sebagai informasi, AWBG Bali akan diselenggarakan pada 5-12 Agustus, dan akan dilanjutkan dengan ANOC General Assembly pada 13-15 Agustus. AWBG merupakan multi event terbesar berdasarkan jumlah negara peserta yang pernah diselenggarakan di Indonesia dan dapat menjadi stepping stone menuju bidding tuan rumah Olimpiade 2036. 

“Beach games lahir dari Indonesia, saat kita menjadi tuan rumah Asian Beach Games I di Bali pada 2008. Dengan AWBG kita dapat merajut legacy yang lebih besar. Perlu diingat, lanjut Okto, kegiatan sport event internasional di Indonesia dapat memberikan multiplier effect (efek ganda) dari segi olahraga, pariwisata, hingga ekonomi,” kata Okto.

Dalam CdM Meeting, Indonesia ANOC World Beach Games Organizing Committee akan mempresentasikan kesiapan tuan rumah, baik venue, akomodasi, transportasi, dan lain-lain. AWBG Bali 2023 akan diikuti sekitar 1.600 atlet dari 130 negara. Atlet yang tampil harus melalui proses kualifikasi ketat hingga Juli 2023.(dok/nocindonesia)

Negara Peserta Chef de Mission Seminar AWBG Bali 2023 Bali (28 April-1 Mei)
1 Algeria
2 Argentina
3 Australia
4 Azerbaijan
5 Bahamas
6 Barbados
7 Benin
8 Bosnia And Herzegovina
9 Brazil
10 Canada
11 Chile
12 People’s Republic of China
13 Colombia
14 Costa Rica
15 Croatia
16 Cuba
17 Czech Republic
18 Ecuador
19 Egypt
20 El Salvador
21 France
22 Georgia
23 Germany
24 Great Britain
25 Greece
26 Hong Kong, China
27 Hungary
28 Indonesia
29 Islamic Republic of Iran
30 Ireland
31 Italy
32 Japan
33 Kazakhstan
34 Republic of Korea
35 Kuwait
36 Latvia
37 Lithuania
38 Madagascar
39 Mauritius
40 Mongolia
41 Morocco
42 New Zealand
43 North Macedonia
44 Oman
45 Palestine
46 Panama
47 Paraguay
48 Peru
49 Philippines
50 Poland
51 Portugal
52 Qatar
53 Romania
54 Samoa, American
55 Saudi Arabia
56 Senegal
57 Singapore
58 Slovakia
59 Slovenia
60 Spain
61 Taipei, Chinese
62 Togo
63 Trinidad and Tobago
64 Tunisia
65 Türkiye
66 United States of America
67 Vanuatu
68 Virgin Islands, US
69 Zimbabwe.***

NOC Indonesia Berharap Kontribusi Aktif Pengusaha di Olahraga

JAYAKARTA NEWS— Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) berharap pengusaha-pengusaha di Indonesia dapat memberikan kontribusi aktif di sektor olahraga. Peran aktif tersebut diperlukan demi meningkatkan pembinaan prestasi olahraga Indonesia di mata dunia.

Hal itu disampaikan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari saat menerima Jaringan Pengusaha Nasional (JAPNAS) ke kantor NOC Indonesia di Senayan, Jakarta, Selasa (16/08). Ia didampingi Komite Eksekutif Ismail Ning, Wakil Sekretaris Jenderal I Harry Warga Negara bersama Wasekjen III Josephine Tampubolon, dan Ketua Komisi Sport for All Ery Erlangga

“Organisasi olahraga membutuhkan pengusaha, seperti dari Jaringan Pengusaha Nasional untuk dapat terlibat dan mengurus olahraga secara aktif, sehingga mampu membantu peningkatan prestasi olahraga

“Semakin banyak pengusaha yang aktif terlibat di olahraga Indonesia, saya yakin pembinaan prestasi olahraga juga dapat meningkat.”

Indonesia, lanjut Oktohari, merupakan negara besar dengan 270 juta populasi. Banyak potensi yang dimiliki olahraga Indonesia untuk mencetak prestasi, namun membutuhkan dukungan dari semua pihak.

Terlebih, membangun prestasi tak bisa instan. Butuh waktu panjang dan perjuangan yang membutuhkan kerja keras serta biaya yang tidak sedikit.

“Khususnya untuk menggalakkan sport industry di Indonesia, di mana perekonomian dan olahraga sangat terkait dan menjadi simbiosis mutualisme yang kuat. Dengan pengalaman dan keahlian yang dimiliki pengusaha, terutama Jaringan Pengusaha Nasional, saya yakin sport industry di Indonesia dapat lebih bergelora,” ujar Oktohari.

Sementara itu, Ketua Jaringan Pengusaha Nasional Bayu Priawan Djokosoetono mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat dari NOC Indonesia. Ia menilai pertemuan tadi menjadi langkah awal kolaborasi Jaringan Pengusaha Nasional dengan NOC Indonesia yang diharapkan dapat terjalin lebih kuat ke depannya.

“Kami merupakan organisasi yang ingin memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia serta membantu meningkatkan positioning Indonesia,” ucap Bayu.

“Saya selaku Ketua Jaringan Pengusaha Nasional mendorong agar para pengusaha Indonesia dapat berkontribusi secara aktif untuk meningkatkan prestasi olahraga Indonesia.” (azh)

Rafiq Radinal Ditunjuk sebagai CdM ISG Konya

JAYAKARTA NEWS— Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) resmi menunjuk Rafiq Hakim Radinal sebagai Chef de Mission (CdM) Islamic Solidarity Games (ISG) 2021 Konya yang berlangsung pada 9-18 Agustus 2022. Pemilihan pimpinan kontingen dari internal NOC Indonesia dilakukan untuk mempermudah koordinasi.

“Rapat Komisi Eksekutif memutuskan, CdM ISG dijabat oleh Bapak Rafiq Hakim Radinal yang juga merupakan salah satu Komisi Eksekutif NOC Indonesia,” kata Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari, Jumat (22/07/2022). Demikian dikutip dari rilis NOC Indonesia.

“Pemilihan sosok internal kami sebagai CdM ISG dengan beberapa pertimbangan, salah satunya mempermudah koordinasi keberangkatan, mengingat multi-event ini merupakan ajang partisipasi sekaligus tryout menuju agenda yang lebih besar pada tahun depan, yaitu SEA Games Kamboja serta Asian Games Hangzhou, sehingga kami memutuskan tidak melibatkan pihak luar.”

Tim Indonesia untuk ISG Konya akan berjumlah 82 atlet dan 21 official dari 13 cabang olahraga. Sebanyak 12 cabang olahraga, yaitu panahan, atletik, balap sepeda disiplin jalan raya, senam, judo, karate, kickboxing, menembak, renang, taekwondo, angkat besi, dan gulat berangkat dengan dana APBN. Sementara dua atlet dan satu pelatih tenis meja berpartisipasi dengan biaya mandiri.

Sekretaris Jenderal NOC Indonesia Ferry Kono menjelaskan komposisi Tim Indonesia yang diberangkatan untuk ISG terpaksa mengalami perampingan. Hal ini dikarenakan adanya faktor eksternal yang memengaruhi pembiayaan kontingen.

“Terkait team size, kondisi ini di luar perencanaan. Semula kami merencanakan dapat mengirim 150 atlet, tetapi kenaikan harga tiket pesawat yang mencapai dua hingga tiga kali lipat belakangan ini membuat kami terpaksa menyesuaikan jumlah Tim Indonesia yang diberangkatkan ke ISG Konya,” ujar Ferry.

“Meski demikian, NOC Indonesia membuka jalur mandiri, mengingat kami melihat multi-event ini tak sekadar sebagai ajang solidaritas semata, tetapi juga try-out yang dapat mengasah kemampuan atlet-atlet kami.”

Sementara itu, Rafiq berkomitmen akan melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pimpinan Tim Indonesia untuk ISG Konya dengan optimal. Rafiq akan dibantu oleh tim headquarter yang memiliki pengalaman di SEA Games 2021 Vietnam.

“Terima kasih kepada Ketua Umum NOC, Sekjen, dan para KE serta Kemenpora atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya untuk menjadi CdM Tim Indonesia untuk ISG Konya. Dalam persiapannya, pasti ada tantangan-tantangan, tetapi saya percaya dengan kerja sama dan koordinasi yang terbangun antara Tim HQ dan juga NOC Indonesia semuanya dapat teratasi. Saya meminta doa dari seluruh masyarakat di Tanah Air agar Tim Indonesia dapat meraih prestasi membanggakan di Konya,” ujar Rafiq

Sebagai informasi, ISG Konya mempertandingkan 20 cabang olahraga (cabor), yaitu atletik, panahan basket 3×3, bocce, balap sepeda (jalan raya dan trek), anggar, sepak bola, senam (artistik, aerobik, ritmik), bola tangan, judo, karate, kickboxing, menembak, renang, tenis meja, taekwondo, voli, angkat besi, gulat (freestyle, greco-roman), panahan tradisional.

Seluruh venue untuk cabang olahraga tersebut, dikatakan Rafiq, sudah selesai dibangun oleh tuan rumah. “Dalam CdM Meeting terakhir, mereka sudah siap melaksanakan ISG,” ujar Rafiq.

ISG merupakan multi-cabang olahraga internasional di bawah naungan Islamic Solidarity Sports Federation (ISSF) yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali dan diikuti 57 negara anggota Organisation of Islamic Cooperation (OIC). Konya merupakan tuan rumah ISG edisi kelima yang seharusnya diadakan 2021, tetapi penyelenggaraan ditunda hingga 2022 karena pandemi Covid-19.***/din

Ada 39 Cabor SEA Games Kamboja, Masih Berpotensi Bertambah

JAYAKARTA NEWS— Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) merilis 39 cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan di SEA Games 2023 Kamboja, 5-17 Mei. Namun, angka ini potensial bertambah mengingat ada beberapa cabor yang masuk dalam pertimbangan dan baru akan diputuskan di SEAGF Meeting , September 2022.

Sekretaris Jenderal NOC Indonesia Ferry Kono mengatakan SEAGF Meeting yang berlangsung di Phnom Penh pada 10-13 Juli memutuskan 39 cabor akan dipertandingkan pada pesta olahraga dua tahunan terakbar kawasan ASEAN, tahun depan. Dari cabor tersebut, beberapa di antaranya merupakan usulan yang disampaikan NOC Indonesia.

“Kami memperjuangkan pencak silat, dan akhirnya disetujui. Bahkan kemungkinan akan ada 22 nomor yang dipertandingkan di SEA Games mendatang. Begitu juga cabor yang kami usulkan sebelumnya, yaitu polo air, wushu, dan jetski juga telah dipastikan akan dipertandingkan,” kata Ferry.

“Keputusan ini potensial bisa bertambah karena ada beberapa cabang olahraga yang masih dalam pertimbangan, seperti panahan, menembak, dan kurash. Ini karena Kamboja tidak memiliki atlet, peralatan, dan bahkan federasi nasional sehingga beberapa NOC berkomitmen untuk membantu tuan rumah.”

NOC Filipina, kata Ferry, salah satu yang berkomitmen untuk memberikan bantuan pelatihan hingga peralatan. Namun, tuan rumah masih menunggu realisasi bantuan yang ditawarkan, sehingga tambahan cabor baru bisa diputuskan September.

Hal serupa juga dilakukan NOC Indonesia ketika memperjuangkan pencak silat, olahraga beladiri asli Indonesia, agar bisa dipertandingkan di SEA Games edisi ke-32 nanti. NOC Indonesia berkomunikasi dengan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PB IPSI) untuk dapat membantu Kamboja, sehingga setelah semua bantuan dipastikan tuan rumah pun akhirnya memutuskan mempertandingkannya.

“Terkait usulan rowing dan kano belum ada hasilnya karena tuan rumah  memiliki spesialisasi tradisional dragon boat. Kami anggota SEAGF juga tidak bisa banyak memaksa karena Kamboja juga banyak memainkan nomor yang bukan unggulan mereka. Tapi, kami tetap akan berusaha memperjuangkannya dan semoga dapat diputuskan September mendatang,” ujar Ferry.

Lelaki yang menjabat sebagai Chef de Mission SEA Games 2021 Vietnam ini menilai, Kamboja memiliki concern penuh terhadap penyelenggaraan SEA Games. Sebagai informasi, Kamboja sejatinya pernah ditunjuk untuk menjadi tuan rumah SEA Games 1963, tetapi terpaksa dibatalkan karena situasi politik internal yang terjadi di negara mereka.

“Saya melihat, Kamboja lebih serius dibandingkan Vietnam. Mereka bahkan menyiapkan dan membangun venue serta athlete village yang terpusat di Phnom Penh untuk SEA Games. Perdana Menteri Kamboja Hun Sen bahkan datang langsung dalam pembukaan SEAGF Meeting, ini juga menjadi bukti bahwa mereka sangat concern. Bahkan mereka juga merekrut tenaga profesional, dari OCA (Dewan Olimpiade Asia) untuk membantu mereka,” kata Ferry.

Terkait protokol kesehatan dan antisipasi pencegahan penyebaran virus covid-19, Ferry mengatakan tuan rumah meyakinkan kepada 10 negara partisipan yang akan hadir di pesta olahraga dua tahunan kawasan Asia Tenggara bahwa mereka siap. Terutama karena masyarakat Kamboja telah menerima lima kali dosis vaksin.

“Jadi imunitas mereka bisa dikatakan lebih terbentuk dibanding tamu-tamunya. Mereka meyakinkan dengan dosis kelima yang sudah diterima oleh masyarakatnya menunjukkan bahwa tamu-tamu yang hadir tidak perlu khawatir,” tambah Ferry.

Daftar Cabor SEA Games Kamboja

1 Atletik (track & field dan maraton)

2 Akuatik (renang, loncat indah, polo air)

3 Bulutangkis

4 Basket (5×5 dan 3×3)

5 Tinju

6 Biliar&Snooker

7 Binaraga

8 Catur (Xianqi dan Ok Chakktrong)

9 Kriket

10 Balap sepeda (road dan MTB)

11 Dance Sport

12 Esports

13 Endurance Race (Aquatlon, Duathlon & Triathlon)

14 Anggar

15 Selam

16 Bola Lantai

18 Sepak Bola

19 Senam (Artistik dan Aerobik)

20 Hoki (Lapangan dan Indoor)

21 Jetski

22 Judo

23 Karate

24 Kun Khmer (Muay)

25 Martial Arts (Arnis, Jujitsu, Kickboxing, Kun Bokator, Martial Art Korea: ITF Rules & Vovinam

26 Obstacle Race

27 Pentaque

28 Layar

29 Sepak Takraw

30 Pencak Silat

31 Soft Tennis

32 Tenis Meja

33 Taekwondo

34 Tenis

35 Traditional Boat Race

36 Voli (Indoor dan Pantai)

37 Angkat besi

38 Gulat

39 Wushu

Ekshibisi

40 Beach Teqball.***azh

Usai SEA Games, Ferry Kono Jabarkan Agenda Multievent hingga 2023

JAYAKARTA NEWS— Penundaan penyelenggaraan Asian Games 2022 Hangzhou dan Asian Youth Games Shantou membawa perubahan kalender multievent olahraga pada tahun ini. Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) menjabarkan beberapa agenda penting yang akan diikuti Indonesia hingga 2023.

Sekretaris Jenderal NOC Indonesia Ferry Kono mengatakan Indonesia masih memiliki satu agenda multi-event yang akan diadakan pada tahun ini, yakni Islamic Solidarity Games (ISG) di Konya pada 9-18 Agustus. Hal ini menyusul keputusan Dewan Olimpiade Asia (OCA) menunda penyelenggaraan Asian Games Hangzhou serta Asian Youth Games Shantou dikarenakan kasus penyebaran virus Covid-19 tengah meningkat hingga menyebabkan China melakukan lockdown di beberapa provinsi.

“Tim kami melalui Komisi Sport and Develompment sudah mulai melakukan review untuk ISG dengan parameter-parameter yang menjadi target NOC Indonesia dan pemerintah. Semoga akhir pekan ini bisa rampung dan sebagaian dari tim kami akan melakukan CdM Meeting kedua di Konya,” kata Ferry.

Ferry menjelaskan ISG hanya diikuti oleh negara-negara peserta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), bukan berarti Indonesia bisa bebas mengirimkan atlet. Sebab, ISG tetap memiliki syarat berdasarkan peringkat dunia yang dimiliki atlet ataupun tim pada sejumlah cabang olahraga.

“Ada beberapa cabor yang tidak bisa ikutsertakan, seperti sepak bola karena posisi Timnas Indonesia belum masuk dalam peringkat yang ditetapkan. Jadi Tim Review juga harus dapat menyeleksi atlet-atlet yang dikirim nanti sudah dalam posisi aman untuk bertanding di ISG,” terang Ferry.

Berbicara target, Ferry menjelaskan NOC Indonesia tidak memberikan target khusus di ISG. Namun, tambahnya, bukan berarti tidak ada standar tertentu yang harus dicapai oleh atlet Merah Putih.

“Ini sekadar partisipasi, tetapi kami ingin ISG menjadi try-out bagi atlet-atlet kita menuju Asian Games meskipun dalam situasi ditunda hingga tahun depan,” kata Ferry,

Ia menjelaskan, NOC Indonesia juga memiliki empat agenda multievent mandatory, yakni SEA Games 2023 Kamboja (Mei), Asian Games (September), serta Asian Indoor & Martial Art Games (17-26 November), serta ANOC World Beach Games (AWBG) di mana Indonesia akan menjadi tuan rumah pada 5-12 Agustus dilanjutkan dengan ANOC General Assembly hingga 15 Agustus.

“Tantangannya bagaimana kita memetakan atlet untuk turun di 4 multi event itu agar bisa paralel, tapi di saat yang sama 2023 itu tahun kualifikasi menuju Olimpiade Paris yang dimainkan di single event. Jadi prioritas tetap kualifikasi Paris,” ujar Ferry.

“Kami menjadikan semua event tahun depan ajang try-out atlet kita untuk mengukur sejauh mana prestasi yang mereka lakukan selama pelatnas. Semoga ini semua bisa berjalan baik.”

“Bagi NOC Indonesia tentu di waktu luang ada Asian Games dan Asian Youth Games yang ditunda ini dapat kami manfaatkan dengan baik untuk memperbaiki sistem dan pelayanan yang kiranya akan bermanfaat ketika empat multievent di 2023 itu berjalan. Kita bekerja secara efisien dan menggunakan teknologi khusus, sehingga tidak ada lagi sistem manual baik dari akreditasi, logistik, distribusi, dll.”

NOC Indonesia melalui Komisi Sport and Development sudah mulai melakukan review terhadap federasi nasional untuk tampil di ISG. Review dilakukan mulai 20-24 Mei.***/ash

Diplomasi Olahraga akan Bawa Negara ASEAN Bersaing di Olimpiade

JAYAKARTA NEWS— Ternyata Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari punya misi besar selama ini menjalankan diplomasi olahragq antar NOC, Federasi Olahraga Negara ASEAN (SEAGF),  Dewan Olimpiade Asia (OCA), Asian Confederations, International Federation (IF) dan Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Misi besar itu yang dibangun Okto, pangilan akrabnya, itu sangat mendasar. Karena, semua lembaga tersebut memiliki legitimasi terhadap perkembangan olahraga baik di ASEAN, Asia maupun Dunia. Melalui program Olympic Solidarity setiap negara memiliki hak yang bisa diusulkan atau diperjuangkan oleh NOC agar bisa meningkatkan prestasi olahraganya.

Sinyal itu terlihat saat Okto menyampaikan sambutan pada acara Wellcoming Dinner dan ramah tamah bersama Duta Besar Republik Indonesia (RI) untuk Vietnam, Denny Abdi dan Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Chandra Bhakti di Hanoi, Vietnam, Rabu (11/5/2022) malam.

Secara terbuka, Okto menyambut baik apresiasi dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Bahkan, dia menyebut pada SEA Games 2021 Hanoi ini sudah tidak lagi berbicara target mengingat situasi extra ordinary setelah pandemi Covid-19 melanda dunia.

Selain itu, Okto juga mengungkapkan komitmen pemerintah Indonesia dalam membangun olahraga di kawasan ASEAN dengan mengambil alih pelaksanaan ASEAN Para Games yang semula memjadi kewajiban Vietnam.

“Indonesia menjadi tuan rumah ASEAN Para Games 2021 itu sebagai fakta. Makanya, NOC Indonesia ingin mempererat kerjasama dengan semua pihak. Selain Kemenpora, kami juga berharap Duta Besar Indonesia untuk Vietnam melobi pemerintah Vietnam untuk menjalin kerja sama dalam peningkatan prestasi olahraga di kawasan Asia Tenggara menuju ke jenjang Olimpiade,” ujar Okto.

Apa yang dibangun Okto melalui diplomasi olahraga itu sesuai dengan keinginan Presiden Jokowi yang telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Undang Undang Keolahragaan dan Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang terus disosialisasikan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali.

Keinginan Okto membangun olahraga dengan negara kawasan Asia Tenggara itu jelas memperkokoh posisi Indonesia sebagai bangsa besar yang tidak hanya jago kandang. Dan, ini jelas tergambar dari sambutan Denny Abdi yang menyebut Indonesia selalu dianggap pemimpin negara ASEAN meski jabatan pemimpin negara ASEAN dipegang secara bergiliran.

“Indonesia itu selalu saja dianggap sebagai pemimpin negara ASEAN baik di bidang politik, ekonomi maupun sosial budaya termasuk olahraga,” kata Denny Abdi.  

Vietnam sendiri selaku tuan rumah pun menyadari akan pentingnya kebersamaan negara-negara Asia Tenggara dalam membangun olahraga. Itu bisa dilihat dari gambaran upacara pembukaan SEA Games ke-31 dengan tema “Untuk Asia Tenggara Yang Lebih Kuat” di Stadion Mỹ Đình, Hanoi, Vietnam, Kamis (12/5/2022) malam.

Acara pembukaan akan dibagi dalam tiga segmen. Yang pertama, menampilkan Vietnam, dengan budaya dan identitasnya sendiri, sebagai negara yang bersahabat dengan semua negara. Kedua, menunjukkan kekuatan komunitas ASEAN di peta dunia, dan yang ketiga akan menampilkan solidaritas dan persahabatan antara Vietnam dan anggota ASEAN lainnya dalam upaya menyatukan dan membangun komunitas regional yang kuat.***/din

Sudah Lampu Hijau, Indonesia Tinggal Tunggu Kabar Gembira WADA

JAYAKARTA NEWS— Upaya Gugus Tugas Percepatan Penyelesaian Sanksi Badan Anti-Doping Dunia (WADA) dalam melakukan akselerasi kian dekat. JADA, Badan Anti-Doping Jepang, yang ditugaskan melakukan asistensi kepada Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) selama masa sanksi telah memberikan lampu hijau terhadap test distribution plan (TDP) 2022. Kini, Indonesia tinggal menunggu keputusan WADA dalam waktu dekat.

Wakil Ketua LADI, anggota Gugus Tugas, Rheza Maulana mengatakan progres positif terus ditunjukkan Indonesia untuk mendapatkan status compliance (patuh) terhadap WADA Code. Selain merampungkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan telah menempati kantor baru di Jakarta Selatan, kini LADI dipastikan telah   merampungkan TDP 2022.

“Alhamdulillah tadi pagi, JADA memberikan acceptance terhadap TDP kami. Ini merupakan kerja keras yang dilakukan dalam satu-dua bulan terakhir karena TDP tahun ini kami buat dengan formula baru yang memenuhi standar WADA,” kata Rheza, Selasa (01/02/2022), sebagaimana dikutip dari rilis yang diterima redaksi.

Ia menjelaskan, JADA tak sekadar menyetujui TDP 2022. Lebih dari itu, JADA juga mengizinkan LADI melaksanakan TDP yang telah disetujui secara profesional dan independent.

“JADA juga meminta untuk di-remove (hapus) dari akun LADI. Selama ini karena JADA yang melakukan asistensi, mereka masuk dalam akun kami untuk memantau semua proses yang dilakukan LADI. Mereka juga sudah mengirimkan invoice terakhir, dalam artian sudah selesai pengawasan terhadap LADI dan kami sudah bayarkan,” kata Rheza.

Setelah mendapat lampu hijau JADA, Rheza menjelaskan kini pihaknya tinggal menunggu kabar baik  WADA terkait pembebasan sanksi terhadap LADI.

“JADA sudah mengatakan, Indonesia sudah bisa sendiri (melaksanakan WADA Code) mulai dari sekarang. Dalam waktu dekat, semoga akan ada surat resmi dari Montreal (Markas Besar WADA) terkait hal tersebut,” kata Rheza.

Sebagai informasi, WADA menjatuhkan sanksi selama satu tahun terhadap LADI karena dinilai non-compliance terhadap WADA Code pada 7 Oktober 2021. Imbas sanksi tersebut, Merah Putih tak bisa berkibar takala atlet Indonesia naik podium. Tak cuma itu, nasib Indonesia menjadi tuan rumah sejumlah event seperti ANOC World Beach Games serta ASEAN Para Games  pun harus menunggu sanksi WADA terhadap LADI dicabut.

Ketua Gugus Tugas, ex-officio Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari bersyukur misi akselerasi bisa selesai dalam waktu empat bulan. Ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk berselebrasi karena Merah Putih bisa berkibar lagi. “Seperti yang sudah pernah saya sampaikan, kita tinggal menunggu kabar resmi WADA untuk mengibarkan Merah Putih pada Februari ini. Mari kita bersama-sama mengobarkan kebahagiaan kita karena Merah Putih dapat berkibar lagi. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk mengunggah foto di media sosial sembari mengibarkan bendera Merah Putih. Kita sebarkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu,” kata Okto, sapaan karib Raja Sapta.***bnt