Kisah Bangkrut dan Bangkit ala Warsiji

Warsiji, pengusaha garmen asal Kebumen di PIK Penggilingan, yang pernah bangkrut, dan berhasil bangkit.

JIKA ada pengusaha yang memiliki kesan buruk terhadap partai politik, salah satunya pasti Warsiji (56). Lelaki asal Kebumen ini, pernah bangkrut gara-gara orderan sablon atribut parpol senilai jutaan rupiah tidak dibayar. Ini pengalaman pahit beberapa tahun lalu menjelang Pemilu.

Beruntung Warsiji lekas move on. Tidak mau tenggelam dalam keterpurukan, ia menganggap pengalaman itu sebagai pil pahit yang harus menjadi obat. Pulih dari rasa stres berat gara-gara ulah oknum parpol tadi, Warsiji mulai bangkit, menata kembali usahanya di bilangan Pusat Industri Kecil (PIK), Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur.

Bersama sekitar 500 pengusaha kecil lain di sana, Warsiji merajut kembali bisnis garmen, khususnya bidang sablon dan bordir. Berkat image positif, bahwa produk PIK Penggilingan berkualitas dan murah, maka usaha survival Warsiji terbilang smooth.

Mayoritas industi yang ada di kawasan ini adalah garmen,mulai dari baju, kaos, jaket, topi, sepatu, dab tas. Adapun ragam usaha lainnya, antara lain mebel, kerajinan kulit, logam, sablon, dan bordir. Adapun Warsiji, melayani jasa sablon.

Usaha yang dipayungi dengan badan usaha yang diberinya nama Karya Cipta Collection itu, menerima pesanan sablon mulai dari kaos, topi, jaket, celana sweater, training, hingga celemek dan tali ID-Card. Dijumpai di kiosnya Blok C nomor 12, Warsiji mengaku sering juga menerima order partai besar.

Pesanan partai besar, biasanya datang dari corporate, instansi pemerintah, atau lembaga pendidikan. Seperti misalnya, partai besar yang datang berupa jaket almamater, baju safari, seragam pabrik, kaos partai politik, seragam sekolah, dan lain sebagainya. “Untuk harga, sangat tergantung pada jenis bahan yang digunakan serta jumlah pesanan. Adapun bahan baku, saya ambil dari Tanah Abang dan Bandung,” ujar lelaki berkacamata minus itu.

Kini, Warsiji yang mengawali kebangkitannya dengan modal Rp 40 juta itu, sudah bisa menyewa ruko plus mempekerjakan sekitar 15 karyawan. Tentu saja, bukan berarti ia tidak ditempa ujian dan masalah. “Pada saat mengawali kembali bisnis ini, mencari penjahit pun susah sekali. Jadi kalau menerima order, terpaksa saya subkan ke teman. Tentu saja, konsekuensinya keuntungan jadi berkurang,” ujar Warsidi yang mengaku pernah mencoba bisnis kuliner masakan Padang.

Itu cerita dulu. Sekarang, Warsidi tampak mapan. Bahkan, tanpa aktivitas promosi maupun usaha jemput bola, order datang mengalir. “Kebanyakan yang datang ke sini ya karena mendengar dari mulut ke mulut,” ujar ayah tiga anak, sekaligus kakek dua orang cucu itu.

Pelanggannya kebanyakan dari instansi pemerintah dan swasta, rumah sakit, pabrik, sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Mereka bukan saja berasal dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi ada yang datang dari Aceh, Poso, bahkan beberapa daerah di Kalimantan. ***

Saatnya Pendukung Ahok – Anies Rekonsolisasi

LUPAKAN hiruk pikuk yang berceceran menjelang pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada) DKI Jakarta. Ketika dua figur calon gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Anies Baswedan, yang sebelumnya saling berseberangan demi kepetingan mereka merebut kursi eksekutif puncak di Pemprov Ibukota Jakarta, telah “berdamai” massa pendukung seyogianya move on, kembali ke titik netral.

Setelah memastikan kemenangan dalam Pilkada Gubernur DKI –sementara ini baru lewat hitung cepat—Anies menyambangi Gubernur Ahok di Balaikota. Ahok sendiri, Rabu sore sudah menyampaikan ucapan selamat kepada pasangan Anies – Sandi. Pertemuan kedua pemimpin di DKI itu menyejukkan, sebagai peta jalan untuk rekonsiliasi antarpendukung setelah pungkasnya Pilkada 2017.

Kepada wartawan, usai bertemu Ahok di Balaikota Kamis pagi, Anies menjelaskan ada dua hal pokok yang dibincangkan gubernur dan gubernur terpilih tersebut. “Pertama, soal Pilkada kemarin. Kedua, kita sama-sama akan rekonsiliasi antarpendukung dan menjaga persatuan,” kata mantan Rektor Universitas Paramadina itu.

Keduanya menginginkan, pasca Pilkada, para warga DKI Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya, benar-benar menjaga persatuan secara maksimal. Saatnya membuka lembaran baru, setelah Pilkada usai. “Kita mulai babak baru,” kata mantan Menteri Pendidikan Nasional itu.

Gubernur Ahok, yang tinggal menuntaskan tugasnya enam bulan ke depan, menjamin bahwa para pendukungnya akan tetap tenang menanggapi hasil Pilkada 2017 yang nantinya diputuskan Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta. “Pendukung saya tidak akan ribut-ribut-lah. Saya jamin itu. Kami percaya kok semua itu Tuhan yang mengatur. Takdir kan ditentukan oleh Tuhan. Hidup itu, ya begitu,” kata mantan Bupati Bangka Belitung itu.

Dalam masa transisi ini, Ahok bahkan siap membantu tim Anies-Sandi untuk memberikan segala informasi yang dibutuhkan dalam rangka membangun Jakarta, di antaranya keterbukaan APBD. Menurut Anies, Basuki sangat terbuka, bahkan bersedia memberi contoh tentang program Anies-Sandi yang perlu dianggarkan dalam APBD, dan hal-hal apa yang mesti disiapkan semenjak mula. ***