Hadiri Acara HUT ke-97 Solihin GP, Iwan Bule: Beliau Orangtua Saya

BANDUNG, JAYAKARTA NEWS— Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djodjohadikusumo dan Mochamad Iriawan menyempatkan hadir pada acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-97 tokoh legendaris Jawa Barat, Letjen TNI Solihin Gautama Poerwanegara (GP).

Kedua tokoh Partai Gerindra ini memberikan ucapan selamat kepada mantan Gubernur Jawa Barat yang duduk di atas kursi roda.

Acara HUT ke-97 Solihin GP ini juga diihadiri Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Begitu tiba, Iwan Bule, panggilan akrab Mochamad Iriawan langsung mendatangi Solihin GP bersama istrinya.

Dengan begitu hormat, mantan Kapolda Jawa Barat ini memeluk dan mencium tangan Solihin GP seraya bertemu dengan kedua orangtuanya.

“Saya ini sudah dianggap anak oleh Pak Solihin GP. Beliau tokoh legendaris Jawa Barat yang sangat saya kagumi. Kalau di Jakakrta dikenal Gubernur Ali Sadikin di Jawa Barat ada Solihin GP. Dan, beliaulah yang pertama kali mendorong saya untuk menjadi Gubernur Jawa Barat,” kata Iwan Bule.

Solihin Gautama Purwanegara yang lahir 21 Juli 1926 menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat dari 1970 sampai 1975. Ia mengawali karier militer ketika masa revolusi sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat Kabupaten Bogor, kemudian bergabung dengan Divisi Siliwangi.

Solihin terkenal dengan gagasannya dalam mengatasi krisis pangan di Indramayu dengan memasyarakatkan padi yang disebut sebagai gogo rancah.***din

Tokoh Kultural Sebut Jabar Butuh Sosok Berkomitmen dan Merakyat Seperti Iwan Bule

BANDUNG, JAYAKARTA NEWS— Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Mochamad Iriawan tak pernah lelah dalam melakukan kegiatan. Usai menyapa para relawan di Jawa Barat, pria yang akrab disapa Iwan Bule itu kembali mengeksplorasi lagi wilayah berjuluk Paris van Java tersebut.

Pada akhir pekan ini dirinya menyambangi lokasi wisata kuliner milik salah satu tokoh kultural asal Jawa Barat, Eka Santosa yang merupakan mantan Ketua DPRD Jabar, dimana kini telah mendedikasikan diri sebagai pegiat lingkungan menjabat Ketua Forum Penyelamat Hutan Jawa.

Iwan Bule mengaku dalam kunjungannya ke tempat wisata kuliner milik Eka Santosa, yakni Esa Coffe & Culture yang terletak di Cimenyan, Jawa Barat, membuat dirinya kembali bernostalgia saat menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat pada 2013 lalu kemudian saat bertindak sebagai Pj Gubernur Jabar di tahun 2018.

Menurut Iwan Bule, wisata kuliner milik Eka Santosa yang menghadirkan nuansa arsitektur interior dan exterior budaya sunda mengingatkan kembali tentang segarnya cuaca yang dilengkapi indahnya panorama di bumi Pasundan.

“Saya kalau berkunjung ke tempatnya Kang Eka ini nggak pernah bosan, betah (nyaman -red). Disini itu seperti di pedesaan, menghadirkan suasana healing yang luar biasa,” kata Iwan Bule yang memiliki kedekatan emosional dengan Eka Santosa.

Iwan Bule pun tak segan menyanjung Eka Santosa selaku sahabatnya yang tak segan untuk melestarikan budaya sunda melalui konsep wisata kuliner yang dimiliki. Sebab, keberadaan Esa Coffe & Culture turut menjadi wisata edukasi.

“Ini paten, bukti Kang Eka itu memang tokoh sunda sejati, mengajak pengunjung bisa mengenal nilai-nilai budaya sunda melalui konsep cafe miliknya,” jelas Iwan Bule.

Sementara itu, Eka Santosa mengaku senang atas kunjungan Iwan Bule ke tempat usahanya. Menurut dia, kehadiran lulusan tokoh Akademi Kepolisian 1984 itu membuktikan kecintaannya terhadap budaya sunda, khususnya Jawa Barat.

“Terima kasih banyak Kang Iwan Bule untuk berkenan kembali main ke Cimenyan, ke Esa Coffee & Culture. Ini mah kehormatan pisan, bukti kecintaan Kang Iwan juga ke Budaya Jawa Barat,” kata Eka Santosa semringah.

Sebelumnya, Eka pun mengatakan melalui sosok Iwan Bule terdapat gambaran semangat yang mau mencurahkan dan berdedikasi untuk masyarakat Jawa Barat. Lantaran menurut Eka selama ini banyak sahabat-sahabatnya yang menanyakan sosok pemimpin Jawa Barat itu seharusnya seperti apa, terutama saat menghadapi permasalahan seperti kerusakan lingkungan dan ketahanan pangan.

“Kita ingin Jawa Barat itu kembali menjadi lumbung pangan Nasional. Karenanya Jawa Barat ke depan membutuhkan sosok yang struggle, berkomitmen dan merakyat. Semua itu ada pada sosok Kang Iwan Bule. Mudah-mudahan ini menjadi catatan penting buat partai politik,” kata Eka. ***/din

Satgas Covid-19 Minta PSSI Taati Protokol Kesehatan

Jayakarta News – Dunia sepakbola baru saja mendapat angin segar, bahwa kompetisi segera diputar kembali. Informasi ini disampaikan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan usai beraudiensi dengan Ketua Satgas Covid-19, Letjen TNI Doni Monardo, di Graha BNPB, Rabu (22/7/2020).

Salah satu pernyataan Iriawan di laman pssi.org menyatakan, “Dalam konsep kami, tentunya protokol kesehatan nomor satu. Yang kedua karena ini kompetisi pada masa Covid-19 tentunya kita mengikuti beberapa liga yang ada di dunia yaitu tanpa penonton. Pak Doni Monardo menyepakati atau memberikan izin kepada kami untuk itu, namun protokol kesehatan tentunya menjadi yang utama dalam hal ini.”

Beberapa hari kemudian, berita itu sepertinya sudah diluruskan, dan sudah tidak ada lagi pernyataan “Pak Doni menyepakati atau memberikan izin kepada kami….(dst)”.

Pernyataan Mochamad Iriawan (yang sudah dihapus itu), kemudian diluruskan oleh Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB bidang media, yang juga anggota Satgas Covid-19. “Satgas mendukung, bukan memberi izin. Satgas mendukung dengan syarat protokol kesehatan dijalankan,” ujar Egy kepada Jayakarta News, hari ini (25/7/2020).

Lebih lanjut pria kelahiran Makassar itu menambahkan, bahwa secara umum, pemerintah mendorong pemberlakuan adaptasi kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19. Yang terjadi kemudian, sejumlah sektor yang bisa menggerakkan roda ekonomi, perlahan-lahan dipulihkan, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Karenanya, jika PSSI berkehendak menggulirkan kompetisi, pun diberlakukan ketentuan tadi. Mengutip pernyataan Doni Monardo, Egy mengatakan, “Satgas mendukung liga bergulir namun dengan syarat menerapkan protokol kesehatan dan akan mendukung dengan memberikan bantuan swab test kepada PSSI. Selain itu pertandingan harus tanpa dihadiri penonton karena tidak ada yang bisa menjamin keselamatan para penonton. Ditakutkan terjadi kontak erat dengan salah satu orang yang terpapar Covid-19 yang hadir di stadion.”

Lebih lanjut, jika kompetisi digelar, Doni berharap kepada PSSI untuk mengajak supporter menyaksikan pertandingan di rumah saja, dan mengajak pemain sepakbola untuk melakukan edukasi kepada masyarakat terkait protokol kesehatan di era Covid-19. Doni meminta kepada komunitas bola menjadi pahlawan kemanusiaan dengan melakukan edukasi kepada semua orang untuk selalu menjalankan protokol kesehatan.

“Jadi sekali lagi, tidak ada kata-kata ‘memberi izin’, tetapi menyetujui. Restu dan izin beda. Sebab, perizinan sebuah event, termasuk sepakbola ada aturan penyelenggaraan yang sudah baku. Jadi mestinya, setelah mendapat persetujuan Satgas, selanjutnya PSSI yang mengurus perizinan,” kata Egy.

Mengingat kondisi satu daerah dengan daerah yang lain berbeda, maka bisa jadi kebijakan perizinan pun akan berbeda. Jika suatu daerah dalam kondisi yang relatif terkendali, ada kemungkinan aparat mengeluarkan izin. Sebaliknya, untuk daerah yang masih sangat tinggi tingkat paparannya, bisa jadi tidak akan diizinkan. “Itulah makna protokol kesehatan dalam era adaptasi kehidupan baru,” tandas Egy.

Sementara itu, dari Surabaya dikabarkan, Persebaya menjadi klub pertama yang bereaksi negatif atas pernyataan PSSI. Presiden Persebaya Azrul Ananda menolak mengikuti kompetisi yang sedia diputar Oktober 2020. Alasannya, belum ada protokol kesehatan dan prosedur-prosedur yang jelas. Sejumlah klub lain juga memberi isyarat sama. Menolak.

Terlebih, kondisi Surabaya yang masih terbilang sangat rawan. “Betapa pun, kesehatan pemain bola dan masyarakat umum, adalah lebih utama. Belum tentu juga pemain-pemain asing, diizinkan datang ke Indonesia,” ujar Azrul, dikutip dari Daily Surabaya TV, hari ini (25/7/2020). (rr)