4 Masyarakat Adat di Asia Tenggara yang Mempertahankan Gaya Hidup Nenek Moyangnya Hingga Kini

JAYAKARTA NEWS – Tidak semua orang atau kelompok merasa perlu mengikuti modernitas dan kemajuan teknologi.

Buktinya dengan keberadaan masyarakat adat yang mempertahankan gaya hidup tradisional.

Masyarakat adat ini biasanya tinggal di daerah terpencil dan jarang membaur dengan masyarakat lain.

Di Asia Tenggara sendiri ada beberapa masyarakat adat yang perlahan membuka diri dan mau dikunjungi orang.

1. Hmong
Suku yang tinggal di pedalaman dataran tinggi ini salah satu masyarakat adat terbesar di Asia.

Komunitasnya terbentang di daerah pegunungan di Provinsi Thailand Utara, Vietnam Utara dan Laos Utara.

Kunjungan ke perkampungan Suku Hmong termasuk wisata populer di ketiga negara tersebut.

Nenek moyang suku ini diperkirakan dari Tiongkok Selatan, karena budaya, bahasa, dan pakaian yang digunakan mirip.

Rumah Suku Hmong terbuat dari kayu dan bambu. Bajunya berwarna terang dihiasi embroidery.

Dulunya suku ini menganut animisme, sekarang ada yang sudah menganut agama Buddha dan Kristen.

Suku Hmong dikenal sebagai perajian terutama tenunan dan keranjang.

Tampilan fisik masyarakat adat Semang di Malaysia mirip orang Aborigin dan diperkirakan punya nenek moyang yang sama juga. (kwekudee-tripdownmemorylane.blogspot.com)

2. Maniq dan Semang
Masyarakat adat ini tinggal di hutan pedalaman di Thailand Selatan dan Malaysia Utara.

Tampilan fisiknya mirip orang Aborigin dan diperkirakan punya nenek moyang yang sama juga.

Tinggi masyarakat adat ini tidak lebih dari 150 senti meter dan jumlahnya kurang dari 350 orang.

Tinggal di hutan yang tersembunyi, Suku Maniq dan Semang hidup dari berburu dan pengumpul.

Rumah-rumahnya dari tenda yang terbuat dari ranting dan daun-daunan.

Mereka menggunakan senjata panah yang ditiupkan.

Saat ini beberapa dari mereka sudah punya tempat tinggal tetap, ada juga yang masih nomaden.

Masyarakat suku Asmat pengukir kayu yang andal. (klubcahaya.com)

3. Asmat
Suku Asmat tinggi di provinsi Papua dan sebelah barat Papua Nugini.

Mereka biasanya tinggi di hutan mangrove dan daerah rawa.

Suku Asmat hidup dari berburu dan dikenal sebagai perajin ukiran kayu yang hebat.

Hasil karya Suku Asmat jadi buruan pecinta karya seni tradisional di seluruh dunia.

Bagi masyarakat Asmat sendiri mengukir kayu merupakan bagian dari tradisi penting.

Mereka percaya nenek moyangnya terbentuk dari kayu yang diukir dan kemudian diberkati.

Kaum perempuan suku Akha, Thailand, mengenakan baju yang dicelup warna indigo dan topi dihias manik, kerang dan koin perak. (chiang-mai-trekking.com via thethailandlife.com)

4. Akha
Suku Akha tinggal di daerah pedalaman yang sangat terpencil di dataran tinggi empat negara.

Yakni, Myanmar, Thailand Utara, Vietnam Utara dan Laos.

Salah satu ciri warga Akha tampak dari baju tradisionalnya.

Kaum perempuan mengenakan baju yang dicelup warna indigo dan topi dihias manik, kerang dan koin perak.

Begitu banyaknya koin yang menempel saat mereka berjalan terdengar suara gemericik.

Meskipun tinggal di dataran tinggi pedalaman, Suku Akha secara berkala sering turun ke desa dan pasar.

Kehadiran mereka langsung terdengar karena gemericik koin yang menempel di bajunya.***/mel

Pj. Adhy Dikukuhkan Sebagai Warga Kehormatan Masyarakat Suku Tengger

PROBOLINGGO, JAYAKARTA NEWS – Penjabat (Pj.) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono dikukuhkan sebagai Warga Kehormatan Masyarakat Suku Tengger pada Resepsi Yadnya Kasada 1946 Saka di Amphitheater Terminal Wisata Seruni Point, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jumat (21/6/2024).

Pengukuhan sebagai Warga Kehormatan Suku Tengger ini ditandai dengan penyematan selendang kuning kepada Pj. Gubernur Adhy oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) Bambang Suprato.

Pj. Gubernur Adhy sangat mengapreisiasi pengukuhan yang diberikan kepada dirinya. Ia merasa bangga sekaligus menyampaikan terima kasih kepada pemangku adat Suku Tengger.

“Secara pribadi, saya sungguh merasa terhormat dan bangga sekaligus berterima kasih sebesar-besarnya kepada para pemangku adat khususnya sesepuh Tengger karena saya mendapatkan apresiasi untuk dikukuhkan sebagai warga kehormatan,” ujarnya.

Menurut Adhy, pengukuhan warga kehormatan ini bermakna sangat dalam. Salah satunya adalah komitmen pemerintah Jatim dalam memberikan kesetaraan perlakuan serta kemajuan bagi masyarakat Suku Tengger.

“Hati dan pikiran akan kami sumbangkan untuk kepentingan masyarakat Tengger. Kami dengar persoalan di sini adalah air. Mohon Kepala Bappeda Jatim segera merencanakan untuk mengatasinya, karena air adalah sumber kehidupan,” katanya.

Pj. Gubernur Adhy juga menyampaikan bahwa pemerintah akan terus berkolaborasi bersama masyarakat adat dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan serta kearifan lokal.

“Suku Tengger memiliki adat istiadat, kearifan, dan keguyuban yang luar biasa. Oleh karenanya mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami berkomitmen dan memastikan bahwa kekayaan kebudayaan ini tidak hanya dilestarikan tapi juga dijaga dan dirawat dengan baik,” ungkapnya.

Berkaitan dengan perayaan Yadnya Kasada, Adhy mengatakan bahwa hal tersebut selain menjadi praktik pluralisme yang baik, juga bisa menjadi pilar harmonisasi kehidupan masyarakat.

“Ini adalah bukti kerukunan umat beragama. Sekaligus menjadi modal untuk membangun dan menyejahterakan seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Tengger,” katanya.

Tidak hanya itu, dengan adanya perayaan Yadnya ini dapat menjadi bagian dari peningkatan pariwisata di Bumi Majapahit.

“Karena perayaan tahun ini adalah yang pertama kali dilakukan di rest area Seruni Point. Sehingga dapat menjadi momen untuk menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara” katanya.

“Sehingga pada akhirnya kita akan memperoleh pendapatan daerah yang akan dipergunakan untuk kesejahtraan masyarakat Tengger itu sendiri,” tambah Adhy.

Di akhir Pj. Gubernur Adhy berpesan agar masyarakat khususnya para wisatawan dapat menghormati pelaksanaan upacara adat Yadnya Kasada 1946 Saka. Karena dengan saling menghormati sama halnya merawat persatuan dalam berbangsa dan bernegara.

“Bagi masyarakat khususnya wisatawan, kami mengimbau untuk memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Karena itu merupakan wujud upaya nyata menjaga persaudaraan, kerukunan dan persatuan bangsa,” ucapnya.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Tengger, Supoyo menyampaikan apresiasinya atas dukungan pemerintah selama ini kepada masyarakat sekitar. Seperti dukungan pembangunan rest area di sekitar Bromo dan juga wisata Jembatan Kaca.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah baik kota, kabupaten dan provinsi yang ikut mendukung suksesnya kegiatan dan pembangunan kemasyarakatan selama ini. Maka sepatutnya mereka kita kukuhkan sebagai Warga Kehormatan Sesepuh Masyarakat Tengger,” katanya.

“Ini adalah predikat yang luar biasa. Dan pertama kalinya dalam sejarah, kita adakan pengukuhan di Rest Area Seruni. Mudah-mudahan semua yang dikukuhkan ini semakin sukses dan karirnya semakin meningkat,” tambahnya.

Sebagai informasi, selain Pj. Gubernur Adhy, pemberian gelar warga kehormatan Tengger juga diberikan kepada beberapa pejabat lainnya. Di antaranya adalah Pj. Wali Kota Probolinggo Nurkholis, Ketua Pramuka Kwarda Jatim Arum Sabil, Kapolres Probolinggo AKBP Wisnu Wardhana, dan Dirut Bank Jatim Busrul Iman. ***poedji