• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Sunday, October 4, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

4 Masyarakat Adat di Asia Tenggara yang Mempertahankan Gaya Hidup Nenek Moyangnya Hingga Kini

4 Masyarakat Adat di Asia Tenggara yang Mempertahankan Gaya Hidup Nenek Moyangnya Hingga Kini

Redaksi by Redaksi
September 20, 2025
in Histori
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAKARTA NEWS – Tidak semua orang atau kelompok merasa perlu mengikuti modernitas dan kemajuan teknologi.

Buktinya dengan keberadaan masyarakat adat yang mempertahankan gaya hidup tradisional.

Masyarakat adat ini biasanya tinggal di daerah terpencil dan jarang membaur dengan masyarakat lain.

Di Asia Tenggara sendiri ada beberapa masyarakat adat yang perlahan membuka diri dan mau dikunjungi orang.

1. Hmong
Suku yang tinggal di pedalaman dataran tinggi ini salah satu masyarakat adat terbesar di Asia.

Komunitasnya terbentang di daerah pegunungan di Provinsi Thailand Utara, Vietnam Utara dan Laos Utara.

Kunjungan ke perkampungan Suku Hmong termasuk wisata populer di ketiga negara tersebut.

Nenek moyang suku ini diperkirakan dari Tiongkok Selatan, karena budaya, bahasa, dan pakaian yang digunakan mirip.

Rumah Suku Hmong terbuat dari kayu dan bambu. Bajunya berwarna terang dihiasi embroidery.

Dulunya suku ini menganut animisme, sekarang ada yang sudah menganut agama Buddha dan Kristen.

Suku Hmong dikenal sebagai perajian terutama tenunan dan keranjang.

Tampilan fisik masyarakat adat Semang di Malaysia mirip orang Aborigin dan diperkirakan punya nenek moyang yang sama juga. (kwekudee-tripdownmemorylane.blogspot.com)

2. Maniq dan Semang
Masyarakat adat ini tinggal di hutan pedalaman di Thailand Selatan dan Malaysia Utara.

Tampilan fisiknya mirip orang Aborigin dan diperkirakan punya nenek moyang yang sama juga.

Tinggi masyarakat adat ini tidak lebih dari 150 senti meter dan jumlahnya kurang dari 350 orang.

Tinggal di hutan yang tersembunyi, Suku Maniq dan Semang hidup dari berburu dan pengumpul.

Rumah-rumahnya dari tenda yang terbuat dari ranting dan daun-daunan.

Mereka menggunakan senjata panah yang ditiupkan.

Saat ini beberapa dari mereka sudah punya tempat tinggal tetap, ada juga yang masih nomaden.

Masyarakat suku Asmat pengukir kayu yang andal. (klubcahaya.com)

3. Asmat
Suku Asmat tinggi di provinsi Papua dan sebelah barat Papua Nugini.

Mereka biasanya tinggi di hutan mangrove dan daerah rawa.

Suku Asmat hidup dari berburu dan dikenal sebagai perajin ukiran kayu yang hebat.

Hasil karya Suku Asmat jadi buruan pecinta karya seni tradisional di seluruh dunia.

Bagi masyarakat Asmat sendiri mengukir kayu merupakan bagian dari tradisi penting.

Mereka percaya nenek moyangnya terbentuk dari kayu yang diukir dan kemudian diberkati.

Kaum perempuan suku Akha, Thailand, mengenakan baju yang dicelup warna indigo dan topi dihias manik, kerang dan koin perak. (chiang-mai-trekking.com via thethailandlife.com)

4. Akha
Suku Akha tinggal di daerah pedalaman yang sangat terpencil di dataran tinggi empat negara.

Yakni, Myanmar, Thailand Utara, Vietnam Utara dan Laos.

Salah satu ciri warga Akha tampak dari baju tradisionalnya.

Kaum perempuan mengenakan baju yang dicelup warna indigo dan topi dihias manik, kerang dan koin perak.

Begitu banyaknya koin yang menempel saat mereka berjalan terdengar suara gemericik.

Meskipun tinggal di dataran tinggi pedalaman, Suku Akha secara berkala sering turun ke desa dan pasar.

Kehadiran mereka langsung terdengar karena gemericik koin yang menempel di bajunya.***/mel

Tags: Asia TenggarajayakartanewsMasyarakat Adat
Previous Post

AM Putranto Duduki Jabatan Komisaris Utama PT Pegadaian

Next Post

Polisi Intensifkan Patroli Siang-Malam untuk Jaga Keamanan Jakarta

Redaksi

Redaksi

Next Post
Polisi Intensifkan Patroli Siang-Malam untuk Jaga Keamanan Jakarta

Polisi Intensifkan Patroli Siang-Malam untuk Jaga Keamanan Jakarta

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version