Jejak Freemason di Malang: Sebuah Pandangan dari Masa Kolonial Hindia Belanda

JAYAKARTA NEWS— Freemasonry, organisasi persaudaraan dengan akar di Eropa yang berasal dari abad pertengahan, memiliki jejak yang kaya di Malang, Indonesia, terutama selama era kolonial Hindia Belanda. Freemason pertama di Indonesia didirikan di Batavia pada 1762 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher, dan sejak saat itu, organisasi ini berkembang di seluruh jajahan, termasuk Malang.

Pendirian dan Pengembangan di Hindia Belanda

Freemasonry di Hindia Belanda menjadi tempat berkumpul bagi elit Eropa untuk berdiskusi tentang berbagai isu, seperti yang dicatat dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” oleh Dr. Th. Stevens. Pada 1922, Grand Orient of the Netherlands di Weltevreden (Batavia) mengendalikan 20 loji, termasuk beberapa di Jawa seperti Malang.

Freemason di Malang

Loji Freemason nomor 89 di Malang, didirikan pada 1901, menjadi pusat elite Eropa dan pribumi berpendidikan Barat. Gedung yang kini menjadi The Shalimar Boutique Hotel di Jalan Cerme No. 16, asalnya adalah Macconieke Lodge dari tahun 1930-an, menjadi bukti fisik kehadiran Freemason di kota ini. Freemason dikenal dengan semboyan “liberty, egality, dan fraternity” dan berperan dalam modernitas dan pencerahan.

Peninggalan Fisik dan Kontribusi Sosial

Beberapa bangunan bersejarah di Malang yang berhubungan dengan Freemason termasuk:

  • Lavalette Kliniek, sekarang IHC RS Lavalette, dikelola oleh Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, anggota Freemason.
  • Gedung Macconieke Lodge, kini The Shalimar Boutique Hotel, menunjukkan arsitektur dan sejarah Masonic.
  • Perpustakaan Kota, Saat itu dikenal sebagai ‘Lodegebouw” pernah memiliki koleksi buku terlengkap di Hindia Belanda. sekarang telah berubah menjadi Malang Tea Gallery bernama Cafe POP (Piece of Peace) Mason 52.

Freemason juga aktif dalam filantropi, mendukung pendidikan dan amal, terutama untuk anak-anak dan masyarakat miskin.

Literatur Belanda dan Eropa

Literatur dari Belanda dan Eropa memberikan wawasan mendalam tentang Freemason di Indonesia. Buku-buku seperti “Vrijmet selarij: Geschiedenis, Maatschapelijke Beteekenis en Doel” oleh Dr. Dirk de Visser Smith, dan “Geschiedenis van de Orde der Vrijmetselaren In Nederland Onderhoorige Kolonien en Londen” oleh H. Maarschalk, membahas pengaruh dan operasi Freemasonry di Hindia Belanda, termasuk Malang.

Pengaruh dan Kontroversi

Meskipun Freemason memberikan kontribusi positif, mereka juga tidak luput dari kontroversi dan teori konspirasi, terutama karena sifat tertutup dan ritual mereka. Namun, banyak literatur menyoroti peran mereka dalam pembangunan intelektual dan sosial.

Sejarah Freemason di Malang adalah bagian dari cerita kolonialisme dan interaksi budaya di Indonesia. Meskipun tidak lagi aktif setelah larangan pada 1961, jejak mereka masih terlihat melalui bangunan-bangunan dan makam-makam yang berisi simbol Freemasonry. Makam di Sukun, misalnya, adalah saksi dari kehadiran Freemason di Malang, dengan tokoh-tokoh seperti Dr. P.A.A.F. Eyken dan Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette dimakamkan di sana.

Jejak ini tidak hanya memberikan gambaran tentang masa lalu tetapi juga mencerminkan dinamika sosio-politik dan budaya pada zaman kolonial di Malang. (Heri)

Sertifikasi Wisata Medis 8 Rumah Sakit di Malang Raya

MALANG, JAYAKARTA NEWS – Pasca Inaugurasi Malang Health Tourism Board tgl 16 April 2023, Ardantya Syahreza ditunjuk Sebagai Chairman Malang Health Tourism Board. Reza bersama timnya baru saja menyelesaikan pertemuan dengan beberapa rumah sakit untuk mensosialisasikan PMK 76 tahun 2015 tentang Pelayanan Wisata Medis.

Tujuan sosialisasi agar delapan rumah sakit di Malang Raya yang mengajukan Sertifikasi Wisata Medis memiliki standardisasi pelayanan untuk para wisatawan medis dan wellness ke Malang. Untuk diketahui, Malang telah ditunjuk sebagai destinasi wisata kesehatan keempat secara nasional.

Kedelapan rumah sakit tersebut adalah RSSA, Persada Hospital, Lavalette, Panti Nirmala, RKZ Panti Waluya Sawahan, WAVA Husada, Hermina Tangkubanprahu, dan RSU UMM. Response dari para pimpinan rumah sakit sangat positif untuk membangun kolaborasi ekosistem yang lebih baik untuk pelayanan kesehatan unggulan di Malang.

Ke depan, sebagai Chairman dari Malang Health Tourism Board, Reza sedang mengawal proses kelengkapan rumah sakit dalam pengajuan sertifikasi wisata medis dan paket paket layanan kesehatan seperti medical check-up untuk mulai dipromosikan.

Selain itu, sebagai pengusaha, Reza juga sedang membangun jaringan dengan beberapa perusahaan alat teknologi kesehatan dari Korea dan Cina untuk menunjang akses diagnostik kesehatan yang lebih canggih dan terjangkau bagi masyarakat Indonesia seperti X Ray Compact, AI breast cancer screening dan lain lain.

Tidak ketinggalan, sebagai founder dari GenMudaID, Reza juga sedang mempersiapkan program short course terbaru bagi para pemuda / mahasiswa yang perlu mempelajari ilmu teknis dan soft skills agar mereka lebih dapat terserap dalam dunia kerja / industri yang terus bergerak. Ilmu seperti AI, Project Management, Entrepreneurship, dan lain lain yang belum kuat dipelajari oleh para generasi muda. (Heri)