Hari-hari Terus Dinamis dengan Literasi Digital

JAYAKARTA NEWS – Harapan yang kita tuju, dan langkah-langkah kerja yang kita lakukan belakangan  dan hari-hari ini hingga ke depan adalah menatap Indonesia Emas. Seratus tahun Indonesia  Merdeka yang  titik kulminasinya  17 Agustus 2045.

Tak heran jika Pemerintah, termasuk di dalamnya Kementerian Komunikasi dan Informatika  (Kominfo),  spirit kerjanya dinafasi pandangan menatap Indonesia Emas tersebut. Semangat menyongsong Indonesia Emas tampak pula menyertai hari-hari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI)  Kominfo khususnya terkait konektivitas  digital. Karena itu,  semua wilayah di Indonesia hingga  pelosok tanah air (daerah 3 T; terdepan, terluar, dan tertinggal) agar tersambung dengan jaringan internet,  terus dilakukan.

Targetnya harapan tersebut segera terwujud. Terkoneksinya semua wilayah dengan teknologi digitalisasi merupakan titik tolak kemajuan di era globalisasi ini.  Mengingat Visi Indonesia Emas 2045 adalah  akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, sejahtera, berdaya saing dan memiliki pengaruh signifikan terhadap tatanan global.

Jargon  untuk membangkitkan harapan itu pun kini  sering digaungkan  dengan narasi yang makin dinamis yakni “Mencapai Indonesia yang lebih maju dan lebih sejahtera”. Sebelumnya  slogan serupa yang menunjukkan semangat besar juga cukup populer,   Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh  yang menjadi tema peringatan HUT RI ke 76  tahun 2021. Tema tersebut menjadi  slogan yang pas karena waktu itu kita masih dalam suasana pandemi Covid 19.  Selanjutnya pada Hari Kemerdekaan RI yang ke 77  tetap menggemakan semangat yang lebih perkasa; Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat!

Para tokoh, dan pimpinan kita sering pula menyadarkan bahwa kita adalah bangsa besar, bukan karena alamnya yang luas dan penduduk yang besar pula, namun juga memiliki jejak peradaban yang agung. Candi Borobudur di  Magelang, Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau juga pernah berjaya dalam dunia maritim.  Kini siapapun yang melek literasi digital bisa menyimak  kembali jika buku Sejarah kita sudah usang, Menurut Wikipedia, Ratu Kalinyamat dari Kerajaan Jepara mengirim 15 ribu tentara dengan 300 kapal ketika melawan Portugis di Selat Malaka di akhir abad ke-16.

Kita juga bangsa yang sangat beragam. Keberagaman kita  terdiri dari lebih dari 300 kelompok etnis atau  suku bangsa  (BPS tahun 2010) dan memiliki 718 bahasa daerah,  Ini juga merupakan kekayaan budaya yang besar.

Sejarawan Universitas Indonesia Dr Bondan Kanumoyoso  1 Juni 2023 saat memperingati Hari Lahirnya Pancasila di Jakarta, antara lain menegaskan, Indonesia yang beragam ini  memiliki   dasar negara   yang kokoh yakni Pancasila. Dan Pancasila ini  laksana    “mantera”  yang ampuh dalam  menegakkan persatuan di Indonesia meski  beragam  suku, ras, serta agama.  Karena itu ia optimis, Indonesia  berpotensi menjadi  kekuatan budaya besar di dunia jika  kekayaan budaya yang ada dikelola dengan baik.

Bondan yang juga Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI itu  juga  menjelaskan, bahwa hingga kini  kekuatan politik dunia masih dipegang Amerika Serikat, kekuatan ekonomi dunia dikuasai Cina, dan kekuatan budaya dunia  (diharapkan) dimiliki Indonesia.

Indikasi-indikasi  untuk menjadi kekuatan budaya dunia itu yang kemudian mengemuka  juga tak lepas dari kemajuan jagat digital yang utamanya dikuasai anak muda. Dunia pun tahu, dan terkesima. Salah satu indikasi  ketika berlangsung Gala Dinner KTT ASEAN 6 September lalu  di Jakarta yang digelar di Hutan Kota Gelora Bung Karno. Kemegahan panggung dengan setting gedung-gedung jangkung serta sajian seni budaya sangat spektakuler.  Sehingga muncul sanjungan dari Wakil Presiden Amerika yang hadir malam itu. 

“Jamuan makan, produksi, dan hiburannya hampir melebihi  apa pun yang bisa ditampilkan Holywood. Saya ucapkan selamat kepada semua yang bekerja keras untuk malam yang indah ini, “ kata Wakil Presiden Amerika Serikat Kemala Harris,  seperti yang dikutip Jawa Pos, 10 September 2023.

Kemajuan dunia gitalisasi tak bisa dipungkiri sangat digandrungi  anak muda, dan kepesatan perkembangan digital ini  memang mempercepat kemajuan di bidang lainnya, atau menggeret kemajuan di sektor lainnya.

Mengutip narasi yang diwartakan Indonesia.com setahun silam, 7 Desember 2022 antara lain menyebutkan bahwa koneksi digital kini sudah menjadi sebuah kebutuhan dan keharusan karena koneksi digital bisa mengakselerasi banyak hal termasuk ekonomi.  Meskipun perkembangan kualitas jaringan internet di Indonesia kini semakin baik namun masih belum ideal,  baik jangkauan maupun kualitasnya.  Upaya pemerintah untuk pemerataan koneksi internet hingga ke pelosok kini sedang digarap dan diharapkan akan segera selesai pada tahun depan yang dikerjakan oleh BAKTI Kominfo serta Telkomsel dan XL Axiata sebagai penyedia layanan.

Keterjangkauan koneksi yang luas dengan kualitas prima, juga menjadi harapan besar masyarakat terutama mereka yang sudah terbiasa dengan literasi digital. Perhatikan saja pemandangan di ruang tunggu bandara, di stasiun kereta api, di dalam kereta ( Commuterline Jabodetabek, misalnya), dan di ruang-ruang lainnya, “teman setia” mereka adalah telepon seluler (ponsel) yang selalu ditatapnya atau dalam genggaman, termasuk  juga di kafe-kafe.

Tentu beragam yang disimak, yang ditatapnya, yang dilakukan atau dimainkan.  Mungkin sedang mendengarkan ceramah di youtube, melihat video, sedang email,  pesan tiket, chatting, mengunduh jurnal ilmiah yang sesuai dengan studi ataupun hobinya,  update foto dan unggah  aktivitas di face-book, atau mungkin hanya main game, dll. Akivitas literasi digital didukung konektivitas digital yang lancar dan bagus  akan kian mendatangkan manfaat besar. Efisiensi waktu, kemudahan cara kerja, karena dimanapun kita berada tetap bisa melakukan kegiatan asal ada ketersambungan internet; tersedia WiFi,  paket data yang memadai, dan tentu dengan koneksi yang lancar.

Bukan Hanya Gen Z 

Yang mempesona dan memerlukan literasi digital tidak hanya generasi Z (gen Z) atau pun generasi mileneal, melainkan sudah lintas generasi. Generasi sebelumnya, Y, X, jika dalam aktivitas keseharian tidak dibarengi atau menggunakan teknologi terkait digital, maka seakan ia tidak menjejak zamannya. Tercerabut dari situasi dan kondisi masa dimana ia masih menjalaninya.

Dalam hubungan atau komunikasi dengan keluarga, yang lebih muda tentunya  dan terkait penggunaan digital, mungkin  akan terjadi keasingan dan kegagapan, Terlebih dalam sosialisasi di masyarakat tentu akan mengalami kendala, ketidaklancaran, miskonsepsi atau bahkan  mispersepsi.

Maka. mau tidak mau, suka tidak suka ia  mesti bisa beradaptasi, sehingga mampu berliterasi digital meskipun tidak segesit anak-anak muda dalam mengoperasikan perangkatnya, pun tidak selihai mileneal dalam mencari atau mengunduh informasi yang diperlukan melalui ponsel atau pun laptopnya.  Setidaknya yang menyangkut kebutuhan prioritas, seperti kesehatan, keamanan lingkungan, dan upaya mencari kabar berita  lewat media online bisa dilakukannya secara mandiri.

Jika kegiatan literasi digital mampu dilakukannya, maka hidup serasa terus berproses, dinamis, karena informasi yang didapat terus ter-update. Pengetahuan dan wawasan pun bertambah, sehingga rasa nyaman, hepi menyertai hari-hari dan aktivitasnya. Tentu harus arif dalam memilah dan memilih informasi yang diperlukan. Karena berselancar dalam literasi digital tak sepi dari pelbagai tantangan.

Di sana Anda akan menemukan chanel maupun website berita yang kredibel, yang benar-benar menyajikan ilmu pengetahuan,  berita  penting, dan kisah human interest.  Bisa dikatakan,  ponsel Anda ketika aktif dan terhubung dengan jaringan internet, merupakan gudang perbendaharaan informasi dan pengetahuan yang bisa disimak, diunduh, dan dikelola sesuai minat, pekerjaan dan profesi  yang Anda tekuni.

Namun di sana ada pula  portal berita  yang mewartakan info biasa-biasa saja, remeh temeh atau  sekadar hiburan, bahkan mengedarkan  isu negatif ; intoleran, serta “info sampah”, serta hoax.

Bagi orang dewasa atau di atas  usia mileneal, juga menginjak usia pensiun dan bahkan sering dibilang sepuh,   tampaknya tidak sekadar  tertarik literasi digital tapi sudah masuk kategori gandrung. Setidaknya realita ini bisa dilongok pada komunitas Radio Pensiunan.

Menurut Eddy Koko, penggagas dan pendiri Radio  Pensiunan yang pendengarmya lintas negara, ratusan ribu jumlahnya seperti di Singapura, Malaysia, Netherland, Amerika, Norway, Suriname, Arab Saudi, dan Australia. Dan tentu terbanyak para pensiunan Indonesia.  Mereka tidak hanya melek literasi digital, tapi memang tertarik dan memerlukan. Mengingat mereka yang juga peduli terhadap masalah kesehatan merasa manfaat yang besar dengan mengakses informasi dan pengetahuan kesehatan  serta video-video motivasi  lewat youtube. Juga bersosialisasi dengan sesama teman komunitas pensiunan dan saling tukar informasi, baik lewat  whatsapp maupun facebook.

Pesona literasi digital memang tinggi. Makin didalami,  disimak, terasa makin memikat.  “Dalam menyimak kan terjadi pula proses berpikir, “ kata Eddy Koko.  Dan itu terasa hidup tetap dinamis. Konon dengan terus bergiat  menggunakan pikiran bisa mencegah kita tidak cepat pikun, kata Eddy Koko   yang sekarang juga menjadi produsen acara Menolak Lupa  di Forum Keadilan TV.

Mendongkrak Kemajuan

Dalam waktu dekat,   tahun 2030-an kita mengalami bonus demografi. Itu berarti usia muda potensial dengan kemahiran literasi digital meningkat pula.   Maka peran para muda yang keingintahuannya  tinggi, semangat menggali  ilmu juga besar, serta bisa mengimplementasikan ide, dan mengelolanya  dalam kerja-kerja kreatif ,  perlu didukung konektivitas digital  yang tidak hanya bagus  tapi juga merata di pelbagai tempat. Termasuk  bisa dinikmati anak-anak atau siapapun yang tinggal di pelosok negeri.  Jika telah mampu berliterasi digital secara mudah, cepat dan lancar, kiranya bisa diharapkan memperoleh informasi yang setara dengan mereka yang berdomisi di pusat-pusat kota.

Bila kecakapan literasi digital pun mumpuni, mereka juga dengan mudah  bisa mengikuti kegiatan-kegiatan  yang disiarkan secara virtual, zoom meeting, dan lain-lain. Dengan berliterasi digital dalam jangkauan koneksi yang lebih luas dan merata, tentu putra-putri bangsa, terutama kalangan muda akan terasah kemampuannya, tergali talentanya, sehingga akan tumbuh generasi hebat yang melahirkan karya-karya  besar di bidangnya masing-masing, baik teknologi, ekonomi, budaya, dan lainnya.

Pada ujungnya akan berdampak pada kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat. Sehingga , diharapkan tak ada lagi  yang merasa terpinggirkan, apalagi gugatan pernyataan atau protes.  “Saya juga pewaris sah negeri ini !” Karena itu sesuai peran dan amanah yang melekat pada Kementerian Kominfo khususnya BAKTI Kominfo,  Anda adalah  orang terdepan dalam memajukan jagat digital di negeri ini.

Ibarat lokomotif,  sekian gerbong akan terbawa melaju atau dalam hal ini kerja dan karya dalam  ketersediaan infrastruktur digital yang  mumpuni  termasuk keterjangkauan yang luas dan merata,  akan berdampak/ mendongkrak kemajuan bidang-bidang lainnya; Pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lainnya.   ***  iswati

Mahasiswa Fikom Universitas Mercu Buana Gelar KPN Anti Bullying dan Literasi Digital

JAYAKARTA NEWS— Mahasiswa Fakultas ilmu komunikasi Universitas Mercu Buana (UMB) kembali menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk Kuliah Peduli Negeri (KPN).

Dua tema yang diusung dalam program ini adalah Penyuluhan Anti Bullying: Mengubah Sekolah Menjadi Tempat Aman dan Literasi Digital: Bijak Dalam Bermedia Sosial, Kegiatan ini diselenggarakan di SMP Negeri 18 Jakarta, Jl. Menteng Kecil No. 3, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Kegiatan KPN yang dilaksanakan oleh para mahasiswa ini berupa penyuluhan dan peningkatan pengetahuan siswa/i SMPN 18 Jakarta dalam bidang komunikasi.

Ada dua sesi yang dilaksanakan yaitu sesi 1 (Penyuluhan Anti Bullying) berlangsung di lapangan SMPN 18 dengan dihadiri oleh siswa-siswi dan guru-guru SMPN 18.

Sesi ke 2 yaitu (Pemaparan Materi Literasi Digital) yang berlangsung di kelas 9D, SMPN 18 Jakarta.

“SMPN 18 juga sudah mengadakan kolaborasi kerjasama untuk meningkatkan edukasi kepada siswa pada acara P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dengan tema stop bullying ditambah lagi dengan adanya kegiatan dari Mercu Buana ini. Semoga dapat menambah literasi dan pengalaman mereka (siswa), juga menguatkan untuk tidak melakukan bullying. Semoga kegiatan mahasiswa ini bermanfaat untuk kami (guru) dan juga memberikan nuansa baru pada mahasiswa Mercu Buana,” papar Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMPN 18, Arnita, S.Pd, menanggapi kegiatan KPN mahasiswa Universitas Mercu Buana.

“Alhamdulillah, salah satu syarat lulus dari perkuliahan di Mercu Buana sudah terselesaikan satu. Yaitu dengan mengabdikan diri kami sekalian untuk peduli terhadap negeri dalam pembelajaran Kuliah Perduli Negeri (KPN). Alhamdulillah juga acara berlangsung lancar, guru-guru juga senang, dan anak-anak antusias mengikuti kegiatan ini,” kata Raiza selaku ketua kelompok dari tema anti bullying.

Pelaksanaan kegiatan ini diselenggarakan sebagai wujud kepedulian dan kontribusi mahasiswa terhadap bangsa dan negara.” Saya selaku ketua panitia pelaksana Kuliah Peduli Negeri tema Literasi Digital, mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat yang telah membantu menyelenggarakan acara kuliah peduli negeri yang bertemakan Anti Bullying: Mengubah Sekolah Menjadi Tempat Aman dan Literasi Digital: Bijak Dalam Bermedia Sosial,” ujar Vellisia.

“Tujuan dari acara Literasi Digital: Bijak Dalam Bermedia Sosial yaitu untuk mengenalkan kepada siswa/i terkait pentingnya memiliki etika dan sikap yang baik dalam menggunakan media sosial sehingga dapat menjadikan mereka sebagai generasi yang bijaksana,” sambungnya.

Mahasiswa, dosen pembimbing KPN, dan para Guru SMPN 18 Jakarta berharap dengan terselenggaranya program ini dapat meningkatkan kesadaran anak-anak terutama di SMPN Jakarta, bahwa bullying dan literasi digital harus menjadi pengetahuan dasar mereka untuk melihat dunia yang lebih luas lagi.***/ags

“Digital Skill di Dunia Kerja”

JAYAKARTA NEWS – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online yakni Literasi Digital dengan tema “Digital Skill di Dunia Kerja”. Dalam seminar Literasi Digital ini, terdapat tiga narasumber yang berkompeten pada bidangnya, yaitu Dr. Fadli Zon, M.Sc. yang saat ini menjabat sebagai Anggota Komisi I DPR RI. Narasumber kedua Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc menjabat sebagai Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI serta Yanuardi Syukur, M.Si selaku Pegiat Film dan Pengurus HSBI. Seminar diselenggarakan hari Senin, 23 Mei 2022 melalui platform zoom meeting.

Seminar Literasi Digital ini merupakan inisiasi yang di dukung Kementerian Kominfo terhadap Program Literasi Digital yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, dengan memiliki beberapa tujuan, di antaranya untuk mendorong masyarakat agar mengoptimalkan pemanfaatan internet sebagai sarana edukasi dan bisnis, memberdayakan masyarakat agar dapat memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan dan bermanfaat, memberikan informasi yang lengkap kepada masyarakat terkait pembangunan Infrastruktur TIK yang dilakukan oleh Pemerintah khususnya oleh Ditjen APTIKA, serta mewujudkan jaringan informasi serta media komunikasi dua arah antara masyarakat dengan masyarakat maupun dengan pihak lainnya. Seminar ini terdiri dari beberapa sesi, yaitu sesi pembukaan, pemaparan materi, sesi tanya jawab, dan sesi penutup.

Sesi pemaparan diawali oleh pengantar dari Dr. Fadli Zon, M.Sc. Dalam paparannya ia menyampaikan, menurut Report “THE FUTURE JOB” Laporan pekerjaan masa depan (report the future jobs) oleh Forum  Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) 2020 mengungkap  prediksi adanya 85 juta pekerjaan yang hilang di era digital. Pasalnya,  pekerjaan manusia banyak digantikan oleh mesin digital. Di saat bersamaan, menurut laporan itu, ada 97 juta peluang pekerjaan baru. Untuk meningkatkan Digital Skill; Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) meluncurkan delapan program inisiatif utama. Di antaranya ialah  platform literasidigital.id, Batik Siberkreasi, Pandu Digital, School of Influencer, StopHoaks.id, Netizen Fair, Kreator Nongkrong, hingga kegiatan lokakarya terkait literasi digital.

Selanjutnya sambutan Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc. Ia menyampaikan, sebagaimana yang telah diketahui bersama, dampak pandemi dan pesatnya teknologi telah mengubah cara kita beraktivitas dan bekerja. Kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat inilah yang semakin mempertegaskan kita sedang menghadapi era disrupsi teknologi. Untuk mengahadapi hal tersebut, kita semua harus mempercepat kerjasama dalam mewujudkan agenda transformasi digital Indonesia. Bersama-sama wujudkan cita-cita bangsa Indonesia dengan menjadikan masyarakat madani berbasis teknologi. Kemampuan yang kita miliki serta keunggulan yang terus dijaga akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat dan besar, serta menjadi unggul dalam segi sumber daya manusia.

Terakhir, yakni pemaparan materi Yanuardi Syukur, M.Si selaku Penulis, Presiden Rumah Produktif Indonesia. Ia menjelaskan, alasan perlu memiliki digital skills adalah kebutuhan dunia kerja baru yang mensyaratkan pekerjanya harus cerdas digital, kesempatan untuk beradaptasi dengan perkembangan informasi dan teknologi dan mengembangkan berbagai inovasi, serta kita hidup di era kolaborasi digital yang meniscayakan adanya kecakapan digital agar tetap eksis dan berkembang. Cara untuk memiliki digital skills antara lain, berperspektif digital yaitu memiliki digital mindset, beretos pembelajar yaitu amati, tiru, dan modifikasi (ATM), serta berjejaring sehat dan produktif atau berorientasi hidup positif. Setelah paparan materi dari ketiga narasumber, moderator membuka sesi tanya jawab. Para peserta sangat antusias dalam memberikan pertanyaan. (jn)

“Cerdas dan Bijak di Ruang Digital”

JAYAKARTA NEWS – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyelenggarakan seminar online bertema “Cerdas dan Bijak di Ruang Digital”. Tiga narasumber yang tampil adalah Junico BP Siahaan, SE (Anggota Komisi I DPR RI), Prof. Widodo Muktiyo (Guru Besar UNS), serta Prof. DR. Cecep Darmawan, S.Pd, S.IP, SH, MH, M.Si (Guru Besar UPI). Seminar ini diselenggarakan Kamis, 14 Oktober 2021 pukul 14.00 wib melalui platform zoom meeting.

Seminar ini merupakan dukungan Kominfo terhadap Program Literasi Digital yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Webinar memiliki beberapa tujuan antara lain agar masyarakat memahami betul bahwa Gadget sebagai alat Literasi Digital. Tapi masih banyak masyarakat yang belum mahir dalam Digital. DI Indonesia sendiri sudah 170 juta penduduk Indonesia aktif di Sosial Media. Tercatat pula 98.2% dari jumlah penduduk di Indonesia sudah menggunakan Smart Phone.

Junico BP Siahaan, SE menyampaikan bahwa Peran DPR di dalam dunia digital adalah membuat perundang-undangan mengenai perlindungan data pribadi dan juga tentang penyiaran yang tentu saja berhubungan dengan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna dunia digital. Peran DPR juga menyiapkan anggaran untuk membangun infrastruktur TIK dan terakhir menjadi pengawas di dunia digital yang tugasnya antara lain memastikan tidak adanya ketimpangan digital serta berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif bagi masyarakat lain. Di samping memastikan hak masyarakat di dunia digital yang ada di tupoksi Kominfo terpenuhi.

Nico, begitu ia akrab disapa, juga menekankan beberapa hal yang intinya adalah bahwa kita harus mampu menyiapkan SDM dalam hal keterampilan berpikir, cinta terhadap ilmu dan implementasi konsep literasi di dunia pendidikan. Karenanya Nico menganggap webinar seperti ini sangat penting. Dan yang tak kalah penting, membangun prasarana digital sampai ke pelosok nusantara, sehingga bisa mendukung program Generasi Emas 2045. 

Prof Widodo Muktiyo

Sementara, Prof. Widodo Muktiyo menyampaikan bahwa tantangan di zaman sekarang dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi bisa menjadi makanan maupun menjadi racun. Untuk itu, kita harus memberikan informasi yang positif, meningkatkan kualitas diri dengan memperluas wawasan dalam rangka meningkatkan kecerdasan digital. Selain itu juga harus mawas diri dan membangun critical thinking sehingga nantinya akan menjadi pribadi yang inspiratif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ditambahkan, bahwa apa pun yang dilakukan di dunia digital memiliki jejak digital sehingga kita perlu untuk berhati hati. Prof Widodo juga menjelaskan bahwa kegiatan ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua untuk selalu berbuat baik baik. “Mari kita membuat jejak digital yang positif dan mari kita secara cerdik dan cerdas menghindarkan diri  dari hal yang negative,” tambahnya.

Prof Cecep Darmawan

Selanjutnya Prof Cecep Darmawan, menyampaikan materi ihwal fungsi dari media sosial. Medsos adalah sarana untuk interaksi dan integrasi, yang diharapkan di dalamnya terdapat pribadi dengan karakter yang baik di ruang publik. Pengguna medsos tahu mengenai hak, kewajiban, serta tanggung jawab kita, menaati hukum, memiliki daya pikir kritis serta mengedepankan cek dan ricek.

Dengan begitu, tambah Prof Cecep, kita tidak mudah termakan berita bohong atau hoax serta menghormati ruang pribadi orang lain. Ingat, katanya, ada quotient yang komponen digitalcitizenship-nya mempunyai peran kognitif, emosional dan perilaku yang harus seimbang untuk menciptakan sikap positif di ruang digital.

Prof Cecep menjelaskan bahwa literasi digital ini merupakan kekuatan bagi bangsa Indonesia. Bahkan, litersi digital adalah syarat menjadi bangsa pemenang. “Perkuat literasi digital dengan wawasan yang baik, menjadi good and smart citizen,” tegasnya.

Setelah paparan materi dari ketiga narasumber, moderator membuka sesi tanya jawab. Para peserta sangat antusias dalam memberikan pertanyaan. Dari 150 peserta, terdapat lima pertanyaan yang terpilih. Sesi diskusi berjalan interaktif antara narasumber dan peserta. Para peserta yang bertanya juga mendapat doorprizes.

Setelah selesai sesi diskusi, moderator mengembalikan acara kepada MC. MC memberikan plakat kepada para narasumber secara online sebagai simbolis ucapan terima kasih. Di akhir acara juga dilakukan foto bersama dengan seluruh peserta lalu selanjutnya resmi ditutup oleh MC. Dengan adanya acara ini diharapkan masyarakat dapat melakukan literasi digital sebagai dukungan kepada pemerintah mewujudkan transformasi digital Indonesia. (jnu)