Citarum Harum, Kiblat Martapura Bungas

JAYAKARTA NEWS – Dari Citarum (Harum) ke Martapura (Bungas). Dua nama sungai yang sama-sama menjadi jantung dan urat nadi daerah yang dilaluinya. Di antara kedua nama sungai tadi, ada nama Doni Monardo di dalamnya.

Publik mengetahui, Letjen TNI (Purn) Dr (HC) Doni Monardo adalah penggagas program Citarum Harum, semasa ia menjabat Pangdam III/Siliwangi, 2017-2018. Program yang didukung pemerintah pusat melalui Perpres No. 15 tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Sebelum dilakukan penataan, Citarum adalah salah satu sungai terkotor di dunia. Kini, empat tahun setelah program berjalan, tingkat pencemaran Citarum sudah berada di level ringan. Berangkat dari sukses itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menghadirkan Doni Monardo untuk menjadi pembicara pada seminar Martapura Bungas (Bersih, Unggul, Asri), Kamis (23/12/2021) di Hotel Novotel, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Pembicara lainnya adalah Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc.. Sementara, dua narasumber lainnya adalah pejabat Kementerian KLHK dan Kementerian PUPR yang hadir secara virtual. Seminar dipandu moderator Henny Elzelinna.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Pemprof Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana, ST, MT. (foto: roso daras)

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan, Hanifah Dwi Nirwana, S.T, M.T mengatakan, Sungai Martapura merupakan pusat peradaban masyarakat Banua yang berhulu di Kabupaten Banjar dan berhilir di Banjarmasin. Banua adalah sebutan untuk desa besar yang dapat terdiri dari beberapa buah anak kampung yang terdapat di Kalimantan Selatan.

Sejarah mencatat, sungai adalah tempat wajib bagi masyarakat untuk bersosialisasi sekaligus berkegiatan ekonomi. Seiring waktu, fungsi itu berkurang akibat kerusakan ekosistem sungai Martapura. Sehubungan hal itu, Pemprov Kalsel menginisiasi perbaikan kualitas sungai agar berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat serta mereduksi banjir.

Tagline “Bungas” memiliki arti Bersih, Unggul, dan Asri. Program perbaikan sungai Martapura menggunakan platform kolaboratif. “Cita-cita besar kami bisa me-rediscovery dan restorasi Sungai Martapura, sebagai warisan masyarakat Banuang,” ujar Hanifah.

Program Martapura Bungas dicanangkan 5 Juni 2021, bersamaan peringatan Hari LIngkungan Hidup. Adapun kick-off dilaksanakan tanggal 19 September 2021 di 11 lokasi sepanjang sungai Martapura, oleh Gubernur Kalsel, Dr.. H. Sahbirin Noor, S.Sos., M.H. “Setiap hari Jumat, masyarakat bersama TNI/Polri mengadakan kegiatan bersih-bersih di sepanjang sungai Martapura,” tambahnya.

Gubernur Kalimantan Selatan, Dr. H. Sahbirin Noor, S.Sos., M.H. (foto: roso daras)

Anak Sungai

Sementara itu, Gubernur Sahbirin saat memberi sambutan, menceritakan masa kanak-kanaknya dulu di Sei/Sungai Jingah, Kampung Tua Banjar, Banjarmasin Utara. Pria kelahiran 12 November 1967 itu ingat betul, bagaimana saat musim kemarau, ia pergi ke tengah-tengah Sungai Martapura dan mengambil air di sana untuk dikonsumsi.

“Waktu kecil, di saat kemarau saya minum langsung dari air sungai. Coba hari ini. Apa masih ada yang berani minum air sungai?” kata Sahbirin sambil tertawa.

Gubernur prihatin, Banjarmasin yang dulu dikenal dengan sebutan “kota seribu sungai”, saat ini banyak sungai yang “hilang” karena pendangkalan, tertutup semak, atau sampah. “Dulu bahkan kapal phinisi bisa masuk sampai ke pedalaman Martapura,” imbuhnya.

Prihatin dengan kondisi itu, ia pun mengapresiasi program Martapura Bungas. Menurut gubernur, gagasan itu sudah ada lima tahun lalu. “Kami bercita-cita besar untuk bisa mengeruk sungai Martapura, tapi belum berhasil. Hari ini, dengan kehadiran pak Doni Monardo, inisiator Citarum Harum, semoga membawa rahmat dan manfaat bagi pelaksanaan program Martapura Bungas,” ujar gubernur Kalsel dua periode itu.

Gubernur Sahbirin juga mengingatkan dua problem klasik di daerahnya: Banjir di musim hujan, dan kebakaran hutan di musim kemarau. “Buatlah antisipasi banjir saat musim kemarau, dan antisipasilah kebakaran hutan saat musim hujan,” ujar gubernur. Ia menutup sambutannya dengan bersholawat.

Letjen TNI (Purn) Dr (HC) Doni Monardo (tengah) saat berbicara di Seminar “Martapura Bungas”. Foto kanan: Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. Seminar dipandu moderator Henny Elzelinna (kiri). (Foto: roso daras)

Sejarah Martapura

Doni Monardo mendapat kesempatan pertama sebagai pembicara. Ia pun mengilas-balik sejarah Sungai Citarum, yang ternyata berasal dari nama pohon tarum. Ironisnya, tahun 2018, saat ia memulai program Citarum Harum, sudah tidak ada satu batang pun pohon tarum. Doni pun memerintahkan prajuritnya untuk mencari pohon tarum sampai dapat.

Pohon tarum bukan jenis pohon keras, melainkan sejenis tanaman semak-semak yang daunnya dimanfaatkan masyarakat zaman dulu (sampai sekarang) untuk pewarna alam. Warna yang dihasilkan dari pohon tarum adalah biru alami.

Tarum adalah penamaan ala Sunda. Nama lain adalah Nila atau Indigo. Masyarakat Jawa menyebut tanaman ini dengan sebutan tom. Bahasa latinnya, Indigofera, suku polong-polongan atau Fabaceae. Dipastikan, dulunya pohon tarum banyak tumbuh di sepanjang sungai Citarum. Karena itu pula, simbol Kerajaan Tarumanegara (358 – 669 M) berupa pohon tarum.

“Prajurit saya tidak menemukan di wilayah Jawa Barat, tapi justru menemukan pohon tarum di Purwokerto, Jawa Tengah. Di sana ada seorang petani yang membudidayakan pohon tarum. Sebanyak sepuluh ribu bibit saya borong untuk ditanam di sekitar Sungai Citarum,” ujar Doni, seraya menambahkan, “karena itu, kita juga harus menelaah sejarah Sungai Martapura terlebih dulu.”

Awam mengetahui, nama sungai Martapura diambil dari nama kota Martapura yang diberikan oleh Raja Banjar ke-4, Sultan Mustain BIllah, sebagai ibukota baru yang didirikan sekitar tahun 1630, setelah dipindah dari Banjarmasin ke kawasan Kayu Tangi. Karena itu, nama kuno sungai Martapura adalah sungai Kayutangi. Kata “Kayutangi” barangkali merupakan clue untuk penelusuran sejarah Sungai Martapura lebih jauh.

Sungai adalah sumber kehidupan, dan sungai adalah peradaban bangsa. “Pertanyaannya, pantaskah kita mengaku sebagai bangsa beradab ketika seluruh mata sungai dimusnahkan, dan sungai-sungai dicemari,” kata Doni.

Lebih lanjut Doni juga mengatakan, masyarakat Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan, mayoritas beragama Islam. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta. “Saat betemu para ulama, saya selalu menitipkan satu pesan. Pesan pelengkap bagi jargon hablum minallah dan hablum minannas, yakni hablum minal alam. Artinya, tidak hanya memelihara hubungan baik dengan Allah SWT dan sesama manusia, tetapi juga terhadap alam,” papar Doni.

Hal penting lain yang Doni sampaikan adalah soal kedaulatan lingkungan (ekokrasi). Jika kita tidak menjaga keseimbangan alam, maka dampaknya akan sangat besar. Jika lingkungan (sungai) sudah rusak dan tercemar berat, akan sangat sulit memperbaikinya.

Ia mencontohkan, sebelum program Citarum Harum, sudah ada beberapa program yang digulirkan pemerintah dan menelan dana puluhan triliun rupiah, tetapi gagal. Citarum bahkan menjadi sungai terkotor di dunia tahun 2017. “Mengelola lingkungan, jangan sekali-kali menggunakan pendekatan proyek. Jika itu yang terjadi, saya pastikan akan gagal. Harus dengan hati, passion dan kesadaran bahwa kita harus mewariskan lingkungan yang baik milik anak-cucu kita kelak. Satu syarat lagi, harus kolaborasi,” katanya.

Brigjen TNI Yusep Sudrajat, Kepala Dinas Kelaikan Angkatan Darat, salah satu prajurit yang berpengalaman hidup bersama masyarakat bantaran Sungai Citarum semasa masih berdinas di Kodam III/Siliwangi berpangkat kolonel. (foto: ist)

Kunci keberhasilan perbaikan ekosistem, termasuk Sungai Citarum, adalah perubahan perilaku masyarakat. Doni, saat itu, mengerahkan prajurit Kodam III/Siliwangi untuk hidup bersama masyarakat. “Saya minta Brigjen Yusep menceritakan bagaimana dulu hidup bersama masyarakat di sepanjang Sungai Citarum dan berhasil mengubah perilaku mereka,” ujar Doni, sambil meminta Brigjen TNI Yusep Sudrajat melakukan presentasi singkat, melengkapi paparannya.

“Saya saat itu masih kolonel, dan diperintahkan Panglima saya, pak Doni Monardo untuk membersihkan Sungai Citarum,” tukas Brigjen Yusep, yang saat ini menjabat Kepala Dinas Kelaikan Angkatan Darat (Kadislaikad).

Ia pun mengisahkan, berbagai kendala dan tantangan yang dihadapi. Termasuk dari para pemilik pabrik tekstil yang membuang limbah ke Sungai Citarum tanpa melalui IPAL. “Kalau dipersuasi tidak mempan, kami cor saluran pembuangannya,” tambahnya. Ia menyebutkan dari sekitar 390 pabrik tekstil yang membuang limbah ke Citarum, sekitar 150 pabrik dicor olehnya, karena membandel.

Selama dicor, tentu saja pabrik tidak bisa beroperasi. Mereka pun akhirnya membuat saluran pembuangan ilmbah yang baik. Yusep dan kawan-kawan memberi panduan. Salah satu kolam pembuangan terakhir, sebelum dialirkan ke sungai, ia taruh ikan koi. “Koi itu sangat sensitif terhadap pencemaran. Kalau koi-nya hidup, baru cornya saya buka dan mereka boleh buang limbah ke sungai. Bukan hanya itu, kami juga undang media untuk memberitakan hal positif tadi,” katanya.

Tindakan kerasnya menuai banyak reaksi. Ada pengusaha yang mencoba menyuap dirinya. Ada pula pihak yang minta dia tidak terlalu keras. “Suatu hari ada kopor di ruang saya. Saya tidak tahu apa isinya, karena saya tidak buka. Saya suruh kembalikan kepada yang menaruh,” kata Yusep.

Suka-duka hidup bersama masyarakat ia lalui dengan senang hati. Terlebih ketika menyaksikan sendiri, bagaimana sikap masyarakat pelan-pelan berubah. Dari kebiasaan membuang sampah ke sungai, menjadi membuang sampah pada tempatnya. Itu semua berjalan natural, bukan karena ada prajurit TNI. “Kami hanya menanamkan kesadaran, mengajak, dan menyediakan fasilitas pembuangan sampah,” katanya.

Hal positif lain yang ia akui sangat penting adalah, dukungan perguruan tinggi. “Panglima saya, pak Doni selalu menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix, yakni unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, swasta, dan media. Nah, di Citarum, sejak tahun 2018 sampai sekarang, banyak sekali dijadikan objek KKN mahasiswa, utamanya mahasiswa yang kuliah di perguruan tinggi Jawa Barat,” paparnya.

Sementara itu, narasumber kedua adalah Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. Menurut Sutarto, kondisi Sungai Martapura saat ini sedang menuju ke arah status “sungai terkotor di dunia”. Karena itu, ia menyambut baik paparan inisiator Citarum Harum, Doni Monardo. “Itulah gunanya kita semua hari ini mendengarkan paparan beliau,” kata Rektor Sutarto.

Kuncinya, penyelesaian persoalan Sungai Martapura tidak bisa segmented, tapi harus holistik. Jika Citarum menjadi gantungan hidup 30 juta penduduk, maka Martapuraada ada sekitar 4 juta warga yang bergantung kepadanya. “Martapura sekarang belum separah kondisi Citarum tahun 2017, tapi akan menuju ke arah sana (sungai terkotor) jika tidak ditangani sejak dini. Kami pihak Universitas Lambung Mangkurat siap mem-back up program Martapura Bungas,” ujar rektor Sutarto.

Ia menambahkan, perguruan tinggi yang ia pimpin, memiliki visi yang sejalan dengan program Martapura Bungas. Visi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) adalah: Sebagai Universitas terkemuka dan berdaya saing di bidang lingkungan lahan basah. (rr)

Hele’yo adalah Nikmat Sagu Berbalut Keindahan Alam Papua

JAYAKARTA NEWS – Berada di Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua hari-hari ini, kita pasti akan mengucap, “nikmat mana lagi yang kau dustakan”. Betapa tidak, di sini, baru saja diresmikan pusat kuliner Hele’yo, yang menyajikan menu utama aneka olahan makanan pokok Papua, yakni sagu.

Tidak hanya itu, Kampung Sereh adalah salah satu “surga kecil” yang ada di Bumi Cendrawasih. Ia berlatar belakang Danau Sentani yang indah. Letaknya di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cyclops. Danau ini memiliki luas sekitar 9.360 hektare dan berada di ketinggian 75 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Tidak keliru jika Kodam XVII/Cenderawasih sejak awal mendukung penuh pembangunan pusat kuliner Hele’yo. Adalah Kolonel (Czi) Arief Novianto, Kazidam Cenderawasih yang ditugaskan untuk membangun pusat kuliner itu.

Satu hal lagi yang patut diapresiasi adalah, pengambilan momentum yang tepat. Pusat kuliner Hele’yo diresmikan di tengah-tengah gegap-gempita Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021, Papua.

Ribuan atlet termasuk official, ditambah para supporter datang dari berbagai penjuru Tanah Air ke wilayah paling timur Indonesia. Jika ditotal, barangkali sekitar 10.000 orang. Berdasar data, jumlah atlet (saja) mencapai 7.039 orang. Mereka berasal dari 34 kontingen (provinsi) di Indonesia. Ditambah, kontingen tuan rumah.

Hal itu dibenarkan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono, saat menghadiri dan meresmikan pusat kuliner Hele’yo, Kamis (7/10/2021). Lulusan Akmil 1988 itu menambahkan, berdirinya pusat kuliner The Hele’yo merupakan salah satu wujud implementasi 8 Wajib TNI yang di antaranya adalah membantu kesulitan masyarakat yang berada di sekelilingnya. “Dan program ini sejatinya merupakan inisiasi dari Bapak Letjen TNI (Purn) Doni Monardo,” tambah Mayjen Yogo.

Pusat Kuliner The Hele’yo, lokasi yang pas untuk menyantap aneka olahan sagu sambil menikmati indahnya Danau Sentani. (foto: Pendam XVII/Cendrawasih)

Yogo benar. Doni-lah yang menggagas pusat kuliner tersebut pada tahun 2019. Karenanya, panitia mengundang Letjen TNI (Purn) Dr. (HC) Doni Monardo hadir dalam acara peresmian. Jarak pun tak menghalangi Doni untuk hadir, meski secara virtual.

Adapun undangan lain yang hadir pada acara hari itu adalah Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, S.E., M.Si, anggota MRP Ny. Dorlince Mehue, tokoh adat, tokoh masyarakat setempat dan sejumlah pejabat di lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih.

Tak ada yang menyangkal, jejak-jejak Doni Monardo di Sentani tampak begitu jelas dan nyata. Bermula dari bencana alam banjir bandang di Kabupaten Jayapura tahun 2019 yang menewaskan tak kurang dari 100 orang. Saat itu, sebagai kepala BNPB, Doni terjun langsung ke sana.

Bukan saja persoalan bencana banjir yang disentuh, Doni yang juga Pembina Yayasan Kita Jaga Alam itu menaruh perhatian terhadap pemulihan perekonomian masyarakat. Dalam banyak kesempatan, Doni menekankan tekadnya memuliakan Papua lewat pendekatan kesejahteraan, sebagaimana jejak Emas Biru dan Emas Hijau di Maluku saat dirinya menjabat Panglima Kodam XVI/Pattimura.

“Salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua tadi adalah mengangkat potensi alam Papua ke pentas nasional. Berangkat dari konsep kolaborasi pentahelix, maka saya melibatkan semua unsur untuk terlibat, termasuk para pengusaha,” jelas mantan Kepala BNPB itu.

Doni bersyukur gagasannya terwujud. Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada para pihak yang mendukung berdirinya The Hele’yo. Ia berharap, Hele’yo akan mampu mengggerakkan  perekonomian masyarakat Kampung Sereh, Sentani pada khususnya, dan warga Papua pada umumnya.

“PON XII di Papua adalah momentum yang sangat baik. Tempat ini akan menjadi salah satu destinasi wisata para peserta PON dari berbagai daerah,” tandas Doni.

Jejak Doni di Sentani

Mendiang Theys Eluay

Sedikit mengilas balik jejak-jejak Doni Monardo di Sentani, tampak jelas jika kita membuka buku “Titik Nol Corona: Doni Monardo di Pusaran Wabah”.  Pada halaman 213, buku karya Egy Massadiah itu mengangkat judul menarik “Theys Eluay Tersenyum di Surga”.

Judul itu mengguratkan sejarah pahit yang berakhir manis. Sejak kematian tokoh Papua Theys Eluay tahun 2001, hubungan Kopassus dengan Papua boleh dibilang memanas. Kopassus tidak saja mendapat kecaman masyarakat Papua, tetapi dunia.

Syahdan, Doni Monardo mendapat penugasan menjadi Danjen Kopassus tahun 2014 – 2015. Saat itu Doni masih merasakan adanya duri tajam. Doni kontan mengundang Boy Michael Eluay, putra sulung mendiang Theys ke Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, pada momen peringatan ulang tahun Kopassus ke-63.

Boy pun keluar dari persembunyiannya dan memenuhi undangan Doni. Mereka melakukan pembicaraan dari hati ke hati, begitu intens dan mendalam. Semua kecamuk rasa dan emosi dikuak untuk kemudian diredam.

Akhirnya, Boy dengan lapang dada memaafkan pelaku pembunuhan terhadap ayahnya. Bahkan kepada media, Boy saat itu mengatakan, “Tak ada lagi dendam. Kami diajarkan untuk saling mengasihi, seperti ajaran leluhur.”

Perdamaian dan persaudaraan itu pun dikukuhkan dengan pemberian jaket Kopassus bertuliskan “Sahabat Kopassus” di dada kiri, dan nama Boy Eluay di dada kanan. Doni Monardo langsung yang memakaikan jaket itu ke tubuh Boy.

Persahabatan itu terus dipelihara, sekalipun Doni tak lagi menjabat Danjen Kopassus. Boy wafat tahun 2018 karena sakit. Lagi-lagi Doni pun sempat mengupayakan perawatan atas sakitnya di RSPAD, di bawah penanganan langsung Direktur RSPAD (ketika itu) Dr Terawan Agus Putranto (mantan Menkes).

Sejak Boy wafat, posisi ondofolo atau kepala suku Sentani dipegang adik Boy yang bernama Yanto Eluay (hingga sekarang). Jalinan persahabatan Doni dan Yanto pun tersambung dan tak pernah putus. Alhasil, mereka dipertemukan Tuhan, saat Sentani dilanda banjir, dan (kebetulan) Doni Monardo menjabat Kepala BNPB.

Bukan sekali Doni ke Sentani, tapi beberapa kali. Satu kali di antaranya ia sempat mengajak Menko PMK Muhadjir Effendy, Anggota DPR RI Ace Hasan Syadzily, dan rombongan singgah ke pendopo adat Onfofolo Sentani, dan diterima ondofolo Yanto Eulay.

Kini, jejak Doni di Sentani makin terpatri dengan diresmikannya Pusat Kuliner The Hele’yo.

Nah, mungkin Anda bertanya-tanya, apa makna Hele’yo, sehingga dijadikan nama pusat kuliner itu?

Penjelasan pun meluncur dari Ny. Dorlince Mehue yang mewakili Ondofolo Kampung Sereh. Ia menuturkan, bahwa Kampung Sereh bahasa aslinya disebut Hele’yo. Sebuah kampung yang mempunyai nilai sejarah luar biasa.

Hele’yo mempunyai arti tempat wadah air dan makanan yang berasal dari tanah liat. Dalam kesempatan itu, Ny Dorlince juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian yang begitu besar kepada masyarakat Papua khususnya masyarakat Kampung Sereh.

“Mewakili Ondofolo dan atas nama seluruh masyarakat adat Kampung Sereh mengucap syukur dan terima kasih kepada Bapak Letjen TNI (Purn) Dr. (HC) Doni Monardo, Pangdam XVII/Cenderawasih dan Bupati Jayapura atas pembangunan Pusat Kuliner The Hele’yo,” ungkapnya.

Dalam acara peresmian tersebut juga dilaksanakan penandatanganan penyerahan Pusat Kuliner The Hele’yo dari Pangdam XVII/Cenderawasih kepada Yanto Eluay yang diwakili oleh istrinya, Ny Yolanda Eluay.

Kini, saatnya Anda mencatat objek pusat kuliner “Hele’yo” dalam agenda kunjungan ke Papua. Nikmati aneka olahan sagu. Nikmati panorama surgawi Danau Sentani. (Roso/Egy)

Indahnya Danau Sentani. (foto: idn.times.com)