Isak Tangis Doni Monardo Kenang Onny Gappa

Catatan dari “Reuni Trembesi” Brigif Kariango
Bagian 2 (Selesai)

Dari roof top lantai 20 hotel Karebosi Premier di Jl. M. Jusuf 1, Makassar, Doni Monardo menatap ke bawah. Malam itu, tampak lapangan karebosi begitu indah. Rimbun hijau dedaunan trembesi yang menutup permukaan lapangan, berbinar kekuningan diterpa lampu penerang.

“Lihat. Sekarang Karebosi tidak lagi gersang. Dari pagi sampai malam orang nyaman berada di sana. Pagi berolahraga, siang berteduh sambil menikmati kelapa hijau. Sore kembali ramai orang jogging, dan malam sangat romantis,” ujar Doni Monardo, tokoh yang memiliki keterkaitan emosional dengan trembesi-trembesi Karebosi yang ia tanam bersama pasukan Brigif Para Raider 3/Tri Budi Sakti, Kariango.

Peristiwa Doni memandangi karebosi dari roof top hotel Karebosi itu, tercatat hari Senin tanggal 5 Desember 2022 sekitar pukul 21.00 WITA. Saat itu, hujan baru saja reda. Minuman khas Makassar, sarabba dan pisang goreng turut menemaninya.

Esoknya, Doni berangkat menuju markas Brigif Kariango, di Maros, menghadiri “Reuni Trembesi” yang ia gagas. (Baca: Ketika Trembesi Membalas Budi)

Sebagian peserrta “Reuni Trembesi” di Markas Brigif Kariango, Maros, Sulawesi Selatan, 6 Desember 2022.

Di lokasi Brigade yang ia pimpin tahun 2006 – 2008, Doni seperti larut ke peristiwa 16 tahun lalu. Tahun penting saat ia mengakhiri tugas sebagai Waasops Dan Paspampres (2004 – 2006) dan menjalani penugasan baru sebagai Komandan Brigif Kostrad Para Raider 3/Tri Budi Sakti, Maros, Sulawesi Selatan atau yang akrab disebut Brigif Kariango.

“Saya masih ingat, salah seorang senior mengatakan, ‘ngapain kamu ke Brigif Kariango. Di sana gersang dan prajuritnya bandel-bandel’,” ujar Doni sambil tertawa.

Kepada senior tadi Doni mengatakan bahwa ia siap ditugaskan ke Kariango. “Saya bahkan menambahi, ‘izin komandan, saya malah senang’,” Doni mengenang.

Sampah Brigade

Ayah tiga anak itu pun lantas mengisahkan betapa “berantakan” kondisi Brigif saat ia datang. Bukan saja tandus dan gersang, tetapi tumpukan sampah menggunung di sejumlah titik, dan menyebarkan aroma tak sedap. Masih ditambah berbagai kasus “kenakalan” prajurit.

Lulusan Akmil 1985 itu mulai mendisiplinkan prajuritnya. Yang pertama bukan latihan kesamaptaan, raider, latihan taktis, atau yang lain, tetapi membersihkan sampah di area brigade yang memiliki luas 301 hektare itu. Tak kurang dari 350 rit truk (volume sampah) yang dikeluarkan dari area brigade. Ia bahkan menemukan residu atau timbunan sampah berusia puluhan tahun.

“Kami sampai kehabisan anggaran BBM untuk mengangkut sampah-sampah itu. Benar kan pak Anto?” kata Doni sambil memandang ke arah Letjen TNI Purn AM Putranto, yang kala itu menjabat Kepala Staf (Kas) Brigif Kariango berpangkat Letkol. Sigap AM Putranto berdiri, tertawa, dan menjawab, “Benar….”

Sejak itu, markas Brigif Kariango menjadi bersih dari sampah. Namun apa daya, persoalan tidak berhenti sampai di situ. Habbit membuang sampah sembarangan, masih belum hilang seketika. Termasuk kebiasaan membuang puntung rokok.

Langkah penertiban berikutnya diberlakukan peraturan, setiap prajurit –terutama yang merokok– wajib membawa bekas kaleng semir. Selesai merokok, matikan dan simpan puntungnya di kaleng semir, untuk nanti dibuang di tempat sampah.

Apakah persoalan puntung rokok selesai? Tidak! Dalam inspeksi rutin, Doni masih menemukan satu-dua puntung rokok di jalanan. Seketika Doni memerintahkan prajurit yang mendampinginya untuk memungut dan memakannya. Padahal, mungkin bukan dia yang membuang puntung rokok itu.

Seisi Brigade “gempar” oleh kabar komandan menghukum prajurit memakan puntung rokok yang dibuang sembarangan. Tidak butuh waktu lama, sejak itu prajurit perokok selalu mengantongi kaleng semir. Area brigif semakin bersih.

Kasbrig Letkol Inf AM Putranto saat itu bahkan pernah “men-challenge” rombongan tamu dari pusat, apakah itu dari Kostrad, Mabesad, atau Mabes TNI. Kalau ada yang menemukan puntung rokok, disediakan uang lima-ratus-ribu rupiah. Dan Kas Brigif tidak pernah mengeluarkan uang itu, karena memang sudah tidak ada lagi puntung rokok terbuang sembarangan.

Foto kenangan Doni Monardo bersama alm Andi Tenri “Onny” Gappa. (dokpri)

Harley ke Trembesi

Problem berikut di mata Doni Monardo adalah ketandusan dan kegersangan. Di sinilah “tangan Tuhan” bekerja. Seseorang memperkenalkan Doni Monardo dengan bankir Makassar yang sangat kesohor, Andi Tenri “Onny” Gappa.

Namanya lekat dengan Bank Panin. Onny Gappa adalah Ketua Perhimpunan Perbankan Nasional (Perbanas) Sulsel dua dekada, 90-an dan 2000-an. Padahal Onny bukan berlatar belakang akuntan, ekonom, atau manajemen. Dia adalah insinyur animal husbandry, peternakan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Onny yang juga keponakan mantan Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf itu, hingga akhir hayatnya dipercaya sebagai Area Manager Panin Bank KTI (Kawasan Timur Indonesia). Onny meninggal dunia di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura, Jumat 10 Oktober 2014, setelah menjalani operasi dua hari sebelumnya.

Almarhum Onny Gappa yang merupakan menantu mendiang tokoh Sulsel Andi Mattalatta itu dikenal dengan sifatnya yang humble dan gemar membantu. Wadah “Panin Peduli” menjadi kepanjangan tangan sifat kedermawanan Onny.

Di mata sahabat dan orang-orang dekat, ia punya dua hobby. Pertama moge (motor gede) Harley Davidson. Kedua, menanam pohon. Bahkan di mana pun Onny Gappa beraktivitas, nyaris tak pernah lepas pernyataan ini, “Siapa saja yang butuh bibit pohon, silakan datang ke rumah saya.”

Di rumahnya Jl. Hertasning Raya, Makassar memang laiknya hutan. Garasi mobilnya, diisi kantung bibit tanaman keras.

“Waktu hendak bertemu beliau, saya belum berpikir ke pohon untuk menghijaukan markas brigade. Sebab, yang memperkenalkan saya adalah kelompok pecinta Harley Davidson. Sementara saya tahu pak Onny Gappa senang motor besar. Toh saya berpikiran positif, meski saya bukan penggemar moge,” kata Doni.

Pada hari dan jam yang ditentukan, Doni bertemu Onny. Doni mengenakan uniform PDH militer. Lengkap dengan tongkat komando dan baret hijau.

Begitulah gambaran proses perkenalan Doni dan Onny hingga ke substansi penghijauan markas Brigif begitu lancar. Lancar jaya. Bukan moge harley davidson yang jadi topik pembicaraan, tetapi trembesi.

“Hari itu juga pak Onny berkenan datang ke lokasi Brigif. Komentar beliau kurang lebih, ‘wah… ini butuh banyak pohon, pak Doni’,” ujarnya. Doni tertawa dan membenarkan. Tanpa basa-basi, Onny melanjutkan dengan pertanyaan, “Saya bantu bibit pohonnya pak. Mulai kapan (menanam)?” tanya Onny kepada Doni.

Bukan Doni Monardo kalau menjawab, “besok atau minggu depan”. Alhasil, Doni pun menjawab, “Kalau bisa hari ini juga, pak Onny.”

Singkat kalimat, Onny mempersilakan armada Brigade datang ke rumahnya untuk mulai proses pengangkutan bibit-bibit trembesi. Tak kurang dari 20.000  (d u a  p u l u h   r i b u) bibit trembesi disumbangkan Onny Gappa untuk menghijaukan Markas Brigif Kariango.

Pepatah Asam Garam

Letjen TNI Purn Doni Monardo saat memberi kesaksian di puncak acara “Reuni Trembesi”. (foto: egy m)

Jika menarik waktu ke belakang, takdir yang mempertemukan Doni dan Onny dalam konteks trembesi memang merupakan sebuah keniscayaan. Pepatah yang tepat untuk melukiskan adalah “asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga”.

Doni berdarah Minang, bekarier di militer. Sedangkan Onny berdarah Bugis Makassar, insinyur peternakan dan seorang bankir. Keduanya bertemu dalam satu cinta: “Cinta Trembesi”.

Ada hal tak terlupakan saat pertama kali Doni dipertemukan dengan Onny Gappa. Doni terpana oleh sejumlah bingkai foto besar yang ada di ruang kerja Onny Gappa. “Bukan foto Harley Davidson atau foto para bankir. Bukan. Foto yang beliau pasang besar-besar adalah foto pohon trembesi. Seketika saya membatin, wah ternyata pak Onny punya pohon favorit yang sama dengan saya,” kenang Doni.

Doni Monardo lantas menceritakan pengalaman, utamanya saat berdinas di lingkungan Paspampres. Karena tugas, ia berkesempatan mengunjungi hampir seluruh wilayah di Indonesia (dalam kaitan pengamanan kunjungan presiden/wakil presiden). Ada kesan khusus dengan trembesi.

“Hampir di setiap pusat pemerintahan kota di berbagai daerah dari Aceh sampai Papua, selalu dijumpai tiga jenis pohon: beringin, asam, dan trembesi. Khusus di Malang, ada tambahan pohon mahoni,” kata Doni.

Di benaknya terbersit keyakinan, bahwa trembesi adalah pohon istimewa. Itu pula yang membuat trembesi menjadi salah satu jenis pohon yang harus ditanam di pusat-pusat pemerintahan Hindia Belanda seluruh wilayah Nusantara.

Puncak rasa penasaran Doni Monardo terhadap trembesi terjadi tahun 2003, saat ia menjabat Dandema Paspampres. Suatu hari, ia pergi ke daerah Cikokol di Tangerang Selatan, “berburu” trembesi. Relatif tidak terlalu jauh dari kediamannya di Serpong.

“Yang jual pohon trembesi lokasinya agak ke dalam, jadi harus naik sepeda motor. Di situ saya menemukan bibit trembesi diameter ukuran paha. Harganya empat-ratus-ribu rupiah,” kisahnya.

Pohon pun ditanam di depan rumah. Karena ditanam dengan cinta serta dirawat dengan baik, trembesi Doni tumbuh sangat cepat. Dalam waktu setahun, sudah lebih tiga meter. “Buru-buru saya minta bantuan tukang untuk memindahkan ke seberang jalan. Sejak itu saya makin paham, trembesi termasuk fast growing,” kata Doni.

Bukan hanya fast growing, trembesi juga dijuluki “die hard” oleh Doni. Salah satu jenis pohon yang bisa tumbuh dan hidup di mana saja. Jangankan di tanah subur, di tanah bebatuan saja hidup. Jangankan di tanah cadas, bahkan di sungai pun tumbuh.

Doni lalu menyebutkan contoh pohon trembesi berusia ratusan tahun yang tumbuh di sungai dekat di Jl Cikapundung, Bandung. Juga trembesi yang tumbuh di rawa-rawa Meruya, Jakarta Barat. Masih banyak contoh lain, trembesi bisa tumbuh di mana saja.

“Cek ke ahli pohon, atau cari di google tentang trembesi. Manfaatnya sangat banyak. Yang pasti menyimpan air di bawah (akar), dan mengikat karbon di atas (daun). Salur dahannya juga indah. Ini pohon yang luar biasa,” kata Doni pula.

Area Markas Brigif Kariango hari ini, difoto dari udara. Area yang dulu gersang dan tandus, sekarang sangat rimbun oleh trembesi.

Trembesi 24 Jam

Alkisah, Doni dan Onny semakin lengket. Keduanya diikat dalam satu komitmen bernama penghijauan. Mereka disatukan dalam cinta bernama “cinta trembesi”. “Saya diperlihatkan kebun trembesi milik pak Onny yang dikerjasamakan dengan Unhas. Bahkan orang yang mengurus bibit-bibit trembesi beliau pun saya masih ingat. Namanya Wayan,” kata Doni.

Believe it or not…. salah satu orang kepercayaan Doni Monardo untuk mengurus kebun bibitnya pun bernama Wayan.

Setelah bibit-bibit trembesi pemberian Onny Gappa tiba di markas brigade, seketika itu pula perintah komandan jelas dan tegas, “Tanam trembesi, jangan sampai mati.” Doni benar-benar menghukum prajurit yang karena kelalaiannya mengakibatkan trembesi layu dan mati. Prajurit bukan saja harus menanam dengan bibit yang baru, tetapi harus tidur di dekat pohon yang dia tanam.

“Jadi kalau hari ini kita melihat markas Brigif Kariango begitu bersih dan rimbun oleh trembesi, itu karena kerja keras prajurit. Rasa hormat saya kepada para prajurit Brigif Kariango,” kata Doni, disambut tepuk tangan meriah para prajurit dan hadirin. “Dalam kesempatan ini, saya sekaligus meminta maaf kalau waktu itu terlalu keras.”

Upaya luar biasa memang telah dilakukan Doni Monardo beserta jajarannya ketika itu. Bahkan proses penanaman hingga perawatan bisa dibilang 24 jam. “Patroli trembesi” dilakukan setiap malam. Inspeksi komandan, dilakukan pagi dan sore. Bahkan saat memasuki bulan Ramadhan, kegiatan “jaga trembesi” tidak mengendor. “Kalau bulan Puasa, penyiraman dilakukan setelah shalat tarawih,” kata Doni.

Jumpa Panglima

Benih-benih sukses penghijauan Brigif Kariango menampakkan hasil positif. Ini tentu saja memupus pesimisme sebagian (besar) prajurit Kariango sebelumnya.

“Saya tahu, banyak prajurit marah, banyak prajurit tidak setuju waktu saya minta menanam pohon. Saya mendengar ada yang ngomong, ‘kami sudah bertahun-tahun menanam pohon, dan gagal terus. Ini Kopassus (yang dimaksud adalah Doni Monardo) datang mau penanam pohon pula. Mana mungkin berhasil’,” kata Doni menirukan keluhan dan protes prajurit.

Akan tetapi, berkat kerja keras, disiplin, dan kerja ikhlas, trembesi bisa tumbuh di tanah bebatuan Kariango. Seiring berjalannya waktu, suara-suara protes prajurit makin sayup, dan tak terdengar lagi. Sebaliknya, tumbuh kobaran semangat demi menyaksikan trembesi-trembesi itu tumbuh.

Hal itu pun dilaporkan Doni saat berjumpa Pangdam VII/Wirabuana (ketika itu), Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo. Djoko yang nota-bene juga mantan Danbrigif Kariango pun terkesan. “Coba, saya mau bertemu pak Onny Gappa,” kata Doni menirukan perintah Pangdam VII/Wirabuana saat itu.

Doni pun menghubungi “sahabat trembesi”-nya. “Pak Onny. Panglima mau bertemu,” kata Doni kepada Onny.

Ia merasa senang bisa mempertemukan Onny Gappa dengan Mayjen Djoko Susilo. Sebab Doni tahu persis obsesi Onny Gappa yang ingin menghijaukan seluruh wilayah Indonesia dengan trembesi. Doni berpikir, obsesi itu bisa dimulai dari Sulawesi, atau teritori Kodam VII/Wirabuana atas dukungan Pangdam.

Harapan Doni dan Onny terkabul. Pertemuan itu bermuara pada keluarnya surat perintah kepada seluruh jajaran Kodam VII/Wirabuana untuk melakukan penghijauan trembesi di wilayah masing-masing. “Setelah itu, pak Onny keliling dari Korem ke Korem, dari Kodim ke Kodim, sosialisasi penghijauan trembesi,” kata Doni.

Trembesi mulai merambah wilayah-wilayah lain di luar Maros dan Makassar yang sudah dihijaukan Doni Monardo dan jajarannya. “Saya berani mengatakan, hampir semua pohon trembesi yang ada di Sulawesi, asalnya dari Kariango, berkat jasa Pak Onny dengan Panin Peduli-nya,” tegas Doni.

Rekaman foto jalan menuju Markas Brigif Kariango, dari tahun ke tahun. (foto: yuhan subrata)

Hijaukan Indonesia

Puncak kisah sukses menghijaukan area Brigif Kariango yang semula tandus, ditandai dengan pemasangan papan di dekat kebun bibit. Papan itu bertuliskan “Dari Kariango Ikut Hijaukan Indonesia”.

Saat moment “Reuni Trembesi” 6 Desember 2022, papan itu tampak masih utuh dan tegak berdiri. Bahkan, tulisan yang sempat memudar, sudah dicerahkan dengan cat yang baru.

Tahun 2008, dua tahun setelah menjabat Komandan Brigif Kariango, turun Skep penugasan baru untuk Kolonel Inf Doni Monardo kembali ke satuan Pasukan Pengaman Presiden sebagai Dan Grup A Paspampres (2008 – 2010). “Saya tahu, orang yang paling sedih atas kepindahan tugas saya adalah almarhum Onny Gappa,” kata Doni, sendu.

Saat bertemu, beliau mengatakan, “Kalau pak Doni pindah, bagaimana nasib trembesi-trembesi di Sulawesi. Bagaimana kelanjutan program menghijaukan Indonesia.”

Dengan kalimat mantap Doni menjawab, “Pak Onny tidak perlu khawatir. Saya akan tetap mengawal dan melanjutkan program yang sudah kita canangkan.”

“Jadi, kalau hari ini Kariango hijau, trembesi ada dari Aceh sampai Papua, ini semua tidak lepas dari jasa besar almarhum Onny Gappa. Tanpa almarhum Onny Gappa, tidak mungkin ada trembesi di banyak tempat di Indonesia!”

Berkata begitu, meledaklah isak tangis Doni Monardo. Ia tak kuasa membendung sesak di dada, atas bahagia dan haru yang membuncah terhadap kenangan jasa besar almarhum Onny Gappa.

Hadirin yang tekun mengikuti acara reuni trembesi, tak pelak ikut meleleh, mengusap air mata. Termasuk istri Onny Gappa, Andi Soraya Mattalatta dan putra semata wayangnya, Andi Ahmad Yani Gappa yang hadir mengenakan jaket loreng “Sahabat Kopassus” pemberian Doni Monardo.

Usai menarik napas panjang, Doni mengajak hadirin menundukkan kepala dan memanjatkan doa untuk almarhum Andi Tenri “Onny” Gappa. (Egy Massadiah dan Roso Daras)

“Bapak Air”, Pangkostrad Maruli serta Pengakuan Doni Monardo

Catatan Egy Massadiah

-*-

JAYAKARTA NEWS – Ini tentang Panglima Kostrad yang baru, Maruli. Lulusan Akmil 1992. Sebagian besar pengabdiannya ditunaikan di korps baret merah. Saya mengenalnya sejak ia berpangkat letnan dua.

Usai mengemban amanat sebagai Komandan Paspampres (2018-2020), Maruli mendapat tugas teritori sebagai Pangdam Udayana, berkedudukan di Bali. Ketika dilantik menjadi Pangdam Udayana November 2020, sejumlah media memilih angle yang sama dalam pemberitaannya, yakni: “Pangdam termuda”.

Setahun lebih ia mengomandani wilayah Bali, NTT, dan NTB. Itu artinya, ketika dipromosi ke jabatan baru sebagai Pangkostrad, bisa jadi ia adalah Pangkostrad termuda sepanjang sejarah TNI. Jika bukan jabatannya, setidaknya jenderal bintang tiga (letnan jenderal) termuda di angkatannya.

Karier yang moncer, terkadang diikuti pameo “semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup”. Salah satu “tiupan angin kencang” yang menerpa Maruli adalah statusnya sebagai anak-menantu Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jenderal TNI (HOR) (Purn) Luhut Binsar Panjaitan.

(Sebagian) orang pun lantas mengaitkan kecemerlangan karier Maruli dengan statusnya sebagai menantu Luhut.

Tentu tidak adil, tidak fair, jika mengaitkan karier seseorang dengan “takdir” Tuhan. Itu jika kita sepakati bahwa jodoh adalah takdir (ketentuan) Tuhan. Bahwa ia menjadi anak-menantu Luhut, adalah takdir yang tak bisa dielakkan oleh manusia.

Mungkin sedikit yang tahu, bahwa Paulina Panjaitan, yang kemudian menjadi Nyonya Maruli, mengenal Maruli Simanjuntak justru bukan sebagai seorang prajurit (TNI), melainkan sebagai atlet judo.

Benar. Kisah mereka terajut saat SEA Games ke-18 tahun 1995 di Jakarta. Paulina sebagai liaison officer, sedangkan Maruli sebagai atlet judo. Atlet yang berlatar belakang militer. Tahukah Anda, di mana posisi calon mertuanya saat itu? Tahun 1995, Kolonel (Inf) Luhut Binsar Panjaitan menjabat Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun, Jawa Timur.

Maruli – Paulina lalu menikah tahun 1999. Saat itu, Luhut sudah pensiun dengan pangkat Jenderal Kehormatan dan menjabat Dubes RI di Singapura.

Itu cukup menjelaskan, bahwa perjalanan Maruli justru banyak ditapaki ketika ayah mertuanya tidak berada di lingkaran kekuasaan, baik di militer maupun di pemerintahan. Menurut catatan saya, dua-per-tiga jabatan yang pernah diemban, adalah jabatan-jabatan komandan. Jabatan-jabatan pemegang tongkat komando. Dari sisi ini saja kita paham bahwa Maruli adalah prajurit yang memang memiliki kapasitas dan kapabilitas.

Beberapa jabatan puncak kesatuan yang pernah ia sandang, dimulai dari Komandan Detasemen Tempur Cakra (2002), lalu Komandan Batalyon 21 Grup 2/Sandi Yudha (2008-2009). Selanjutnya, Komandan Sekolah Komando Pusdikpassus (2009—2010), Komandan Grup 2/Sandi Yudha (2013—2014), Komandan Grup A Paspampres (2014—2016), Komandan Korem 074/Warastratama (2016—2017), Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) (2018—2020), dan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana (2020—2021).

Penulis bersama Mayjen TNI Maruli Simanjuntak. (foto: dok.pri)

Awalnya Aju

Beruntung, saya bisa memotret dekat perjalanan karier Maruli di militer. Lebih beruntung karena profesi jurnalis yang saya sandang, sehingga terbiasa mencatat dan mendokumentasikan segala sesuatu. Termasuk sosok Maruli ini.

Masih terkenang jelas jejak-jejak Maruli dan kawan-kawan seangkatan, saat awal penugasan. Hari-hari setelah setelah mereka lulus akademi militer dan dilantik presiden menjadi prajurit berpangkat letnan dua.

Izinkan saya mengilas balik ke era 90-an, saat awal merajut persahabatan dengan Maruli. Itu terjadi secara kebetulan. Benar. Kebetulan saya punya teman sejak Taman Kanak-Kanak di Sengkang Wajo, Sulawesi Selatan, bernama Andi Sirajuddin Kube Dauda (Almarhum), yang akrab saya panggil Aju. Ia juga seorang tentara baret merah, lulusan Akmil lichting 1991. Ayah Aju bernama Andi Kube Dauda, mantan bupati di Sul-Sel, seumuran ayah saya.

Aju ini kakak angkatan Maruli. Mereka sangat dekat karena sama-sama atlet judo. Jadi, Aju, Maruli dan teman-temannya sering main ke tempat saya di Cinere, perbatasan Depok dan Jakarta Selatan. Sebaliknya, saya juga sering nongkrong di rumah Aju di bilangan Batu Ampar, Condet, Jakarta Timur. Tak jarang saya melihat dan menemani mereka latihan judo di Mako Kopassus, Cijantung.

Saya perhatikan, angkatan 1991 dan 1992 sangat akrab. Apalagi mereka yang sama-sama mengikuti TC (Training Camp) sebagai atlet judo di bawah gemblengan pelatih judo dari Korea. Hampir setiap hari mereka berinteraksi.

Selepas apel di markas Kopassus Cijantung, para prajurit yang notabene atlet judo itu langsung latihan sampai sore. Begitulah rutinitas mereka saat itu. Program Judo, Taekwondo ketika itu diinisiasi Danjen Kopassus Prabowo Subianto. Prabowo pulalah yang mendatangkan pelatih langsung dari Korea.

Selain judo dan taekwondo, sebagian prajurit lain mendalami bela diri pencak silat Merpati Putih. Aju, sahabat saya ini termasuk yang menjadi murid Mas Pung, guru besar Merpati Putih saat itu.

Pernah satu ketika, Aju “kehilangan” pistol. Tentu bukan hilang beneran, melainkan lupa menaruh. Oleh Maruli dan teman-temannya, Aju pun diledek, “Abang kan Merpati Putih, cari dong dengan ‘getaran’….”

Waktu terus bergulir. Aju, Maruli, dan yang lain mulai terpisah satu-sama-lain, karena penempatan tugas di daerah yang berbeda. Meski begitu kami terus berkomunikasi. Termasuk dengan Aju, sahabat kecilku yang wafat tahun 2016 karena sakit, dengan pangkat terakhir kolonel.

Jalinan komunikasi makin intens manakala sudah ada fasilitas handphone. Mulai dari pesan singkat (SMS), Blackberry Messenger (BBM), lalu WhatsApp (WA). Lebih intensif bertemu secara fisik ketika Maruli sudah berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Grup A Paspampres. Dari ring-1 Istana ia sempat geser ke jabatan Danrem di Solo. Dari Solo, balik ke Paspampres menjabat Wakil Komandan (Wadan) Paspampres. Bintang pun jatuh di pundaknya. Brigadir Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Maruli Simanjuntak (kedua dari kanan), saat menjabat Wadan Paspampres, mengawal JK ke Inggris dan Amerika Serikat. (foto: dok.pri)

Nonton Liverpool

Masih panjang catatan saya tentang Maruli. Baiklah kita loncat ke momen mengesankan di awal September tahun 2018. Kami ke London dan Amerika Serikat. Waktu itu, Maruli sebagai Wadan Paspampres memimpin pengawalan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Begitu protapnya. Presiden didampingi Komandan Paspampres, sedangkan Wadan Paspampres mendampingi Wakil Presiden.

Di Inggris, Jusuf Kalla sempat membuat rombongan “kalang-kabut”. Pasalnya, JK mau menonton Liga Inggris, partai Liverpool melawan Totenham Hotspur. Tentu JK dalam posisi sebagai penggemar sepakbola, bukan sebagai wakil presiden.

Tapi bukankah jabatan Wapres RI tidak copot meski JK mengenakan syal Liverpool? Akhirnya, Maruli dan pasukannya mengawal JK naik KRL, berdesak-desakan dengan penumpang lain. Di KRL penuh “Liverpudian”, julukan supporter Liverpool. JK sendiri seorang “Kopites”, julukan bagi fans Liverpool dari luar Liverpool.

Sebagian pasukan Maruli tetap melekat dengan JK, termasuk masuk ke dalam stadion. Sebagian lain di luar stadion menunggu hingga pertandingan usai 2 x 45 menit. Semua baik-baik saja hingga JK kembali ke penginapan.

Selesai urusan di Inggris, JK dan rombongan, termasuk saya, menuju New York untuk menghadiri sidang tahunan PBB.

Ada hal tak terlupakan di Amerika. Satu saat, saat sama-sama senggang kami berjalan kaki di seputar kawasan 42 Street Manhattan New York. Di sudut blok dekat Hotel Westin tempat rombongan menginap, Maruli mampir ke toko sepatu olah raga. Ujungnya, sepasang sepatu jogging berkelir hitam, ia beli dan hadiahkan ke saya. Thanks bro….

Tak lama setelah dari pulang dari lawatan tadi, saya mendengar kabar Maruli geser ke Semarang, menjabat Kasdam IV/Diponegoro. Komunikasi tetap terjalin, meski lewat udara dan kuota.

Maruli Simanjuntak, setidaknya tiga kali mendapat penugasan di Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Menjadi Komandan Grup A, Wakil Komandan, dan Komandan Paspampres. (foto: dok. pri)

Setahun menjabat Kasdam, ia balik Jakarta menempati pos baru sebagai Komandan Paspampres, dengan bintang dua di pundak. Saya hadir di Markas Paspampres Tanah Abang, saat syukuran serah terima jabatan itu.

Komunikasi kami kembali intens, hingga ia kembali mendapat penugasan teritori sebagai Pangdam IX/Udayana. Pada penugasan ini, beberapa kali kami bersua muka. Salah satunya saat terjadi banjir bandang di sebagian besar wilayah kepulauan NTT. Maruli sebagai Pangdam, sedangkan saya mendampingi Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo.

Menyebut nama Doni Monardo, mengingatkan saya tentang sepenggal kisah yang pernah ia ceritakan saat menjabat Dan Paspampres. Doni melukiskan betapa ketat seleksi masuk di satuan Paspampres. Termasuk seleksi menjadi Komandan Grup A Paspampres.

Waktu itu, Doni dalam kapasitas Dan Paspampres harus melakukan seleksi pamen (perwira menengah) untuk menempati posisi Komandan Grup A. Sejumlah kolonel ikut serta. Satu di antaranya Maruli.

Doni Monardo sendiri yang memimpin proses seleksi untuk jabatan Dan Grup A. Materi ujian bagi calon Dan Grup A, tidak saja fisik atau kesamaptaan, tapi juga keterampilan bela diri, skor menembak, penguasaan alutsista, bahasa, sampai tes psikologi.

Dari sekian calon, nama Kolonel Maruli Simanjuntak selalu menempati urutan pertama. Lalu dipilihlah dia menjadi Komandan Grup A Paspampres. “Jadi, Maruli terpilih bukan karena beliau menantu pak Luhut, tapi karena di semua ujian seleksi, skornya paling tinggi,” ungkap Doni Monardo kepada saya.

Sampai di sini, saya merasa dunia ini kecil sekali. Bayangkan, berteman dengan Maruli di satu sisi. Lalu bersahabat dengan Doni Monardo di sisi waktu yang berbeda. Nah, Doni dan Maruli melewati fase interaksi “komandan dan anak buah” pada satu kesatuan. Kemudian berinteraksi lagi dalam posisi yang berbeda.

Jadi sama sekali tidak heran jika suatu hari, Doni memanggil dan meminta saya menghubungi Maruli. “Pak Egy, tolong mintakan peluru ke Pak Maruli, Dan Paspampres.”

Itu momentum saat Doni Monardo hendak mengajak para pejabat BNPB latihan menembak di Mako Kopassus, Cijantung, atas undangan Danjen Kopassus (saat itu), Mayjen TNI Mohamad Hasan. Segera saya menghubungi “Ucok”, begitu biasa saya menyapa Maruli.

Gayung bersambut. Bukan hanya peluru, tapi lapangan tembak Paspampres pun sudah disiapkan. Saya menyampaikan, bahwa yang diperlukan hanya peluru, sedangkan latihan menembak dilakukan di lapangan tembak Kopassus. Maruli paham, meski ia juga sangat ingin Doni dan staf BNPB menembak di lapangan Paspampres Tanah Abang.

“Lapangan tembak Paspampres ini kan punya Pak Doni, saya hanya merawatnya,” seloroh Maruli. Sejatinya, lapangan tembak Paspampres sudah lama ada, jauh sebelum Doni Monardo menjabat.

Sebagai Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Maruli Simanjuntak meengecek saluran air bersih di Bali. (foto: dok. TNI-AD)

Bapak Air

Mari kembali ke sosok Maruli sebagai Pangdam IX/Udayana. Kiprah Maruli tidak saja sigap dalam membantu program tanggap darurat hingga pasca bencana alam di NTT. Jauh sebelum musibah di NTT, nama Maruli sudah sangat dikenal hingga pelosok-pelosok Bali, NTB, dan NTT.

Ia dikenal sebagai “bapak air”. Mengapa? Karena bukan cuma satu-dua sumur ia bikin. Tak kurang 150 titik sumur sudah ia bangun di teritori binaannya yang terkenal sulit mendapatkan air bersih. Setidaknya ada 200 ribu penduduk yang sudah merasakan program “Bapak Air”. Itu data yang saya catat per tahun 2021. Bisa jadi, jumlahnya lebih besar saat ia mengakhiri tugas.

Bahkan ada kelakar di tengah masyarakat, khususnya di wilayah NTT, bahwa “sapi dan kuda saling melirik jika melihat Maruli lewat. Sapi dan kuda pun tahu, jika Maruli datang, itu artinya air sudah dekat.”

Bersamaan dengan pembuatan sumur, Maruli juga menyentuh sektor ekonomi, khususnya peternakan dan pertanian. Adrenalin kepedulian alam, lingkungan Maruli mengikuti  seniornya Doni Monardo, sama sama cinta pohon.

Jejak Maruli Simanjuntak di bidang pertanian dan peternakan/perikanan. Ia membina para petani dan peternak lele di Bantul, Yogyakarta. (foto: dok.pri)

Bina Bonek

Saya beri sub judul “Bina Bonek”, sebab kisah berikut ini memang merupakan penggalan kisah lain dari kiprah Maruli saat masih pangkat Kolonel. Ini tentang jejak Maruli di bidang pertanian dan peternakan. Sebuah kisah yang saya dapat dari seseorang bernama Utomo alias mas Bonek.

Ia adalah warga Krapyak Kulon, Panggung Harjo, Sewon, Bantul. Saking terkenalnya sebagai “Bonek”, jangan sekali-kali datang ke Krapyak mencari nama Utomo. Sebab, dijamin tak banyak orang tahu. Sebaliknya, sebut nama Bonek, semua orang tahu.

Bonek sudah berhasil menggerakkan ribuan warga Bantul bertani dan beternak. Mereka menyebut dirinya Kelompok 15. Awal kegiatan dimulai tahun 2014. Bonek yang semula memang hobi memelihara ikan hias, mengajak masyarakat memelihara ikan lele. Modal semua ditanggung oleh kelompok 15.

Satu kolam lele modalnya Rp 4,6 juta. Dalam waktu 70 hari, lele bisa dipanen. Hasil panen ini biasanya mencapai 350 kg. Pihak peternak mendapatkan bagi hasil 20 kg, sedangkan Kelompok 15 mendapatkan 330 kg. Jika per kilogram ikan lele dijual Rp 15.000 maka hasilnya mencapai Rp 5,25 juta.

Jadi setiap satu kolam, masyarakat yang memelihara lele mendapatkan hasil minimal Rp 300.000. Sedangkan Kelompok 15 mendapatkan hasil minimal Rp 4,95 juta. “Berapa keuntungannya, tergantung fluktuasi harga lele di pasaran,” kata mas Bonek.

Kelompok 15 oleh Bonek sebagai pemimpin, diberi nama Abhinaya Upangga, artinya Semangat Berkarya. Tak ada legalitas hukum, namun hasil kerja mereka sangat bermanfaat secara sosio ekonomis.

Cerita pun mengalir menuju muara nama: Maruli Simanjuntak. Bonek berkisah belasan tahun lalu, saat bertemu Kolonel (Inf) Maruli yang saat itu menjabat Komandan Korem 074/ Warastratama, Surakarta (2016). “Bang Maruli itu adalah bapak kami,” ujar Bonek, seraya manambahkan, “terima kasih, berkat beliau hidup kami sekarang lebih baik.”

Maruli Simanjuntak, memfasilitasi masyarakat beternak kambing dan sapi. (foto: dok.pri)

Kedekatan kelompok Abhinaya Upangga dengan Maruli membawa pencerahan dalam kehidupan. Dari ‘Bang Maruli’ inilah Bonek dan teman-teman mendapatkan modal untuk berusaha di bidang perikanan, pertanian, dan peternakan. “Sekarang kami punya 72 kolam lele. Seminggu dua kali kami panen dua kolam,” ungkap Bonek bangga.

Tak heran jika keberadaan Bonek dan teman-teman disambut hangat masyarakat. Di kecamatan Pandak, Bantul, Bonek yang saat itu mengenakan kaos hitam bergambar ‘Bang Maruli’ disapa ‘abah’ oleh anak-anak kecil di sana. Abah Bonek.

Tak hanya itu, masyarakat juga bangga karena ada orang penting, seorang jenderal TNI dari Jakarta bertamu di rumah mereka yang sederhana. Ya, Maruli yang dulu Kolonel, sekarang sudah Mayor Jenderal (sebentar lagi letnan jenderal).

Dampak psikologis kunjungan Maruli ke Bantul sangat membesarkan hati warga. Masyarakat bergerak untuk bertani, beternak ikan dan kambing. Kemudahan mendapatkan bibit tanaman, bibit ikan maupun hewan ternak, membuat masyarakat mantap bekerjasama dengan Abhinaya. Semua kebutuhan masyarakat difasilitasi oleh Abhinaya Upangga.

suatu kesempatan Mayjen Maruli berkisah. “Baru-baru ini saya berjumpa mereka, dan mereka bilang terima kasih Bapak sudah memberi kami kehidupan, membuat kami punya penghasilan,” kata Maruli seraya menambahkan, “Bahkan saya tidak boleh membayar makan-minum di kedai tempat kami ngobrol. Ya, sekarang mereka yang mentraktir saya.”

Kini, tidak hanya Maruli yang bangga akan keberhasilan Bonek dan kawan-kawan binaannya. Sebaliknya, mereka pun (pasti) bangga “bapak”-nya menjadi Panglima Kostrad, memimpin 35.000 hingga 40.000 prajurit, dengan tiga bintang di pundaknya.

Selamat, brader! Komando!!! (*)

  • Egy Massadiah, Ketua Yayasan Kita Jaga Alam dan juga wartawan senior