KONI Rangkul Industri

KOMITE Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) perlu merangkul dunia industri. Hal ini menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, dilakukan untuk memajukan olahraga nasional.

Tak hanya merangkul dunia industri, KONI dan KOI juga harus membuat semacam penelitian kuantitif agar bisa tahu apa olahraga yang digemari masyarakat Indonesia. “Kalau mau olahraga nasional maju, ayo KONI dan KOI duduk bersama. Bicarakan bersama solusinya, tidak hanya soal pencapaian prestasi. Kalau dari dua organisasi itu tidak cukup, harus ada dukungan juga dari dunia industri,” kata Imam.

Hal itu dikatakan Menpora Imam Nahrawi saat membuka Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) dan Rapat Anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun 2017, Selasa (21/2) di Gedung Dwi Warna, Lemhanas, Jakarta Pusat.

Masyarakat Indonesia, kata Menpora, sangat cinta dengan beberapa cabang olahraga, salah satunya sepakbola. “Saya ingin ke depannya, KONI dapat melihat kecenderungan masyarakat Indonesia pada cabang-cabang olahraga tersebut. Saya percaya KONI akan melakukan itu. Lebih dari itu, konsentrasi pemerintah hari ini adalah memperbaiki infrastruktur. Pada tahun ini pemerintah akan merevitalisasi sarana prasarana olahraga di desa-desa. Selebihnya baru kita fasilitasi dukungan stadion,” jelas Imam.

Sementara itu, Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman mengatakan bahwa Musornaslub ini digelar untuk menghimpun pemikiran, selaras misi pemerintah dalam memajukan olahraga. “Harapan kami Musornaslub ini dapat menghasilkan keputusan yang bermuara pada semakin fokusnya pembinaan dalam meningkatkan prestasi olahraga nasional,” ucap Tono Suratman. ***

Sang Juara jadi OB

PECINTA tinju Indonesia pasti masih ingat kenangan tanggal 3 Mei 1985. Tanggal bersejarah, ketika sebuah pertandingan tinju internasional digelar di Istora Senayan, Jakarta, mempertemukan petinju Indonesia, Ellyas Pical melawan juara bertahan asal Korea Chun Ju-do.

Pertandingan memperebutkan Juara IBF Kelas Bantam Yunior dan disiarkan langsung oleh televisi nasional tersebut mampu menyedot perhatian masyarakat tanah air. Terlebih hasil pertandingan kala itu berbuah manis bagi Indonesia.

Petinju kelahiran Saparua, Ambon 24 Maret 1960 silam itu merebut gelar juara IBF Kelas Bantam Yunior atau kelas super terbang dari lawannya Chun Ju-do. Lewat kepalan tangan Ellyas Pical, tinju Indonesia mulai diperhitungkan dunia.

Ellyas Pical

Sejak saat itulah karier Elly sapaan Ellyas Pical melesat tajam. Tercatat sejak terjun dalam dunia tinju Elly sudah melakoni 26 pertandingan. Rekor karier profesionalnya yaitu meraih 20 kemenangan dengan sebelas di antaranya diraih lewat kemenangan Knock Out (KO), sekali imbang dan lima kali kekalahan.

Sayangnya, pria yang sejak usai 13 tahun terjun dalam tinju ini harus menelan pil pahit saat berlaga di Ronoake, Virginia, Amerika Serikat, 1989 melawan petinju asal Kolombia, Juan Polo Perez. Saat itu, Elly harus melepas gelarnya. Sejak itu, prestasinya menurun. Elly sempat melakoni pertandingan non-gelar tetapi namanya tak harum seperti dulu.

Namanya menghilang, hingga pada 13 Juli 2005 silam, tiba-tiba tersiar kabar nama Elly kembali mencuat lantaran harus berurusan dengan polisi. Suami Rina Siahaya Pical dan ayah dua putra ini ditangkap polisi karena melakukan transaksi narkoba di sebuah diskotek di Jakarta Pusat.

Sejak gantung sarung tinju, Elly menekuni beberapa profesi untuk menyambung hidup salah satunya sebagai petugas keamanan di diskotek di Jakarta Pusat, yang membawanya ke dalam sel tahanan. Akibat perbuatannya Elly divonis 7 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Usai menghirup udara bebas, beberapa profesi pun dijalani Elly, termasuk menjadi asisten Agum Gumelar saat menjabat ketua KONI Pusat. Belakangan setelah ganti kepengurusan KONI, beberapa pekerjaan dilakoni ayah dari Lorinly dan Matthew Pical ini. Salah satunya menjadi Office Boy (OB) di Kementerian Pendidikan dan Olahraga, yang dilakoninya hingga saat ini. ***

Ellyas Pical Sakit

MASIH terlintas dalam ingatan betaoa sosok Ellyas Pical menjadi pahlawan bangsa. Kegigihan dan keuletannya berlatih menjadikan dirinya juara dunia tinju IBF kelas bantam junior pada 1985. Kini, dia terbaring di RS Harapan Kita karena serangan jantung.

Di masa tuanya saat ini, sosok Ellyas Pical memang seakan tenggelam. Tak banyak orang membicarakan ketangguhannya di atas ring. Orang seakan tak mengenal siapa orang yang terbaring lemah ini. Yang tersirat hanya guratan wajah lemah tak berdaya.

Pada masa jayanya, Ellyas Pical menjadi bahan pembicaraan. Petinju asal Saparua ini, sukses menyandang gelar Juara dunia IBF setelah mengalahkan petinju asal Korea, Chun Ju-do. Gelar juara dunianya terlepas dua tahun kemudian setelah kalah dari petinju Thailand, Khaosai Galaxy.

Ellyas Pical semasa sehat.

Setelah tak lagi menjadi juara dunia, namanya menghilang. Tak ada yang tahu jejak langkah seorang Elly yang pernah digadang-gadangkan hingga tersiar kabar jika dirinya terjerat kasus narkoba.

Rasa sakit dan beban hidup yang dialami seperti tak dirasa. Yang ada hanya senyuman khasnya saat disapa wartawan menjelang makan siang atau sekadar istirahat di kantin KONI Pusat. Ya, sejak saat itu, Elly memang direkrut sebagai karyawan KONI Pusat.

Sampai dirinya terkena serangan jantung pun tak disadarinya. Elly mulai merasakan keluhan sejak Selasa (14/2). Namun, tak langsung dibawa ke rumah sakit. Dua hari berselang, kondisinya pun makin parah, dan dibawa ke rumah sakit di kawasan Serpong Tangerang.

Selama di rumah sakit, Elly memang langsung mendapatkan perawatan. Tapi atas inisiatif keluarga, perawatan Elly dipindah ke rumah sakit Harapan Kita. “Sekitar pukul 13.00 WIB tadi sudah dipindahkan,” kata Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Kesehatan Olahraga Nasional (PP ITKON) Edi Nurinda, Jumat (17/2).

Saat ini pihaknya juga terus melakukan koordinasi dengan semua pihak KONI. “Komunikasi dengan dokter di KONI juga terus kami lakukan. Bahkan sudah ada yang langsung ke rumah sakit Harapan Kita. Yang jelas, Elly saat ini sudah dalam penanganan,” kata Edi menjelaskan. ***