Demokrat akan Manfaatkan Masa Liburan Musim Panas untuk Jualan “Bidenomics”

JAYAKARTA NEWS – Di tengah semarak liburan musim panas yang menghampiri, langit politik Amerika Serikat diisi oleh rencana ambisius para politisi Demokrat di Kongres untuk mengkampanyekan “Bidenomics”.

Par anggota Kongres pendukung Presiden Joe Biden bertekad untuk gencar mengampanyekan “Bidenomics” secara penuh. Targetnya, Demokrat ingin meraih dukungan yang kuat bagi Presiden Biden menjelang pemilihan tahun depan.

Namun, perjuangan yang tak terduga menghadang mereka dalam menyebarluaskan pesan positif ini di tengah rasa cemas masyarakat akan ekonomi Amerika pasca-COVID yang belum pulih sepenuhnya. Muncul pula keraguan di masyarakat terhadap narasi keberhasilan yang diusung oleh pihak Demokrat.

Hal itu bisa kita lihat dari angka survei terbaru, hanya 37 persen responden Survei Ekonomi CNBC All-America yang menilai baik atas penanganan ekonomi yang dilakukan oleh Biden. Tantangan ini menyinggung strategi House Majority PAC, sebuah Super PAC yang bertugas memilih anggota Demokrat ke House of Representatives. Melalui memo yang dikirim, PAC ini mendorong anggota partai untuk “berani tampil” dalam menyuarakan isu ekonomi selama musim panas ini.

Pernyataan dari PAC ini menyebutkan bahwa prestasi Demokrat dalam legislatif seperti Undang-Undang CHIPS dan Ilmu Pengetahuan, Undang-Undang Pengurangan Inflasi, dan Undang-Undang Investasi Infrastruktur dan Lapangan Kerja adalah bukti komitmen kuat partai dalam memajukan kelas menengah melalui penguatan sektor manufaktur dan konstruksi.

CJ Warnke, Direktur Komunikasi House Majority PAC, dengan tegas menyatakan, “Hasilnya nyata. Presiden Biden dan Demokrat telah membawa kemajuan bagi kelas menengah, menciptakan lapangan kerja dengan rekor tertinggi, mengurangi biaya hidup, dan yang paling penting, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, pendapatan tumbuh lebih cepat dari laju inflasi.”

Sementara itu, pada pihak Republikan di House of Representatives, di bawah pimpinan Kevin McCarthy, menilai kebijakan ekonomi Biden dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi Amerika dan mengancam kemajuan yang sudah dicapai.

Perang pesan antara partai ini bukanlah hanya sekadar pertempuran kata-kata. Pada akhirnya, dukungan publik yang berhasil mereka rebut, diumpamakan akan menjadi penentu kemenangan partai mana yang akan mengendalikan Kongres pada 2024.

Pertarungan Menarik

Demokrat yang ingin mempertahankan kendali atas Senat harus mempertahankan delapan kursi di wilayah merah dan ungu. Sementara itu, Partai Republik yang berjuang mempertahankan mayoritas lima kursi di House of Representatives menghadapi pertarungan sengit dalam pemilihan ulang di 13 distrik yang dianggap “panas” sebagaimana digambarkan oleh Laporan Politik Cook.

Kedua belah pihak merasa memiliki keunggulan masing-masing. Demokrat menitikberatkan pesannya pada pencapaian legislatif partai, sementara Republikan memperhatikan kelemahan yang mereka anggap ada pada pemerintahan Biden dan usaha konservatif mereka dalam memangkas pengeluaran pemerintah.

Warnke mempertegas bahwa Demokrat telah berhasil mendatangkan investasi besar dalam sektor infrastruktur, manufaktur semikonduktor domestik, dan teknologi energi hijau selama masa jabatan Biden. Tingkat pengangguran yang rendah, penurunan stabil dalam inflasi selama setahun terakhir, dan pertumbuhan ekonomi yang melebihi ekspektasi pada kuartal kedua semakin memperkuat klaim Demokrat. Jerome Powell, Ketua Federal Reserve, bahkan menyatakan pada bulan Juli bahwa stafnya tidak lagi memperkirakan adanya resesi.

Namun, Republikan tetap bersikeras bahwa meskipun inflasi telah mereda, peningkatan harga yang terjadi secara historis tetap menjadi perhatian utama pemerintahan Biden. Selain itu, mereka bangga akan kesepakatan yang dicapai dengan Demokrat pada bulan Mei selama negosiasi batas utang, yang hampir mengakibatkan default pemerintah.

Dalam kesepakatan tersebut, Partai Republik setuju mendukung kenaikan batas utang sebagai imbalan atas pembatasan pengeluaran pemerintah selama dua tahun ke depan, yang diharapkan dapat membantu mengurangi utang nasional sekitar 1,5 triliun dolar.

Perjalanan ekonomi yang tidak terduga dan luar biasa ini membingungkan peta politik. Wendy Edelberg, Direktur Hamilton Project di Brookings Institution, yang fokus pada solusi kebijakan ekonomi, mengungkapkan bahwa gambaran yang rumit dan tidak biasa ini muncul akibat dampak pandemi COVID-19 yang terasa dalam berbagai aspek.

“Ini adalah siklus aneh yang terpengaruh oleh pandemi dalam banyak cara,” ungkap Edelberg seperti dilaporkan Newsweek. Ia menyebutkan bahwa salah satu poin besar ketidakpastian adalah inflasi, yang sebagian besar dipicu oleh permintaan tenaga kerja yang luar biasa tingginya dan sulit dipertahankan.

Pandemi telah memaksa Kongres untuk menyuntikkan miliaran dolar ke dalam program ekonomi untuk memberikan bantuan keuangan kepada masyarakat Amerika. Langkah berikutnya, seperti investasi dalam infrastruktur yang didukung oleh kedua partai dan revitalisasi sektor manufaktur mikrochip, semakin memperkuat permintaan akan tenaga kerja.

Namun, ironisnya, meskipun masyarakat terus merasa cemas mengenai kondisi ekonomi, data belanja dari Departemen Perdagangan menunjukkan bahwa mereka terus berbelanja dengan tingkat yang sulit dijelaskan. Belanja konsumen naik sebesar 0,7 persen dari Juni hingga Juli, melebihi harapan.

Edelberg juga mencatat bahwa tidak mengherankan adanya tingkat partisipasi tenaga kerja yang tinggi, namun ia merasa senang melihat perkembangan ini secara keseluruhan. Bersamaan dengan itu, kenaikan upah tahun demi tahun mencapai lebih dari 4 persen sejak pertengahan 2021. Sebuah angka yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam tiga tahun sebelum pandemi.

Namun, kenaikan belanja, upah, dan lapangan kerja sebenarnya menjadi bagian dari alasan tingginya inflasi. Meskipun upaya penekanan inflasi sudah dilakukan, harga barang tetap tinggi, menciptakan ketidakpastian yang dirasakan oleh banyak warga Amerika setelah mereka menghadapi tantangan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi.

Edelberg menilai, “Saya pikir masih banyak ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini bukan hanya tentang inflasi. Saya pikir ini juga tentang ketidakpastian kita terhadap bagaimana pandemi dan dampaknya akan memengaruhi ekonomi dan keluarga kita dalam jangka panjang.”

Viet Shelton, juru bicara Democratic Congressional Campaign Committee (DCCC), yang bertanggung jawab atas pemilihan anggota Demokrat di House of Representatives, meyakini bahwa fokus partainya pada respons terhadap pandemi dan “isu- isu dompet” akan memikat para pemilih.

Dia menegaskan perbedaan antara periode ketika Demokrat berkuasa dan saat ini, di mana perdebatan lebih banyak diwarnai oleh isu-isu sosial yang dipimpin oleh kubu konservatif, seperti hak reproduksi dan penyelidikan terhadap mantan Presiden Donald Trump.

Shelton menjelaskan, “Ketika kami memimpin mayoritas, Demokrat memberikan hasil yang nyata. Keluarga pekerja ingin melihat Kongres fokus pada isu-isu yang mempengaruhi dompet mereka—bukan berdebat tentang hak reproduksi, menghentikan pendanaan penegak hukum, atau risiko penutupan pemerintah yang kerap kali dilakukan mayoritas Republikan.”

Salah satu anggota Kongres Demokrat, Greg Landsman, mewakili distrik kongres pertama di Ohio dan berhasil meraih kursinya pada tahun 2022 dengan mengalahkan petahana Republikan yang telah menjabat selama 13 kali. Ia kini tengah menguji strategi pesan DCCC selama musim panas ini.

Landsman menghadapi berbagai isu sensitif, seperti demokrasi, hak aborsi, dan ancaman penutupan pemerintah. Ia berupaya berbicara dengan pemilih mengenai aspek positif ekonomi sambil tetap mengakui kelemahan dan dampak inflasi yang masih dirasakan oleh masyarakat.

Strategi Landsman untuk berhubungan dengan pemilih melibatkan pertemuan tatap muka, pertemuan warga, dan kesiapan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang langkah-langkah partainya dalam mengurangi kekhawatiran masyarakat. Di wilayahnya di sekitar Cincinnati, ia menekankan bagaimana agenda legislatif partainya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun mendatang serta menjelaskan tren positif yang telah mulai terlihat.

Salah satu area yang masih menimbulkan kekhawatiran di seluruh spektrum politik adalah meningkatnya utang nasional Amerika. Landsman menyoroti upaya perbaikan melalui reformasi pajak, dengan menegaskan bahwa program pemerintah dapat dibiayai dengan menggenjot penerimaan dari pajak yang dikenakan pada jutawan dan miliarder.

“Dalam langkah ke depan, kita tidak perlu merampas Dana Sosial atau Medicare, atau bahkan mengurangi manfaat bagi para veteran, untuk mengganggu layanan kesehatan siapa pun,” ujar Landsman kepada Newsweek. “Kita harus memperbaiki sistem pajak dan memastikan bahwa orang kaya serta semua orang membayar pajak mereka sepenuhnya.”

Selama negosiasi terkait batas utang, di mana Partai Republik mencari jalan untuk mengurangi utang nasional, Kevin McCarthy menolak untuk mengubah sistem pajak demi pengurangan pengeluaran. Hal ini menimbulkan ketegangan di antara anggota Demokrat di Kongres.

Drew Westen, seorang psikolog politik dari Emory University, mengatakan bahwa untuk meraih dukungan yang kuat, Demokrat perlu menunjukkan kekuatan dan kemampuan untuk melawan Partai Republik. Ia mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Demokrat kehilangan dukungan pemilih dari kalangan pekerja yang beralih ke Partai Republik, meskipun kebijakan Biden telah memberikan peluang ekonomi yang menguntungkan mereka.

Meskipun Biden tidak lagi terlalu banyak membahas pandemi, Westen menilai bahwa gaya pesannya tetap ramah seperti yang dilihat selama kampanye 2020. Bagi Westen, agar mencapai para pemilih saat ini, Presiden dan partainya harus memproyeksikan kekuatan dan tampil sebagai pejuang yang mempertahankan agenda kuat dan layak.

“Di balik layar, Biden telah menjadi salah satu presiden paling kuat sejak Lyndon B. Johnson. Anda tidak bisa melewati jenis legislatif seperti yang ada sekarang tanpa kekuatan,” kata Westen kepada Newsweek. “Tetapi ia tidak menunjukkan kekuatan itu, dan menurut saya inilah alasan mengapa orang mungkin tidak memberinya kredit yang seharusnya ia dapatkan. Dia memiliki cara yang tenang dalam bergerak, yang mungkin tidak begitu mencolok dibandingkan dengan pendahulunya.” (diolah dari newsweek/sm)

Biden Sebut Pendukung Trump “Ekstrimis”

JAYAKARTA NEWS – Presiden terpilih AS Joe Biden mengecam Presiden Donald Trump karena gagal menghentikan para pendukungnya menyerbu Capitol pada hari Rabu. Biden menyebut mereka sebagai “ekstremis” dan menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan para pendukung Trump sebagai “pemberontakan” terhadap demokrasi Amerika.

“Pada jam ini, demokrasi kita berada di bawah serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Biden dalam pidato dari Wilmington, Delaware, di mana tim transisinya berada. Mereka menyerang ke benteng kebebasan, Gedung Capitol itu sendiri.

“Saya menyerukan kepada massa ini untuk mundur dan membiarkan pekerjaan demokrasi dapat dilanjutkan,” katanya. “Saya menyerukan kepada Presiden Trump: tampil di televisi nasional sekarang, memenuhi sumpahnya dan membela Konstitusi dan menuntut diakhirinya pengepungan ini.”

Pernyataan Biden tersebut disampaikan  ketika Amerika  dan sebagian besar dunia menyaksikan “pertunjukkan” yang mengagetkan  ketika gerombolan pendukung Trump yang kuat berhasil mengalahkan petugas Kepolisian Capitol AS, mereka menerobos ke Capitol, memecahkan jendela, memanjat dinding untuk masuk dan kemudian memenuhi  ruang Senat dan  kantor Ketua DPR, Nancy Pelosi.

Kerumunan telah mengganggu proses akhir dalam pengesahan kemenangan Biden atas Trump dalam pemilihan presiden 2020. Pada Rabu sore (6/1/2021, waktu setempat), sesi gabungan Kongres mulai mengesahkan suara  electoral college AS, secara resmi menyatakan Biden sebagai presiden terpilih. Sekalipun hal ini  biasanya menjadi  momen seremonial, Trump telah menghabiskan berminggu-minggu sejak kekalahannya dari Biden pada 3 November 2020, untuk tetap bersikeras bahwa dalam pemilihan itu suara untuknya telah “dicuri”. Dia juga  meyakinkan para pendukungnya bahwa Partai Republik entah bagaimana caranya, dapat membatalkan hasil sertifikat pengesahan dari 50 negara bagian.

Sekelompok pendukung Trump yang paling bersemangat di Partai Republik, yang dipimpin di Senat oleh Josh Hawley dari Missouri dan Ted Cruz dari Texas, berencana menolak hasil beberapa negara bagian di tengah klaim palsu Trump tentang penipuan pemilih. Tepat sebelum Capitol diserang, kedua anggota majelis itu mundur untuk memperdebatkan daftar suara yang diajukan oleh negara bagian pertama yang diperebutkan, Arizona.

Trump, yang menolak untuk mengakui kekalahannya dalam pemilihan, yang dia tekankan lagi saat berbicara di rapat umum besar yang dia promosikan di luar Gedung Putih tak lama sebelum Capitol diserbu. Banyak yang pergi ke Washington atas desakan Trump, yang ingin mereka menekan Kongres agar tidak menjamin kemenangan Biden.

“Saya benar-benar terkejut dan sedih bahwa bangsa kita, yang telah lama menjadi mercusuar cahaya dan harapan bagi demokrasi, telah sampai pada saat yang kelam,” kata Biden. “Pikirkan apa yang dipikirkan oleh anak-anak kita yang menonton televisi. Pikirkan apa yang sedang dilihat oleh seluruh dunia. ” Biden juga menambahkan bahwa dia tidak mengkhawatirkan keamanannya sendiri atau keselamatan pelantikannya pada 20 Januari.

“Pertunjukan yang sangat mengerikan hari ini membawa pulang setiap Republikan, Demokrat, dan orang-orang merdeka di negara ini: kita harus melangkah maju,” katanya. “Cukup sudah cukup.”

Tidak lama setelah permintaan Biden agar Trump berpidato di negara itu, Trump merilis video singkat di media sosial yang berbicara langsung kepada pendukung kerusuhannya di Washington.

Trump mengatakan kepada mereka untuk “pulang sekarang, kita harus memiliki kedamaian,” namun dia tidak mencela tindakan para pendukungnya  dan masih secara salah mengklaim bahwa dalam pemilu lalu suaranya telah “dicuri”. Trump juga menambahkan bahwa dia mencintai mereka.

Facebook, Youtube, dan Twitter telah menghapus video dari Trum tersebut. Seorang eksekutif Facebook mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa video Trump tersebut  telah berkontribusi memicu  terjadinya kekerasan. Pihak  Twitter memasang label peringatan.

Seiring berlalunya hari, para pemimpin sekutu AS menyatakan keterkejutan dan kekecewaan atas apa yang mereka saksikan terjadi di Washington.

“Saya pikir lembaga demokrasi Amerika kuat, dan mudah-mudahan semuanya akan kembali normal segera,” kata Justin Trudeau, perdana menteri Kanada mengomentari rusuh di Capitol.

Sementara itu Jens Stoltenberg, sekretaris jenderal NATO, menyebut peristiwa hari itu “mengejutkan”. Sdangkan  Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyebutnya kejadian tersebut sebagai “memalukan”.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan tindakan yang diambil oleh pendukung Trump akan menyenangkan “musuh demokrasi”. (berbagai sumber/sm)

“Drama” Tolak Pengesahan Hasil Pilpres AS, Perempuan Demonstran Tewas

JAYAKARTA NEWS – Sebuah proses di Kongres Amerika Serikat (AS) untuk mengesahkan hasil pemilihan presiden  berubah kacau dan mematikan, ketika para pendukung Presiden  Donald Trump menyerbu Gedung Capitol, Washington, sehingga  Wakil Presiden Mike Pence dan anggota parlemen harus dievakuasi, pada Rabu waktu setempat.

Setelah terjajdi perselisihan di luar ruangan dengan Kepolisian Capitol, para pendukung Trump yang mengibarkan bendera AS dan Konfederasi, menerobos ke area Gedung Capitol, menghancurkan jendela, menyalakan alat pemadam kebakaran, dan menduduki area gedung yang biasanya terlarang untuk umum.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan Fox News, Pemimpin Minoritas DPR Kevin McCarthy mengatakan, dirinya telah mendengar di radio Kepolisian Capitol bahwa ada “tembakan” di dalam gedung. Polisi Washington mengkonfirmasi pada Rabu malam, bahwa seorang wanita telah meninggal karena luka tembak. Korban  ditembak di dalam Capitol, demikian laporan sejumlah  media AS.

Beberapa jam setelah pengepungan massa gedung tersebut, juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan, Trump telah memerintahkan pengerahan Garda Nasional untuk memadamkan kekerasan dan meminta agitator untuk “tetap damai”.

Kejadian ini memaksa diberlakukannya  jam malam darurat untuk 12 jam di seluruh kota mulai berlaku pada pukul 6 sore, dan gedung Capitol mendapat pengamanan ketat, demikian  Reuters melaporkan, yang mengutip Paul Irving, polisi yang bertugas di Kongres.

Dalam aksi pengepungan tersebut,  setidaknya seorang  pendukung Trump berhasil memaksa memasuki ruang Senat. Pemrotes lainnya  melakukan tindakan anarkhi dengan memecahkan jendela, sebagai usaha mereka untuk mendobrak  DPR, di mana di situ sejumlah  petugas polisi berdiri mengacungkan senjata. Untuk pengamanan, polisi mengunci  gedung Kongres  dan meminta anggota parlemen  untuk menyiapkan masker gas, setelah polisi menggunakan  gas air mata di dalam ruangan untuk mengusir pendemo.

Saat polisi memandu para  senator ke ruang bawah tanah Capitol, Senator Mitt Romney, seorang Republikan dari Utah dan seorang kritikus Trump, berkata, “Inilah yang telah disebabkan oleh presiden hari ini, pemberontakan ini,” demikian The New York Times melaporkan.

Chaos terjadi  beberapa jam setelah Wapres Pence mengatakan kepada anggota parlemen bahwa dirinya  tidak akan menodai  kewajiban konstitusionalnya dan menolak suara Electoral College selama sertifikasi Kongres tentang hasil pemilihan presiden. Dia  menolak tekanan secara eksplisit yang dilakukan oleh  Presiden Donald Trump untuk membatalkan kekalahannya dari Joe Biden.

“Sumpah saya untuk mendukung dan mempertahankan Konstitusi membatasi saya untuk mengklaim kewenangan sepihak untuk menentukan suara elektoral mana yang harus dihitung dan mana yang tidak,” kata Pence dalam sebuah surat kepada anggota Kongres.

Dalam teguran wakil presidennya sendiri, Trump men-tweet bahwa Pence “tidak memiliki keberanian untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk melindungi Negara kita dan Konstitusi kita, memberi negara kesempatan untuk mengesahkan serangkaian fakta yang dikoreksi, bukan penipuan atau tidak akurat yang sebelumnya diminta untuk mereka sertifikasi. ”

Perpecahan antara Presiden dan Wapres  terjadi, ketika Pence muncul di Kongres untuk mengawasi proses sertifikasi, proses rutin yang tahun ini diperkirakan akan diperpanjang selama berjam-jam di tengah tantangan hasil dari Partai Republik.

Sebelum perusuh menyerbu Capitol, Trump muncul di tenggah massa pendukungnya  untuk memberikan tekanan lebih lanjut kepada Pence, sementara ia tampak mengakui bahwa wakil presiden tidak berniat untuk menyetujui tuntutannya.

“Mike Pence, saya harap Anda akan membela kebaikan Konstitusi kita dan negara kita,” kata Trump kepada para pendukungnya. “Dan jika tidak, aku akan sangat kecewa padamu. Aku akan memberitahumu sekarang, aku tidak mendengar cerita yang bagus. “

Anggota Kongres  Adam Kinzinger, Republik Illinois,  menyalahkan Trump atas kekerasan yang terjadi di Capitol, karena  retorika agresif presiden dalam rapat umum hari Rabu, yang juga disebarkan melalui seluruh akun media sosial Trump.

“Saya telah mengatakan selama berminggu-minggu bahwa saya takut akan kekerasan pada 6 Januari, dan agar presiden keluar hari ini, ketika semua orang berada dalam keadaan emosional yang meningkat setelah dijanjikan secara tidak benar bahwa entah bagaimana Kongres dapat secara ajaib memilih presiden berikutnya, dia benar-benar mengabaikan tanggung jawabnya sebagai presiden untuk menjaga keamanan rakyat Amerika, ”kata Kinzinger kepada NBC.

Dalam pesan video di mana dia menyerukan diakhirinya kekerasan, Trump mengulangi klaimnya yang tidak terbukti bahwa dia telah dicurangi dalam pemilu, dan berkata kepada mereka yang menyerbu Capitol: “Kami mencintaimu, kamu sangat istimewa.”

Tak lama setelah diposting, Youtube, Facebook dan Twitter menghapus video tersebut, dengan alasan klaim palsu dan kekhawatiran bahwa video itu dapat memicu kekerasan lebih lanjut. Twitter mengumumkan Rabu malam bahwa akun Trump akan dikunci selama 12 jam dan menuntut penghapusan tiga postingannya.

Berbicara di Delaware, Joe Biden mengatakan penyerbuan Capitol akibat  “hasutan” dan menyerukan “pada massa untuk mundur dan membiarkan pekerjaan demokrasi untuk berlanjut.”

Meskipun menghindari tekanan dari Trump, Pence mengatakan kepada anggota parlemen dalam suratnya bahwa dia mendukung hak mereka untuk menantang suara Electoral College yang diberikan oleh setiap negara bagian.

Segera ke persidangan hari Rabu, anggota parlemen melakukan hal itu, menolak hasil yang disampaikan oleh Arizona, di mana Biden menang, memperoleh 11 suara Electoral College. Keberatan seperti itu, yang harus disampaikan baik oleh perwakilan DPR maupun senator, otomatis memicu perdebatan maksimal dua jam tentang validitas hasil.

Tak satu pun dari keberatan yang disampaikan Partai Republik kemungkinan akan  berhasil, mengingat bahwa Demokrat mengontrol DPR dan sejumlah Partai Republik di Senat secara terbuka menyatakan mereka tidak akan memilih untuk menolak hasil apa pun.

Berbicara selama debat Senat atas hasil Arizona, Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell mengutuk upaya rekan-rekan Republiknya untuk membalikkan kekalahan Trump atas klaim penipuan pemilih.  “Tidak ada sebelum kami membuktikan ilegalitas mendekati skala besar, yang akan memberi tip pada seluruh pemilihan, ” kata McConnell.

Terkait dengan peringatan “spiral kematian” untuk demokrasi, McConnell juga menyesalkan  rekan-rekannya, karena mengutip keprihatinan publik tentang legitimasi pemilu sebagai alasan untuk membatalkan hasil, “ketika keraguan itu sendiri muncul tanpa bukti.”

Ketika McConnell berbicara, kerumunan pendukung Trump kian membludak di luar gedung Capitol, suasananya jelas lebih tegang daripada demonstrasi sebelumnya di luar Gedung Putih beberapa jam sebelumnya, di mana Trump berbicara dari panggung besar dengan layar raksasa

Seorang demonstran yang bertengger di atas bangunan putih besar di depan tangga Capitol mengenakan jaket hitam dan topi hijau mendesak para pendukung dengan menggunakan  pengeras suara untuk mendobrak  pintu dan menunjukkan kekuatan mereka. “Ini bukan pesta, ini bukan permainan, selamatkan negara Anda, maju terus,” katanya. Beberapa pengunjuk rasa lari ke pintu masuk yang  diblokir dengan penghalang, tetapi langkah tersebut digagalkan oleh polisi.

“Ini mulai sedikit meningkat,” kata John Ferro, seorang marketing eksekutif  yang mengatakan dia datang untuk melawan “pemilihan yang dicuri”. Kami di sini untuk memberi tahu mereka bahwa orang-orang memiliki kekuatan, kata Ferro. “Kami tidak akan bertahan lagi.”

Kekerasan terjadi setelah berhari-hari upaya publik oleh Trump untuk memaksa Pence menolak pemungutan suara Electoral College di negara bagian tertentu, menegaskan dalam sebuah Tweet palsu pada hari Selasa bahwa “Wakil Presiden memiliki kekuatan untuk menolak pemilih yang dipilih secara curang.”

Amandemen ke-12 Konstitusi mengatur bahwa wakil presiden harus “membuka semua sertifikat, dan suara kemudian akan dihitung”.

“Ada yang percaya sebagai Wakil Presiden, saya harus bisa menerima atau menolak suara elektoral secara sepihak,” kata Pence dalam suratnya. “Yang lain percaya bahwa suara elektoral tidak boleh ditantang dalam Sesi Bersama Kongres. Setelah mempelajari Konstitusi kita, hukum dan sejarah kita, saya yakin tidak ada pandangan yang benar. ” (sm)

Solusi Government Shutdown Masih Menggantung

USULAN Presiden Donald Trump untuk menembus  kebuntuan anggaran, tampaknya mendapat sedikit daya tarik pada Senin, karena masalah gaji yang terlewatkan muncul untuk ratusan ribu pegawai dan penutupan sebagian pemerintah federal berlanjut hingga minggu kelima.

Terlepas dari kehebohan pernyataan  presiden, pemungutan suara di Kongres tampaknya tidak dapat begitu diharapkan akan berlangsung sampai akhir pekan  ini.

Bahkan muncul keraguan,  bahwa undang-undang yang berdasarkan pada rencana Trump, memiliki peluang untuk secepatnya mendapat persetujuan dari  Senat. Memang, Partai Republik memegang mayoritas 53-47, tetapi Trump masih  membutuhkan dukungan Demokrat untuk mencapai ambang batas  60 suara, untuk bisa meloloskan undang-undang.

Sejauh ini tidak ada satu pun senator Demokrat yang secara terbuka menyatakan dukungannya untuk kesepakatan dalam 48 jam sejak Trump mengumumkannya.

Kantor pemimpin Senat Demokrat, Chuck Schumer menegaskan pada hari Senin, bahwa mereka tidak mau menegosiasikan pendanaan keamanan perbatasan tersebut sampai dengan Trump membuka kembali pemerintah.

“Tidak ada yang berubah dengan tawaran terbaru Republik,” kata juru bicara Schumer, Justin Goodman.

“Presiden Trump dan Senat dari Partai Republik masih mengatakan: “Dukunglah rencanaku atau pemerintah tetap tutup. “Itu bukan kompromi atau negosiasi – itu hanya penyanderaan yang lebih besar.”

Sementara itu DPR dan Senat  yang dijadwalkan akan kembali lagi pada sesi Selasa, sejauh ini tidak ada informasi bahwa mereka telah dijadwalkan untuk  rencana Trump. Para senator, akan diberikan pemberitahuan 24 jam sebelum pemungutan suara, sejauh ini belum dipanggil kembali ke Washington.

Juru bicara McConnell David Popp mengatakan pada hari Senin, bahwa pemimpin GOP “akan pindah” untuk memilih berdasarkan pertimbangan proposal presiden “minggu ini.”

Trump, yang pada hari Minggu mengecam di Ketua DPR Nancy Pelosi, dengan menuduhnya telah bertindak “tidak rasional.”

“Jika Nancy Pelosi berpikir bahwa tembok adalah “tidak bermoral,” mengapa dia tidak meminta kami untuk mengambil (merobohkan) semua tembok yang ada antara AS dan Meksiko,” tulisnya Senin. “Biarkan jutaan” orang asing “yang tidak diperiksa mengalir ke A.S.”

Demokrat di DPR pekan ini mendorong maju  pemungutan suara pada undang-undang mereka sendiri untuk membuka kembali pemerintah dan menambah $ 1 miliar untuk keamanan perbatasan – termasuk 75 lebih banyak hakim imigrasi dan perbaikan infrastruktur – tetapi tidak ada dana untuk tembok.

“Demokrat bercanda sendiri (mereka tidak benar-benar percaya!) Jika mereka mengatakan Anda dapat menghentikan Kejahatan, Narkoba, Perdagangan Manusia dan Karavan tanpa Tembok atau Baja Barrier. Berhentilah bermain game dan berikan Amerika Keamanan yang pantas. Krisis Kemanusiaan!,” tulis Trump di akun twitternya.

Sementara itu, dampak dari penutupan —yang terpanjang yang pernah— terus bergoyang di seluruh bangsa saat merentang hingga hari ke-31.

Pihak otoritas keamanan transportasi di bandara mengatakan, persentase dari para petugas scanner/penapis di bandara yang tidak bekerja  mencapai 10 persen pada hari Mingg,  naik dari 3,1 persen pada hari Minggu yang sebanding tahun lalu.

Para petugas scanner  yang telah bekerja tanpa bayaran, telah mengungkapkan  kesulitan keuangan mereka sebagai alasan  tidak dapat melaporkan untuk bekerja. Meski begitu, pihak otoroitas keamanan transportasi bandara itu  mengatakan, bahwa mereka telah menskrining 1,78 juta penumpang pada hari Minggu dengan hanya 6,9 persen yang harus menunggu 15 menit atau lebih lama untuk melewati pemeriksaan keamanan.

Penutupan pemerintah itu juga mengancam akan mengganggu rencana pelayanan tahunan  Martin Luther King Jr. di Gereja Ebenezer Baptist Atlanta. Situs ini dijalankan oleh Layanan Taman Nasional dan terpaksa  ditutup. Tetapi hibah dari Delta Air Lines kemudian menjaga gereja dan situs terkait, termasuk rumah tempat King dilahirkan, tetao bisa buka sampai 3 Februari.

Trump pada hari Sabtu menawarkan untuk memperpanjang perlindungan sementara bagi imigran muda yang dibawa ke negara itu secara ilegal ketika anak-anak dan mereka yang melarikan diri dari zona bencana selama tiga tahun dengan imbalan $ 5,7 miliar untuk tembok perbatasannya.

Demokrat mengatakan proposal untuk perpanjangan tiga tahun tidak dapat berjalan cukup jauh, dan Trump menggunakan sebagai program  yang dia targetkan. Sementara itu, beberapa aktivis sayap kanan, termasuk komentator konservatif Ann Coulter, menuding Trump telah menawarkan “amnesti.”

“Tidak, Amnesty bukan bagian dari tawaran saya,” tulis Trump, Minggu, sebagai tanggapan atas perkembangan itu. Menurutnya,  dia menawarkan perlindungan sementara untuk imigran yang bersangkutan.  “Amnesti hanya akan digunakan pada kesepakatan yang jauh lebih besar, baik untuk imigrasi atau hal lain,” tandasnya.***