Soultan Saladin: Kongres Parfi di Maharaja Cacat Hukum

JAYAKARTA NEWS— Saladin Syah alias Soultan Saladin, 70 tahun, Pj Ketum Parfi hasil Kongres Parfi di Lombok, 2016 melontarkan kritik keras terhadap hasil Kongres Parfi di Hotel Maharaja, Jakarta, 10 Maret 2020 cacat hukum, tak legitimasi dan tak penuhi aturan. “Karena belum penuhi syarat, hasilnya enggak sah,” kata Soultan kepada penulis.

Hasil Kongres Parfi di Hotel Maharaja, Jakarta menghasilkan kandidat Alicia Djohar sebagai Ketum Parfi terpilih periode 2020-2025. Soultan sebagai pejabat mandataris Ketum Parfi yang menggantikan Aa Gatot Brajamusti (diciduk polisi karena kedapatan mengadakan pesta narkoba di kamar hotelnya di Mataram) merasa diberi wewenang penuh untuk ‘menyelamatkan’ Parfi.

“Siapapun yang terpilih, enggak masalah. Tapi Kongresnya harus dengan tata cara yang baik dan benar,” ungkap Soultan yang mengawali debutnya sebagai pemeran pembantu di film ‘Pengantin Remaja’ tahun 1971.

Soultan yang mengaku sebagai aktor senior selama ini cukup mengalah. “Saya sudah sepuh dan lelah mengurus hal-hal begini. Tapi jiwa saya memberontak, ini kurang pas dan terlalu gegabah. Setiap Kongres ada aturannya. Dalam sisa kehidupan saya, saya akan memperjuangkan organisasi profesi artis tertua Parfi yang diwariskan pendahulu pelaku seni film,” imbuh Soultan.

Dengan kata lain, Parfi itu bukan organisasi sembarangan dan ada aturan-aturannya, ada AD dan ARTnya. “Saya ngomong begini karena saya cinta Parfi. Syukur-syukur dalam Kongres Parfi yang akan kami gelar di tahun 2021 bisa terpilih Ketum dari artis milenial dan pintar mengelola organisasi,” lanjut Soultan yang menambahkan tak berseberangan dengan kubu Alicia Djohar, asal mereka mengikuti aturan main.

Sedangkan Sekjen Parfi yang baru diangkat, M Firdaus Oiwobo, SH merasa prihatin melihat kekisruhan yang melanda Parfi belakangan ini. “Ini ironis, penuh kontroversi. Enggak semulus cerita dalam film-filmnya,” keluh Firdaus. Makanya, Firdaus terpanggil untuk membenahi Parfi. “Saya enggak berharap banyak. Doa saya, semoga Parfi bisa lebih maju lagi,” ucapnya.

Sebagai seorang sarjana hukum, Firdaus melihat Parfi saat ini sudah terbelah jadi dua kubu. “Secara perdata, Alicia Djohar sudah mengingkari aturan yang ada di Parfi, padahal kepengurusannya belum dilantik,” imbuhnya.

Bagaimana agar Parfi kompak menjadi satu ? “Turunkan ego masing-masing antar-kubu. Biarkanlah pemerintah yang putuskan, mana Pengurus Parfi yang legal dan yang ilegal. Kami bersama bang Soultan akan berkirim nota berisi opsi keberatan kepada pemerintah c q Kementerian Hukum dan HAM,” tandas Firdaus tegas.

Alhasil, baik Soultan maupun Firdaus ingin agar keributan yang melanda Parfi bisa diselesaikan secara hukum. Dan semoga tak ada lagi Parfi tandingan, Parfi liar atau Parfi yang tak terlegitimasi. (pik)

PARFI Pecah (Lagi), Kantor Parfi Dikunci

JAYAKARTA NEWS—Bukan Persatuan Artis Film (Parfi) namanya, kalau tidak pecah. Ribut dan ribut lagi. Sejak Ratno Timur mengetuai PB Parfi 3 periode, selalu terjadi keributan. Saat itu terjadi kepengurusan kembar, Ratno Timur di satu kubu dan Dicky Zulkarnain di kubu lain.

Di era Sys NS, ribut juga dan diajukan ke pengadilan. Juga di era Eva Rosdiana Dewi dan Jenny Rachman, terjadi saling gugat. Kemudian, terpilih Aa Gatot Brajamusti sebagai Ketum Parfi, ribut lagi. Malah Gatot dicokok polisi karena pengguna narkoba sewaktu Kongres Parfi di Lombok, 2016.

Setelah lama vakum, digelar Kongres Parfi ke-16 di Hotel Maharaja, Jakarta, awal Maret 2020 lalu. Terpilihlah Alicia Djohar sebagai Ketum Parfi. Baru beberapa minggu terbentuk kepengurusan Parfi untuk 5 tahun mendatang, Sekjen Parfi Mutiara Sani dan tiga pengurus Parfi lain mundur.

Kini, Parfi digoyang lagi dan kembali ke titik nol. Soultan Saladin, yang mengaku sebagai Ketum Parfi dalam Kongres Parfi di Lombok 2016, menantang Alicia Djohar untuk bersama membentuk Sekber Parfi. “Saya membawa mandat dari Aa Gatot sebagai Ketum Parfi yang sah. Dan kepengurusan Parfi saya sudah disahkan oleh Menkumham, Yasonna Laoly.
Okelah, kalau Alicia Djohar mengaku Ketum Parfi hasil Kongres 2020 di Jakarta. Ayo kita bersatu dan lupakan perbedaan untuk membentuk Sekber Parfi,” ujar Soultan kepada penulis.

Namun, upayanya ini ditolak dan menemui jalan buntu. Ketika bersama Sandec Sahetapy, Salmar Koto dan Mack Prabu akan ke Sekretariat Parfi di lantai 4 Gedung PPHUI, Kuningan, kantor Parfi tutup. Semua kepengurusan Parfi versi Alicia Djohar tidak ada yang datang.

“Saya datang baik-baik, guna bersilaturahmi. Bukan sebagai tamu,” timpal Soultan. “Kami berempat enggak akan mengganggu. Tapi responsnya negatif. Kantor Parfi ditutup,” imbuh Soultan kecewa.

Sandec Sahetapy yang loyal memfasilitasi dan mendanai Kongres Parfi 2020 juga heran dengan sikap Alicia Djohar dan pengurus lain. “Soal Parfi belum selesai. Ayo kita maju dan menjadi pengurus yang lebik baik,” papar Sandec sembari menambahkan, kepengurusan Parfi versi Alicia Djohar belum ada pelantikan.

Dari kubu Alicia Djohar tampil Evry Joe selaku Ketua Humas Parfi. “Enggak ada aturan dan AD/ARTnya tentang pembentukan Sekber Parfi. Dan pembentukan Sekber Parfi itu melanggar konstitusi Parfi,” kelit Evry Joe.

Alhasil, sudah beberapa hari ini, aparat polisi dari sektor Setiabudi, Kuningan tampak berjaga-jaga sekitar Gedung PPHUI. Sampai tulisan ini diturunkan, belum ada tanggapan dari kubu Parfi 56 pimpinan Marcella Zalianty yang anggotanya mayoritas artis-artis muda. Memang, keputusan Kongres di tangan anggota. Quo vadis, Parfi! (pik)