Pakubuwono XIV Gelar Buka Puasa Bersama di Sasana Narendra

JAYAKARTA NEWS— Suasana khidmat menyelimuti Sasana Narendra, Keraton Surakarta Hadiningrat, Sabtu (21/2) sore. Pakubuwono XIV menggelar acara buka puasa bersama yang dihadiri jajaran pimpinan dan abdi dalem Keraton.

Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WIB tersebut dihadiri para kepala lembaga keraton beserta staf, para bangsawan yang menjabat di struktur keraton, anggota keluarga keraton, para pimpinan wilayah, serta para abdi dalem, termasuk abdi dalem ulama.

Acara diawali dengan pertemuan resmi dan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Suasana kekeluargaan terasa hangat, mencerminkan kebersamaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi yang tetap dijaga di lingkungan Keraton.

Turut hadir jajaran Paguyuban Mataram Binangun Nuswantoro (PMBN), yakni Pembina PMBN Panembahan Kanjeng Gusti Dipokusumo, Ketua Umum PMBN KRAy Febri Haryu Apsari Dipokusumo, Wakil Ketua Umum PMBN KMAy Sri Rachmawati Condroningrum, serta Pengawas PMBN KRMP Sunardi SK, S.E., M.M.

Kehadiran unsur PMBN tersebut menambah semarak suasana kebersamaan, sekaligus memperkuat sinergi antara elemen keraton dan paguyuban dalam menjaga nilai-nilai budaya Mataram.

Buka puasa bersama ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi antar unsur di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Melalui kegiatan tersebut, Keraton menegaskan komitmennya untuk terus menjaga warisan budaya dan tata nilai luhur di tengah perkembangan zaman, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dan penghormatan terhadap adat istiadat. (*)

Pengalaman Mengikuti Kirab Pusaka Dalem di Puro Mangkunegaran Solo

Catatan S. Resti Handini

JAYAKARTA NEWS – Bukan hal biasa dan mudah bagi kebanyakan orang untuk berjalan beriringan di malam hari. Apalagi menggunakan kain jarik lengkap dengan kebaya dan dandanan rambut dikonde.

Itulah salah satu tradisi kirab yang sudah ratusan tahun berlangsung di Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran, Solo. Tidak kurang dati 2.000 peserta Kirab Pusaka yang berlangsung tanggal 7 Juli 2024.

Kirab diadakan dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah. Bagi sebagian masyarakat Jawa di Indonesia, malam 1 Suro merupakan malam sakral. Bulan Suro memiliki makna khusus yang biasa disambut dengan berbagai tradisi dan adat istiadat.

Kirab Pusaka Dalem adalah salah satu tradisi yang melekat dalam budaya Jawa. Puro Mangkunegaran sebagai salah satu pewaris tradisi ini menjaga dan mempertahankan ritual ini dengan penuh pengabdian, kekhusukan, keikhlasan dan kecintaan.

Air bunga mawar untuk ‘jamasan’ pusaka keraton. (foto: dok MN)

Jamasan

Kirab Pusaka Dalem (KPD) dimulai dari Pura Mangkunegaran. Sebelumnya didahului dengan ritual khusus berupa ngumbah atau jamasan. Sebuah ritual memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara pusaka keraton. Beberapa jenis pusaka yang dijamas antara lain keris dan tombak.

Air yang digunakan pun ditaburi bunga setaman, bunga mawar. Usai jamasan, sisa air dan helai bunga mawar itu pun menjadi rayahan masyarakat yang sudah lama menunggu.

Dalam kesempatan itu, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegaran X, atau Gusti Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo menyampaikan, bahwa kirap pusaka ini merupakan momen mawas diri, merefleksi diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan YME.

Diutarakan pula bahwa rute kirab tahun ini lebih jauh, diperpanjang sampai ke Jalan Selamat Riyadi. Tahun lalu hanya mengitari Kompleks Pura Mangkunegaran.

Acara kirab dimulai pukul 19.30. Diawali dengan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA), Mangkunegara X, keluar menuju Pura Mangkunegaran. Gusti Bhre demikian biasa dipanggil, melepas  rombongan kirab yang dipimpin  kakaknya, GPH Paundrakarna Sudjiwo, sebagai Cucuk Lampah. Diikuti GPH Roy Rahajasa Yamin dan sepupu lainnya.

Peserta Kirab Pusaka Dalem. (foto: dok MN)

Larangan Selfie

Di belakang mereka, mengikuti keluarga Mangkunegara, abdi dalem, kerabat serta para undangan. Semua peserta Kirab Pusaka berjalan sangat tertib dan sangat khusuk. Siapa pun yang mengikuti kirab ini dilarang berswafoto atau selfie. Selain itu peserta harus melakukan “tapa bisu”.

Mereka yang terlihat berselfie atau berbicara, langsung dikeluarkan dari barisan, dipindah ke barisan paling belakang rombongan kirab.

Adapun rute Kirab Pusaka Dalem dimulai dari Pendopo Agung Puro Mangkunegaran mengelilingi beberapa jalan besar disekitar PM melewati Jalan Ronggowarsito, jalan Kartini,  jalan RM Said, Jalan Teuku Umar dan beberapa jalan lainnya, sebelum akhirnya kembali ke Pura Mangkunegaran.

Sebagai tamu undangan yang baru pertama kali mengikuti kirab ini, tentu merasakan pengalaman unik mengikuti barisan. Ada perasaan bangga sekaligus haru  berada di dalam iring-iringan malam hari menggunakan jarik Jawa klasik dengan kebaya warna hitam, tanpa alas kaki.

Di kanan kiri jalan yang dilalui peserta kirab, masyarakat tua muda, anak-anak berdiri menyaksikan iring iringan peserta kirab. Panjang rute kireb sekitar 3 kilometer.

Sebuah perjalanan yang lumayan panjang. Meski begitu, di akhir perjalanan kirab kami tidak merasakan lelah. Demikian para peserta yang lain. Itu tampak dari wajah para peserta. Justru keantusiasan peserta yang terpapar di wajah-wajah yang terlihat puas dan bangga.

Usai perjalanan tapa bisu itu, para peserta kirab kembali ke tempat duduk semula, istirahat sambil menyaksikan kegiatan lanjutnya di Pendopo Agung.

Kaesang Pangarep dan Irina Gudono, turut Kirab Pusaka di Solo. (foto: dok MN)

Ada Kaesang Pangarep

Sementara KGPAA Bhre Sujiwo membagi-bagikan berkah berupa helaian bunga mawar dengan pin PM. Semuanya dikemas dalam plastik mungil transparan.

Pada acara yang berakhir dini hari itu tampak hadir putera bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep bersama istrinya Erina Gudono, yang ternyata juga mengikuti kirab. Selain itu hadir pula Wakil Walikota Solo, Teguh Prakosa. Politikus PDIP Ario Bima, Puteri Ketua DPR Puan Maharani, Pinka Hapsari. Juga para pengusaha seperti Dewi Motik, Danarsih Danar Hadi, Riana Kusuma dll.

Usai acara resmi kirab Pusaka selesai semua peserta kirab disuguhi teh hangat dan makan malam berupa Sego liwet lengkap. Tentu saja semuanya menikmati dengan lahapnya.

Usai menyantap suguhan nikmat itu mulai tampak tamu dan kerabat berfoto bersama dan swafoto di berbagai sudut Pura Mangkunegarañ. Tampak sebagian tamu dan peserta mulai meninggalkan area. (*)

Kerabat dan undangan dari Jakarta acara Kirab, di Solo. (foto: dok MN)

*) Penulis adalah jurnalis senior Jayakarta News

GALLERY FOTO KIRAB PUSAKA DALEM

KGPAA Mangkunegara X bersama kerabat. (dok MN)
Danarti Danar Hadi (kanan). (foto: dok MN)
Bapak dan ibu Dorodadi (tengah), sesepuh dari Trah MN IV bersama kerabat dr Jakarta. (foto: nin)
Nasi liwet, hidangan usai Kirab. (foto: nin)

Ngobrol dengan orang Singapura yang dapat gelar Kanjeng Ayu Adipati

SIAPA yang tidak ingin menjadi seorang puteri? Mungkin, itu impian setiap gadis kecil, tumbuh dewasa.

Meghan Markle,  wanita Amerika tanpa garis keturunan bangsawan, menjadi bangsawan – dan kisah dongeng itu menjadi kenyataan telah memikat dunia sejak berita tentang pacarnya Pangeran Harry mengemuka di publik.

Tidak setiap hari kita mendengar cerita seperti itu dan menemukan putri-putri di kehidupan nyata. Tapi tahukah Anda bahwa  ada satu putri di  Singapura.

Menjumpai  Matilda Chong. Seorang wanita pebisnis, lahir dan dibesarkan di Singapura, yang menjadi seorang putri di istana kerajaan di Solo pada awal April lalu.

Kerajaan Surakarta Hadiningrat  memberinya gelar putri, bersama 84 orang lainnya dari berbagai belahan dunia, yang juga diberi status ningrat oleh kerajaan Solo.

Antara menyulap kehidupan pekerjaan dan tugas-tugas kerajaannya, pria berusia 39 tahun itu juga mengabdikan dirinya untuk orang-orang yang dicintainya – khususnya, putra dan mitranya, yang ia kaitkan sebagai “pilar dukungan emosional” -nya.

Kami berbicara dengan Matilda secara mendalam untuk mencari tahu tentang kehidupan barunya sebagai seorang putri dengan gelar Kanjeng Ayu Adhipati.

Beritahu kami tentang pekerjaanmu…..

Saya direktur eksekutif grup Lions of Asia – kami adalah perusahaan global. Saat ini, saya menjadi ujung tombak salah satu anak perusahaan kami, Luke Alexander. Dari proyek real estat hingga proyek perluasan bandara dan bahkan proyek penambangan batubara, kami adalah salah satu pemimpin dalam bisnis penindasan api, dengan pesaing seperti 3M dan Dupont.

Ini bisnis keluarga. Saya memulai saat saya lulus dari sekolah bisnis – saya bekerja untuk ayah saya pada usia 21 tahun. Saya mulai dari bawah, duduk di bilik kecil sebagai “eksekutif pemasaran”.

Ceritakan lebih banyak tentang bagaimana Anda diberi gelar ‘Putri’; bagaimana itu bisa terjadi?

Ayah saya, Pak William Marie Chong, adalah pendiri Lions of Asia Group dan dia menerima gelarnya sebagai Kanjeng Mas Adipati (grand prince) sekitar dua tahun yang lalu, dan saya telah menghadiri upacara saat itu. Sebagai peserta aktif dari semua proyek bisnis (di bawah kelompok Lions Asia) yang membantu meningkatkan ekonomi Indonesia, saya mulai bekerja erat dengan keluarga kerajaan. Akhirnya saya diberi gelar sebagai pengakuan atas kontribusi saya (kepada negara).

Seperti apa upacara penobatan itu?

Ada banyak kereta kuda, dan semua orang harus mengenakan kebaya tradisional. Orang-orang dari seluruh dunia datang untuk upacara dua hari. Itu sangat megah, mewah dan tradisional – sesuai dengan esensi dari kota Solo yang kaya akan warisan. Selama upacara, mereka bahkan memiliki 17 putri yang melakukan tarian tradisional Jawa. Kami semua bergantian naik ke panggung untuk menerima sertifikat kami, ada kembang api, dan kemudian ada pesta. Itu adalah pengalaman yang unik.

Apakah hidup berubah setelah Anda dianugerahi gelar sebagai seorang putri?

Teman-temanku dengan bercanda menggoda saya di sana-sini. Tapi itu saja. Ini masih seperti biasa.

Apakah Anda memiliki tanggung jawab sebagai seorang putri?

Sebagai bagian dari tanggung jawab saya sebagai seorang puteri, saya ditugaskan untuk menjadi ujung tombak beberapa proyek di bawah perusahaan saya di Solo, Indonesia untuk memastikan mereka sukses. Kami bukan bagian dari partai politik dan kami harus tetap netral secara politik.

Gambar juga penting. Kami berbicara tentang kerajaan yang benar-benar konservatif dan terhormat, jadi saya diharapkan untuk berperilaku dengan cara yang bereputasi baik dan sopan.

Kami mengerti Anda orang Singapura. Bisakah setiap warga Singapura menjadi bangsawan di Keraton Surakarta?

Tidak, bukan sembarang orang Singapura. Anda harus diakui oleh keluarga kerajaan di Jawa. Mereka harus mengenal Anda dan mereka harus mengenal Anda dengan sangat baik. Ada tanggung jawab lain juga; Anda harus memberikan kontribusi positif (ekonomis atau sosial) ke negara itu juga.

Apa pendapat Anda tentang Meghan Markle; setiap pemikiran tentang pernikahan kerajaan?

Saya pikir dia adalah wanita yang kuat. Ada banyak panas yang mengelilingi orang-orang yang menikah dengan keluarga kerajaan. Ada banyak sorotan dan liputan media negatif terhadap ayahnya sebelum pernikahan – dia harus sangat kuat untuk menjalani pernikahan meskipun semua tekanan itu terjadi. Saya menghormatinya untuk itu.

Putri Diana, kembali ketika dia masih hidup, adalah simbol pemberdayaan perempuan. Mudah-mudahan, Meghan Markle juga sama berdampak dan mengilhami ketika saya berpikir bahwa penting bagi kita untuk memiliki lebih banyak wanita dan simbol kekuatan wanita di dunia saat ini.

Sedangkan untuk pernikahan, saya pikir itu adalah urusan yang glamor. Ada orang-orang yang menyinggung tentang gaunnya, tapi saya pikir itu gaun yang indah.

 

Bagaimana dengan kehidupan cinta pribadi Anda sendiri? Apakah Anda akan memiliki pernikahan kerajaan jika Anda menikah?

Saya saat ini berkencan dengan seorang bankir, dia setahun lebih tua dari saya; Saya 39 tahun dan dia 40 tahun. Kami berdua bercerai dengan anak-anak dari pernikahan kami sebelumnya. Ini berjalan sangat baik, kami saling melengkapi, dan waktunya sangat bagus. Dia memainkan peran yang sangat integral dalam hidup saya, dan dia selalu mendukung saya terutama ketika stres menguasai saya.

Saya saat ini berkencan dengan seorang bankir, dia setahun lebih tua dari saya; Saya 39 tahun dan dia 40 tahun. Kami berdua bercerai dengan anak-anak dari pernikahan kami sebelumnya. Ini berjalan sangat baik, kami saling melengkapi, dan waktunya sangat bagus. Dia memainkan peran yang sangat integral dalam hidup saya, dan dia selalu mendukung saya terutama ketika stres menguasai saya.

Jika saya menikah suatu hari, pasangan saya dan saya harus pergi ke Raja (di Solo) dan meminta persetujuannya sebelumnya sebagai bagian dari tradisi. Kami harus memiliki pernikahan kerajaan tradisional di Indonesia, dan suami saya kemudian akan diberi gelar “Pangeran”.

Apa satu hal yang kau jalani?

Anda menjalani hidup Anda untuk diri sendiri, dan bukan untuk dilihat orang lain. Saya mencoba untuk tetap setia pada diri saya sendiri dan saya tidak peduli untuk mengesankan orang lain.***

 

Sumber: Her World