Ibnu Jamil – Puasa Yes, Olahraga Yes

JAYAKARTA NEWS – Aktor  film dan presenter Ibnu Jamil (37 tahun) selalu menekankan kiat bahwa olahraga harus dijalani seimbang dengan aktifitas sehari-hari. Meski bulan puasa Ramadan sekalipun, olahraga wajib dilakukan, tapi jam dan durasinya dikurangi.

“Kalau bisa, satu jam setelah imsak lakukan olahraga fisik ringan dan satu jam jogging atau renang setelah berbuka puasa,” ujar Ibnu Jamil dalam acara talkshow bertajuk ‘Keeping Shape in Healthy Way’ di Plaza Indonesia, baru-baru ini.

Tampak sekali kebugaran tubuh dan kekenyalan otot-otot badannya yang memancar dalam diri Ibnu Jamil.

Bintang berlesung pipi yang kini berstatus duda ini hampir setiap hari berolahraga lari dan mengangkat barbel. Push up dan sit up dilakukan tanpa henti. “Kalau normal, bisa mencapai 40 kali. Kalau berpuasa, cukup 15 ka;i,” kata Ibnu Jamil. “Kecuali saya sedang sibuk syuting film atau sinetron, cukup lari-lari ditempat saja,” imbuhnya.

Alhasil, pelakon webseries ‘Yakin Nikah’ – kini memasuki session 2 -, ini berhasil menurunkan berat badannya sampai 15 kg.

“Namun, hal ini rajin dilakukan tiap hari agar badan menjadi sit pack dan ideal. Dan yang terpenting, asupan makanan dan minuman juga harus dijaga. Hindari makan junk food dan yang mengandung banyak kolesterol. Tiap hari sebelum menyantap makanan berat, makan kurma lebih dahulu. Jumlahnya ganjil, 3 biji kurma. Ini mematuhi Sunah Nabi,” ungkap Ibnu Jamil.   

“Sering saya telat bangun, sudah lewat imsak..jangankan makan sayur, makan (sahur) saja enggak.. ” canda Ibnu Jamil.

Pemain film anak-anak ‘Kulari ke Pantai’ dan ‘Bi’dah Cinta’ ini sejak hidup menduda lebih banyak memesan katering untuk menu berbuka dan sahur. “Menu favorit saya lontong oncom. Dulu isteri saya, Ade Maya selalu membuatkan menu ini,” lanjutnya.

“Ini lebih praktis. Kecuali kalau saya lagi fokus kerja di lokasi sampai pagi hari, sahur saya lakukan di tempat syuting, apalagi lokasinya di luar kota,” kata ayah satu anak ini.

Apakah Anda pernah sakit atau mengalami kecelakaan selama syuting ?

“Alhamdullilah, sampai hari ini, enggak pernah. Saya selalu berdoa semoga pekerjaan yang saya lakukan berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi orang lain. Saya enggak pernah neko-neko, harus disiplin bekerja. Mungkin juga ini karena dampak saya aktif berolahraga,” jawab Ibnu Jamil yang bermain cemerlang di film ‘Assalammualaikum Beijing’ bersama Refalina S Temat dan Morgan Oey.

Walau jarang mendapatkan peran utama, namun hampir tiap tahun, selalu ada saja job main film dan sinetron.

“Buat saya, peran besar maupun peran kecil sama saja…saya harus bisa punya arti berperan sebagai si tokoh yang saya perankan…kan yang berbeda cuma honornya, hehehe…,” papar Ibnu Jamil tertawa.

Inilah beberapa filmografi yang Ibnu Jamil bermain, diantaranya ‘One Fine Day’, ‘Kalam Kalam Langit’, ‘Jendral Soedirman’,,’Guru Bangsa Tjokroaminoto’, ‘Cintaku Terancam Drop Out’ (sinetron) dan ‘Keluarga Kambing’ (sinetron) dll.

Kapan menikah lagi agar di bulan puasa Ramadan tahun depan ada yang memasakkan makanan lontong oncom buat sahur dan berbuka puasa ?

“Nantilah, saat ini, saya lagi fokus kerja..,” tukas Ibnu Jamil yang pernah menyabet penghargaan sebagai presenter olahraga terbaik dalam Panasonic Gobel Award beberapa tahun silam. 

Ketika di acara talkshow,  Rudi Jamil didaulat pemandu melakukan stair up, dimana kedua tangannya bertelekan pada tangga ke atas. “Yah… aya-aya wae… ini karena lagi puasa, cuma dua kali saja stair up. Untuk contoh saja…,” sahut Ibnu Jamil ngakak. Tampak kedua lesung pipinya  mencuat manis.[pik]

Boleh Makan Sahur Setelah Imsak

(www.plukme.com)

Oleh Moh. Mahfud MD

KETIKA saya masih kuliah dulu, teman sekamar kos saya di Yogyakarta yang kini menjadi Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Akhmad Minhaji Moekti, mengambil sikap berbeda dari orang-orang lain dalam hal makan sahur saat berpuasa.

Kalau orang-orang lain segera berhenti makan sahur begitu mendengar sirene atau beduk atau pemberitahuan masuknya waktu Imsak, teman saya ini justru segera memulai makan sahur begitu mendengar seruan imsak. Begitu ada seruan ”Imsaak, qad aana waktul imsaak” (imsak, kini sudah masuk waktu imsak), Minhaji ini langsung makan sahur dan baru berhenti kalau sudah berkumandang azan subuh.

Kalau sudah melewati separuh bulan Ramadan biasanya sejak pukul 2.30 dini hari Minhaji sudah berada di Masjid Almustaqiem untuk melanjutkan salat malam atau membaca Quran, tapi begitu ada seruan imsak dia segera pulang dulu untuk makan sahur.

Teman-teman pada berteriak, ”Eh, Min, ini sudah imsak, kok, masih makan?” Dia enteng menjawab, ”Mengapa? Kan, belum azan subuh?” Bagi banyak orang sikap dan jawaban Minhaji ini aneh, sebab biasanya begitu mendengar tanda imsak orang yang berpuasa segera berhenti makan.

Banyak orang tua langsung meminta anak-anaknya berhenti makan begitu mendengar tanda imsak, tak peduli makannya baru mulai atau sudah lama. ”Ini sudah imsak, berhenti makan minum, puasa dimulai,” kata mereka. Sebenarnya dari sudut fikih, apa yang dilakukan Minhaji itulah yang benar. Di dalam ibadah puasa yang dituntunkan oleh Rasulullah tidak dikenal adanya imsak seperti yang kita kenal di Indonesia.

Malah ada anjuran untuk mempercepat berbuka begitu berkumandang azan magrib dan memperlambat waktu sahur sampai berkumandang azan subuh. Maksudnya biar orang berpuasa tak terlalu lama menahan lapar dan haus. Baik menurut kitab suci Alquran maupun yang dipraktikkan oleh Rasulullah waktu dimulainya berpuasasetiaphari adalah saat masuk waktu subuh, bukan saat dibunyikan sirene atau dikumandangkan seruan imsak.

Di dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 187 difirmankan, ”…. dan makan dan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam (yang menunjukkan terbitnya) fajar.” Ayat ini sudah menegaskan bahwa kita boleh makan dan minum sampai terbitnya fajar, yakni sampai masuk waktu untuk salat subuh. Terbitnya fajar itu menandai masuknya waktu subuh. Praktik Rasulullah pun dalam melaksanakan ibadah puasa seperti itu.

Di dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Hakim yang ditashih (dinyatakan sahih) oleh Adzdzahaby disebutkan bahwa Nabi bersabda, ”Jika salah seorang dari kamu mendengar azan sedangkan ia masih memegang piring (sedang makan sahur), maka janganlah ia meletakkan piring itu hingga selesai makan.”

Jadi, mendengar azan subuh pun orang yang berpuasa tak harus langsung berhenti makan dan minum, melainkan harus menyelesaikannya dengan tertib dan tenang, tak usah dilakukan terburu-buru seperti dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan.

Dalam hadis lain yang oleh Syekh Al-Abany dinyatakan sebagai hadis hasan, Ibnu Umar meriwayatkan bahwa pada suatu hari saat sahabat Alqamah ibn Alaatsah makan sahur bersama Rasulullah, datang Bilal yang akan mengumandangkan azan subuh, tetapi Nabi meminta Bilal untuk menunda azan sebentar dengan sabdanya, ”Wahai Bilal, tunggu sebentar azannya, Alqamah sedang makan sahur.”

Nash-nash tersebut menunjukkan bahwa melaksanakan ibadah puasa itu yang wajar-wajar saja. Berbuka puasa, ya, harus disegerakan begitu terdengar azan magrib, tak usah sok kuat menunda berbuka sampai isya. Yang penting kalau tinggal di Jakarta, ya, mengikuti waktu azan Jakarta, bukan mengikuti azan magrib Makassar.

Bersahur pun, ya, dianjurkan agar diakhirkan sampai masuk waktu (azan) subuh, tak usah terlalu takut batal sehingga terburu-buru mengakhiri makan dan minum padahal belum fajar, apalagi mengopyak-opyak anak-anak yang masih enak-enak menikmati makan sahur. Bagi yang pernah berpuasa Ramadan di Tanah Suci Mekkah dan Madinah, misalnya, pasti tahu bahwa di sana tidak ada titik waktu imsak yang terlepas dari azan subuh.

Di Mekkah dan Madinah, waktu imsak dalam arti menahan dan menghentikan makan dan minum, ya, berhimpit dengan saat azan subuh. Bahkan banyak terlihat di Masjidil haram orang yang segera mulai makan lagi begitu berkumandang azan subuh sebagai makanan terakhir penutup sahur. Penentuan imsak (mulai menahan) 10 menit sebelum azan subuh tampaknya hanya kreasi kaum muslimin di kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia.

Itu tentu baik saja sebagai informasi bahwa waktu bersahur tersisa 10 menit lagi sehingga orang-orang yang belum selesai makan sahur dapat segera menyesuaikan diri. Tapi jangan dihukumkan bahwa imsak adalah titik waktu harus berhentinya makan dan minum.

Pada saat masuk waktu subuh itulah kita mulai berhenti makan dengan tenang dan mengakhiri dengan menyikat gigi untuk mulai berpuasa. Jadi tenang-tenang saja, tak usah tergopoh-gopoh, apalagi sambil panik berkejaran dengan bunyi beduk, sirene, atau suara azan.

Beribadah dalam Islam itu enak kok, tak memberatkan kita. Islam itu memberi ruang luas bagi kita untuk hidup dan beribadah dengan enak, tetapi bukan seenaknya.

Moh Mahfud MD

Guru Besar Hukum Konstitusi

(Koran SINDO, Sabtu, 27 Juni 2015)