Hati-hati, Gunung Tangkuban Perahu Erupsi Lagi Kini Level Waspada

Ilustrasi–Erupsi Gunung Tangkuban Perahu–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terhitung Jumat (2/8) pukul 08.00 WIB menaikkan status Gunung Tangkuban Parahu yang berlokasi di wilayah  Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar) dari dari Level 1 (Normal) menjadi Level II (Waspada).

“Masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan pengunjung/wisatawan/pendaki, (diimbau) tidak mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 Km dari kawah aktif,” kata Kepala PVMBG, Kasbani dalam konferensi pers di kantor PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/8) pagi.

Status waspada diberikan menyusul terjadinya erupsi dua kali berturut-turut setelah erupsi yang terakhir terjadi pada Jumat (26/7) lalu. Kasbani menjelaskan, Gunung Tangkupan Parahu kembali erupsi pada Kamis (1/8) pukul 20:46 WIB dan pada Jumat (1/8) pukul 00:43 WIB, dan Jumat (2/8) pukul 00:43 WIB.

Kepala PVMBG Kasbani memberi penjelasan pada pers, Jumat (2/8/2019)–foto kementerian ESDM

“Aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu saat ini masih berada dalam kondisi yang belum stabil dan aktivitas serta potensi erupsi dapat berubah sewaktu-waktu,” jelas Kasbani.

Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM itu menyebutkan, ancaman bahaya yang terjadi saat ini berupa hujan abu serta hembusan gas vulkanik dengan konsentrasi berfluktuasi di sekitar Kawah Ratu yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa pengunjung, pedagang, masyarakat sekitar, bila kecenderungan konsentrasi gas-gas vulkanik tinggi.

“Erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah berpotensi terjadi tanpa ada gejala vulkanik yang jelas,” ungkap Kasbani.

Hasil pemantauan PVMBG secara visual, menurut Kasbani, menunjukkan bahwa aktivitas permukaan paska erupsi yang terjadi pada tanggal 26 Juli 2019 masih didominasi oleh hembusan asap dari kawah utama (Kawah Ratu) dengan ketinggian sekitar 20 – 200 meter dari dasar kawah, bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga tebal.

Secara seismik, lanjut Kasbani, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih didominasi oleh gempa-gempa yang mencerminkan aktivitas di kedalaman dangkal berupa Gempa Hembusan. Setelah erupsi terjadi, rekaman seismik didominasi oleh gempa Hembusan dan Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-31 mm (dominan 0.5-20 mm).

“Terekamnya Tremor ini berkaitan dengan pelepasan tekanan berupa hembusan-hembusan yang terjadi sampai saat ini diikuti oleh rangkain erupsi tanggal 1 dan 2 Agustus 2019,” ujar Kasbani.

Waspadai Letusan Freatik

Selain mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 1,5 Km dari kawah aktif, Kepala PVMBG Kasbani dalam konferensi pers itu juga meminta masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas.

Selain itu, Kasbani meminta masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu untuk tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan, dan tetap memperhatikan perkembangan kegiatan Gunung Tangkuban Parahu dan mengikuti arahan yang dikeluarkan oleh BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat.

“Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Provinsi Jabar) dan BPBD Kabupaten Bandung Barat serta BPBD Kabupaten Subang,” pungkas Kasbani.***/setkab/ebn

BNPB Ingatkan Masyarakat Waspadai Adanya Letusan Tiba-tiba tanpa Didahului Gejala Vulkanik

Foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Badan Nasional Penangulangan Bencana meminta masyarakat sekitar Gunung Tangkuban Perahu, pedagang, wisatawan, pendaki maupun pengelola wisata di sekitar Gunung Tangkuban Perahu meningkatkan kewaspadaannya terkait terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba tanpa didahului gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Selain itu, masyarakat juga dilarang menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks gunung Tangkuban Perahu. Dikarenakan terdapat gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Saat ini, demikian dilansir dari twitter BNPB,  Gunung Tangkuban Parahu berada pada Status Level I (Normal) dengan rekomendasi Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan turun mendekati dasar kawah Ratu dan Kawah Upas.

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm dan durasi ± 5 menit 30 detik.

Sebagaimana diketahui, telah terjadi erupsi G. Tangkuban Parahu, Jawa Barat pada tanggal 26 Juli 2019 pukul 15:48 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2.284 m di atas permukaan laut). ***/ebn