Krisis Kepercayaan FIFA Makin Panas, DBU Desak Pergantian Presiden

JAYAKARTA NEWS— Asosiasi Sepak Bola Denmark (DBU) kembali melancarkan kritik terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Kali ini, DBU menuding Komite Hukum FIFA menghindari sejumlah pertanyaan penting mengenai rencana kontroversial yang sebelumnya diajukan Infantino.

Presiden DBU Jesper Moller mengaku kecewa setelah isu FIFA Forward Enterprise, yang kini telah dibatalkan, tidak masuk dalam agenda rapat Komite Hukum FIFA.

Padahal, menurut Moller, forum tersebut semestinya menjadi tempat untuk membahas persoalan hukum terkait FIFA, termasuk kontroversi seputar rencana penjualan hak komersial turnamen FIFA.

“Saya secara alami menggunakan pertemuan itu untuk mengajukan sejumlah pertanyaan kritis mengenai proses tersebut, yang hingga kini masih saya anggap sangat bermasalah,” kata Moller dalam pernyataannya.

Moller juga mempertanyakan alasan FIFA tidak membahas FIFA Forward Enterprise dalam rapat Komite Hukum.

“Saya terkejut bahwa FIFA Forward Enterprise tidak dibahas oleh Komite Hukum, karena justru badan inilah yang seharusnya dimintai pendapat mengenai persoalan hukum yang menyangkut FIFA,” ujarnya.

Menurut Moller, upayanya mendapatkan jawaban dari FIFA tidak membuahkan hasil. FIFA disebut memilih menunggu pembahasan dalam rapat Dewan FIFA yang dijadwalkan pada Oktober.

“Sayangnya, tidak mungkin mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut karena FIFA ingin menunggu pembahasan dalam rapat Dewan FIFA pada Oktober,” katanya.

Moller menilai situasi tersebut seharusnya menjadi kesempatan bagi pimpinan FIFA untuk menjelaskan persoalan yang dipermasalahkan.

“Ini jelas merupakan kesempatan yang baik bagi pimpinan FIFA untuk memberikan penjelasan.”

Al Jazeera telah menghubungi FIFA untuk meminta tanggapan.

Dewan FIFA memiliki 37 anggota, terdiri atas Presiden Gianni Infantino, delapan wakil presiden, serta 28 anggota lain yang dipilih oleh asosiasi anggota.

DBU memastikan tekanan terhadap FIFA belum akan berhenti.

“Kami akan terus mendesak agar ada jawaban dan saya yakin kami akan mengusut tuntas masalah yang sepenuhnya tidak dapat diterima ini,” kata Moller.

Ia bahkan kembali menyerukan pergantian pucuk pimpinan FIFA.

“Pertemuan tersebut menegaskan bahwa FIFA tidak dapat memulihkan kredibilitasnya di bawah kepemimpinan saat ini. Sudah saatnya ada pergantian presiden di FIFA.”

DBU Ingin Cari Penantang Infantino

DBU sebelumnya telah menyatakan akan mencari kandidat yang dianggap kredibel untuk menantang Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2027.

Sikap tersebut diambil setelah DBU menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino menyusul gagalnya rencana FIFA Forward Enterprise. Proposal tersebut sebelumnya berkaitan dengan penjualan hak komersial turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.

“Saya akan terus bekerja sama erat dengan rekan-rekan dari Eropa untuk mencari kandidat yang mampu meraih dukungan mayoritas. Tidak ada lagi kepercayaan terhadap Infantino maupun kepemimpinan FIFA,” ujar Moller.

FIFA sebelumnya telah meminta maaf kepada asosiasi anggotanya terkait kesalahan dalam proses pengajuan rencana tersebut.

Namun, setelah pertemuan krisis di Maroko, jajaran pimpinan FIFA kembali menegaskan dukungan mereka terhadap Infantino.

Bagi DBU, langkah tersebut belum cukup untuk mengakhiri persoalan.

Federasi sepak bola Denmark itu menilai kontroversi FIFA Forward Enterprise telah memicu “krisis kepercayaan mendasar terhadap kepemimpinan FIFA”.

Menurut DBU, krisis tersebut tidak dapat dipulihkan hanya dengan membatalkan proposal atau menyampaikan permintaan maaf.

Meski ‘Digoyang’ Infantino Berpotensi Menang Lagi!

Di sisi lain, Infantino masih diperkirakan memiliki dukungan suara yang cukup untuk memenangkan pemilihan kembali.

Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa kondisi itu membuat kubu yang menentang Infantino harus mengubah strategi. Mereka disebut perlu berfokus bukan hanya untuk menggagalkan pemilihan kembali Infantino, tetapi juga membatasi kekuasaannya.

Pemilihan Presiden FIFA akan digelar di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027.

Penolakan terhadap Infantino Meluas

Kontroversi terkait rencana Infantino telah memicu reaksi keras dari berbagai konfederasi dan asosiasi sepak bola.

UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), serta CONCACAF termasuk pihak yang menyerukan perubahan di jajaran pimpinan FIFA. Wacana mengenai kemungkinan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Infantino juga ikut mencuat.

Penolakan juga mulai terlihat di tingkat asosiasi nasional Eropa.

Sejumlah federasi telah menarik dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino, termasuk Federasi Sepak Bola Prancis pada Kamis dan Asosiasi Sepak Bola Austria (OFB).

Dewan Pengawas OFB bahkan mengambil keputusan secara bulat untuk tidak mendukung Infantino.

“Dewan Pengawas OFB secara bulat memutuskan untuk tidak mendukung pencalonan kembali Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA,” demikian pernyataan OFB.

Mereka menyebut keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan perkembangan yang terjadi dalam beberapa pekan dan bulan terakhir.

“Keputusan ini didasarkan pada perkembangan situasi dalam beberapa minggu dan bulan terakhir, serta perubahan signifikan pada kondisi dan kerangka kerja yang diakibatkannya.” (Sumber: Al Jazeera, Reuter, sumber lainnya)

Lise Klaveness Digadang-gadang Jadi Presiden FIFA Gantikan Gianni Infantino

JAYAKARTA NEWS— Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA terus digoyang. Langkah yang sekarang sedang dirancang adalah melaporkan ulah Infantino pada Komite Etik. Tiga poin yang jadi sorotan adalah terkait rencana penjualan saham Piala Dunia. Meskipun rencana tersebut sudah dibatalkan namun hal itu, konon, termasuk dalam materi aduan.

Kasus pembatalan sanksi Florian Balogun, serta pemberian Penghargaan Perdamaian kepada Presiden Trump, juga termasuk yang akan dilaporkan.

Mengutip Daily Mail, pelaporan tersebut akan dilakukan Presiden Asosiasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lise Klaveness, yang digadang-gadang menggantikan Gianni Infantino.

Sebagaimana diketahui, UEFA menuntut pelengseran Infantino. Mereka juga mengancam memboikot turnamen-turnamen FIFA selama Infantino masih menjabat sebagai presiden FIFA.

Klaveness—yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Infantino—mendukung sikap tersebut setelah rapat pengurus bulanan mereka. Mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, termasuk di antara pihak yang mendukung Klaveness untuk menggantikan Infantino.

Mantan pengacara berusia 45 tahun itu juga akan mengajukan aduan resmi ke Komite Etik FIFA, badan yang memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi larangan berkecimpung dalam dunia sepak bola.

Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino/Foto: Instagram gianni_infantino

Aduan tersebut, demikian dikutip dari Daily Mail, tidak hanya akan menyoroti usulan penjualan saham Piala Dunia senilai £3,1 miliar kepada investor swasta, tetapi juga keputusan pemberian Penghargaan Perdamaian FIFA (*FIFA Peace Prize*) yang bersifat *ad hoc* kepada Presiden Donald Trump, serta pembatalan sanksi kartu merah Florian Balogun di Piala Dunia yang diduga akibat tekanan politik dari Trump.

“Dewan pengurus menyatakan bahwa kami tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Gianni Infantino. Kami tidak memilikinya pada pemilihan lalu, dan kami pun tidak memilikinya saat ini,” ujar Klaveness.

“Tidak ada jalan kembali bagi Gianni Infantino. Komunitas sepak bola internasional sangat terpecah, dan kita harus bersatu sekarang.

“Kami akan meminta presiden FIFA untuk mundur sekarang juga. Tidak diragukan lagi: ada krisis mendalam dalam kerja sama sepak bola internasional.

“Telah terjadi pelanggaran yang tidak dapat dipulihkan lagi,” tambahnya terkait keputusan untuk melapor ke komite etik.

“Kita telah sampai pada situasi di mana langkah-langkah luar biasa diperlukan untuk menciptakan perubahan yang langgeng.”

Dukungan untuk Infantino

UEFA memimpin upaya untuk melengserkan Infantino dari kursi Presiden FIFA. Namun, administrator sepak bola asal Swiss itu tampaknya masih mendapat dukungan dari Afrika, Amerika Selatan, dan Asia—dukungan yang cukup kuat untuk menangkis segala tantangan terhadap kepemimpinannya.

Sementara itu, Meksiko mengambil langkah berbeda dari sikap oposisi CONCACAF terhadap Infantino, dengan menegaskan kembali kepercayaan mereka terhadap kepemimpinan FIFA.

Penolakan UEFA saat ini untuk berpartisipasi dalam kompetisi FIFA akan menimbulkan masalah komersial yang signifikan bagi badan induk sepak bola tersebut, yang berpotensi mendorong Infantino untuk mempertimbangkan kembali posisinya di puncak dunia sepak bola. (Sumber: Daily Mail)

Gianni Infantino Menolak Lengser! UEFA Serukan Boikot Piala Dunia, Luis Figo Beri Ucapan Menohok!

JAYAKARTA NEWS— UEFA meningkatkan tekanan terhadap Gianni Infantino yang bersikeras bertahan dan menegaskan mereka akan memboikot Piala Dunia jika ia menolak mundur—setelah Presiden FIFA yang sedang disorot tajam itu berjanji untuk terus berjuang.

UEFA dikabarkan akan melanjutkan boikot terhadap Piala Dunia sampai Gianni Infantino dicopot dari jabatannya, menurut informasi yang diperoleh Daily Mail Sport.

Badan pengatur sepak bola Eropa tersebut mengeluarkan pernyataan yang menegaskan kembali hilangnya kepercayaan mereka terhadap presiden FIFA menyusul rencana penjualan hak komersial Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan.

Sebelumnya, UEFA menyatakan bahwa usulan Infantino harus ditarik dan mereka membutuhkan jaminan bahwa ‘upaya untuk merusak permainan dengan cara seperti ini tidak akan pernah dilakukan lagi’ sebelum mereka mencabut larangan yang mereka tetapkan sendiri.

Namun, diyakini bahwa—dalam situasi saat ini—hanya mundurnya Infantino yang dapat menjamin partisipasi tim-tim besar seperti juara bertahan Spanyol, Inggris, Prancis, dan Jerman dalam turnamen empat tahun mendatang.

Seorang sumber internal sepak bola internasional mengatakan kepada Daily Mail Sport: “Hal ini harus dilakukan. Dia harus pergi dan ini adalah satu-satunya cara untuk memaksanya mundur.”

Pada Rabu malam, FIFA mengumumkan bahwa Infantino mendapat dukungan dari anggota dewan organisasi tersebut setelah pertemuan krisis di Maroko.

Pria asal Swiss yang sedang terpojok itu telah memanggil para pejabat ke hotelnya sebagai bagian dari upaya—yang untuk saat ini tampak berhasil—untuk mempertahankan kekuasaannya.

Dukungan untuk Gianni Infantino

Ia menghadapi reaksi keras sejak munculnya rencana penjualan saham dalam hak komersial Piala Dunia. Namun, di tengah kemarahan dan penentangan luas, rencana tersebut akhirnya dibatalkan. Menyusul pertemuan di hotel tersebut, FIFA mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa para petinggi telah memberikan ‘dukungan penuh’ kepada Infantino sembari mengakui adanya ‘kesalahan’ dalam rencana yang telah dibatalkan itu.

FIFA menyatakan bahwa mereka telah meminta maaf melalui surat kepada berbagai asosiasi sepak bola dan bahwa sebuah ‘tinjauan’ akan dilakukan.

Selain kemarahan UEFA yang terus berlanjut, pernyataan tajam dari FIFPRO—serikat pemain sepak bola profesional global—juga mengkritik keras Infantino dan skema FIFA Forward Enterprise.

Pernyataan itu berbunyi: ‘FIFA Forward Enterprise (FFE) telah berakhir. Namun, penyalahgunaan kekuasaan yang melahirkannya belum berakhir. Reformasi tata kelola, bukan upaya menutup-nutupi masalah, sangatlah dibutuhkan.

‘Penarikan FFE adalah hal yang tak terelakkan. Namun, penarikan usulan tersebut tidak menghapus fakta yang telah terungkap karenanya.’ ‘Sebuah rencana yang mampu mengubah secara permanen kepemilikan dan tata kelola Piala Dunia FIFA, serta mengomersialkan kompetisi yang telah dibangun oleh berbagai generasi pemain, dirancang secara diam-diam, dinegosiasikan secara tertutup, dan hampir mencapai kesepakatan bahkan sebelum Dewan FIFA, asosiasi anggota, para pemain, dan pemangku kepentingan sepak bola yang diakui mengetahui keberadaannya.

‘Hal itu bukan sekadar kegagalan tata kelola. Itu adalah penyalahgunaan kekuasaan presiden yang sangat parah.’

Mereka juga mengkritik keras pembaruan terkini dari FIFA menyusul pertemuan di Maroko dan menyerukan adanya ‘pengamanan struktural untuk memastikan kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang kembali’.

Hal ini mencakup pelibatan yang mengikat secara hukum ‘dengan para pemangku kepentingan sepak bola profesional dalam pengambilan keputusan yang berdampak besar’ serta pemberian hak suara bagi mereka di Dewan FIFA.

Pernyataan tersebut ditutup dengan kalimat: ‘Penarikan diri FFE mencegah terjadinya keputusan yang tidak dapat diubah lagi. Namun, langkah itu tidak memulihkan kepercayaan yang sebelumnya memungkinkan munculnya usulan semacam itu.

‘Kepercayaan tersebut kini telah hancur secara mendasar. Kepercayaan itu tidak dapat dibangun kembali melalui pernyataan yang disusun dengan hati-hati, tinjauan internal, ataupun janji untuk memperbaiki proses. Hal itu juga tidak dapat dipulihkan hanya dengan mengumumkan reformasi tata kelola dan struktural yang seharusnya sudah ada sejak awal.

‘Reformasi ini kini mutlak diperlukan. Namun, reformasi ini merupakan tanggung jawab untuk masa depan, bukan sarana untuk menghapus kesalahan masa lalu.

‘Para pemain bukanlah pihak yang menciptakan krisis ini. Mereka akan bersikeras agar sepak bola bangkit dari krisis ini dengan institusi yang lebih kuat, sistem pengamanan yang lebih kokoh, serta kepemimpinan yang layak mendapatkan kepercayaan sebagaimana dituntut oleh olahraga ini.’

Pernyataan awal UEFA pada hari Sabtu menyebut usulan Infantino untuk menjual hak operasional komersial dan penyelenggaraan acara sebagai ‘kesepakatan yang buruk, dilakukan secara diam-diam, dan tidak transparan’.

Setelah adanya dukungan yang tampak bagi Infantino, mereka menambahkan: ‘Asosiasi-asosiasi anggota UEFA sangat tegas mengenai syarat-syarat terkait ketidakikutsertaan mereka dalam kompetisi FIFA.

‘Pertama, usulan untuk menjual kompetisi-kompetisi utama harus ditarik kembali, dan kedua, harus ada jaminan bahwa upaya untuk merusak wajah sepak bola dengan cara seperti itu tidak akan pernah dilakukan lagi.

‘Syarat-syarat ini belum dipenuhi. Selain itu, UEFA telah menegaskan dalam pernyataannya pada hari Sabtu bahwa mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Gianni Infantino. Posisi tersebut tetap berlaku.

‘Pengumuman kemarin bahwa beberapa orang yang dipekerjakan oleh Presiden FIFA (dan yang kariernya bergantung pada dukungannya) sependapat dengannya, sama sekali tidak mengubah keadaan.’

Luis Figo/Foto: Instagram luis_figo

Luis Figo Desak Infantino Lengser

Dukungan internal bagi Infantino ini muncul beberapa jam setelah Luis Figo menjadi tokoh ternama terbaru yang mendesak agar Infantino lengser, melalui kritik tajam di *Daily Mail Sport*.

Figo menggambarkan rencana Infantino—yang kini telah dibatalkan—untuk menjual sebagian hak kepemilikan Piala Dunia kepada investor swasta sebagai ‘perilaku paling rendah, penuh tipu daya, dan didorong oleh kepentingan pribadi yang pengecut yang pernah saya saksikan’, serta menyebutnya sebagai ‘konspirasi kotor dan licik’.

Figo, mantan bintang Barcelona dan Real Madrid yang awalnya mendukung Infantino pada tahun 2015, menyebut pria asal Swiss itu sebagai ‘sosok usang yang seharusnya tidak lagi berperan dalam masa depan sepak bola’ dan menuduhnya melakukan ‘serangkaian penyalahgunaan wewenang’.

Selain soal rencana penjualan hak Piala Dunia, ia menyoroti keputusan untuk menangguhkan sanksi bagi penyerang AS, Folarin Balogun, setelah kartu merah yang diterimanya di Piala Dunia, serta pertunjukan saat jeda babak final yang dianggap ‘melanggar peraturan permainan’.

‘Infantino telah mencoreng kehormatan jabatan presiden FIFA yang sebelumnya ia janjikan akan ia angkat derajatnya,’ tulisnya.

‘Dia telah berbohong, menipu, dan berusaha memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan olahraga yang seharusnya ia layani.’ Jika ia berhasil mempertahankan posisinya, Infantino akan menghadapi pemilihan ulang pada bulan Maret dan membutuhkan 106 suara dari 211 anggota FIFA untuk memenangkan masa jabatan berikutnya dalam memimpin sepak bola dunia. Figo, mantan bintang Barcelona dan Real Madrid yang awalnya mendukung Infantino pada tahun 2015, menyebut sosok asal Swiss itu sebagai ‘peninggalan masa lalu yang tidak seharusnya berperan dalam masa depan sepak bola’ serta menuduhnya melakukan ‘serangkaian pelanggaran’.

Selain soal penjualan hak Piala Dunia, ia menyoroti keputusan untuk menangguhkan sanksi bagi penyerang AS, Folarin Balogun, setelah kartu merah yang diterimanya di Piala Dunia, serta pertunjukan paruh waktu pada laga final yang dianggap ‘melanggar peraturan permainan’.

“Infantino telah mencoreng jabatan presiden FIFA yang sebelumnya ia janjikan akan ia angkat derajatnya,” tulisnya.

“Ia telah berbohong, menipu, dan berusaha memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan olahraga yang seharusnya ia layani.” Jika posisinya aman, Infantino akan menghadapi pemilihan ulang pada bulan Maret dan membutuhkan 106 suara dari 211 anggota FIFA untuk memenangkan masa jabatan berikutnya dalam memimpin olahraga global ini. (Sumber: Daily Mail)

UEFA, CONCACAF dan AFC Ancam Bikin Kompetisi Internasional Tandingan jika Gianni Infantino tak Mundur

JAYAKARTA NEWS— Sebelum Piala Dunia popularitas Gianni Infantino melambung jauh. Namun dalam beberapa waktu terakhir kepercayaan dunia sepak bola terhadap kepemimpinan Infantino semakin tergerus. Khususnya, dalam beberapa kasus terakhir ini, rencana penjualan saham unit komersial FIFA adalah salah satunya.

Kini Presiden FIFA tiga periode itu ‘dikucilkan’ dan diminta mundur segera dari jabatannya. Padahal dia berniat maju kembali menjadi Presiden FIFA untuk periode keempatnya pada Maret tahun depan.

Mengutip Daily Mail, para pemimpin UEFA, CONCACAF, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dilaporkan telah membentuk aliansi yang bertujuan untuk melengserkan Gianni Infantino.

Dilaporkan, saat ini Presiden FIFA tersebut berada di bawah tekanan hebat setelah ia terpaksa membatalkan usulan yang sangat kontroversial untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada kelompok yang dipimpin oleh Josh Kushner—saudara laki-laki Jared Kushner (menantu Donald Trump)—menyusul penolakan keras dari dunia sepak bola.

Berbondong-bondong Tarik Dukungan

UEFA kemudian menyatakan hilangnya kepercayaan terhadap administrator asal Italia-Swiss tersebut, sementara asosiasi sepak bola Inggris (FA) dan Wales termasuk di antara pihak yang menarik dukungan bagi pencalonan kembali dirinya dalam pemilihan bulan Maret mendatang.

Situasi ini membuat Infantino harus berjuang mempertahankan jabatannya; ia dilaporkan mengadakan pembicaraan penting dengan pihak Gedung Putih pada hari Senin dalam upaya untuk menyelamatkan posisinya.

Kini, menurut laporan *The Times*, para pemimpin ketiga konfederasi tersebut bersiap untuk ‘melumpuhkan FIFA’ jika ia menolak untuk mundur.

Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino/Foto: Instagram gianni_infantino

Laporan tersebut menambahkan bahwa mereka telah menyiapkan beberapa rencana jika Presiden FIFA bersikeras untuk tetap berkuasa dan mencalonkan diri kembali dalam pemilihan bulan Maret nanti.

Rencana tersebut mencakup kesiapan untuk menggelar kompetisi internasional tandingan, serta kesediaan untuk menerapkan ‘boikot administratif’.

Hal ini pada praktiknya berarti mereka akan menolak untuk meratifikasi keputusan FIFA ataupun terlibat dalam rapat dewan dan komite.

Sebuah sumber mengatakan kepada *The Times*: “Semua pihak sangat bertekad bahwa ia harus pergi; jika tidak, kami akan mengambil segala langkah yang diperlukan [untuk melengserkannya dari kekuasaan].”

“Itu termasuk soal kompetisi internasional di masa depan—apakah negara-negara besar Amerika Selatan lebih memilih bertanding melawan Prancis atau Spanyol, ketimbang Lebanon atau Djibouti? Semua orang sangat bertekad; tidak ada jalan untuk mundur sekarang.”

Diperkirakan pula bahwa dengan ditariknya dukungan dari beberapa negara, Infantino sejauh ini hanya mengantongi dukungan dari sekitar 15 negara.

Sebelumnya pada musim panas lalu, pria berusia 56 tahun itu diketahui memiliki dukungan dari hampir seluruh 211 anggota FIFA untuk pemilihan kembali pada bulan Maret. Ia membutuhkan 106 suara untuk bisa menang. Namun, belum ada kandidat yang mengajukan diri untuk menantangnya, padahal batas waktu untuk melakukannya hanya sampai 18 November.

Jika sejumlah besar negara mendesak Infantino untuk mundur, hal itu dapat membantu menggalang dukungan bagi diadakannya pertemuan darurat Dewan FIFA.

Daily Mail Sport juga melaporkan pada hari Senin bahwa beberapa negara Eropa, termasuk Inggris dan Wales, telah secara resmi menarik dukungan mereka terhadap pimpinan sepak bola yang sedang berada dalam tekanan tersebut.

Suasana penutupan Piala Dunia 2026/Foto: Instagram gianni_infantino

Evaluasi Kepemimpinan Gianni Infantino

Pada akhir pekan lalu, FA (Asosiasi Sepak Bola Inggris) telah menyerukan ‘tinjauan menyeluruh dan tegas terhadap kepemimpinan serta tata kelola FIFA guna memastikan bahwa olahraga global ini dijalankan secara transparan’.

Sebuah pernyataan dari FA Wales pada hari Senin kemudian berbunyi: ‘Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) dengan ini mengonfirmasi penarikan dukungan terhadap pencalonan Bapak Gianni Infantino untuk pemilihan kembali sebagai Presiden FIFA periode 2027–2031.

‘Kegagalan terkini dalam tata kelola yang baik, proses, kepemimpinan, nilai-nilai, manajemen pemangku kepentingan, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang tepat telah membuat kami sampai pada posisi di mana Bapak Infantino tidak lagi mendapat kepercayaan FAW untuk tetap memimpin sepak bola dunia. Kegagalan untuk mengutamakan kepentingan terbaik sepak bola adalah kegagalan yang tidak dapat kami terima.’

Serbia, Swedia, dan Finlandia juga secara terbuka menarik dukungan mereka, meskipun Maroko, Qatar, Lebanon, Kuwait, dan Sri Lanka termasuk di antara negara-negara yang mendukung Infantino.

UEFA Berencana Mengambil Langkah Hukum

Perkembangan terbaru dalam masalah ini muncul setelah UEFA mengirimkan surat hukum kepada Infantino pada hari Jumat. Dalam surat tersebut, UEFA mengancam akan mengambil tindakan hukum terkait rencana yang telah dibatalkan itu, serta menegaskan bahwa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan rencana tersebut—yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE)—harus disimpan dan tidak boleh dimusnahkan.

Surat yang ditujukan kepada Infantino itu berbunyi: ‘UEFA dengan ini memberikan pemberitahuan resmi bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan secara serius tindakan hukum, arbitrase, dan/atau pengaduan regulasi (secara bersama-sama disebut sebagai “proses hukum”) yang timbul dari dan sehubungan dengan rencana FFE yang diusulkan oleh FIFA serta semua hal terkait sebagaimana dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

‘Anda dan FIFA diwajibkan untuk mengambil langkah segera guna mengidentifikasi, menemukan, dan menyimpan semua dokumen serta informasi yang tersimpan secara elektronik—sebagaimana dijelaskan dalam pemberitahuan ini—yang berada dalam kepemilikan, penguasaan, atau kendali Anda maupun FIFA.’

UEFA kemudian memperingatkan FIFA bahwa ‘setiap tindakan pemusnahan, penghapusan, perubahan, penyembunyian, atau hilangnya materi yang relevan’ setelah surat mereka dikirimkan ‘dapat dianggap sebagai tindakan perusakan atau penghilangan bukti (*spoliation of evidence*)’. Mereka kemudian menolak untuk menutup kemungkinan adanya tindakan lebih lanjut jika salah satu dari tindakan yang disebutkan tadi benar-benar terjadi, namun surat itu sendiri bukanlah sebuah langkah hukum.

Surat tersebut juga menegaskan bahwa FIFA harus memastikan individu-individu tertentu—termasuk Infantino, Arsene Wenger (Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA), Sekretaris Jenderal Mattias Grafstrom, dan Kevin Lamour (Chief Operating Officer FIFA)—’secara khusus menyimpan semua materi terkait yang berada dalam penguasaan mereka’.

UEFA kemudian mengonfirmasi kepada Daily Mail Sport bahwa sebuah surat mengenai penyimpanan dokumen telah dikirim. (di/Sumber: Daily Mail, berbagai sumber)

Presiden FIFA Gianni Infantino Terancam Dipecat! Ia Dikabarkan Minta Trump Selamatkan Jabatannya

JAYAKARTA NEWS— Upaya Presiden FIFA Gianni Infantino menjual saham unit komersil FIFA ke swasta gagal total. Kini dia ‘dikucilkan’ dunia sepak bola dan terancam digulingkan melalui mosi tidak percaya. Padahal pemilihan Presiden FIFA tidak lama lagi dan Infantino rencananya akan kembali maju untuk jabatan keempat kalinya.

Gianni Infantino dikabarkan meminta bantuan Trump untuk ‘menyelamatkan’ pekerjaannya, menyusul suara-suara yang memintanya mundur dari jabatan Presiden FIFA semakin nyaring. Untuk itu, kabarnya, ia bersiap melakukan pembicaraan di Gedung Putih.

Mengutip Daily Mail, Infantino memicu pemberontakan terbuka ketika The Times pertama kali mengungkapkan rencana mengejutkannya untuk menjual saham senilai USD 4,2 miliar (£3,1 miliar) di turnamen unggulan FIFA kepada perusahaan ekuitas swasta yang dipimpin oleh Joshua Kushner.

Proposal tersebut kemudian dibatalkan setelah mendapat penentangan dari UEFA, konfederasi Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Dan saat Infantino berjuang untuk menyelamatkan pekerjaannya, New York Post mengklaim bahwa Infantino sekarang beralih ke sekutu terbesarnya – Donald Trump – untuk membantunya bertahan.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino/Foto: Instagram Gianni_infantino

Surat kabar tersebut melaporkan bahwa Infantino akan melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada pukul 9 pagi EST (2 siang BST), seiring meningkatnya tekanan pada Presiden FIFA untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Seorang sumber internal mengatakan kepada Post: ‘Dia ingin berbicara secara daring dengan menteri dan membahas bagaimana sepak bola dapat menjadi bentuk kekuatan lunak bagi Amerika. Tetapi kita semua tahu bahwa ini tentang perlindungan pekerjaan. Ini bukan tentang hal lain saat ini.’

Sumber kedua menggambarkan Infantino merasa ‘terisolasi’ oleh ‘longsoran’ negativitas yang mengelilingi rencananya yang kini gagal. ‘Dia mencari sekutu penting untuk mendukungnya secara publik,’ kata mereka.

Daily Mail telah menghubungi FIFA dan Gedung Putih untuk meminta komentar, sementara di X, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Publik Global, Dylan Johnson, membantah bahwa panggilan telepon sedang berlangsung.

Dia menulis: ‘Tidak ada rencana bagi [Marco Rubio] untuk berbicara dengan Infantino dan tidak ada panggilan telepon pagi ini. [New York Post] harus memeriksa sumber mereka atau mereka bisa saja bertanya kepada kami.’

Upaya terakhir Infantino untuk menyelamatkan jabatannya sebagai presiden terjadi hanya beberapa hari setelah Trump dengan kasar membantah mengetahui rencana Infantino yang berani untuk menjual sahamnya.

Ketika ditanya ‘apakah Tuan Infantino berbicara kepada Anda tentang proposalnya untuk menjual saham di Piala Dunia?’ Trump dengan kasar pertama-tama menjawab: ‘Siapa?’

Setelah pertanyaan itu diulang, presiden kemudian menambahkan: ‘Tidak, saya tidak berbicara dengannya.’

Reaksi Trump terhadap Infantino dalam sesi media di Ruang Oval itu sangat berbeda dari komentar-komentar sebelumnya sebelum dan selama Piala Dunia, di mana ia sering memberikan ulasan yang sangat positif tentang bos FIFA tersebut.

The Post juga melaporkan bahwa Infantino telah berulang kali mencoba menghubungi Trump dalam beberapa hari terakhir, tetapi hanya disambut dengan keheningan dari presiden.

Sebelumnya pada hari Senin, perjuangan Infantino untuk bertahan sebagai presiden FIFA mendapat pukulan besar lainnya karena semakin banyak negara menarik dukungan mereka untuk pencalonannya kembali.

Inggris, Wales, dan Finlandia adalah negara-negara terbaru yang secara eksplisit menentang pemilihan kembali Infantino, dan diperkirakan lebih banyak negara UEFA akan mengikuti jejaknya.

Sebelum rencana penjualan kontroversialnya, Infantino dilaporkan telah didukung oleh hampir semua dari 211 asosiasi anggota FIFA untuk pemilihan kembali. Kandidat harus diajukan paling lambat 18 November dan pemungutan suara akan berlangsung di kongres FIFA pada bulan Maret.

Foto: Instagram gianni_infantino

Infantino Berburu Periode ke Empat

Infantino telah menjabat sebagai presiden FIFA sejak 2016 setelah menggantikan Sepp Blatter dan menargetkan masa jabatan keempatnya.

Sebenarnya, berdasarkan aturan FIFA, seorang presiden dibatasi maksimal tiga kali masa jabatan selama masing-masing empat tahun. Namun, karena periode pertama Infantino (2016–2019) dianggap tidak utuh (hanya meneruskan sisa masa jabatan presiden sebelumnya), ia dinyatakan masih memenuhi syarat untuk mencalonkan diri kembali pada pemilihan periode keempat (2027–2031) yang akan datang.

Infantino telah memimpin FIFA mulai 2016-2019 (periode pertama). Ia terpilih pada Kongres Luar Biasa FIFA tanggal 26 Februari 2016 untuk menggantikan Sepp Blatter.

Periode kedua 2019–2023. Ia terpilih kembali secara aklamasi pada Kongres FIFA ke-69 tanggal 5 Juni 2019.

Periode ketiga 2023–2027. Ia kembali terpilih tanpa lawan pada Kongres FIFA ke-73 di Kigali, Rwanda, tanggal 16 March 2023. Masa jabatan ini sedang berjalan dan dijadwalkan berakhir pada tahun 2027.

Namun, lapor Daily Mail, peristiwa beberapa hari terakhir – dan kontroversi yang mencoreng namanya sebelum dan selama Piala Dunia – telah mengguncang otoritasnya.

Rencananya telah dikecam secara luas dan dua sekutu terdekatnya telah mengundurkan diri. Pertama, penasihat seniornya Carlos Cordeiro – yang bertindak sebagai penghubung FIFA dengan Gedung Putih selama turnamen – mengundurkan diri, sebelum kepala operasional Kevin Lamour mengecam proposal tersebut.

UEFA dan CONCACAF Minta Infantino Mundur

UEFA dan CONCACAF telah meminta Infantino untuk mundur, tetapi upaya mereka untuk menggulingkan administrator sepak bola Swiss itu menemui hambatan setelah Kuwait, Qatar, Sri Lanka, dan Lebanon menegaskan kembali kepercayaan mereka pada kepemimpinannya.

UEFA dan CONCACAF mencakup 90 dari 211 asosiasi anggota FIFA. Meskipun jumlah tersebut di atas ambang batas 20 persen untuk memicu mosi tidak percaya, namun masih kurang dari mayoritas yang dibutuhkan untuk menggulingkan Infantino.

Dengan Infantino yang masih mendapat dukungan dari Afrika, sementara Amerika Selatan diperkirakan akan mengambil posisi yang sama, anggota AFC akan diharuskan untuk menggulingkan presiden FIFA tersebut.

Selandia Baru dapat bergabung dengan perlawanan Eropa dan CONCACAF, tetapi diragukan bahwa 10 anggota Konfederasi Sepak Bola Oseania lainnya akan mengikuti jejak mereka.

Infantino menulis surat kepada semua negara anggota FIFA yang mengklaim bahwa mereka akan menerima $41 juta (£30 juta) jika mereka mendukung rencananya untuk menjual saham di kompetisi utama FIFA. (Sumber: Daily Mail, New York Post)

Dapat Kecaman Bertubi-tubi, FIFA Akhirnya Batalkan Rencana Jual Saham pada Pihak Swasta

JAYAKARTA NEWS— Setelah mendapat reaksi keras dari seluruh dunia sepak bola terkait rencana penjualan saham unit komersial FIFA pada pihak swasta, akhirnya batal. Badan pengatur sepak bola dunia, FIFA, mengatakan tidak akan melanjutkan proposalnya untuk menjual sebagian dari kerajaan bisnisnya kepada investor luar setelah proyek tersebut mendapat perlawanan keras dari beberapa asosiasi anggotaa.

Sebelumnya, sebagaimana diketahui, rencana tersebut mendapat kecaman keras dari berbagai pihak. Salah satunya UEFA, organisasi sepak bola Eropa. Mereka bahkan bukan sekadar mengecam tapi juga mengancam memboikot semua kompetisi yang digelar FIFA, termasuk Piala Dunia, jika organisasi yang dipimpin Gianni Infantino nekat melanjutkan rencananya, menjual sebagian dari kerajaan bisnisnya kepada investor luar.

Mengutip Al Jazeera, rencana FIFA adalah untuk mengumpulkan hingga 4,2 miliar dollar AS dengan menjual sekitar 20 persen saham di unit baru yang akan menjalankan acara FIFA termasuk Piala Dunia, yang nilainya mencapai 20 miliar dollar AS.

Proposal tersebut, yang pertama kali diumumkan pada hari Selasa, ditentang keras oleh badan pengatur sepak bola Eropa, UEFA, yang pada hari Kamis memutuskan untuk memboikot kompetisi FIFA.

Dalam sebuah pernyataan, UEFA mengatakan bahwa “tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dibenarkan bahwa proposal yang begitu penting bagi sepak bola disusun secara rahasia”.

Pernyataan organisasi yang berbasis di Swiss itu juga menuduh FIFA menjual “jiwa” olahraga tersebut.

“Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, terlepas dari tingkat dukungannya, tidak lagi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal,” kata Presiden FIFA Gianni Infantino dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam.

“Tujuan kami selalu – dan akan selalu – untuk menyatukan dan meningkatkan. Akibatnya, proposal ini tidak akan dilanjutkan.”

Infantino Dikecam, Carlos Cordeiro Mundur Diri

Sebelumnya pada hari Jumat, penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri dengan segera, menyebut rencana tersebut sebagai “kesepakatan buruk bagi sepak bola”.

Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, mengatakan staf telah “ditipu” oleh Infantino, menggambarkan proposal tersebut sebagai “proyek satu orang”.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat bahwa Infantino adalah “orang yang salah untuk memimpin organisasi tersebut”.

Sifat reaksi negatif terhadap rencana FIFA segera menimbulkan keraguan tentang posisi Infantino.

Pria berusia 56 tahun itu, yang lahir di Swiss dari orang tua Italia, sudah berada di bawah tekanan karena hubungannya yang dianggap dekat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama Piala Dunia 2026.

Trump mengungkapkan bahwa ia menghubungi Infantino tentang kartu merah yang diberikan kepada bintang AS Folarin Balogun, yang kemudian diskors selama satu tahun, dan sang penyerang bebas bermain di pertandingan Piala Dunia berikutnya untuk negaranya.

Harapan untuk skema investasi swasta FIFA adalah bahwa Joshua Kushner, pendiri Thrive Capital, akan memimpin kelompok modal ventura yang diusulkan melalui dana yang disebut Thrive Eternal.

Joshua adalah saudara laki-laki Jared Kushner, menantu Presiden Trump.

Presiden Trump mengatakan pada hari Jumat di Camp David bahwa ia tidak berbicara dengan Infantino tentang tawaran FIFA untuk saham kepada investor eksternal.

Pencalonan Infantino Kembali Pimpin FIFA

Infantino akan mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan terakhirnya hingga tahun 2031, dan diperkirakan tidak akan memiliki lawan setelah kesuksesan keseluruhan Piala Dunia baru-baru ini, yang diselenggarakan bersama oleh AS, Kanada, dan Meksiko.

Namun, dampak dari proposal FIFA tersebut telah menimbulkan pertanyaan, meskipun tidak sepenuhnya terang-terangan, tentang peran Infantino.

Apakah ada pesaing realistis untuk menantang kepemimpinan Infantino di FIFA?

Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) telah menjadi sekutu utama Infantino selama 11 tahun masa kepresidenannya, tetapi dalam pernyataan penentangan mereka terhadap rencana investasi swasta tersebut, muncul rekomendasi bahwa FIFA harus segera meninjau gaya manajemennya.

“(Rencana tersebut) mengungkap kelemahan mendasar dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA yang sekarang harus ditangani,” kata pernyataan dari AFC. “Oleh karena itu, AFC menyerukan kepada FIFA untuk segera melakukan peninjauan terhadap kerangka kerja tata kelola dan pengambilan keputusannya.”

Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, presiden AFC yang telah lama menjabat, kalah tipis dalam pemilihan presiden FIFA melawan Infantino pada tahun 2016. Pria Bahrain itu mengatakan dalam pernyataannya sendiri pada hari Kamis bahwa rencana FIFA “sama sekali tidak dapat diterima”.

“Tindakan sepihak FIFA tampaknya merusak fondasi sepak bola kontinental, yang didasarkan pada solidaritas, kerja sama, dan transparansi.”

Sementara itu, kepala sepak bola Amerika Utara, Victor Montagliani, dikaitkan dengan upaya untuk menantang Infantino dalam pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.

Infantino mengatakan pada bulan April bahwa ia akan mencari masa jabatan keempat sebagai Presiden FIFA, dengan pemilihan dijadwalkan akan berlangsung di Maroko pada 18 Maret tahun depan. Batas waktu bagi calon potensial untuk menyatakan diri dalam pemilihan presiden yang diikuti oleh 211 anggota adalah 18 November. (Sumber: Al Jazeera)

Protes Rencana Gianni Infantino Jual Saham Piala Dunia, Anggota UEFA Sepakat Boikot Kompetisi FIFA

JAYAKARTA NEWS— Rencana FIFA yang akan menjual saham di anak perusahaan komersial baru kepada investor swasta, bikin berbagai negara juga organisasi-organisasi sepak bola bereaksi keras. Mereka mengumandangkan boikot kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, sebagai protes terhadap rencana ekuitas swasta untuk Piala Dunia.

Mengutip Al Jazeera, negara-negara Eropa sepakat dalam pertemuan virtual untuk memboikot kompetisi FIFA.  Badan pengatur sepak bola Eropa, UEFA, telah memberikan suara untuk memboikot acara FIFA – termasuk Piala Dunia – jika FIFA melanjutkan rencana untuk menjual saham di anak perusahaan komersial baru kepada investor swasta.

Pemungutan suara bulat oleh federasi anggota UEFA menyetujui pada hari Kamis untuk memboikot semua kompetisi FIFA sebagai protes terhadap rencana Gianni Infantino untuk menjual saham di Piala Dunia.

“UEFA dan asosiasi nasionalnya tidak akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA,” kata badan sepak bola Eropa setelah pertemuan daring mendesak dari 55 anggotanya.

Pertemuan strategi tersebut diadakan untuk melawan tawaran Presiden FIFA Infantino sebesar 20  juta  dollar AS kepada masing-masing dari 211 anggota globalnya, yang harus diterima pada pertengahan September.

Setelah 16 tahun, Spanyol kembali meraih juara Piala Dunia, Minggu (19/7/2026)/Foto: Instagram gianni_infantino

Proposal rahasia Infantino terungkap pada hari Selasa untuk memisahkan operasi komersialnya dalam operasi senilai 20 miliar dollar AS, dengan 20 persen dimiliki oleh investor swasta.

Investor utama adalah perusahaan investasi modal ventura New York yang didirikan oleh Joshua Kushner, saudara dari menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner.

“Tidak ada tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selama proposal ini masih berlaku, kecuali proposal ini telah dibatalkan sepenuhnya dan jaminan yang mengikat telah diberikan bahwa FIFA tidak akan pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya kepada kepemilikan swasta,” kata UEFA dalam sebuah pernyataan.

“Piala Dunia tidak dapat diperlakukan sebagai produk investasi. Ini adalah salah satu warisan olahraga sepak bola terbesar. Piala Dunia telah dibangun selama beberapa generasi oleh para pemain, tim nasional, dan pendukung di setiap benua.

“Tidak ada bagian darinya yang boleh diserahkan kepada investor swasta. Piala Dunia tidak untuk dijual.”

Kompetisi FIFA berikutnya adalah di Eropa, Piala Dunia Wanita U-20 FIFA, yang diselenggarakan oleh Polandia mulai 5 September.

FIFA telah dihubungi oleh Al Jazeera untuk memberikan tanggapan atas pemungutan suara UEFA.

Sebelumnya pada hari Kamis, Infantino menyebut rencana untuk menjual saham di Piala Dunia sebagai sebuah usulan tetapi “bukan kewajiban” setelah ide tersebut memicu respons marah dari otoritas sepak bola di seluruh dunia.

Komentar Pedas Presiden AFC

Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa menyebut kurangnya konsultasi FIFA atas rencananya sebagai “sama sekali tidak dapat diterima”, mengatakan langkah tersebut merusak struktur kontinental olahraga yang ada.

Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter mengecam rencana badan pengatur sepak bola tersebut, mengatakan turnamen itu bukanlah aset komersial yang dimiliki oleh beberapa orang. eksekutif.

“Sepak bola bukan milik individu mana pun dan bukan milik institusi mana pun. Itu milik rakyat,” kata Blatter kepada kantor berita Reuters pada hari Rabu.

Menteri Kebudayaan Inggris, Lisa Nandy, pada hari Kamis mendukung keputusan UEFA.

“Ini adalah keputusan berprinsip yang sangat kami dukung,” kata Nandy dalam sebuah pernyataan. “Sepak bola milik para penggemar, bukan investor miliarder. Cukup sudah. ​​Sudah saatnya kita mengambil sikap untuk melindungi permainan kita.”

Kata-katanya muncul setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham memberikan tanggapan langsung terhadap proposal tersebut pada hari Selasa.

“Izinkan saya mengatakan ini secara langsung. Sepak bola bukan milik investor. Itu milik orang-orang yang memenuhi tribun dan yang berdiri di pinggir lapangan setiap minggu, hujan atau cerah,” kata Burnham.

“Piala Dunia bukanlah sebuah produk.” Ini adalah kompetisi terbesar dalam olahraga dunia, dan tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Anda bisa memperindah kesepakatan itu sesuka Anda. Begitu Anda menjual sebagiannya, Anda telah mengkhianati prinsip Anda.

“Sepak bola adalah milik para penggemar. Selalu begitu, dan akan selalu begitu,” tambahnya.

Apa arti langkah UEFA bagi kepresidenan FIFA Infantino?

Manuver finansial berisiko tinggi Infantino kini dapat mengancam kepresidenannya di FIFA yang sebelumnya aman selama 11 tahun, karena kemarahan dan frustrasi terhadapnya meningkat di antara para pemangku kepentingan sepak bola, termasuk tiga dari enam badan kontinental.

FIFA telah menetapkan batas waktu 18 November bagi calon potensial untuk menyatakan diri dalam pemilihan presiden yang akan diikuti oleh 211 anggota yang dijadwalkan Maret mendatang di Rabat, Maroko.

Infantino tampaknya – 11 hari yang lalu setelah final Piala Dunia di East Rutherford, New Jersey – memiliki jalan yang jelas untuk terpilih kembali tanpa lawan untuk masa jabatan keempat dan terakhirnya hingga tahun 2031.

Para pejabat sepak bola secara pribadi mengatakan Infantino mengincar peran seperti komisaris di perusahaan turunan FIFA Forward Enterprise setelah tahun 2031.

“Permainan berakhir, Gianni #InfantinOUT,” tulis kelompok Football Supporters Europe, yang memberi nasihat kepada UEFA tentang masalah penggemar seperti harga tiket, setelah ancaman boikot tersebut.

“Sangat tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dibenarkan bahwa proposal yang begitu penting bagi sepak bola disusun secara rahasia dan hampir disetujui tanpa konsultasi yang berarti dengan mereka yang dipercayakan untuk mengelola permainan ini,” lanjut pernyataan UEFA.

“Ini bukan hanya kegagalan kepemimpinan yang mendalam, tetapi juga pengabaian tugas FIFA sebagai penjaga sepak bola dunia.

“Asosiasi nasional di seluruh dunia sekarang dihadapkan pada ultimatum: terima pengambilalihan permanen kompetisi sepak bola terbesar atau tanggung konsekuensinya. Ini bukan ‘keputusan demokratis’, tetapi pemerintahan dengan intimidasi – tindakan paksaan yang tidak pantas bagi sebuah lembaga yang dipercayakan untuk mengelola permainan global. (Sumber: Al Jazeera)

Bos FIFA Undang “Anak-anak gua Thailand” Nonton Final Piala Dunia

 

PRESIDEN  FIFA Gianni Infantino  mengundang tim sepak bola anak  Thailand  yang terperangkap di gua nonton final Piala Dunia di Rusia setelah para pemain tim menyampaikan pesan dukungan terhadap hadiah ini kepada anak-anak tersebut.

Infantino mengatakan dia berharap tim anak-anak tersebut, yang terdampar oleh meningkatnya banjir gua pada dua pekan lalu, dapat cecepatnya untuk bisa nonton barang gelaran final  final di Moskow pada 15 Juli.

“Jika, seperti yang kita semua harapan, mereka bersatu kembali dengan keluarga dalam beberapa hari mendatang dan kesehatan mereka memungkinkan untuk melakukan perjalanan, FIFA akan dengan senang untuk mengundang mereka untuk menghadiri  final Piala Dunia sebagai tamu kami,” tulisnya dalam surat kepada kepala Asosiasi Sepak Bola Thailand.

“Saya dengan tulus berharap bahwa mereka akan dapat bergabung dengan kami di final, yang tidak diragukan lagi akan menjadi momen indah persekutuan dan perayaan.”

Presiden FIFA Gianni Infantino

 

Para pemain Thailand, berusia 11-16 tahun, terjebak dalam kegelapan di bawah tanah setelah berangkat untuk menjelajahi gua bersama seorang pelatih berusia 25 tahun setelah mereka mengikuti pelatihan pada 23 Juni lalu.

Para pemain masih  terjebak meski telah dicapai minggu ini oleh penyelamat gua-menyelam, yang merilis rekaman mereka tampak kurus kering tetapi tenang, beberapa mengenakan kaos bola.

Cobaan mengerikan mereka bertepatan dengan Piala Dunia di Rusia dan itu tidak luput dari perhatian para pemain.

“Saya telah berbicara tentang hal itu dengan beberapa anak laki-laki,” kata bek Inggris John Stones, menurut media Inggris.

“Ini sangat menyedihkan untuk melihat di mana mereka berada dan kami berharap mereka keluar aman dan sehat.”

Skuad Piala Dunia Jepang men-tweeted video dan berharap agar  tim sepak bola anak itu untuk “Bertahanlah!”. Sementara legenda Brasil Ronaldo menyebut tragedi yang dialami mereka sebagai “mengerikan”.

“Dunia sepakbola berharap bahwa seseorang dapat menemukan cara untuk mengambil anak-anak ini keluar dari sana,” katanya, menurut CNN.

Manajer Liverpool Jurgen Klopp meminta mereka untuk “tetap kuat dan tahu kami bersama dengan Anda”, demikian disampaikan dalam pesan video yang dikirim ke CNN.

“Kami mengikuti semua berita dan berharap setiap detik yang Anda lihat siang hari lagi,” kata Klopp. “Kami semua sangat optimis bahwa itu akan terjadi, mudah-mudahan dalam hitungan menit, jam atau beberapa hari mendatang.”

Sementara itu, Federasi Sepakbola Kroasia mengatakan itu “terpesona” oleh ketenangan tim anak-anak yang dalam kondisi di bawah tekanan.

“Kami terpesona oleh keberanian dan kekuatan bahwa anak laki-laki dan pelatih mereka telah menunjukkan ketenangan mereka di tengah-tengah situasi yang menakutkan seperti itu,” katanya di situsnya.

Banyak fans di media sosial mengatakan para anak laki-laki itu pantas mendapat hadiah nonton Piala Dunia, sebagai cara untuk mengurangi penderitaan mereka.