Ketua Panitia Pelaksana Renzo International Open Karate Championship, Bambang Gunawan optimistis, karateka berbagai negara akan hadir dan ambil bagian. “Sejumlah negara tetangga sudah konfirmasi mengikuti kejuaraan yang rencana kami gelar setiap tahun itu,” katanya.
Selain menyediakan hadiah uang pembinaan, panitia juga akan mengajak para juara mengikuti kejuaraan karate di luar negeri, guna menambah jam terbang dan pengalaman. Kepada para pelatih berprestasi juga akan diikutkan dalam workshop karate di Jepang.
JAYAKARTA NEWS – Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Bali menggelar musyawarah provinsi (musprov), di Griya Santrian Sanur, Selasa, 26 April 2022, kemarin. Armand Setiawan Wulianadi, yang akrab dipanggil Armand Joger, memimpin asosiasi cabang olahraga karate ini untuk masa bakti 2022-2026.
Armand terpilih menakodhai Forki Bali melalui mekanisme pemungutan suara atau voting. Putera pendiri dan pemilik Pabrik Kata-Kata Joger Kuta ini unggul atas kandidat lain, Anak Agung Ngurah Sutha. Armand menyabet 10 suara, sementara Ngurah Sutha meraih lima suara.
Sidang pleno pemungutan suara dipimpin Ketua Forki Tabanan I Gusti Made Suryantha Putra dengan anggota Anak Agung Nanik Suryani dan Kompol I Gusti Nyoman Wintara. Peserta Musprov Forki Bali terdiri dari perwakilan enam perguruan karate dan utusan forki kabupaten/kota di Bali.
Armand Setiawan memimpin Forki Bali selama kurun empat tahun ke depan. Dia menggantikan Dr. I Ketut Rochineng, S.H., M.H. yang memimpin organisasi keluarga besar karateka ini masa bakti 2018-2021.
Sebelum sidang pleno pemilihan ketua umum Forki Bali didahului penyampaian laporan pertanggungjawaban Badan Pengurus Forki Bali masa bakti 2018-2021. Dalam laporan pertanggungjawaban yang disampaikan Sekretaris Umum Dr. Ardy Ganggas, M.For.AIFO dipaparkan program kerja selama empat tahun kepemimpinan Rochineng. Salah satu keberhasilan yang dicapai, adalah sejumlah prestasi di ajang nasional bahkan internasional yang diukir karateka Bali.
Dalam pandangan umum peserta musprov, laporan pertanggungjawaban dinyatakan diterima. Hanya saja sejumlah perwakilan perguruan mengingatkan pentingnya dimaksimalkan konsolidasi program ke depan. Tujuannya tentu untuk meraih prestasi makin baik.
Ketua Umum Forki Bali terpilih, Armand Setiawan, menargetkan 17 nomor yang dipertandingkan bakal lolos dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang. Minimal, katanya, perolehan medali emas atlet Forki Bali kelak tak jauh dari hasil yang disabet pada PON sebelumnya.
Musprov tersebut dibuka Ketua Umum KONI Bali I Gusti Ngurah Oka Darmawan. Dalam sambutannya, mantan ketua KNPI Bali ini mengingatkan ada 52 cabang olahraga (cabor) di bawah naungan Koni Bali. Forki merupakan salah satu asosiasi cabor tersebut. Dua medali emas yang disumbangkan karateka Bali dalam PON Papua yang lalu mendapat acungan jempol Oka Darmawan. (syam kelilauw)
Sensei Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo sedang melatih karateka dojo The Dream Team, Griya Lembah Asri, Depok. Foto: Taofik Hidayat
“KARATE sudah seperti agama kedua bagi saya,” cetus Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo, di kediaman Griya Lembah Asri, Depok, kemarin (8/9). Hari itu, Kikiek mengenakan “dogi” (baju karate). Sementara, tak jauh dari rumahnya, tergelar matras dengan backdrop “The Dream Team”.
Hari itu, Prof Kikiek tengah punya hajat sederhana…. selamatan atas berdirinya dojo karate-do “The Dream Team”. Sebenarnya bukan berita aneh, apalagi kalau melihat sepak terjang Kikiek di dunia karate yang sudah puluhan tahun. Bahkan dua kali menjabat Sekjen INKAI (Institut Karate-Do Indonesia).
INKAI adalah seni beladiri yang berasal dari negeri sakura Jepang. INKAI didirikan atau dipelopori oleh salah satu guru besar Karate Indonesia, Sabeth Muchsin pada tanggal 15 April 1971.
Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo berrsama empat karateka binaannya, serta tamu kehormatan dari China Taipei. Foto: Taofik H
Di luar aktivitas yang begitu padat –dan beragam– Prof Kikiek tidak pernah meninggalkan karate, dan INKAI tentunya. Dengan mendirikan dojo di Griya Lembah Asri Depok, menegaskan komitmen yang tinggi terhadap kelangsungan pembinaan atlet karate di Indonesia.
“Saya sampai lupa, sudah berapa banyak anak asuh saya di karate. Termasuk peraih medali emas Asian Games kemarin. Saat ini The Dream Team setidaknya sudah punya modal empat karateka junior yang berpeluang jadi atlet berprestasi,” ujar Kikiek.
Alya dengan banyak medali yang telah diraihnya. Foto: Taofik H
Merekalah: Alyanti Novita, Dayinta Sovia Nabila, Anggun Dyah, dan Putra, empat mutiara yang tengah dipoles dengan tekun oleh Prof Kikiek. Jika mereka adalah kohei dan senpei, adik dan kakak seperguruan, maka Prof Kikiek-lah yang menjadi sensei (guru), sekaligus “ayah” bagi mereka. Di luar matras, mereka tak segan bermanja-manja dengan sang “ayah”, lengkap dengan panggilan “Dad” (daddy).
Di bawah asuhan Sensesi Kikiek, prestasi demi prestasi mereka torehkan. Alya maupun Sovia, berulang kali menyabet juara pertama kejuaraan karate tingkat nasional. Demikian pula Anggun. Sedangkan Putra, adalah kohei alias adik seperguruan yang memang masih dalam gemblengan. “Tapi bakat dan minatnya luar biasa. Putra juga akan berprestasi seperti kakak-kakaknya,” ujar Kikiek mantap.
Alya dan Sovia. Foto: Taofik
Tak lupa, terhadap bibit-bibit karateka tadi, Kikiek selalu berpesan untuk senantiasa mengingat motto “Kekuatan dipergunakan sebagai pilihan terakhir, dimana kemanusiaan dan keadilan tidak dapat mengatasi. Tetapi apabila kepalan dipergunakan dengan bebas tanpa pertimbangan, maka yang melakukan akan kehilangan harga diri dihadapan orang lain” (Gichin Funakoshi).
“Memutuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah bukanlah tujuan akhir dari karate-do. Karate-do adalah seni perkasa untuk membina kepribadian melalui latihan, sehingga karateka dapat mengatasi setiap tantangan nyata maupun tidak nyata,” ujar Kikiek mengutip filosofi karate-do.