IGU: Pasar LNG 2022 Paling Bermasalah

JAYAKARTA NEWS – Uni Gas Internasional (The International Gas Union/ IGU) menyatakan, tahun 2022 merupakan masa yang paling bermasalah di Sejarah Pasar Gas. Pada 2022 merupakan tahun yang paling bergejolak dalam sejarah pasar gas.

Gas Alam Cair (LNG) menunjukkan nilai penting sebagai sumber energi yang fleksibel, andal, dan tersedia untuk transisi energi yang aman. Dalam laporan tahunannya, IGU memberikan gambaran  yang  komprehensif tentang perkembangan dan tren utama dalam  LNG.

Laporan IGU menyebutkan,  pada tahun 2022, pasar gas global, yang sudah terlihat ketat pada periode pasca-Covid 2021, mengalami krisis pasokan utama setelah dimulainya konflik Rusia-Ukraina. Penurunan pasokan gas pipa Rusia menyebabkan defisit pasokan gas struktural di Eropa daratan yang menyebabkan perjuangan untuk mengembalikan keamanan energi.

Eropa memberikan premi harga yang lebih tinggi daripada bagian lain dunia untuk menarik muatan LNG tambahan. Produsen AS berhasil mengekspor 55,2 juta ton ke Eropa, peningkatan 148% dibandingkan dengan level 2021, sekalipun Freeport LNG di Texas ditutup setelah kecelakaan pada Juni 2022. Volume LNG dari AS menyumbang 44% dari total impor LNG Eropa sementara Eropa menyumbang 69% dari total ekspor LNG AS tahun lalu.

LNG dapat diklaim sebagai  menyelamatkan situasi, deengan menjaga keamanan energi Eropa dan memungkinkan mereka melewati musim dingin 2022 dan tetap menyala. Eropa mengimpor lebih dari 66% lebih banyak LNG pada tahun 2022 (+50,4 juta ton), menutupi kekurangan energi yang berasal dari kehilangan pasokan gas pipa Rusia.

Presiden IGU,  Li Yalan, mengatakan, “LNG menjaga cahaya menyala di Eropa musim dingin lalu. Tetapi, kurangnya pasokan yang memadai di pasar juga mendorong harga spot dunia mencapai level tertinggi, dan banyak konsumen di seluruh dunia harus memilih bahan bakar yang lebih kotor, atau yang lebih buruk – menghentikan operasi.”

“Masa depan yang lebih baik, bersih, dan aman akan membutuhkan perencanaan pasokan dan permintaan energi yang lebih baik dalam jangka panjang untuk transisi yang teratur. Kasus pada tahun 2022 menunjukkan bahwa LNG adalah energi fleksibel yang diperlukan bagi dunia untuk melanjutkan perjalanan transisi energi secara aman,” kata Li Yalan.

IGU menggarisbawahi bahwa sekali lagi LNG  menunjukkan nilai pentingnya sebagai sumber energi yang fleksibel, andal, dan tersedia untuk transisi energi yang aman. Hingga April 2023, perdagangan LNG global menghubungkan 20 pasar ekspor dengan 48 pasar yang memiliki infrastruktur impor, dan pasar LNG yang semakin terglobalisasi memungkinkan pengalihan volume energi yang masif dalam beberapa bulan.

Pada tahun 2022, kapasitas cair LNG global tumbuh sebesar 4,3% menjadi total 478,4 juta ton per tahun (MTPA), dan 75% peningkatan pada tahun 2022 berasal dari Amerika Serikat, menjadikannya kapasitas likuidasi operasional terbesar di dunia (88,1 MTPA). Volume kapasitas likuidasi yang disetujui menurun menjadi 25,2 MTPA dibandingkan dengan 50 MTPA yang disetujui pada tahun 2021.

Pada tahun 2022, juga terjadi peningkatan kapasitas regasifikasi baru yang disetujui, dan beberapa di antaranya dioperasikan, dengan waktu yang singkat di Eropa. Lebih dari 10 pasar Eropa – termasuk Jerman, Belanda, Finlandia, Prancis, Kroasia, dan Italia – telah memulai pembangunan infrastruktur baru sejak konflik Rusia-Ukraina pecah. Ini termasuk 26 proyek dengan kapasitas regasifikasi gabungan sebesar 104,5 MTPA. Dari proyek-proyek ini, enam telah diresmikan. Empat terminal lainnya telah diambil FID dan sedang dalam pembangunan, dengan total kapasitas 18,8 MTPA. Sekitar 70% kapasitas baru akan berasal dari terminal lepas pantai. Sementara itu, Tiongkok tetap menjadi pasar dengan pertumbuhan kapasitas regasifikasi tercepat dan terus memperkuat kapasitasnya tahun lalu.

Risiko kembali ke kondisi 2022

Harga yang sangat tinggi di pasar Eropa membantu mengalihkan volume LNG dari Asia ke Eropa dan menyeimbangkan pasar jangka pendek, tetapi juga menyebabkan penurunan permintaan di beberapa pasar Asia. Harga patokan pasar spot Asia yang biasanya lebih tinggi diperdagangkan dengan diskon dibandingkan dengan pasar Eropa untuk pertama kalinya sebanyak 85% pada periode Februari 2022 hingga Januari 2023. Namun, baik indeks JKM Asia maupun indeks TTF Eropa memecahkan rekor pada tahun 2022, mencapai $84,762/mmBtu dan $93,813/mmBtu masing-masing.

Permintaan Asia mengalami penurunan yang signifikan di sebagian besar lokasi, dengan dua pasar LNG yang paling berkembang dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dan India, mengurangi impor masing-masing sebesar 19,3% dan 17,7%.

Meskipun harga berkurang mendekati level rata-rata historis pada awal 2023, mereka tetap tinggi dengan risiko kembali ke kondisi 2022. Sementara itu, ketergantungan Eropa pada pasar spot LNG tetap kuat (sekitar 70% impor benua Eropa pada 2022 diperkirakan berasal dari pasar spot) dan hal ini akan meningkatkan volatilitas harga gas di Eropa. (sumber: igu/sm)

Energi Hijau Bantu Tekan Neraca Transaksi Berjalan

JAYAKARTA NEWS— Sumber energi ramah lingkungan yang besar di Indonesia bisa memperbaiki neraca transaksi berjalan.  “Selama bertahun-tahun kami baru menyadari potensi energi ramah lingkungan ini. Jika ini bisa kami kelola, tentunya bisa dapat menekan neraca transaksi Indonesia,” kata Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat menjadi pembicara pada Forum Bloomberg New Energy Finance yang berlangsung di Shanghai pada hari Rabu (04/12/2019).

Perang dagang yang terjadi, lanjut Luhut,  membuat kami sadar akan potensi ini. “Hydropower, misalnya, di Papua kami memiliki potensi sekitar  22,000 MW, di Kalimantan sebesar 11,000 MW, masih ada lagi energi angin, biomass, dan masih banyak lagi. Total potensinya sekitar 443,208 MW,” paparnya.

Menurutnya dengan mengolah energi yang ramah lingkungan dan lebih murah ini, diharapkan bisa  mengurangi ketergantungan  pada impor BBM, yang merupakan salah satu faktor utama terjadinya defisit pada neraca perdagangan. “Kami berharap masyarakat semakin memanfaatkan potensi-potensi tersebut. Pengembangan energi terbarukan ini bisa didorong oleh semakin murahnya teknologi baterai lithium,” ucapnya. 

Ia mengungkapkan sudah melakukan pertemuan sebanyak dua kali dengan Governor Directors and Corporate Auditors JBIC Tadashi Maeda, yang membicarakan kemungkinan kerja sama pembiayaan di bidang energi ramah lingkungan. 

Dalam rangka mengembangkan potensi-potensi energi ramah lingkungan ini, di sela-sela forum tersebut Menko Luhut menerima Yashushi Fukuzumi, Vice  President Mitsubishi Heavy Industries. Pertemuan tersebut membicarakan potensi pengembangan energi matahari di Indonesia. 

Emisi Karbon

Pada forum itu Menko Luhut mengatakan Indonesia sedang berusaha untuk menekan emisi karbon. Ini adalah  bentuk komitmen Indonesia untuk menjalankan Paris Agreement.  “Kami berkomitmen untuk mengurangi emisi 29 persen hingga tahun 2030. Salah satu usaha yang kami lakukan adalah mendorong penggunaan mobil listrik. Selain itu, kami juga mendorong penggunaan biodiesel. Sejauh ini Indonesia telah mengimplementasikan B20. Pada 2020 nanti kami akan mulai implementasi B30,” katanya.

Paris Agreement adalah kerangka kebijakan jangka panjang bagi negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi karbon, sehingga kenaikan suhu bisa di bawah 2 derajat per tahun.

Ekspor Bijih Nikel

Dalam wawancara dengan media, Menko Luhut menjelaskan kebijakan hilirisasi yang dilakukan pemerintah.  Menko Luhut menjelaskan mengenai transformasi ekonomi Indonesia dari yang berbasis komoditi menjadi yang berbasis nilai tambah, seperti nikel ore menjadi  stainless steel/karbon steel sampai baterai litium. 

“Selama ini kami hanya mengimpor bahan mentah, kini kami bertransformasi kepada ekspor bahan yang bernilai tambah. Pelarangan ekspor bijih nikel adalah merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan ekspor produk nikel melalui pengolahan bahan mentah menjadi  produk ekspor yang memiliki nilai tambah, dan pada akhirnya mampu mengurangi defisit transaksi berjalan,” jelasnya. 

Ditambahkannya juga, Indonesia saat ini memiliki kawasan industri khusus produksi nikel dan  baterai kendaraan yakni di Morowali dan di Weda Bay, Halmahera. “Diharapkan  ekspor dari hasil pengolahan mineral di Morowali diproyeksikan dapat mencapai angka US$35 miliar pada 2025 nanti,” katanya.***/jpp/ebn

Riset Kerjasama G20 untuk Energi Berkelanjutan Antar Warek IV UBJ Raih Doktor HI

JAYAKARTA NEWS – Wakil Rektor IV Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) Diah Ayu Permatasari meraih gelar doktor Ilmu Hubungan Internasional (HI) di Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Padjadjaran dengan predikat Cam Laude.

Riset bertajuk Kerja Sama Multilateral Indonesia dalam Mewujudkan Energi Berkelanjutan Melalui Forum G20 (2009-2018) mengantar Pepy, sapaan akrab dosen Fakultas Ilmu Komunikasi UBJ itu, menjadi doktor HI ke-40 dari Unpad. Untuk diketahui, Program S-3 HI Unpad adalah satu-satunya yang ada di Indonesia.

Promovendus berhasil mempertahankan risetnya di depan sidang terbuka yang berlangsung pada Senin (8/4/2018).

Dalam sisi tanya jawab, salah satu yang ditanyakan penguji adalah isu menyangkut kelapa sawit. Dalam pandangan promovendus, apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, melalui mitigasi yang disiapkan, sudah memadai. Dalam hal ini, perkebunan sawit di Indonesia bukan hanya semata-mata mengejar nilai ekonominya saja, tetapi juga bertanggungjawab atas lingkungan.

Penelitian yang dilakukan Diah memberi simpulan, bahwa G20 adalah salah satu forum kerja sama dalam merumuskan berbagai komitmen dan upaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menetaplan agenda global di bidang ekonomi.

“Tidak hanya permasalahan ekonomi, G20 juga merupakan forum yang berupaya untuk mengatasi berbagai masalah global, sekaligus forum untuk membangun kemitaraan yang strategis dan kerja sama dengan anggota G20 dan negara-negara lainnya termasuk diantaranya bidang energi,” papar Pepy.

Kerjasama multilateral pada forum G20 pada pemenuhan energi berkelanjutan menitikberatkan pada pembahasan berbagai isu seputar energi melalui pembentukan G20 Energy Sustainability Working Group (ESWG).

Menurutnya, pembahasan pada ESWG sebagai platform penting dalam menjawab dan memberikan alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan dan hambatan di bidang energi.

“ESWG menjadi alat yang penting bagi negara-negara G20 dalam melakukan implementasi dari platform politik pemenuhan energi serta kelanjutan dari pembangunan kerangka energi global yang diterapkan pada forum multilateral,” jelasnya.

“Pembahasan pada ESWG menggambarkan difuse reciprocity yang secara perlahan dalam jangka panjang keuntungan ini membawa kebaikan bagi negara-negara G20 termasuk Indonesia dalam melakukan langkah-langkah untuk mengimplementasikan sejumlah komitmen di bidang energi dalam rangka mengamankan cadangan energi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai upaya diantaranya pencabutan dan pengalokasian subsidi yang tepat guna, serta pengembangan energi baru terbarukan yang efektif, efisian dan ramah lingkungan,” papar Pepy.

Pada bagian lain Pepy mengungkapkan, bahwa dalam pemenuhan kebutuhan energi berkelanjutan, bagi Indonesia forum G20 sangatlah penting. Forum itu untuk membangun kerja sama dengan negara-negara G20 dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional yang saat ini masih menimbulkan berbagai permasalahan.

Dari riset yang dilakukan, Pepy menyarankan agar Indonesia konsisten untuk mencapai usaha dalam mencapai energi berkelanjutan baik komitmeb di dalam negeri maupun bernegosiasi di forum kerja sama multilateral.

Juga digarisbawahi bahwa aktivasi dan keterlibatan koordinasi stake holder harus lebih aktif agar implementasi komitmen di bidang energi berkelanjutan di forum G20 dapat terlaksana dengan baik. [sm]

Alogaritma Meningkatkan Efisiensi Produksi Energi PLTB

Presiden Joko Widodo memperhatikan turbin kincir angin usai meresmikan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin 2 Juli 2018. [ant]
RISET alogaritma untuk energi terbarukan yang dilakukan oleh sejumlah peneliti  memberi angin segar, untuk bagaimana meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan energi yang bersumber dari tenaga angin.

Para peneliti  di Penn State Behrend dan University of Tabriz, Iran, dikabarkan telah  menyelesaikan algoritma yang dirancang untuk ladang angin pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) yang lebih efisien, sehingga  membantu meningkatkan pendapatan sekaligus sumpai tenaga  listrik terbarukan untuk pelanggan mereka.

Para peneliti menggarisbawahi bahwa untuk  membangun ladang angin yang lebih efisien, perancang harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kecepatan angin dan jarak turbin, serta ukuran tanah, geografi, jumlah turbin, jumlah vegetasi, kondisi meteorologi, biaya pembangunan.

Semua faktor tersebut harus diseimbangkan,  mengingat sulitnya untuk menemukan dan menentukan tata letak yang optimal. Meskipun turbin angin efisien, tata letak ladang angin dapat mengurangi efisiensi ini, apabila  tidak dirancang dengan baik.

“Pemanfaatan energi angin kini sedang meningkat, dan ini tidak hanya terjadi di AS,” kata Mohammad Rasouli, asisten profesor teknik listrik di Penn State Erie, Behrend College.

Mohammad Rasouli, Ph.D

“Efisiensi panel surya kurang dari 25 persen, dan masih menjadi subjek penelitian saat ini. Turbin angin, di sisi lain, jauh lebih efisien dan mengubah lebih dari 45 persen energi angin menjadi listrik, ” katanya menambahkan.

Untuk riset ini, para peneliti tengah berfokus pada satu pendekatan, yang disebut biogeographical-based optimization (optimasi berbasis biogeografisatau BBO). Pendekatan BBO dibuat pada tahun 2008 yang terinspirasi dari alam.

Rasouli menjelaskan, BBO didasarkan pada bagaimana hewan secara alami mendistribusikan diri mereka sendiri untuk memanfaatkan lingkungan mereka berdasarkan kebutuhan mereka. Dengan membuat model matematika dari perilaku hewan, maka dimungkinkan bagi para peneliti untuk menghitung distribusi optimal objek dalam skenario lain, seperti turbin di ladang angin.  “Kami menggunakan  multi-objective approach,” kata Rasouli.

“BBO memiliki fungsi dan kami ingin mengoptimalkannya dengan mempertimbangkan berbagai kendala. Biasanya metode analitik membutuhkan banyak perhitungan, sedangkan metode BBO ini meminimalkan komputasi dan memberikan hasil yang lebih baik, menemukan solusi optimal dengan biaya komputasi yang lebih rendah,” jelas Rasouli.

 

Peneliti lain menggunakan versi sederhana dari pendekatan BBO pada 2017 dan 2018 untuk menghitung tata letak ladang angin yang lebih efisien, tetapi versi yang disederhanakan ini tidak memperhitungkan semua faktor yang memengaruhi tata letak optimal.

Menariknya, para peneliti dari Penn State dan University of Tabriz ini, menyelesaikan pendekatan dengan memasukkan variabel tambahan, termasuk data pasar nyata, kekasaran permukaan dan berapa banyak angin yang diterima setiap turbin.

Tim peneliti juga meningkatkan pendekatan BBO dengan memasukkan model yang lebih realistis untuk menghitung baling-baling (daerah dengan kecepatan sayap lebih lambat yang dibuat setelah angin bertiup melewati turbin) dan menguji seberapa sensitif model itu terhadap faktor-faktor lain seperti suku bunga, insentif keuangan, dan perbedaan dalam biaya produksi energi.

 


“Ini adalah pendekatan optimasi yang lebih realistis dibandingkan dengan beberapa metode penyederhanaan yang ada di luar sana,” ungkap  Rasouli. “Ini akan lebih baik untuk pelanggan, untuk produsen, dan ke ladang angin gaya grid dengan ukuran lebih besar.”

Dengan memasukkan lebih banyak data, seperti catatan meteorologi yang diperbarui dan informasi pabrikan, para peneliti akan dapat menggunakan pendekatan BBO untuk mengoptimalkan tata letak ladang angin di banyak lokasi berbeda, membantu perancang ladang angin di seluruh dunia memanfaatkan tanah mereka dengan lebih baik dan menghasilkan lebih banyak energi untuk memenuhi permintaan energi masa depan dari konsumen.

“Sekarang ini merupakan akhir masa untuk penggunaan bahan bakar fosil,” kata Rasouli. “Dengan metode ini dan yang akan datang atau pendekatan optimasi yang lebih baik, kita dapat menggunakan energi angin dengan lebih baik.”

Kabar baik ini mungkin ada baiknya kalau pemerintah melalui kementrian ESDM mengirim para peneliti Indonesia untuk mempelajari lebih lanjut, agar dapat diaplikasikan di tanah air, yang sekarang ini sudah mulai memanfaatkan energi terbarukan.