PPAD Ikut Makmurkan Kepri dengan “Emas Biru”

TANJUNG PINANG, JAYAKARTA NEWS – Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD) hadir di Provinsi Kepulauan Riau. Pengurusnya, resmi dilantik Kamis (25/5). Ketua terpilih adalah Kolonel Purn Drs Jamhur Ismail, MM.

Dalam sebuah seremoni di aula Makorem 033/Wira Pratama, Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo menyerahkan pataka PPAD kepada Kolonel Purn Jamhur Ismail, mewakili barisan pengurus yang dilantik. Upacara itu disaksikan Gubernur Kepulauan Riau H, Ansar Ahmad, S.E, M.M serta unsur Forkopimda lain.

Undangan lain dari TNI-AL, TNI-AU, Polri serta unsur Persatuan Purnawirawan TNI-AL (PPAL), Persatuan Purnawirawan TNI-AU (PPAU), dan Persatuan Purnawirawan Polri (PP Polri). Juga hadir FKPPI dan PPM.

“Di sini juga hadir sejumlah pengurus PPAD Pusat dari Jakarta. Juga hadir Ketua PPAD Sumatera Utara. Ini adalah bentuk dukungan terhadap PPAD Kepri,” ujar Doni Monardo, dalam pembukaan sambutannya.

Beberapa pengurus pusat yang mendampingi Doni Monardo, di antaranya, Ketua Bidang Organisasi Mayjen TNI Eko Budi S (1984), Bendahara Umum Mayjen TNI Purn Amrin, MAP (1985), dan Wasekjen III Brigjen TNI Bambang Irianto (1986). Unsur pengurus PPAD daerah lain yang hadir, di antaranya Mayjen TNI Purn Zulfardi Junin (1985), Mayjen TNI Purn Irwansyah (1985), Brigjen TNI Purn Gatot E Puruhito (1985), Ketua PPAD Sumatera Utara Kolonel Purn Ganda Simanjuntak (1985), dan Kolonel Purn Alex Batoek (1985). Serta dua staf Bidang Komunikasi PPAD, Egy Massadiah dan Roso Daras.

Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo menyerahkan pataka kepada Ketua PPAD Provinsi Kepulauan Riau, Kolonel Purn Jamhur Ismail. (foto: PPAD)

Emas Biru di Kepri

Usai dilantik, Ketua PPAD Kepri, Jamhur Ismail menegaskan ihwal besarnya potensi maritim yan ada di wilayahnya. “Jika ingin lebih makmur, maka harus kita gali, gali, dan terus gali potensi laut kita. Lebih 96 persen wilayah Kepri adalah laut,” ujar Pamen TNI AD, abituren Akmil tahun 1985 itu.

Ia lalu menceritakan success story Ketua Umum PPAD, Doni Monardo saat menjabat Pangdam XVI/Pattimura (2015 – 2017). “Di sana beliau mengembangkan potensi maritim yang dikenal dengan program emas biru. Nah, program yang sangat bagus itu harus diduplikasi di Kepulauan Riau, yang notabene wilayah lautnya lebih luas dibandingkan Provinsi Maluku,” kata Jamhur.

Saat ini, tren pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau relatif sangat baik. Dan akan jauh lebih baik jika kebijakan pembangunan ke depan, lebih menggali potensi laut. “Di luar potensi SDA yang berlimpah serta posisi jalur lintas laut antar benua yang strategis,” kata Jamhur yang pernah menjabat Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kepri, itu.

Doni “Pahlawan Covid”

Sementara itu, Gubernur Kepri, Ansar Ahmad menyampaikan rasa senang dan bangga bisa berjumpa kembali dengan Doni Monardo. “Sebagai Kepala BNPB yang juga Ketua Gugus Tugas Covid-19, peran, dedikasi, dan kredibilitas beliau sangat luar biasa. Saya menyebut beliau Pahlawan Covid-19. Peran beliau sangat besar dalam pengendalian Covid-19 di Provinsi Kepri,” ujar Gubernur mengenang masa-masa pandemi beberapa tahun silam.

Ansar menceritakan bagaimana strategi penanganan Covid-19 di Kepri dengan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi, sehingga Presiden Joko Widodo menobatkan Kepri sebagai Provinsi Terbaik Indonesia dalam mengatasi pandemi di luar Jawa dan Bali. “Kata kuncinya adalah sinergi,” ujarnya.

Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, memberikan sambutan pada pelantikan pengurus DPD PPAD Provinsi Kepri. (foto: PPAD)

Jalur Penting

Menegaskan ihwal posisi strategis Kepri, Gubernur yang juga mantan Bupati Bintan ini menyebut posisinya sebagai salah satu dari empat jalur  perdagangan dunia yang terpenting. Pertama, Teluk Oman, disusul Selat Gibraltar, dan Terusan Suez. “Yang keempat, Selat Malaka. Itu jalur kami. Setiap tahun tak kurang dari 90.000 kapal melintas,” katanya.

Masih ada empat selat penting di negeri ini, yang satu di antaranya juga ada di Kepri. Keempat selat yang dimaksud adalah Selat Lombok. Selat Sunda, Selat Makassar, dan Selat Malaka.

Belum lagi hadirnya kawasan khusus seperti  Batam dan Bintan. “Karena itu, malu kita kalau tidak bisa menjadikan Kepri sebagai lomomotif perekonomian nasional,” tegas Ansar.

Di akhir sambutannya, ia menyatakan siap berkolaborasi dengan PPAD, memajukan Kepri. “Kehadiran Pak Doni Monardo dengan PPAD, sungguh memberi semangat kepada kita untuk menjadikan Kepri lebih baik ke depan,” pungkas gubernur.

Ketua Umum PP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo saat menyampaikan sambutan. (foto: PPAD)

Perhatian Khusus

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo mengilas kisah kejayaan VOC dimana Kepri merupakan jalur untuk mengangkut hasil rempah dari Tanah Air di zaman kolonial dulu.

Bahkan sejarah mencatat, sejak awal abad ke-18, kawasan ini berkembang pesat. Sektor perdagangan sangat maju.

Seperti dipaparkan Elisa Netscher, Resident Riau tahun 1861-1870, dalam “Beschrijving Van Een Gedellte Der Residentie Riouw” saat itu Riau merupakan tempat berniaga bagi pedagang-pedagang dari Borneo (Kalimantan), dan Celebes (Sulawesi) menuju Singapura.

“Saya juga mendengar soal budidaya ikan napoleon di Anambas. Harga ikan napoleon saat ini sekitar satu juta per ekor. Betapa besar potensinya jika itu bisa dikembangkan” kata Doni.

Karena itu, Doni berpesan kepada Ketua PPAD Kepri, Kolonel Jamhur agar bekerja keras. “Lakukan sinergi dan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dunia swasta, untuk bersama-sama memajukan kesejahteraan masyarakat. Termasuk, tentu saja, kemakmuran purnawirawan TNI-AD,” tegas Doni Monardo. (*)

Emas Biru Ambon Manise

Indonesia terkenal dengan hasil laut. Terutama di perairan Maluku. Video ini adalah potret emas biru yang dikembangkan melalui budidaya lepas pantai. Nelayan yang juga PNS Kodam XVI/Pattimura, bernama Jefry Slamta berhasil mengembangkan budidaya keramba ikan laut. Lokasinya di lepas pantai tak jauh dari markas Kompi Laut Kodam XVI/Pattimura, Ambon.

Menu Istimewa Pasien Covid-19, Ikan Segar dari Ambon

Catatan Ringan Egy Massadiah dari Markas Gugus Tugas Covid-19

Makanan sehat adalah sebaik-baiknya obat. Di saat vaksin ataupun obat Covid-19 belum lagi ditemukan, maka makan makanan sehat adalah –salah satu— cara terbaik terhindar dari virus berbahaya itu.

Ikan adalah jawaban atas kebutuhan makanan sehat tadi. Apalagi, ikan yang berasal dari perairan dalam dan belum tercemar.

Salah satu penghasil ikan terbaik di Indonesia adalah laut Maluku. Sebab, di sana, kedalaman laut rata-rata 300 sampai 500 meter. Bahkan ada yang hingga kedalaman 5.000 meter.

Pendek kata, ikan-ikan dari lautan Maluku, sangat segar dan bergizi tinggi. Sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Tentu, sangat baik jika dikonsumsi para pasien dan tenaga medis yang ada di rumah-sakit-rumah-sakit rujukan Covid-19.

Doni Monardo di Pasar Ikan Hamadi, Jayapura. (foto: egy)

Itulah keseluruhan alasan sederhana seorang Doni Monardo, ketika mendatangkan ikan-ikan segar dari perairan Maluku. Ikan-ikan itu kemudian dimasak dan dihidangkan sebagai menu utama bagi para pasien dan tenaga medis di “RS Darurat Covid-19” Wisma Atlet, Kemayoran – Jakarta Pusat, tanggal 3 Mei 2020.

Sekilas, ada kesan “kalau ada cara mudah, kenapa pak Doni mencari cara susah?”

Mendatangkan ikan dari Maluku ke Jakarta, tentu bukan persoalan mudah. Jika persoalannya adalah sekadar membeli ikan dan minta dikirim, memang tidak sulit. Tetapi ini Ambon, bung! Apalagi situasi saat ini, penerbangan terbatas bahkan nyaris tak ada.

Anda tahu? Jarak Ambon ke Jakarta adalah 2,737 km. Jika menggunakan jalur laut dan darat, via Ambon – Makassar – Surabaya – Jakarta membutuhkan waktu sedikitnya 108 jam. Anda yang pernah melakukan perjalanan itu, pasti setuju. Sedangkan jika melalui transportasi udara, butuh waktu 3 jam 55 menit, di luar urusan pesawat taxi to runaway, take off, dan landing.

Artinya, jauh lebih mudah jika membeli ikan di Muara Angke, misalnya. Tapi Doni keukeuh mendatangkan ikan dari hasil budidaya nelayan Ambon. Ada banyak alasan untuk itu. Alasan pertama adalah, kesegaran ikannya. Segar dalam arti, benar-benar ikan sehat dan tidak tercemar.

Alasan kedua, tentu saja menyerap buah kerja para nelayan yang telah mengikuti program emas biru. Sebuah program budidaya hasil laut, yang dirintis saat Doni menjabat Pangdam XVI/Pattimura tahun 2017.

Kiriman ikan segar dari Ambon, tiba di RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Jakarta. (foto: BNPB)

Singkat kata, 100 kg ikan kuwe –di Ambon disebut ikan bobara— serta beberapa jenis lainnya pun siap dikirim. Mayjen TNI Marga Taufik, Pangdam Pattimura sudah menyiapkannya atas permintaan langsung dari Doni. Untuk harga ikan dan packing, sekitar Rp 8 juta. Belum termasuk biaya kirim (kargo).

Beruntung, Dirut Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra berbaik hati, dan spontan menyatakan ikut membantu niatan Doni Monardo. Irfan membebaskan ongkos pengiriman 100 kg ikan dari Ambon ke Jakarta dengan pesawat Garuda.

Setiba di Wisma Atlet, ikan-ikan segar yang dikemas dalam kotak gabus styrofoam lengkap dengan es batu, langsung diolah di dapur RS Darurat Wisma Atlet. Para juru masak adalah koki-koki handal yang dikoordinir oleh Kementerian BUMN yang bertugas di sana.

Doni Monardo bersama Gubernur Maluku, Murad Ismail (paling kanan) saat mengunjungi budidaya keramba ikan di Ambon, September 2019. (foto: BNPB)

Ikan Ambon Istimewa

Tidak sampai hitungan hari. Hanya dalam hitungan jam sejak para pasien Covid-19 di RS Darurat Civid-19 Wisma Atlet Kemayoran menyantap ikan kiriman Doni Monardo, komentar dan respon datang bertubi-tubi. Tentu ada yang nyangkut ke jalur japri Doni Monardo, tapi kebanyakan diarahkan kepada orang-orang terdekat Doni.

Melalui Brigjen Saleh Mustafa, Akabri 91, Kasdam Jaya, saya mencari tahu komentar warga Wisma Atlet. “Apa benar itu ikan kuwe, pak! Kok rasanya beda sekali. Yang ini benar-benar gurih. Dagingnya wow dan segar,” itu salah satu komentar salah seorang pasien di RS Darurat Wisma Atlet.

Ihwal keistimewaan rasa ikan yang didatangkan dari Ambon, saya menggalinya kembali saat berbuka puasa dua malam lalu. “Yang jelas, laut Ambon belum tercemar,” kata mantan Komandan Jenderal Kopassus tahun 2015 ini.

Kembali ia mengulangi alasan lain, yakni ihwal kedalaman lautnya. “Begitu lepas dari pantai, tidak lama kemudian bawah laut berbentuk tegak lurus, dengan kedalaman antara tiga-ratus hingga lima-ratus meter,” tambahnya.

Kontur bawah laut perairan Maluku bisa dilihat melalui GPS yang biasa digunakan para pemancing ikan profesional. Juga dengan aplikasi yang ada di handphone, betapa gambaran dinding, kedalaman laut serta palung atau jurang laut yang ada di sekitar Ambon.

Di perairan dalam itulah Doni Monardo, saat menjabat Pangdam XVI/Pattimura tahun 2017 mencanangkan program emas biru. Membuat keramba budidaya ikan. Hanya dalam waktu singkat, hasilnya luar biasa mencengangkan.

“Ikannya sangat bagus, segar, sehat, tidak tercemar. Makanan mereka bukan pelet atau sejenisnya, melainkan plankton, fitoplankton, hydrila dan tumbuhan yang hidup di perairan keramba.

Pakar kuliner William Wongso memperkenalkan sashimi ikan kerapu kepada Doni Monardo, tahun 2017.

Menggambarkan betapa segar ikan-ikan hasil budidaya di Ambon, Doni punya satu cerita. Cerita yang juga terjadi tahun 2017, yakni saat pakar kuliner William Wongso bertandang ke Ambon. Di sana, ia sedia membuat demo mengolah kuliner ikan.

Spot syuting dilakukan di pinggir pantai, tak jauh dari lokasi keramba budidaya perikanan “emas biru” yang dikelola masyarakat. William Wongso langsung mengambil ikan kerapu. Dengan ahlinya, ia membuat irisan fillet, lalu dibuat sashimi.

“Kami semua diminta makan ikan mentah dengan mencocol di kecap asin, jeruk nipis, dan campuran dressing yang harum baunya,” kata Doni Monardo seraya menambahkan, “karena yang ditawari hanya saling pandang, maka pak William Wongso langsung bilang, ‘ini ikan sangat bersih. Saya tahu, ini ikan bersih dari pencemaran. Dari dagingnya saya tahu’.”

Doni Monardo, penggagas emas biru itu, gesit mengunyah sashimi ikan kerapu, hasil budidaya emas biru nelayan Ambon. “Benar, itu kali pertama saya makan ikan mentah hasil budidaya yang saya rintis sendiri. Rasanya memang luar biasa. Enak sekali,” kata Doni.

Kenikmatan rasa daging ikan laut Ambon, sudah sering berdansa di lidah Doni Monardo. Hanya saja, sebelum-sebelumnya, selalu bercampur dengan rasa dan aroma rempah yang ada dalam bumbu.

“Sebab, sebelumnya selalu dimasak, atau paling tidak dibakar. Tapi untuk dimakan mentah, terus terang baru pertama kali,  apalagi yang mengiriskan langsung dari tangan pak William Wongso,” papar Doni pula.

Seperti ada kebutuhan khusus seorang Doni Monardo untuk berkampanye makan ikan. Katanya, di saat penyakit sedang melanda, masyarakat butuh imunitas. Tidak boleh panik. Makan harus teratur, olahraga juga harus teratur.

Ikan adalah salah satu jenis makanan bergizi. Makanya spontan Doni menawarkan ke pengelola RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Mereka antusias sekali.

Hal yang sama ternyata sudah pernah dilakukan Doni Monardo di Natuna, awal Februari 2020.

Saat itu, bersama Menko PMK dan Menkes mengkoordinasi pemulangan lebih dari 200 WNI dari Hubei, Wuhan – China. Sebelum dikembalikan ke keluarga, mereka dikarantina di pangkalan Kogabwilhan 1 yang ada di Natuna.

Selama 14 hari masa karantina, hampir tiada hari tanpa makan ikan. “Asal tahu saja ya… bagi yang jarang makan ikan, mungkin tidak bisa membedakan rasa ikan. Tetapi bagi yang biasa makan ikan, akan dengan mudah bisa membedakan cita rasa ikan. Ikan kerapu, beda rasanya dengan ikan tongkol, tuna, bandeng, dan lain-lain. Jadi, meski tiap hari makan ikan, tidak akan ada rasa bosan,” papar Doni, fasih.

Untuk memenuhi kebutuhan ikan bagi 200 lebih WNI yang ada di karantina, pihaknya membeli ikan dari para nelayan Natuna. Ikan-ikan di Natuna juga terbilang masih sangat segar. “Makanya, setelah usai karantina, hasilnya semua sehat, dan bisa kembali ke tengah keluarga dengan aman dan nyaman,” pungkas Doni Monardo.

Begitulah, ikan dimakan, ekonomi nelayan tetap berdenyut.(*)

*) Penulis adalah Tenaga Ahli BNPB – Anggota Gugas Covid-19