Halte Transjakarta Dilengkapi Metal Detector

PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta akan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas di halte angkutan massal andalan ibukota itu. Hal ini dilakukan pasca ledakan bom bunuh diri dekat halte Transjakarta Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Salah satu bentuk pengamanan disampaikan Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, yakni dipasangnya metal detector atau alat pendeteksi logam. “Metal detector untuk menjamin kenyaman, keselamatan keamanan kita adakan untuk beberapa halte. Tapi nggak setiap halte ada,” kata Djarot di Balai Kota Jakarta.

Djarot menjelaskan, metal detector yang dimaksud tidak secanggih seperti yang berada di bandara. Melainkan, hanya metal detector yang dipegang petugas. “Yang sederhana saja, yang dipegang itu saja. Bukan bentuk kotak seperti yang di bandara, waduuh berat bos kalau begitu ya. Mahal itu, kita punya halte ratusan lho,” paparnya.

Lebih jauh politisi PDI-P menjelaskan, selain metal detector dan CCTV, Pemprov DKIjuga akan bekerja sama dengan aparat kepolisian dan juga memberi pelatihan kepada petugas keamanan  halte Transjakarta tentang cara membaca gerak-gerik orang yang mencurigakan. ***

Ali: Dianggap Toghut, Polisi Jadi Target Aksi Teror

TIGA anggota polisi gugur menyusul aksi bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, menandakan bahwa Polri sebagai aparat penegak hukum memang menjadi terget aksi terorisme tersebut.

Sekretaris Pusat Studi Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Ubhara Jakarta Raya (UBJ), Ali Asghar, memberi beberapa catatan atas kasus bom bunuh diri yang terjadi pada Rabu (24/5/2017) malam di kawasan Kampung Melayu. Selain tiga orang polisi gugur, dua pelaku bom bunuh diri juga tewas, sementara 10 orang lainnya mengalami luka-luka. Aksi teror tersebut mengagetkan, karena hanya selang dua hari setelah kasus serupa yang terjadi di Manchester Arena, saat ujung akhir konser penyanyi pop asal Amerika Serikat, Ariana Grande.

Catatan pertama, menurut Ali adalah, peristiwa bom Kampung Melayu terjadi tidak lama jaraknya dengan  teror di Manchester, Inggris pada tanggal 22 Mei 2017. “Pola yang sama seperti kasus bom Thamrin yang terjadi tidak berapa lama jarak waktunya dengan kasus teror di Paris ketika  itu,” papar Ali.

Sekretaris Puskamnas, Ali Asghar.

Catatan kedua, lanjut Ali, target serangan nampaknya diarahkan kepada  aparat kepolisian. Polisi menjadi target serangan terorisme, tidak saja di Indonesia tetapi hampir di seluruh dunia, target serangan teror banyak diarahkan kepada  aparat kepolisian atau penegak hukum.

“Ada banyak alasan, namun salah satunya mungkin kita mengatakan bahwa  ada motif balas dendam terhadap polisi karena  banyaknya kelompok dan jaringan mereka yang ditangkap dan terbunuh ditangan polisi.,” katanya.

Menurut Aly, polisi dimusuhi pelaku dan kelompok terorisme, karena para aparat tersebut dianggap sebagai thogut. Dengan demikian, mereka menjadi target utama kelompok terorisme, karena dianggap menghalangi cita-cita yang mereka inginkan.

Catatan ketiganya, menurut Aly adalah menyangkut pilihan tempat. Lokasi yang dipilih sebagai target sangat  sangat strategis. Pasalnya, lokasi serangan di terminal kampung Melayu itu sangat ramai pada jam tersebut, sehingga memicu  kepanikan masyarakat. Sekalipun  efek ketakutan itu nampaknya kurang berhasil digarap, karena masyarakat terlihat malah mendekati lokasi.***