Kuliahkah di Lebanon

Oemar, Ketua PPI Lebanon (paling kiri) dan anggotanya makan malam dengan saya di Beirut

Oleh Dahlan Iskan

Lho!

Ternyata ada. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Lebanon. Itu dia. Yang di medsos itu. Yang tiba-tiba tahu saya lagi di Lebanon itu. Yang kemudian ingin ketemu saya itu.

Saya hubungi Sasa. Yang atur jadwal saya. Pengganti Meichy yang sudah menikah di Bima bulan lalu. Saya minta Sasa untuk mencari mahasiswa itu. Saya ingin undang ia makan malam. Mahasiswa di perantauan biasanya – – pinjam istilah mereka– perlu perbaikan gizi. Sesekali.

Saya minta pada Sasa: agar mahasiswa itu sendiri yang menentukan. Di mana makan malamnya. Boleh juga mengajak teman. Paling-paling dua-tiga orang. Ini kan bukan Mesir. Atau Amerika. Atau Tiongkok. Atau Arab Saudi. Yang mahasiswa Indonesianya ribuan.

Saya pun dapat kado malam itu. Sebuah buku. Judulnya bagus: Jazirah Kucing Kampung. Karya Ahmad Zuhdi

Ternyata mahasiswa tadi cepat sekali memutuskan. Malam hari itu juga. Di Beirut. Di Pusat kota. Restorannya pun sudah ia tentukan: Mandi Hadramaut Restorant. Pun menunya. Sudah mereka pesan.

Dan yang datang: 25 orang!

Ini mau makan atau mau  perang?

Untung restorannya besar sekali. Gaya Arab.

Saya was-was. Dompet saya kan tipis sekali.

Tapi saya segera tenang. Kan ada kartu kredit.

Saya pun melupakan jumlah batalion itu. Fokus ke kegembiraan.

“Kami semua kangen Pak Dahlan,” kata Umar Syarif Alatas. Ia baru terpilih menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Lebanon. Kuliahnya di kota Akkar. Tiga jam naik bus ke Beirut. Itulah kota kecil di perbatasan dengan Syiria.

Kangen?

Kapan ketemunya?

“Di dalam mimpi pak,” kata Ahmad Syarif sambil tertawa. Alumni Tebu Ireng Jombang itu. Asal Makassar itu. Yang lain ikut tertawa. Seru.

Di depan kami pun ada barang tumpah. Makanan gaya Hadramaut: nasi mandi. Di beberapa nampan. Ada yang di atasnya gumpalan-gumpalan kambing. Ada juga onggokan-onggokan ayam. Ada pula lembaran-lembaran ikan. Lengkap dengan assesorinya: nampan-nampan yang saladnya membukit di atasnya. Bundaran-bundaran roti. Butiran-butiran zaitun. Dan entah apa lagi.

Tapi yang lebih banyak lagi pertanyaan: tentang masa lalu saya. Saya menghindari pertanyaan seperti itu. Lebih baik bicara tentang masa depan mereka.

Ternyata ada 92 mahasiswa Indonesia di Lebanon. Di berbagai kota. Dari jumlah itu ada dua yang wanita. Salah satunya Lya. Yang ikut datang ke resto ini. Dari kota Tripoli. Juga hampir tiga jam dari Beirut.

Yang enam orang lagi  mahasiswa Syiah. Asal Malang. Kuliahnya di dekat masjid tempat saya Jumatan itu.

Di Malang satu keluarganya Syiah semua.

“Yang Pak Dahlan ke masjid itu, itu bukan Jumatan. Itu salat duhur. Karena itu empat rakaat,” kata Hasan Fadlullah. Yang duduk di depan saya. “Jumatannya di masjid satunya,” tambahnya.

Terima kasih keterangannya.

Hilangkan penasaran saya. Tentang empat rakaat hari itu. Di wilayah Syiah memang berlaku: di satu kota hanya satu masjid yang menyelenggarakan Jumatan. Masjid lain cukup salat duhur. Yang didahului khotbah. Sebetulnya masjid lain boleh juga Jumatan. Asal berjarak paling tidak 5 Km jauhnya.

Terjawab juga penasaran saya. Saat ke Iran dulu: mengapa di seluruh Teheran hanya satu masjid yang Jumatan. Itu pun hukumnya tidak wajib (sunnah). Sejak imam Syiah dalam status gaib. Setelah imam ke 12 meninggalkan dunia.

Selebihnya adalah mahasiswa Sunni. Itulah sebabnya. Lokasi kuliah mereka umumnya di wilayah Lebanon Utara. Basis Sunni.

Bahkan ada yang di wilayah Hisbut Tahrir. Yang di situ pun. Paling rajin mengibarkan benderanya.

“Kami ini belajar hidup di tengah banyak aliran,” kata mereka. Di Lebanon, partai komunis pun ada. Tidak dilarang. Tapi juga tidak laku. Paling demo-demo. Seperti pekan lalu. Saat penyusunan kabinet gagal lagi. Setelah delapan bulan pemilu.

Kuliah di Lebanon ini banyak yang bisa mereka banggakan. Ilmu agamanya tidak kalah. Ilmu toleransinya sangat tinggi. Saya jadi ingat waktu di pondok dulu: banyak sekali kitab kuning yang penerbitnya Lebanon. Menandakan sumber ilmu yang tinggi.

PPI Lebanon pun pecahkan rekor: pertama di Timur Tengah. Yang memiliki anggota mahasiswi.

Mereka mengakui. Banyaknya mahasiswa kita di Lebanon adalah hasil perjuangan duta besar Ahmad Chozin Chumaidi. Yang sampai saat ini masih menjabat di Beirut. Yang saya tidak sempat menemuinya.

Dubeslah yang rajin mencari sumber bea siswa. Ada yang dari yayasan keagamaan. Ada yang dari universitas. Jenis bea siswanya pun tidak sama. Ada yang semua gratis. Bahkan masih mendapat uang saku. Ada yang gratis saja. Ada pula yang gratisnya hanya uang kuliah dan tempat tinggal. Makan cari sendiri.

Memang banyak yang merasa aneh. Kuliah kok di Lebanon. Mereka sendiri umumnya ditanya keluarga. Saat pamit mau berangkat: ini mau kuliah atau perang?

Ada juga yang bilang begini. Guyon. “Setidaknya bisa dapat istri Lebanon”.

Cita-cita beristri Lebanon jadi  impian pria sedunia. Sudah terkenal pameo ini: dari 10 wanita Lebanon yang cantik 11.

Atau, dalam istilah mahasiswa malam itu, dari 10 wanita Lebanon 20 yang cantik. “Bayangan. Mereka pun cantik,” guraunya.

Saya bersaksi. Dan saya menyetujuinya.

Tapi mahasiswa di Lebanon harus tandatangan perjanjian. Sebelum menerima bea siswa dulu. Tidak boleh sambil bekerja. Dan tidak boleh kawin dengan wanita Lebanon.

“Saya pernah bertemu Pak Dahlan sungguhan,” ujar mahasiswa dari Lampung itu.

“Di mana?” tanya saya.

“Di pesantren Kyai Iskandar SQ di Jakarta,” katanya.

Ia sekolah di sana. Asal Lampung Tengah. Sudah tiga tahun di Lebanon. Mendalami ilmu syariah.

Saya memang beberapa kali sowan kyai Iskandar. Saat beliau masih hidup. Dan saat saya masih kesasar di birokrasi.

Daerah asal mahasiswa yang makan malam itu juga aneka ria: Aceh Tamiang, Asahan, Jambi, Rengat, Palembang, Lampung, Jakarta, Serang, Bekasi, Pemalang, Sleman, Magelang, Lamongan, Malang, Banyuwangi, Makassar….

Saya pun dapat kado malam itu. Sebuah buku. Judulnya bagus: Jazirah Kucing Kampung. Gambar sampulnya juga bagus: lihat sendiri fotonya. Karya Ahmad Zuhdi. Yang mengaku kangen saya di medsos itu.

Itulah buku karya mahasiswa Indonesia di Lebanon. Kumpulan cerpen. Dengan latar belakang kultur Indonesia. Dan negeri baru mereka.

Salah satunya karya Lya Khafidzul Khoir. Bagus sekali. Mahasiswi University of Tripoli. Yang kampungnya di Lyak118@gmail.com. Yang warungnya di IG@lyakhafidzul.

Sepulang dari makan saya baca habis buku itu. Saya bangga. Begitu banyak yang bakat menulis. Akan bisa lahir  disway-disway masa depan.

Insyaallah. Amin.

Saya juga mencatat kegelisahan mereka. Bahkan menjadi renungan saya juga. “Siapakah alumni Timur Tengah yang bisa jadi role model,” seperti yang dikatakan Fitrah Alif.

“Kebanyakan kami yang belajar di Timur Tengah ini hanya berpikir masuk sorga itu hanya bisa lewat agama,” kata Alif.

Ia mahasiswa di kota pantai Tripoli. Yang dulu ibukota Lebanon. Perlu naik bus tiga jam untuk makan di Beirut ini. Asalnya Palembang. Sekolah di Darul Qur’an Jakarta. Milik ustadz Yusuf Mansyur itu.

“Saya menyalami pak Dahlan waktu itu. Saat bapak ke pondok kami. Saya tahu bapak ke makam kyai jam 2 malam,” katanya.

Role model itu, katanya, sangat dirindukan. “Saat ini hanya ada TGB,” ujar Alif. Yang ia maksud adalah Tuan Guru Bajang. Doktor lulusan Al Azhar Mesir. Hafal Qur’an. Jadi gubernur NTB dua pereode. Penggemar bersepeda jarak jauh.

Pernah juga, katanya, ada DR Hidayat Nur Wahid. Lulusan Madinah. Yang pernah jadi Ketua MPR. Intelektual PKS.

“Semoga di antara kami ini ada yang jadi role model masa depan,” ujar Alif.

Role model.

Begitu banyak anak muda yang merindukan itu.

Saya bahagia malam itu. Saya ingin lebih lama bercengkerama bersama mereka. Saya tanya: jam berapa restoran tutup. Dijawab: jam 2 malam. Berarti masih banyak waktu.

Di Lebanon memang aneh. Restoran baru ramai menjelang tengah malam. Cafe Cafe begitu ramai. Tengah malam.

Tapi saya juga tahu: mereka  adalah mahasiswa. Tinggal di asrama. Yang punya aturan beda dengan restoran.

Di akhir makan malam saya kembali khawatir. Cukupkah isi dompet ini?

Restoranlah yang membuat saya khawatir. Bukan mahasiswa itu. Kartu kredit tidak laku di restoran ini. Harus bayar kontan. Saya menjauh dari mahasiswa. Saat membuka dompet.

Alhamdulillah. Uang terakhir masih cukup. Untuk naik taksi pulang ke hotel.***

Tidak Makan Anthony Bourdain

Berfoto bersama orang Syiah di resto Abdul Wahab milik orang Kristen.

Oleh Dahlan Iskan

Makan apa selama di Lebanon? Saya justru ingin tahu: Anthony Bourdain makan apa di mana? Kalau ia lagi di Beirut?
Bourdain kan ahli makan sedunia. Pengasuh acara tv di Amerika. Tentang masakan seluruh dunia. Terkenal sekali. Meninggal tahun lalu. Bunuh diri. Dengan cara tradisional: gantung diri. Di kamar hotelnya. Di Paris. Saat mau rekaman untuk acaranya nanti.
Anthony Bourdain ternyata makan di Onno Bistro. Saya harus ke situ. Harus.

Saya cari alamatnya. Mudah. Tinggal tanya Google. Hanya 5 km dari hotel saya. Hanya 15 menit, menurut peta.
Tapi menjalaninya ternyata tidak mudah. Rasanya seperti ke Jalan Karet di Surabaya. Atau ke Pintu Kecil di Jakarta. Ruwet. Salah jalan terus. Banyak cabang kembar. Ada yang belok kiri dan belok agak kiri. Tanda panah di Googlenya hanya kiri. Macet pula. Satu jam belum sampai. Perut kian melilit. Ternyata yang salah saya sendiri. Kurang teliti membaca keterangan di bawah alamat itu: ditutup. Pantesan tidak ketemu-ketemu. Mata saya tadi kan terus ke atas. Ke papan nama. Tidak ada nama itu. Muter lagi. Gak ketemu.

Akhirnya jalan kaki. Ke alamat yang di Google. Ups. Dari dekat baru ketahuan: ditutup. Karena renovasi. Tidak ada pengumuman sampai kapan.

Ya sudah.

Sejak awal sopir saya sudah keberatan saya ke situ. Tidak jelas alasannya. Rupanya karena ruwetnya daerah itu. Aneh juga. Host acara tv Amerika pilih makan di situ.

Tapi, ternyata, sopir punya alasan khusus. “Itu masakan Armenia,” katanya.
Suku Armenia memang punya sejarah panjang di Lebanon. “Itu tadi tidak halal,” kata sang sopir.

Ya sudah.

Seandainya sejak awal diberitahu. Saya kan tidak ke situ. Berlapar-lapar. Atau tetap ke situ. Ingin tahu.
Akhirnya saya keluarkan kata-kata sapujagat: carikan restoran apa saja. Yang penting dekat. Terserah Anda.
Waktu melewati KFC saya bilang: stop. Di situ saja.
Sopir tidak mau.

Waktu melewati restoran Sushi saya bilang: stop. Di sushi itu saja.
Sopir tidak mau.

“Satu menit lagi,” katanya.
Ya sudah.

Bazaar makanan termasuk salon asap di Beirut

Saya sudah tahu. Tidak mungkin satu menit lagi. Pun lima menit. Saya sudah hafal kelakuannya. Tapi sepuluh menit pun saya belum akan meninggal dunia.
Ya sudah.

Berapa menit pun. Saya harus sabar.

Saya ini yang punya uang, pikir saya, kok tidak berkuasa sama sekali.

Ternyata saya dibawa ke restoran ‘Abdul Wahab’. Bisa saya baca dari huruf Arab yang menempel itu.
Wow. Keren sekali. Elit modern. Bukan elit mewah.

Saya lihat ada satu meja panjang penuh dengan canda. Beberapa dari meja itu berpakaian ayatullah. Beberapa wanita pakai jilbab. Beberapa lagi wanita rambut urai.

“Heran juga banyak orang Syiah makan di sini” bisik sopir saya. Melihat para ayatullah itu.

“Kenapa heran?,” bisik saya.

“Ini kan restorannya orang Kristen,” jawabnya.

Selera ternyata mengalahkan apa saja.

“Dari mana Anda tahu restoran ini enak? “ tanya saya.

“Banyak tamu minta diantar ke sini,” katanya.

Saya pun minta berfoto dengan orang-orang Syiah itu. Saya perkenalkan diri: asal saya.
Mereka menyilakan saya ikut duduk di meja panjang itu. Saya memilih meja yang lain.

Saya ingin bebas memilih menu.

Saya pun memesan sup lentil. Biji-bijian yang disebut dalam Injil. Khas meditaranian. Seperti zaitun disebut dalam Quran. Khas meditaranian. Saya juga memesan kebbeh. Mirip ontok-ontok Banjar. Atau jemblem Jawa. Hanya isinya daging kambing.

Tentu saya juga memesan salad lokal.
Sedang minumnya saya pilih jus promanade. Tidak hanya di resto Abdul Wahab ini. Makan di mana pun. Jam berapa pun. Minum saya jus promanade. Mumpung di Lebanon. Promanadenya manis. Harganya murah. Anti oksidannya tertinggi. Sulit mencarinya di Indonesia.

Sopir saya tidak salah memilihkan resto Kristen Abdul Wahab ini.
Rasanya Anthony Bourdain harus bertanya ke sopir saya. Kalau ia hidup lagi. Dan ingin makan di Beirut lagi.***

Jumat Macet di Hisbullah

Mohammad Al-Amin Mosque–foto johndcmasters.com

Oleh: Dahlan Iskan

Macet di mana-mana. Juga di Beirut. Kunjungan saya baru saja selesai: ke gedung pusat agama Druze. Pun ke makam Druze.

Waktu Jumatan sudah dekat.

“Saya mau salat Jumat,” kata saya pada sopir.

“Aina,” tanya sopir.

“Masjid mana saja,” jawab saya.

Macet sekali hari ini. Juga kemarin sore. Saat hujan turun sepanjang hari. Waktu saya habis di jalan.

“Hunaka,” kata sopir. Sambil menudingkan jari. Ke arah bangunan masjid bermenara tinggi. Saya setuju.

“Itu masjid apa? Sunni atau Syiah?,” tanya saya.

“Syiah,” jawabnya. “Di daerah sini Syiah semua. Ini kawasan Hisbullah. Sunni sedikit di kawasan ini,” tambahnya.

Azan sudah berkumandang. Terdengar dari jauh. Saya pun siap-siap turun dari mobil.

“Anda tidak Jumatan?” tanya saya.

“Tidak,” jawabnya. “Saya tunggu di tempat parkir ini. Baju saya kotor,” tambahnya. Kalau mau salat, katanya, harus bersih, harus pakai parfum.

Saya pun menuju masjid besar itu. Yang di sekelilingnya dipagari kawat berduri. Tinggi sekali. Pertanda tidak aman.

Pun jalan menuju ke kawasan Hisbullah ini. Ada barikade. Ada pos keamanan. Yang dijaga tentara-tentara bersenjata. Tapi tidak sampai melakukan pemeriksaan. Mobil lewat begitu saja. Dengan kaca jendela di buka. Dan menyapa si tentara.

Kawasan pengikut Hisbullah ini besar sekali. Hampir seperempat kota Beirut. Dengan penduduk amat padat. Rumah susun empat, lima, enam, delapan, 12 berhimpitan. Agak kurang terpelihara.

Kawasan ini sering jadi sasaran senjata berat. Jembatan itu pernah runtuh. Rumah-rumah itu hancur.

Belakangan ini banyak orang Hisbullah pergi ke Syiria. Berperang. Melawan ISIS. Banyak pula yang mati di sana. Termasuk kakak kandung sopir saya tadi.

Saya sudah tahu bagaimana memasuki masjid Syiah. Tidak ada bedanya dengan masuk masjid Sunni. Saya juga sudah biasa berwudu dengan cara tidak basuh kaki. Cukup mengoleskan jari tangan yang basah. Ke punggung telapak kaki.

Masjid ini penuh sekali. Kira-kira seribu orang. Tidak ada yang pakai tutup kepala. Tidak ada yang pakai sorban.

Semua jamaah pakai baju biasa. Banyak yang pakai celana jean. Kaus dan jaket. Tapi hanya saya yang tidak pakai kaus kaki.

Di seperempat ruang ini seperti di dalam gereja. Ada barisan meja. Dan kursi. Lima baris. Untuk jamaah yang sudah tua. Yang tidak bisa salat di lantai.

Tepat jam 11.45 seseorang masuk dari pintu sebelah mihrab. Dengan pakaian seperti ayatullah. Langsung menuju mimbar. Berkhotbah. Dalam bahasa Arab. Tentu saja. Tanpa ‘assalamu’alaikum’.

Setelah beberapa kalimat khotbah jemaah mengucapkan salawat nabi. Tiga kali. Serentak. Dengan suara keras.

Khotbah dilanjutkan. Temanya tentang lahirnya Nabi Isa. Mungkin agar aktual. Jumatan kali ini sudah dekat dengan hari Natal.

Di awal khotbah, dua kali jemaah tertawa hampir serentak. Ada bagian yang lucu dalam khotbah itu. Lalu tertawa sekali lagi. Ada yang lucu lagi.

Saya tidak ikut tertawa. Tidak paham lucunya di mana. Bahasa Arab saya tidak cukup untuk menangkap kalimat yang lucu-lucu.

Di Indonesia tidak begitu. Tidak pernah ada jemaah salat Jumat yang sampai tertawa. Pengkhotbahnya umumnya serius. Atau serius sekali.

Khotbah masih berlangsung. Anak muda di sebelah saya berdiri. Salat. Beberapa rakaat. Ia didatangi seorang tua. Yang melarang ia salat. Ini saatnya mendengarkan khotbah.

Yang dilarang tetap saja salat. Yang melarang tidak ngotot. Kembali duduk ke tempatnya semula. Rupanya orang tua itu ingin meluruskan logika: mendengarkan khotbah itu wajib. Salat sunnah itu tidak wajib.

Di Lebanon ini khotbahnya panjang sekali. Hampir 45 menit. Tanpa henti. Tidak ada khotbah pertama atau kedua. Sesekali jamaah melantunkan salawat nabi. Serentak. Di sela-sela khotbah. Di setiap ujung kalimat yang menarik.

Khotbah selesai. Terdengar suara azan. Yang diselipi syahadat ketiga: bahwa Ali itu wali Allah. Yang diselipkan setelah dua syahadat. Lalu iqamat.

Salat dimulai. Saya tidak mau berbeda sendiri. Saya keluarkan juga turbah. Dari kantong saya. Bentuknya seperti kue bakpia. Yang terbuat dari tanah. Yang diambil dari Karbala. Iraq Selatan. Tempat dibunuhnya Sayidina Husein. Salah satu dari 12 imam Syiah.

Turbah itu saya ambil dari tempatnya. Di dekat pintu masuk masjid. Banyak tersedia di situ. Saya ambil satu.
Saya taruh turbah itu di atas sajadah. Di posisi dahi saya nanti. Saat saya sujud nanti. Semua jamaah melakukan seperti itu. Turbah itu terbawa ke hotel. Akan saya bawa pulang. Turbah lama saya hilang. Atau diminta orang. Yang saya ambil dari masjid di kota Qom dulu. Di pusatnya Syiah. Di Iran.

Saya ikut saja. Bagaimana gerakan salat kanan-kiri saya. Termasuk tidak sedakep tangan di dada. Bacaan rukuk dan sujud pun ikut imam. Toh suara imam cukup keras. Di saat rukuk dan sujud sekali pun.

Salat itu empat rakaat. Tidak seperti di Indonesia: dua rakaat. Saya masih berpikir: salat apakah tadi itu?

Jangan-jangan salat duhur empat rakaat. Tidak ada salat Jumat. Atau dua rakaat salat duhur dan dua rakaat salat asar. Orang Syiah kan biasa menggabungkan dua salat itu?

Selesai salat empat rakaat itu saya pun berdiri. Jemaah lain tidak. Masih tetap di tempat duduk mereka. Semua. Melantunkan kalimat-kalimat pujian. Pada Nabi Muhammad SAW.

Saya meninggalkan saf di depan. Menuju pintu keluar. Sendirian. Mencari sepatu. Dan kaus kaki. Yang terserak. Campur sepatu lainnya.

Di depan pintu itu ada anak remaja. Berdiri. Membawa nampan. Umurnya sekitar 10 tahun. Pakaiannya seperti pramuka. Ada foto Ayatullah Khomaini. Menggantung di dadanya.

Nampan itu berisi permen. Siapa saja boleh ambil permen itu. Sambil meninggalkan uang kecil. Ia lagi mencari dana.

Pramuka itu menyapa saya. Dengan bahasa Inggris yang sangat lancar. Saya menjawabnya: dari Indonesia. Ia tampak sangat gembira.

“Tadi itu salatnya empat rakaat. Apakah itu salat duhur dan asar sekaligus?” tanya saya.

“Bukan,” jawabnya. “Salat asarnya sebentar lagi. Tiga menit lagi,” tambahnya.

“Kok tadi itu empat rakaat. Mengapa empat rakaat?,” tanya saya lagi.

“Ya begitulah. Harus begitu,” jawabnya.

Saya bergegas balik ke dalam masjid. Copot sepatu lagi. Takut ketinggalan salat asar. Saya pun ikut salat empat rakaat lagi. Saya kan musafir.

Saya tidak sempat ngobrol-ngobrol setelah Jumatan. Acara lain sudah menunggu.

Macet lagi.

Parah.

Ternyata mobil diberhentikan di suatu tempat. Sekitar 1 Km dari masjid. Sopir minta ijin turun. Masuk makam. Saya mengikutinya. Ingin tahu.

Ia berdoa di depan salah satu batu nisan. Saya ikut berdoa. “Ini nisan kakak saya. Meninggal di Syiria. Ia syahid. Melawan ISIS. Itu fotonya,” katanya.

Semua nisan di situ dilengkapi foto berwarna. Dalam pakaian militer Hisbullah. Dalam posisi bersenjata.

Di seberang makam kakaknya itu ada makam lain. Yang lebih penting. Makamnya anak Hassan Nasrullah. Pemimpin tertinggi Hisbullah. Namanya: Hadi Nasrullah. Umur: 19 tahun. Meninggal dibom Israel. Namanya diabadikan. Menjadi nama jalan utama di kawasan ini.

Juga ada makam Imad Mughni. Panglima tentara Hisbullah. Dan ratusan pahlawan Hisbullah lainnya.
Selama di Lebanon ini saya tidak mendengar satu pun bom meledak. Atau senjata meletup.Tapi suara peluru begitu bising di otak saya.***