Menuntun Malaikat Singgah

Suasana malam Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat memasuki tradisi “7 Likur”. Foto: Destiara

ADA yang unik di 10 hari terakhir berpuasa yang dirayakan masyarakat Bangka Belitung, utamanya Kabupaten Bangka Barat. Sudah turun-temurun masyarakat mengadakan tradisi “tujuh likur”. Di 10 hari jelang Idul Fitri, masyarakat menyalakan lampu minyak. Bagi anak-anak, tradisi “tujuh likur” artinya sebentar lagi Lebaran.

Makna lain malam “tujuh likur” adalah menyongsong lailatul qadar, malam ke-27 di bulan Ramadhan, saat para malaikat turun ke bumi. Orang dulu percaya, dengan menyalakan pelita di depan rumah, akan menuntun malaikat singgah. Tradisi itu pun kemudian berlanjut hingga hari ini.

Perayaan “tujuh likur” biasanya dilaksanakan setelah shalat tarawih. Seperti yang tampak kemarin malam di Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Di sini, tradisi “tujuh likur” bahkan dilombakan antar-RT. Masing-masing RT membuat gerbang yang dihiasi lampu minyak.

Ada yang berbeda, jika dulu penerangan menggunakan obor, sekarang menggunakan botol beling kecil diisi minyak tanah. Kerlap-kerlip nyala api, tampak indah dari sumbu pelita. Nah, setiap RT mengkreasikan bentuk gerbang. Perlu diketahui, di Desa Mancung memiliki 6 RT. Tentu saja semua mendapat juara, karena kategori pemenang adalah juara 1 sampai juara harapan 3.

Ini adalah upaya mengangkat kembali tradisi “tujuh likur” yang mulai memudar. Karenanya, selain lomba gerbang lampu minyak, setiap penduduk juga memasang sebaris lampu minyak di depan rumahnya.

Tak pelak, Desa Mancung Bangka Barat menjadi berbinar-binar di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Pendar nyala pelita di seantero kampung, benar-benar membuat suasana yang berbeda. Masyarakat makin bergairah beribadah, mengharap berkah Allah SWT. ***

Kerlap-kerlip lampu minyak yang membentuk objek. Foto-foto: Destiara Andini

“Bung Karno – Bung Karno” Pidato di Muntok

Juata 1, 2, dan 3 Lomba Pidato Soekarno di Muntok, Bangka Barat dalam rangka Hari Pendidikan Nasiojnal 2018. Foto: Destiara

INGAT Muntok, ingat tambang timah yang kesohor di Kabupaten Bangka Barat. Daerah ini termasuk yang memiliki jejak-jejak penjajahan cukup dalam mengakar. Tidak heran jika spirit nasionalisme di Muntok sangat kental.

Saat ini, Bangka Barat menggelindingkan kegiatan “Napak Tilas Pelestarian Nilai Sejarah” dengan tema “Dari Muntok untuk Indonesia”. Nah, salah satu kegiatan mengisi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah “Lomba Pidato Soekarno” membawakan pidato-pidato Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno.

Lomba yang digelar Kamis (3/5) itu diikuti 21 peserta mewakili sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) se-Bangka Barat. Cuaca mendung saat lomba hendak dimulai. Tak lama kemudian, hujan sempat turun membasahi bumi Muntok. Meski begitu, sama sekali tidak mengendurkan semangat peserta.

Satu per satu, peserta membacakan pidato-pidato Bung Karno. Lima naskah pidato yang diperlombakan, adalah: Pidato Bung Karno HUT RI ke-20 tahun 1966 (Jasmerah: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah), Pidato Nawaksara Soekarno, Pidato Presiden Soekarno 29 Juli 1956 di Semarang, Pidato Presiden Soekarno saat pembebasan Irian Barat, dan Pidato Soekarno 17 Agustus 1963 (Gesuri: Genta Suara Revolusi Indonesia).

Tiga juri mengamati dan menilai penampilan 21 peserta satu per satu. Foto: Destiara

Tiga orang juri yang terdiri dari dua orang guru (guru SMU dan SMP) serta satu perwakilan masyarakat, melalui penilaian yang ketat, memutuskan tiga orang pemenang. Yudi Hervian (Madrasah Aliah Negeri 1 Bangka Barat) Juara I, Amar Azhar (Madrasah Aliah Negeri 1 Bangka Barat) Juara II, dan M. Adha dari SMA Negeri 1 Muntok sebagai Juara III.

Acara seperti ini, digelar secara periodic. Tahun lalu, lomba pidato diselenggarakan di Wisma Ranggam. Sedangkan tahun ini di Museum Timah. Keesokan harinya, Jumat (6/5) juga diadakan kegiatan bedah buku Di Bawa Bendera Revolusi (DBR) yang berisikan artikel-artikel serta pidato-pidato Bung Karno yang sempat dihimpun dan diterbitkan dalam dua jidil (DBR I dan DBR II).

Selain bedah buku, panitia juga menggelar kegiatan sarasehan sejarah dan dilanjutkan Napak Tilas Rute Perjalanan Bersejarah dari Wisma Ranggam ke Pantai Tanjung Kelian. Masyarakat antusias mengikuti kegiatan sarat muatan kebangsaan itu. Sayang, media nasional kurang melirik kegiatan ini. ***

M. Adha, juara III Lomba Pidato Soekarno dari SMA Negeri 1 Muntok, Bangka Barat. Foto: Destiara