Malam ini, Sejarah Seni Rupa Terukir di Epicentrum

Display ruang pamer lukisan “72 Tokoh dan 7 Presiden” di Epiwalk, Epicentrum. Foto: Istimewa

JUMAT, 11 Agustus 2017 malam ini pukul 19.00 WIB, gelar karya lukis bertajuk “72 Tokoh dan 7 Presiden” dibuka dan diresmikan di Epiwalk, Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Sebanyak 72 lukisan pahlawan nasional dan tokoh bangsa, tujuh presiden RI, dan satu lukisan masterpiece, karya pelukis Sohieb Toyaroja dipamerkan untuk umum hingga tanggal 17 Agustus 2017.

Pameran persembahan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dalam rangka syukur atas 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia itu, adalah sebuah torehan sejarah. Malam ini, sejarah seni rupa terukir di Tanah Air. Pertama kali terjadi, seorang perupa menggelar pameran tunggal berisi karya lukis tokoh dalam jumlah besar. “Menjadi patut dicatat dalam lembar sejarah, juga karena pertama kali sebuah pameran lukisan digelar dengan kolaborasi penulisan buku. Semua tokoh dalam yang dilukis Sohieb, ditulis oleh Roso Daras dan menjadi sebuah buku setebal hampir seribu halaman,” ujar Ali Akbar, promotor pameran tersebut.

Keseluruhan lukisan yang dipamerkan, merupakan hasil kontemplasi Sohieb Toyaroja. Dengan teknik palet, serta gaya ekspresionisnya, Sohieb seperti orang trans ketika sedang melukis. Bahkan, dalam satu malam, tak jarang Sohieb mampu menyelesaikan tiga buah lukisan berukuran besar. “Entahlah… bisa jadi karena dorongan semangat yang luar biasa. Tapi yaaa…. selesai melukis seperti lepas semua tulang ini… ha…. ha… ha….,” ujar pelukis kelahiran Kediri itu.

Ide melukis tokoh-tokoh nasional dan tokoh-tokoh bangsa itu, memang sudah lama mengendap di benak Sohieb. Sudah hampir dua tahun yang lalu. Kebetulan, Ali Akbar, sahabat sekaligus promotor, menangkap dan mewujudkan keinginan Sohieb. “Jarang pelukis memikirkan pembangunan karakter bangsa. Sohieb termasuk yang jarang. Ia ingin generasi muda tidak putus hubungan dengan sejarah tokoh-tokoh bangsanya,” kata Ali, seraya menambahkan, “karena itu, muncul pemikiran saya untuk juga membuatkan narasi atas tokoh-tokoh yang dilukis, dan menerbitkan serta meluncurkannya bersamaan pembukaan pameran ini.”

Ali berharap, pameran yang memberi warna beda pada 72 tahun peringatan kemerdekaan Indonesia ini mendapat apresiasi masyarakat dan pemerintah. ***

Tujuh Presiden dalam Satu Kanvas

Jumpa pers “Pameran Lukisan 72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI”. Kanan: Wawancara Sohieb dengan insan media.

SEBANYAK 80 lukisan realis-ekspresif berteknik palet akan di-display dengan megah dan baik di Epiwalk, Epicentrum Jakarta, 11 – 17 Agustus nanti. Objek yang ditampilkan adalah 72 tokoh Indonesia, tujuh Presiden RI, dan satu masterpiece pameran yang berjudul “Obrolan 7 Presiden” –Presiden RI I – VII dalam suasana mengobrol santai, di atas satu lembar kanvas berukuran 300 cm X 500 cm.

Sajian itu dikemas dalam sebuah event berjudul “Pamer Lukisan 72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI”. Ceremony pembukaan pameran diselingi dengan peluncuran buku “Perjuangan Menjadi Indonesia Bukan Darah Sia-sia”, dan dimeriahkan dengan kumandang lagu-lagu cinta Indonesia yang dimainkan oleh band Blackout.

Seluruh lukisan itu merupakan karya Sohieb Toyaroja. Menariknya, setiap lukisan dilengkapi dengan kisah istimewa tokohnya, yang kemudian dikemas menjadi buku setebal 953 halaman yang diberi judul “Perjuangan Menjadi Indonesia Bukan Darah Sia-sia”. Dengan buku itu, lukisan 72 Tokoh Indonesia & 7 Presiden RI terasa semakin “hidup” dan seolah siap hadir untuk berbagi pengalaman tentang Indonesia.

Uhamka (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka) siap menyelenggarakan kegiatan itu sebagai ungkapan rasa syukur atas 72 Tahun Indonesia Merdeka. “Ini merupakan salah satu ekspresi dari rasa cinta dan peduli kami terhadap Indonesia yang dulu dan yang nanti, juga yang selamanya. Kami berharap para pihak dapat bergabung dalam event ini,” kata Prof. Dr. Suyatno, rektor Uhamka.

Lebih jauh, Suyatno mengemukakan, bahwa negara ini dibangun dengan semangat, cita-cita, dan tujuan. Juga darah. Tidak sedikit pengorbanan yang “ditunaikan” oleh rakyat demi tegak dan berjayanya negara yang kita cintai ini. Segala hal mereka lakukan demi harga diri atau martabat untuk kemaslahatan segenap umat.

“Sejarah mencatat ribuan, ratusan-ribu bahkan jutaan anak bangsa ikhlas bersusah-payah hingga kehilangan jiwa-raga demi membebaskan negeri ini dari kezaliman penjajah. Sebagai bangsa, dimulai sejak era jauh sebelum memiliki kehendak bernegara hingga tercetusnya kata Indonesia sebagai negara, nenek-moyang kita telah mengajari kesadaran mengenai betapa pentingnya kemerdekaan bagi setiap individu. Sesuatu yang bisa disebut sebagai sunnatullah,” ungkapnya.

Semangat pengorbanan mereka, kata Suyatno, pantas dimaknai sebagai modal besar yang tak mungkin ditukar dengan hal-hal lain yang dapat menggerus kadar nasionalisme. “Kita justru harus mengolahnya untuk memperkuat jatidiri dan karakter sehingga mewujud sebagai bangsa  besar yang tangguh dan disegani dunia,” ujar pria yang juga menjabat Ketua Forum Rektor Indonesia itu. ***