Aktualisasi Pemikiran Cak Nur dan Gur Dur

Jayakarta News – Reaktualisasi pemikiran para pembaru Islam Indonesia seperti mendiang Prof. Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dinilai penting untuk membendung arus populisme Islam yang merusak kualitas demokrasi.

Demikian salah satu kesimpulan yang muncul dalam orasi kebangsan Saiful Mujani, Ph.D, yang diselenggarakan dalam rangka Hari Kemerdekaan Indonesia dan Dies Natalis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 18 Agustus 2020.

Saiful menyebut gejala tunduknya legislator dan kepala daerah pada agenda kebijakan syari’ah karena alasan dukungan elektoral merupakan karakteristik dari apa yang dikenal sebagai populisme Islam: keyakinan bahwa agenda-agenda dan kebijakan-kebjakan berbasis sentimen Islam yang diskriminatif terhadap non-Islam mendapat dukungan besar dari orang Islam.

Menurut Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah ini ancaman populisme Islam dan Islamisasi Indonesia harus menjadi perhatian sungguh-sungguh bagi siapa pun yang peduli bagi keberlangsung negara-bangsa ini. “Langkah mendasar pertama adalah pendekatan kebudayaan atau pendidikan,” ungkap Saiful.

Pendiri lembaga penelitian dan konsultansi politik SMRC ini menyatakan bahwa pendekatan kebudayaan dan pendidikan ini adalah dengan reaktualisasi pemikiran-pemikiran keislaman yang dapat menjadi sumber kultural untuk kembali merajut kebinekaan kita yang sudah mulai terkoyak itu.

Saiful mengusulkan agar pemikiran-pemikiran keislaman yang terbuka disuarakan kembali melalui pelbagai forum, kelompok-kelompok sosial, dan lembaga pendidikan terutama pergurun tinggi

Pemikiran-pemikiran keislaman yang dimaksud adalah antara lain berasal dari pemikiran Cak Nur dan Gus Dur.

“Pemikiran Nurcholish Madjid yang saya maksud adalah apa yang saya sebut sebagai ide ‘desakralisasi kehidupan dunia sosial’. Sementara pemikiran Abdurrahman Wahid adalah ‘Pribumisasi Islam'”, tegas Saiful.

Dalam pidato yang disiarkan langsung melalui sejumlah aplikasi daring itu, Saiful menjelaskan pemikiran Cak Nur mengenai desakralisasi kehidupan dunia sosial. Sebagai orang yang beriman, Cak Nur percaya tidak ada yang salah pada dokrin-doktrin dasar Islam. Keterbelakangan itu karena umat Islam secara umum telah lama mengidentikan budaya dan tradisi yang terbelakang yang menyelimuti hidup umat sehari-hari, yang merupakan ciptaan sejarah, hasil tafsiran terhadap Islam yang ketinggalan zaman, dengan doktrin-doktrin dasar Islam.

Saiful melanjutkan bahwa de-sakralisasi kehidupan sosial (social world) secara luas adalah membedakan antara yang sakral dan profan, antara yang ilahiah dan yang duniawi, antara doktrin-doktrin dasar Islam dan tatanan kehidupan sosial yang diciptakan manusia dalam sejarah. Doktrin-doktrin dasar itu universal, sementara tafsiran terhadapnya yang menciptakan tatanan kehidupan sosial adalah ciptaaan manusia yang bersifat hadis, baru, temporer, dan berubah-ubah sesuai dengan perubahan zaman yang bersifat niscaya. Bila Islam diidentikan dengan yang tidak sakral, yang merupakan ciptaan manusia seperti partai atau negara, maka Islam akan lenyap dimakan zaman, dimakan sejarah, atau Islam akan identik dengan masa lalu yang sudah terbelakang.

Saiful menambahkan bahwa wujud de-sakralisasi dalam kehidupan kebangsaan kita adalah membedakan antara doktrin dasar Islam yang sakral dengan kenyataan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa yang merupakan produk sejarah bangsa Indonesia yang bersifat dinamis, yang dibangun dari keragaman budaya, adat isitiadat, suku-bangsa, agama, dan faham kegamaan. Indonesia tidak sakral dan tidak boleh disakralkan. Ia ciptaan kolektif manusia Nusantara dengan segala keragaman karakteristiknya.

“Indonesia sebagai entitas profan niscaya terus berubah, dinamis, sehingga dikenal ungkapan “menjadi Indonesia,” bukan Indonesia yang sudah jadi, dan apalagi disakralkan,” ungkapnya.

“Bila Indonesia disakralkan, katakanlah diislamkan, maka reduksi terhadap doktrin-doktrin dasar Islam terjadi di satu pihak, dan di pihak lain mengingkari kenyataan keragaman dan dinamika dunia sosial Indonesia yang merupakan sebuah keniscayaan,” tambahnya.

Ungkaan “Islam yes, partai Islam no” Cak Nur punya makna dalam dan luas. Beriman pada doktrin-doktrin dasar Islam, dan menegasikan identifikasi Islam dengan institusi-institusi buatan manusia seperti partai atau negara-bangsa.

Sementara itu, pemikiran Gus Dur fokus pada term kontekstualisasi Islam. Islam sebagai doktrin pokok dipercaya universal tapi juga melingkup keragaman sosial budaya dalam rentang sejarah bangsa masing-masing.

Bagi Gus Dur, kata Saiful, Islam tidak identik dengan Arab. Islam universal, sementara budaya Arab adalah lokal. Islam Indonesia tidak harus, dan tidak pantas, mengikuti budaya Arab. Berislam dengan budaya Indonesia yang seharusnya dikembangkan dan digalakan umat Islam Indonesia.

Saiful menyimpulkan bahwa kontektualisasi Islam pada keragaman sosial-budaya akan melahirkan Islam yang beragam secara sosial-budaya, dan karena keragaman ini maka toleransi adalah suatu keniscayaan untuk menegakan keberagaman sosial-buadaya Islam dalam terang universalitas doktrin-doktrin dasar Islam.

“Dalam konteks pemikiran seperti itu,” kata Saiful “Gus Dur adalah pelopor dan aktivis bagi toleransi dan anti-diskriminasi sesama anak bangsa apapun latar belakang identitas sosial politiknya.”

Wujud dari pemikiran Gus Dur ini, tambah Saiful, kemudian muncul dalam sejumlah tindakan seperti meminta maaf kepada keluarga bekas PKI atas pembantaian ratusan ribu orang anggota keluarga mereka hanya karena perbedaan faham dan kepentingan politik; menghapus tanda terlibat PKI pada KTP, perhatian pada kelompok-kelompok minoritas etnik dan agama; mengakomodasi keinginan agar Konghucu diakui secara resmi sebagai agama di Indonesia.

Ilmuan politik lulusan Ohio State University, Amerika Serikat, ini memandang bahwa pemikiran yang dulu dikembangkan Cak Nur dan Gus Dur sekarang kurang mendapat tempat di kampus-kampus.

“Keislaman yang dikonsumsi publik secara luas banyak berupa “Arabisasi Islam,” dan “Arabisasa Indonesia,” kata dia.

Menurut Saiful, kampus-kampus kita dilihat dari banyak segi, apalagi sebagai institusi milik negara, harusnya menjadi lembaga paling depan untuk pemikiran-pemikiran keislaman yang telah diletakan fondasinya oleh Cak Nur dan Gus Dur itu.

“Dari kampus kita harusnya lahir pemikiran-pemikiran keislaman yang memperkuat sikap dan perilaku umat yang memperkuat rajutan kebinekaan negara-bangsa kita,” pungkasnya. (janu)

Sarung Gus Dur dan Cangklong Soeharto 

INDONESIA pernah dipimpin seorang relijius bernama Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal sebagai Gus Dur. Indonesia juga pernah punya pemimpin yang di masa tahun 1965 bernama Soeharto dengan rupa menawan terkhusus saat menggunakan kacamata hitamnya.

Soeharto dan Gus Dur adalah sosok yang bertolak belakang dari sisi lama berkuasa. Soeharto menjadi presiden selama 30 tahun lebih sementara Gus Dur hanya memimpin negara Indonesia selama tiga tahun saja. Meski demikian keduanya telah memberi kontribusi sebagai orang nomor satu di negeri ini.

Memoribilia kedua presiden itu bisa dilihat masyarakat di museum istana kepresidenan Balai Kirti yang terletak di samping Gereja Zabaoth Bogor. Balai Kirti sangat berdekatan dengan lokasi Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Bagi yang ingin mengunjungi museum ini tidak susah untuk mendapati lokasinya.

Balai Kirti merupakan museum bagi para mantan Presiden Republik Indonesia. Di lantai dasar museum ini berdiri enam patung mantan presiden berukuran 1,5 kali tinggi aslinya dengan gaya masing-masing, semisal Ibu Megawati dengan kepalan tangannya. Soeharto dengan senyumnya dan Gus Dur dengan kacamatanya.

Setiap mantan presiden memiliki satu ruangan berisi memorabilia masing-masing. Setiap ruangan terdapat lukisan besar, sehingga jika melihat ada lukisan Soeharto berukuran besar maka kita berada di galeri Soeharto. Begitu juga saat memasuki ruangan kemudian ada sosok Gus Dur dalam lukisan maka kita berada di galeri Gus Dur.

Pak Harto, 1965

Ada satu sudut dengan etalase kaca yang memajang pakaian Soeharto yang menarik mata. Pakaian itu berupa seragam militer angkatan darat lengkap dengan kepangkatan jenderal besar (bintang lima) dan satya lancana. Di etalase Soeharto ini terdapat 11 item barang-barang peninggalan Soeharto yang memimpin negara ini selama 32 tahun.

Bukan hanya seragam saja, tetapi baju kedinasan itu disertakan sepatu hitam yang pernah dikenakan Soeharto. Dan seragam itu kurang lengkap jika tak ada tongkat komando. Baju seragam dengan tongkat komando merupakan itu juga merupakan ciri khas Soeharto sebagai Jennderal Besar Agkatan Darat. Soeharto biasa mengenakan seragam itu saat upacara hari ABRI dan bertindak sebagai pemimpin upacara.

Selain itu ada juga sebuah cangklong yang menghias etalase Soeharto. Juga ada dua buah pena, barangkali ini peninggalan bersejarah bagi keluarga Soeharto agar generasi saat ini bisa melihat benda apa saja yang pernah dimiliki mantan presiden. Di etalase ini pelajar masa kini juga bisa melihat rupa telepon yang pernah digunakan Presiden Soeharto. Sebuah telepon kabel berwarna kuning dengan lambang Garuda keemasan menempel di telepon itu.

Bagaimana Soeharto memimpin ini juga bisa dilihat dari slide yang ada pada visualisasi pada sebuah monitor televisi berukuran 32 inchi. Soeharto yang dulu pernah dikenal sebagai Bapak Petani Indonesia ini tak lengkap jika tak ada foto dalam slide saat ia berada di sawah dengan mengangkat hasil panen padinya. Ada juga foto Soeharto saat mengunjungi Posyandu.

Beberapa foto berbingkai berisi foto Soeharto bersama keluarga juga di tata rapi dan bisa dengan jelas dilihat pengunjung. Hampir sebagian besar foto Soeharto menunjukkan senyum khas yang dimiliki bapak enam anak ini.

Gus Dur

Jika Soeharto memajang baju seragam militernya maka etalase Gus Dur berisi pakaian sehari-hari. Sarung adalah salah satu ciri khas yang sering dikenakan Gus Dur. Selain pakaian ada dua buah buku yang dipajang. Buku berjudul Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman dan The Wisdom of Gus Dur berisi biografi Gus Dur. Dari kedua buku itu masyarakat bisa mengetahui buah pikir dari seorang Gus Dur.

Gus Dur berpeci gaun pandan.

Ciri khas Gus Dur lainnya yang berada di etalase adalah sebuah peci terbuat dari anyaman daun pandan.Peci ini kerap digunakan Gus Dur dalam berbagai acara yang ia hadiri di luar kegiatan resmi sebagai presiden. Selain itu ada sebuah jam tangan peninggalan Gus Dur merek Tel Time. Sayang tak disebutkan mengapa jam tangan dihadirkan barangkali memiliki kisah tersendiri bagi Gus Dur.

Foto-foto kegiatan Gus Dur saat mengunjungi beberapa negara juga dipamerkan di galeri Gus Dur. Ada juga foto Gus Dur bersama cucu, anak dan istri Sinta Nuriyah. Momen bearti saat menjabat presiden juga diabadikan dan menjadi foto yang membanggakan bagi keluarga besar KH Abdurrahman Wahid.

Kutipan kata-kata Gus Dur yang dipilih keluarga Gus Dur untuk museum kepresidenan ini mengambil sebagian kata dalam sambutannya saat pidato kepresidenan 2001. Inilah kata-kata Gus Dur yang ingin diingat oleh generasi muda: “Tidak ada kekuasaan yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah”.

Sementara Soeharto memetik ucapannya menjadi kata mutiara bagi generasi zaman now: “Hanya sebutir pasir yang dapet kami beri untuk memperkokoh pondasi negara republik Indonesia”.

Membaca kata-kata itu pengunjung akan semakin bisa lebih dekat dengan mantan presiden negara ini. Suasana museum yang modern di Balai Kirti tak hanya enak untuk dikunjungi namun tetap mampu menghadirkan sebagian kecil saja dari sosok Soeharto dan Gus Dur saat kepemimpinannya sebagai presiden. ***

Jokowi, “Kesatria dari Pringgondani”

Dina Raisya Puteri. Siswa kelas lima SD Bekasi memandang Jokowi laksana Raden Gatutkaca, sang Kesatria dari Pringgondani. Foto: Resti Handini

SEORANG anak tidak selalu memiliki persepsi sama dengan orang dewasa. Contoh, ketika orang dewasa melihat sosok Presiden Jokowi sebagai orang yang lembut dan murah senyum –misalnya–, tidak demikian halnya di mata Dina Raisya Puteri. Siswa kelas lima SD itu memandang Jokowi laksana Raden Gatutkaca, sang Kesatria dari Pringgondani.

Itulah kesan menarik ketika kita mengunjungi Museum Kepresidenan Balai Kirti (BK) di Istana Bogor. Museum itu sendiri berada di kompleks Istana Kepresidenan. Museum itu berisikan koleksi benda, kebijakan, kata Mutiara, dan hal-hal lain terkait enam presiden yang sudah purna tugas. Sedangkan presiden ke-7, Joko Widodo, belum ada dalam museum itu, karena masih menjabat.

Juara 1, Lukman Nur Hakim, siswa SDN Aren Jaya VII, Kota Bekasi. Foto: R. Handini

Meski begitu, sosok Jokowi, panggilan akrabnya, tetap hadir di museum tersebut. Bukan dalam bentuk memorabilia atau kumpulan benda-benda, kata Mutiara, film pendek, dan kumpulan kebijakan yang terkenal, melainkan dalam bentuk lukisan. Lukisan-lukisan karya siswa-siswi SD dan SMP pemenang lomba itu, dipajang di lantai dua museum Balai Kirti.

Semua lukisan yang dipajang, merupakan karya para pemenang Lomba Lukis Kepresidenan tingkat SD dan SMP wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Menurut Indri Alfianti, pengurus Museum Kepresidenan Balai Kirti, lomba lukis kepresidenan sudah dua kali diadakan. Tahun ini diadakan bulan Mei yang lalu bertepatan dengan bulan Pendidikan.

Hebatnya, juara 1, 2, dan 3 tingkat SD semua disabet siswa dari Kota Bekasi, Jawa Barat. Pemenang pertama lomba lukis tingkat SD, adalah Lukman Nur Hakim dengan tema Aku Cinta Indonesia dan Presidenku. Lukman adalah siswa kelas V SD Negeri Aren Jaya VIII, Aren Jaya, Bekasi Timur.

Dalam lukisan itu, Lukman melukiskan presiden dengan ciri baju putih dan sibakan rambut pinggir. Selebihnya, tidak ada kemiripan sama sekali. Jokowi dilukiskan bersimpuh lutut, memeluk dua siswa SD, yang satu duduk di kursi roda, yang satu lagi memasangkan lambang garuda Pancasila di dada sebelah kiri Jokowi. Di bagian latar belakang, Lukman melukiskan anak berprestasi memegang raket badminton berkalung medali. Ada juga lukisan seorang anak mengangkat piala di atas kepalanya, serta aktivitas-aktivitas lain, dengan padu-padan warna dan motif yang cerah, serta pengaturan komposisi yang baik.

Juara 2, Dina Raisya Puteri siswa SD Negeri Mustika Jaya VII, Kota Bekasi. Foto R. Handini

Pemenang kedua, Dina Raisya Puteri bertema Presiden dan Sekolahku. Dina adalah siswa kelas V, SD Negeri Mustika Jaya VII, Kota Bekasi. Entah ide dari siapa, tetapi siapa pun pemberi ide lukisan, kiranya dia orang Jawa, atau setidaknya paham dan mengerti tentang wayang. Sebab, Jokowi digambarkan oleh Dina sebagai kesatria Pringgondani bernama Raden Gatotkaca. Putra penegak Pandawa Bima itu, digambarkan sedang terbang memegang Kartu Indonesia Pintar.

Yang menarik lagi, busana kesaktian Gatotkaca yang disebut “Kutang Antakusuma” berbentuk rompi, diubah dari percikan sinar di dada menjadi sinar yang memancar dari simbil cinta merah-putih. Nuansa merah putih juga dilekatkan pada selendang di pinggang sang kesatria sakti mandraguna itu. Dalam kanvas itu pula, Dina mencoba mengangkat banyak pesan moral lain yang sangat bagus, seperti kebinekaan dalam persatuan, peta Indonesia, dan kecerah-ceriaan wajah anak Indonesia. Tidak cukup dengan itu, Dina bahkan menuliskan tagline di bagian bawah: “Semua Bisa Sekolah untuk Mencapai Cita-cita”.

Sedangkan pemenang ketiga Sherly Vermount, adalah siswa kelas V SD Marsudi Rini, Kemang Pratama, Kota Bekasi dengan tema sama seperti lukisan Dina, yakni “Presiden dan Sekolahku”. Berbeda dengan juara pertama dan kedua, maka Sherly lebih tepat menggariskan anatomi wajah Jokowi. Jika kriteria penjurian adalah “kemiripan”, tentu lukisan Jokowi-nya Sherly akan meraih juara I.

Juara 3, Sherly Vermount, siswa SD Marsudi Rini, Kemang Pratama, Kota Bekasi. Foto: R. Handini

Sherly menggambarkan sosok Jokowi sebagai sentral objek di tengah kanvas. Dengan senyum khas, tangan kanan Jokowi memegang secarik kertas bertuliskan “Semua Anak Indonesia Berhak Mendapatkan Pendidikan”, sedangkan tangan kiri memegang segepok Kartu Indonesia Pintar. Jokowi digambarkan mengenakan baju batik bernuansa merah-putih.

Sekelilingnya, adalah wajah-wajah anak Indonesia yang ceria. Sherly berusaha memotret anak-anak dari Aceh sampai Papua dengan ciri khas masing-masing daerah. Tak lupa, Sherly juga memotret pembangunan di Indonesia, lengkap dengan tugu monas dan alat-alat berat. Di sisi lain, Sherly juga memotret keindahan dan kesuburan alam Indonesia.

Menyimak lukisan-lukisan sang pemenang, terbayang betapa sulitnya tugas dewan juri. Mengingat, kekuatan pada masing-masing lukisan. Ditambah lagi, animo peserta juga lumayan membludak. Lomba terakhir yang diadakan di Gedung Kemuning Gading, Komplek DPRD Kota Bogor, diikuti oleh 150 peserta. “Tahun depan, bisa jadi peserta akan bertambah,” ujar Indri yang tamatan Universitas Indonesia, jurusan Sejarah.

Sama halnya dengan animo masyarakat untuk mengunjungi museum yang digagas oleh presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono. Baik hari kerja maupun liburan pengunjung ke museum yang letaknya tepat di belakang Istana Bogor selalu banyak. “Hari ini jumlah pengunjung yang hadir ke museum ini sudah mencapai 750 orang, termasuk ibu,” ujar Indri yang hafal dan menguasai apa dan bagaimana tentang Museum Kepresidenan BK ini. ***