Muharram dan 1 Suro

Ketika Islam dan Kebijaksanaan Nusantara Bertemu dalam Harmoni Peradaban

Dua Peristiwa, Satu Momentum

Setiap datangnya Tahun Baru Islam, masyarakat Indonesia juga mengenal datangnya 1 Suro, terutama di tanah Jawa. Kedua momentum ini hampir selalu hadir bersamaan, namun tidak semua memahami akar sejarah dan makna filosofinya.

Sebagian masyarakat mengenal 1 Suro melalui tradisi kirab pusaka, tirakatan, tapa bisu, atau jamasan pusaka. Padahal semua itu hanyalah ekspresi budaya yang berkembang dalam perjalanan sejarah. Hakikat 1 Suro jauh lebih dalam daripada sekadar ritual.

Hijrah: Awal Penanggalan Islam

1 Muharram adalah hari pertama dalam kalender Hijriah yang ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA dengan menjadikan peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal penanggalan Islam.

Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan transformasi moral dan spiritual menuju kehidupan yang lebih bermartabat, lebih adil, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Kebijaksanaan Sultan Agung

Lebih dari sembilan abad kemudian, di Nusantara lahirlah Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram Islam (1613–1645). Dengan visi yang jauh melampaui zamannya, beliau memahami bahwa persatuan tidak hanya dibangun melalui kekuatan politik dan militer, tetapi juga melalui kebudayaan.

Pada tahun 1633 Masehi, Sultan Agung menyusun Kalender Jawa Islam (Anno Javanico) dengan tetap mempertahankan identitas budaya Jawa, namun menggunakan sistem penanggalan bulan sebagaimana kalender Hijriah.

Sejak saat itulah lahir bulan Sura, yang memiliki keterkaitan historis dengan Muharram dalam tradisi Islam.

Keputusan tersebut merupakan salah satu karya besar peradaban Nusantara, yaitu menyatukan agama dan budaya tanpa saling meniadakan.

Tradisi dan Makna Hakiki

Karena menggunakan sistem penanggalan bulan, hingga kini 1 Muharram dan 1 Suro hampir selalu hadir pada waktu yang sama setiap tahun.

Dalam perjalanan sejarah berkembang berbagai tradisi seperti tirakatan, kirab pusaka, tapa bisu, maupun jamasan pusaka. Tradisi tersebut merupakan ekspresi budaya yang berkembang di lingkungan keraton dan masyarakat tertentu, tetapi bukan inti ajaran Islam maupun makna utama 1 Suro.

Hakikat terdalam keduanya adalah perjalanan batin manusia.

Islam mengajarkan hijrah, yaitu meninggalkan keburukan menuju kebaikan, meninggalkan kezaliman menuju keadilan, meninggalkan kebencian menuju kasih sayang, dan meninggalkan kesombongan menuju kerendahan hati.

Filosofi Jawa mengenal eling lan waspada, yakni senantiasa ingat kepada Tuhan dan selalu mawas diri terhadap hawa nafsu serta godaan dunia.

Keduanya bertemu pada satu titik yang sama, yaitu introspeksi diri dan penyempurnaan akhlak manusia.

Nusantara: Ruang Perjumpaan Peradaban

Sejak dahulu Nusantara dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai peradaban besar dunia. Berbagai agama, budaya, dan tradisi tumbuh dan berkembang dalam perjalanan sejarah bangsa.

Kemampuan menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri merupakan salah satu kekuatan terbesar peradaban Nusantara. Di sinilah Indonesia menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi sumber persatuan, bukan perpecahan.

Refleksi untuk Indonesia Hari Ini

Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan datangnya 1 Suro hendaknya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan atau sekadar pergantian kalender.

Momentum ini seharusnya menjadi saat yang tepat bagi bangsa Indonesia untuk melakukan muhasabah nasional, menengok kembali perjalanan bangsa dengan kejujuran dan hati yang jernih.

Di tengah berbagai dinamika yang berkembang belakangan ini, masyarakat disuguhi berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik, mulai dari dugaan penyalahgunaan kewenangan, korupsi, konflik kepentingan, penyebaran informasi yang menyesatkan, polarisasi sosial, hingga berbagai persoalan hukum yang menguji kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Terlepas dari benar atau tidaknya setiap informasi yang beredar, semuanya menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik merupakan fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika kepercayaan itu melemah, persatuan bangsa pun dapat ikut tergerus.

Indonesia tidak membutuhkan semakin banyak kebencian.

Indonesia membutuhkan semakin banyak keteladanan.

Indonesia tidak membutuhkan semakin banyak permusuhan.

Indonesia membutuhkan semakin banyak persaudaraan.

Indonesia tidak membutuhkan semakin banyak retorika.

Indonesia membutuhkan semakin banyak integritas.

Hijrah Peradaban

Di tengah dunia yang dilanda perang, krisis lingkungan, ketidakpastian ekonomi, disrupsi teknologi, serta kemerosotan moral, Tahun Baru Islam dan 1 Suro mengingatkan bahwa perubahan terbesar tidak dimulai dari istana, parlemen, ataupun medan perang.

Perubahan sejati selalu dimulai dari hati manusia yang mau berhijrah menuju kebaikan.

Dari hati yang bersih lahirlah keluarga yang kuat.

Dari keluarga yang kuat lahirlah masyarakat yang beradab.

Dari masyarakat yang beradab lahirlah bangsa yang bermartabat.

Dan dari bangsa yang bermartabat lahirlah peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan bangsa yang berani bercermin, memperbaiki diri, dan melangkah bersama menuju masa depan yang lebih bermartabat.

Semoga semangat hijrah dan 1 Suro menjadi cahaya bagi Indonesia, menjadi inspirasi bagi Nusantara, dan menjadi pesan perdamaian bagi dunia.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada Indonesia, memperkuat persatuan bangsa, membimbing para pemimpinnya agar berlaku adil dan amanah, serta menjadikan Nusantara sebagai negeri yang damai, bermartabat, dan membawa manfaat bagi peradaban dunia.

Jakarta,16 Juni 2026

Membuka Sajian Sejarah: 1 Suro Bukan Sekadar Pergantian Angka

Oleh Heri Mulyono

Tahun baru Jawa yang jatuh setiap 1 Suro merupakan lapisan-lapisan cerita yang tersusun rapi, berpadu menjadi satu kesatuan yang harmonis. Menelusurinya seperti membuka gulungan kain kuno yang setiap seratnya mengandung nilai, doa, dan kearifan yang tak lekang oleh waktu.

Dari Saka ke Suro: Langkah Politik-Spiritual Sultan Agung

Untuk memahami esensi sejati Suroan, kita harus memutar waktu ke abad ke-17 di mana Kerajaan Mataram Islam mengalami masa kejayaan di bawah kepemimpinan Sri Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1645) . Sang Raja memiliki obsesi besar: menyatukan masyarakat Jawa yang masih terpecah dalam berbagai aliran kepercayaan dengan nilai-nilai Islam yang mulai berakar. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan mengubah sistem penanggalan yang sebelumnya bercorak Hindu-Buddha, yakni Kalender Saka yang berbasis pada peredaran matahari .

Pada hari bersejarah Jumat Legi, 1 Suro tahun Alip 1555 Saka, yang bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah atau 8 Juli 1633 Masehi, Sultan Agung secara resmi mengganti sistem penanggalan tersebut . Beliau tak serta-merta menghapus hitungan tahun Saka, melainkan menggabungkannya dengan sistem kalender bulan Islam (Hijriah) . Dalam kebijaksanaan agungnya, Sultan Agung memahami bahwa rakyatnya memiliki ikatan historis yang kuat dengan kalender Saka. Sebagaimana dikutip oleh beberapa sejarawan modern dalam buku Penanggalan Islam, Peradaban Tanpa Penanggalan, Inikah Pilihan Kita? , “Tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal itu dilakukan demi asas kesinambungan” .

Penetapan ini bukan sekadar penyesuaian administratif, melainkan jatidarma spiritual. Menurut catatan sejarawan terkemuka M.C. Ricklefs, Sultan Agung konon menerima ilham setelah melakukan ziarah ke makam Sunan Bayat di Tembayat, di mana ia diperintahkan untuk mengganti sistem penanggalan dengan yang bercorak Islam . Inilah titik mula lahirnya tradisi Suroan yang hingga hari ini masih dirayakan dengan berbagai ritual penuh makna.

Sebelum reformasi monumental ini, praktik menyucikan bulan Suro sudah ada dalam kepercayaan masyarakat Jawa pra-Islam untuk menjauhi kesialan dan mendapatkan keselamatan . Sultan Agung kemudian memanfaatkan momentum spiritual bulan ke-10 Muharram yang sangat dihormati umat Islam untuk mengakulturasikan kedua tradisi . Perpaduan ini menunjukkan terbukanya ajaran Islam terhadap budaya lokal yang sudah ada, sembari menanamkan nilai-nilai tauhid di dalamnya .

Peran Walisongo: Jembatan Emas Antara Tradisi dan Syariat

Namun, penyatuan akbar ini tak mungkin terjadi tanpa fondasi kokoh yang telah dibangun para Wali terdahulu. Panjangnya jalan menuju Suroan sudah dirintis oleh Walisongo pada abad ke-15 dan 16, yang dikenal sebagai pelopor dakwah kultural dengan pendekatan toleran serta adaptif . Alih-alih menghancurkan kebudayaan asli yang sudah membudaya, mereka lebih memilih untuk “mengislamkan” simbol-simbol budaya setempat, termasuk wayang, gamelan, dan sastra Jawa, sebagai media penyebaran Islam . Sunan Kalijaga, misalnya, dengan cerdas menggunakan pertunjukan wayang (yang kental dengan kisah Ramayana dan Mahabharata) untuk menyelipkan ajaran tauhid dan tasawuf tanpa menimbulkan resistensi sosial .

Tanpa pondasi strategi inkulturasi Walisongo yang penuh kedamaian ini, kemungkinan keputusan Sultan Agung pada 1633 tidak akan mudah diterima oleh lapisan bawah masyarakat Jawa. Jadi, jika Sultan Agung adalah sang arsitek, maka Walisongo adalah para peletak batu pertama fondasi akulturasi Islam-Jawa yang hingga kini masih kokoh berdiri .

Simfoni Ritual yang Bisu Namun Sarat Makna

Tapa Bisu: Keheningan Membungkam Ego

Tapa Bisu seringkali disebut sebagai inti terdalam Mubeng Beteng . Ini bukan sekadar berjalan-jalan di malam hari tanpa bicara. Tradisi ini mengajarkan jeda—sebuah ruang bagi manusia untuk mengheningkan cipta, mengoreksi diri atas dosa-dosa yang telah diperbuat selama setahun penuh, serta merajut doa untuk masa depan . Uniknya, ritual ini seringkali meneteskan “air mata yang jatuh diam-diam, entah karena haru, entah karena penyesalan, atau sekadar karena merasa dekat sekali dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri”.

Mubeng Beteng: Tirakat Mengelilingi Diri

Jika Tapa Bisu adalah jiwa, maka Mubeng Beteng adalah wujud fisiknya. Dikenal juga dengan istilah Lampah Ratri, ritual ini mengajak peserta berjalan tanpa alas kaki mengelilingi benteng keraton sejauh sekitar 5 kilometer dalam keheningan mutlak . Ada yang menarik: prosesi ini terinspirasi oleh perjalanan suci hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah yang penuh keprihatinan . Dengan mengambil inspirasi dari peristiwa sakral tersebut, Mubeng Beteng menjadi momentum kontemplasi murni alih-alih sekadar pawai budaya .

Bubur Suro: Rasa Syukur Nabi Nuh dalam Sepiring Bubur

Sementara itu, tradisi Bubur Suro (atau Bubur Asyura) memiliki dimensi universal yang melampaui batasan etnis dan agama. Kisahnya bersumber dari peristiwa besar ketika kapal Nabi Nuh mendarat dengan selamat di Gunung Al-Judi pada tanggal 10 Muharram. Sebagai rasa syukur, para pengikutnya mengumpulkan sisa-sisa perbekalan yang terdiri dari tujuh macam biji-bijian dan memasaknya menjadi satu bubur yang dinikmati bersama . Karenanya, bubur Suro menjadi pengejawantahan syukur dan juga simbol persatuan dari keberagaman . Di Indonesia, tradisi ini dirayakan dengan gotong royong, melibatkan 35 hingga 50 warga secara sukarela untuk berbagi hingga 1.500 porsi kepada masyarakat sekitar .

Jamasan Pusaka: Memandikan Jiwa dan Benda Sakral

Tak hanya manusia dan alam, benda-benda pusaka seperti keris, gamelan, hingga kereta kerbau juga mendapat giliran “dimandikan” atau Jamasan Pusaka di keraton Solo dan Yogyakarta menjelang 1 Suro . Dalam tradisi Jawa, benda-benda pusaka bukanlah barang mati, melainkan mengandung energi spiritual yang harus dirawat dan dibersihkan dari segala energi negatif sebelum memasuki tahun baru . Secara filosofis, ritual ini mengingatkan bahwa manusia juga harus melakukan jamasan batin: membersihkan hati dari kebencian, iri, dan dendam.

Larung Sesaji: Damai dengan Alam Gaib

Tak lengkap rasanya menyebut Suroan tanpa Larung Sesaji. Umumnya dilakukan di pantai selatan (berkaitan dengan mitologi Nyi Roro Kidul) atau di danau, ritual ini bertujuan untuk membayar “hutang” spiritual kepada alam gaib dan menolak bala . Meski terdengar mistis, esensinya mengingatkan manusia untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara alam material dan spiritual.

Ketika Masa Kini Bertemu Masa Lalu: Transformasi Suroan

Memasuki abad ke-20, terjadi perubahan signifikan dalam pelaksanaan ritual Suroan. Jika pada masa lalu penyucian bulan Muharram lebih bernuansa upacara sesaji yang kental, kini banyak komunitas yang lebih menekankan aspek sosial dan spiritualitas murni. Beberapa pesantren dan organisasi Islam, misalnya, mengisi malam 1 Suro dengan istighosah bersama, santunan anak yatim, serta kajian Islam yang membahas tentang keutamaan bulan Muharram.

Di sisi lain, inovasi kemasan modern pun mulai marak. Kirab pusaka di Solo dan Mubeng Beteng di Jogja tidak hanya dihadiri oleh masyarakat lokal, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia. Kehadiran wisatawan mancanegara yang turut mengamati ritual ini membuat tradisi Suroan semakin lestari meskipun tetap dihadapkan pada tantangan komodifikasi budaya. Walaupun demikian, esensi hakiki Suroan sebagai momen introspeksi kolektif tetap terjaga di tengah hiruk-pikuk publikasi media sosial.

Membaca Suroan dengan Kacamata Antropologi

Para ahli antropologi sosial budaya, terutama yang terinspirasi oleh pemikiran Clifford Geertz, melihat tradisi Suroan sebagai sistem makna yang kompleks. Dalam bukunya, The Interpretation of Cultures, Geertz memperkenalkan konsep “thick description” yang mendorong kita untuk tidak hanya melihat ritual, tetapi juga menggali simbol-simbol di baliknya . Tradisi ini menjadi simbol bagaimana masyarakat Nusantara mengelola ketegangan antara Abangan (Islam sinkretis yang erat dengan animisme) dan Santri (Islam yang lebih puritan) secara harmonis.

Dalam pandangan Geertz, Suroan adalah ajang negosiasi identitas. Setiap larung sesaji, diamnya Mubeng Beteng, atau guyubnya memakan Bubur Suro merupakan “teks” yang dapat dibaca sebagai strategi untuk bertahan di tengah gempuran modernitas sekaligus menjadi jangkar moral di tengah perubahan zaman. Tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Jawa tidak pernah menjadi objek pasif dari penetrasi agama asing, melainkan subjek aktif yang memilih, memilah, dan merekayasa ulang budayanya sendiri.

Pesan Tersirat dan Tersurat: Refleksi di Penghujung Kisah

Pesan tersurat dari tradisi Suroan jelas: kita harus bersyukur, membersihkan diri dari kesalahan, dan menjalin solidaritas sosial. Namun, di balik itu semua, tersimpan pesan tersirat yang lebih dalam. Tradisi ini mengajarkan bahwa identitas budaya bukanlah monumen yang membatu, melainkan sungai yang terus mengalir. Islamisasi di Nusantara tidak pernah terjadi melalui kekerasan atau penghapusan budaya, melainkan melalui proses dialektis yang halus dan penuh penghormatan terhadap warisan nenek moyang.

Lebih dari itu, Suroan mengingatkan kita akan pentingnya keseimbangan vertikal dan horisontal. Dalam pengertian Islami, vertikal berarti hubungan dengan Allah (habluminallah) yang diwujudkan dalam puasa, doa, dan zikir. Sementara horisontal adalah hubungan dengan sesama manusia dan alam (habluminannas wal ‘alam), yang diwujudkan dalam berbagi bubur, menjaga benda pusaka, dan menghormati pantai selatan. Kedua aspek ini tidak bisa dipisahkan.

Menarik untuk dicatat pula bagaimana tradisi ini mengkritisi gaya hidup modern yang serba cepat dan berorientasi pada konsumsi. Mubeng Beteng yang hening mengkontraskan dengan perayaan tahun baru masehi yang gemerlap. Dalam masyarakat yang digerogoti kecemasan dan gangguan mental, Suroan seperti hadir sebagai “terapi diam” kolektif yang memberi ruang bagi manusia untuk sejenak berhenti sejenak, mendengarkan napasnya sendiri, dan merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar dari sekadar materi.

Jadi, sudahkah kita menyiapkan hati untuk menyambut Tahun Baru Jawa kali ini? Mari, di tengah hingar-bingar dunia, kita luangkan waktu untuk diam sejenak, berjalan pelan mengikuti jejak leluhur, merenungi hakikat perjalanan hidup, dan berbagi secuil kebahagiaan kepada sesama. Di situlah letak Suroan sejati—bukan pada megahnya kirab atau mewahnya sesaji, tetapi pada kejernihan hati yang kembali pada fitrah. (*)