Kabar
Singhasari Jayanti Festival: Menghidupkan Kembali Kejayaan Kerajaan Nusantara
Setiap tahun, Kabupaten Malang menjadi saksi bisu kebangkitan kembali kejayaan masa lalu melalui perayaan megah bernama “Singhasari Jayanti Festival”.
Festival budaya terbesar di kawasan Singhasari ini digelar guna memperingati Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1265. Bukan sekadar perayaan biasa, melainkan sebuah perjalanan waktu yang membawa para pengunjung menyelami kekayaan budaya dan sejarah Nusantara sejak abad ke-13.
Kerajaan Singhasari, yang berdiri tahun 1222 Masehi di bawah kepemimpinan Ken Arok, merupakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Kerajaan ini tidak hanya dikenal karena kekuatan militernya, tetapi juga karena kemajuan dalam bidang seni, budaya, dan arsitektur yang hingga kini masih dapat kita saksikan melalui berbagai peninggalan bersejarah di wilayah Jawa Timur.
Singhasari Jayanti Festival hadir sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya pelestarian budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Singhasari Jayanti Festival 2025: Perayaan Akbar di Tanah Bersejarah
Singhasari Jayanti Festival 2025 menjadi peristiwa bersejarah yang telah dinantikan masyarakat Malang Raya. Festival ini berlangsung pada 28–31 Agustus 2025, berpusat di Jl. Kertanegara Barat dan pelataran Candi Singosari, memberikan nuansa autentik dengan latar belakang situs bersejarah yang megah.

Sejarah dan Makna Festival
Festival ini pertama kali digelar pada tahun 2010 atas inisiasi Pemerintah Kabupaten Malang yang bekerja sama dengan berbagai komunitas budaya dan sejarawan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang sekaligus Ketua Panitia Hari Jadi, Purwoto, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa festival ini bukan hanya agenda hiburan semata, melainkan wadah untuk memperkuat identitas sejarah, melestarikan budaya, serta mendorong pariwisata daerah.
“Singhasari Jayanti Festival adalah ruang bagi masyarakat untuk bernostalgia, merayakan tradisi, dan meneguhkan kebanggaan terhadap sejarah Malang. Kami berharap masyarakat dari segala kalangan bisa hadir, ikut meramaikan, sekaligus mendukung pelaku seni dan UMKM lokal,” ungkap Purwoto.
Pemilihan nama “Jayanti” yang berarti hari kelahiran atau hari jadi memiliki makna yang mendalam. Festival ini tidak hanya merayakan berdirinya kerajaan, tetapi juga melambangkan kelahiran kembali semangat kebangsaan dan kebanggaan terhadap identitas budaya Indonesia. Melalui berbagai rangkaian acara yang digelar selama beberapa hari, festival ini berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam satu misi besar: melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya Nusantara.

Rangkaian Acara yang Memukau
Singhasari Jayanti Festival 2025 menghadirkan beragam acara yang dikemas dengan apik dan penuh makna historis. Festival ini dibuka setiap hari mulai pukul 14.00 WIB dengan suasana yang membawa pengunjung bernostalgia ke masa lampau. Pembukaan festival dimulai dengan upacara adat yang khidmat, di mana para peserta mengenakan kostum tradisional ala zaman Kerajaan Singhasari.
Beragam kegiatan menarik telah disiapkan panitia untuk memeriahkan festival ini, antara lain:
Pasar Rakjat Singhasari Tempoe Doeloe
menjadi salah satu daya tarik utama yang menghadirkan nuansa klasik khas Singhasari dengan kuliner tradisional, kerajinan tangan, dan hiburan rakyat. Pasar ini tidak hanya menjual produk-produk lokal, tetapi juga memberikan pengalaman berbelanja dengan suasana tempo dulu yang autentik.
Lomba Tari Tradisional & Kreasi Anak memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam melestarikan seni budaya tradisional. Kompetisi ini menjadi wadah untuk mengembangkan kreativitas anak-anak dalam menginterpretasikan tarian klasik dengan sentuhan modern yang tetap menghormati nilai-nilai tradisional.
Lomba Fashion Anak bertema Kejayaan Singhasari menghadirkan fashion show unik yang memadukan busana tradisional dengan kreativitas anak-anak. Peserta berlomba menampilkan kostum yang terinspirasi dari pakaian kerajaan Singhasari dengan interpretasi yang menarik dan edukatif.
Lomba Nembang Lagu Tradisional di Nladem Ratu Singhasari menjadi ajang pelestarian seni vokal tradisional Jawa. Kompetisi ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan dalam menyanyikan tembang-tembang klasik yang sarat akan nilai-nilai filosofis dan budaya.
Puncak perayaan adalah Kirab Tumpeng Agung yang menjadi simbol syukur dan kemakmuran. Prosesi ini diikuti oleh ratusan peserta yang membawa tumpeng raksasa dalam arak-arakan yang meriah, menciptakan momen yang sangat berkesan bagi setiap pengunjung yang menyaksikannya.

Penampilan Memukau Arca Tatasawara
Salah satu momen paling berkesan dalam Singhasari Jayanti Festival adalah penampilan grup musik etnis kontemporer Arca Tatasawara yang memberikan sentuhan modern pada festival bersejarah ini. Grup musik asal Malang ini telah membuktikan dedikasi mereka terhadap pelestarian budaya melalui konser tunggal perdana bertajuk “Harmoni Candi Nada Zaman” yang digelar di Candi Kidal, Tumpang, pada 10 Agustus 2025.
Konser spektakuler tersebut bukan hanya sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah upaya nyata untuk menjadikan candi-candi Nusantara sebagai panggung hidup bagi warisan sejarah dan budaya.
Arca Tatasawara digawangi oleh Nova (vokal), Koko (gitar), Adit (drum), Cak Mad (bass), Agus Wayan (gitar), Faisal (kendang & suling), dan Tutut (biola). Konsistensi mereka dalam meramu musik etnik modern telah mendapat apresiasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Grup ini menghadirkan delapan karya musik yang masing-masing terinspirasi dari relief, arca, mitologi, hingga aktivitas kehidupan yang tergurat pada candi-candi di Malang, Jawa Timur, dan Indonesia.
Penampilan mereka di Singhasari Jayanti Festival menjadi jembatan yang indah antara nilai-nilai historis Kerajaan Singhasari dengan apresiasi seni modern, menciptakan harmoni yang sempurna antara masa lalu dan masa kini.
Konser Arca Tatasawara di panggung utama festival menjadi puncak acara yang paling ditunggu-tunggu oleh para pengunjung. Grup yang telah mendapat dukungan dari berbagai seniman dan budayawan ini tampil dengan kostum yang terinspirasi dari pakaian tradisional era Singhasari.
Di Singhasari Jayanti Festival 2025, Arca Tatasawara tampil dua kali pada hari Minggu (31 Agustus) yaitu pada pukul 16.00 dan 19.00 WIB, memberikan kesempatan lebih banyak kepada pengunjung untuk menikmati karya musik mereka. Performance yang berlangsung ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman budaya yang mendalam bagi setiap penonton yang hadir, membuktikan bahwa musik tradisi dapat tetap hidup dan relevan di era modern.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Singhasari Jayanti Festival telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian lokal. Selama penyelenggaraan festival, tingkat kunjungan wisatawan ke Malang meningkat drastis, mencapai lebih dari 100.000 pengunjung setiap tahunnya. Peningkatan jumlah wisatawan ini secara langsung berdampak pada pendapatan pelaku usaha lokal, mulai dari hotel, restoran, pedagang souvenir, hingga ojek dan transportasi umum.
Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga merasakan manfaat besar dari festival ini. Mereka mendapat kesempatan untuk memamerkan dan memasarkan produk-produk lokal kepada wisatawan dari berbagai daerah. Tidak jarang, pesanan untuk produk kerajinan tangan dan makanan khas Malang meningkat berkali-kali lipat selama dan setelah festival berlangsung.
Dari sisi sosial, festival ini berhasil memperkuat rasa kebanggaan masyarakat lokal terhadap budaya dan sejarah daerahnya. Generasi muda yang semula kurang tertarik dengan budaya tradisional mulai menunjukkan antusiasme yang tinggi untuk belajar dan melestarikan warisan leluhur. Banyak sekolah yang kini memasukkan materi tentang sejarah Kerajaan Singhasari dalam kurikulum muatan lokal mereka.
Partisipasi Masyarakat dan Kolaborasi
Keberhasilan Singhasari Jayanti Festival tidak lepas dari partisipasi aktif masyarakat dan kolaborasi yang solid antara berbagai pihak. Pemerintah daerah, komunitas budaya, institusi pendidikan, dan pelaku usaha bersatu padu dalam mempersiapkan dan melaksanakan festival ini. Persiapan yang matang biasanya dimulai enam bulan sebelum pelaksanaan, melibatkan ratusan relawan yang bekerja dengan penuh dedikasi.
Komunitas budaya lokal memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga keaslian dan kualitas pertunjukan. Mereka tidak hanya bertugas sebagai performer, tetapi juga sebagai peneliti dan kurator yang memastikan setiap detail acara sesuai dengan fakta sejarah. Kolaborasi dengan akademisi dari berbagai universitas juga memperkuat aspek edukasi dari festival ini, sehingga tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan nilai pembelajaran yang tinggi.
Tantangan dan Inovasi
Seperti event besar lainnya, Singhasari Jayanti Festival juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara aspek komersial dan nilai-nilai budaya yang autentik.
Tekanan untuk menarik lebih banyak wisatawan terkadang berpotensi menggeser fokus dari pelestarian budaya menjadi hiburan massal yang kurang bermakna. Belum lagi kendala situasional dengan maraknya demo dimana-mana sehingga membatalkan kedatangan pejabat tinggi ke acara dan merubah beberapa agenda acara.
Untuk mengatasi tantangan ini, penyelenggara terus melakukan inovasi dalam format dan konten festival. Mereka mengintegrasikan teknologi modern seperti augmented reality dan virtual reality untuk memberikan pengalaman yang lebih immersive kepada pengunjung, tanpa mengurangi nilai historis dan budaya dari acara tersebut. Aplikasi mobile khusus festival juga dikembangkan untuk memudahkan pengunjung mendapatkan informasi lengkap tentang sejarah dan makna dari setiap pertunjukan.
Pelestarian untuk Masa Depan
Singhasari Jayanti Festival telah berkembang menjadi lebih dari sekadar acara tahunan. Festival ini telah menjadi gerakan budaya yang berkelanjutan, dengan berbagai program sepanjang tahun yang bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal. Program-program tersebut meliputi pelatihan seni tradisional untuk anak-anak, workshop kerajinan tangan, dan seminar sejarah yang diadakan secara rutin.
Kerjasama dengan lembaga internasional juga mulai dikembangkan untuk memperluas jangkauan dan dampak festival. Beberapa seniman dan peneliti budaya dari luar negeri telah menunjukkan minat untuk berpartisipasi dan belajar tentang kekayaan budaya Kerajaan Singhasari. Hal ini membuka peluang untuk pertukaran budaya yang dapat memperkaya khazanah festival di masa mendatang.
Visi ke Depan
Dengan pencapaian yang telah diraih selama lebih dari satu dekade, Singhasari Jayanti Festival terus berbenah dan berinovasi untuk memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi setiap pengunjung. Visi jangka panjang festival ini adalah menjadikan Malang sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia, sekaligus pusat pembelajaran tentang sejarah dan budaya Kerajaan Singhasari.
Rencana pengembangan festival mencakup pembangunan museum interaktif, pusat dokumentasi budaya, dan festival budaya anak yang khusus dirancang untuk generasi muda. Dengan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait, Singhasari Jayanti Festival diharapkan dapat terus menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, menghubungkan generasi dengan warisan budaya yang tak ternilai harganya.
Melalui Singhasari Jayanti Festival, kita tidak hanya merayakan masa lalu yang gemilang, tetapi juga menanam benih-benih kebanggaan budaya untuk generasi mendatang. Festival ini membuktikan bahwa kekayaan budaya Nusantara dapat terus hidup dan berkembang di era modern, selama ada komitmen dan kerja keras untuk melestarikannya. Kerajaan Singhasari mungkin telah menjadi sejarah, tetapi semangatnya terus hidup dalam setiap pertunjukan, setiap tarian, dan setiap doa yang dipanjatkan dalam festival megah ini. (Heri)
