• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Sehari Bersama Whoosh : Dalam Sekejap, Bandung Terasa Lebih Dekat

Sehari Bersama Whoosh : Dalam Sekejap, Bandung Terasa Lebih Dekat

November 3, 2025
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

October 22, 2026
Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

October 22, 2026
Empat Tahun Berperang Rusia Kehilangan 350.000 Tentaranya, Putin: ‘Kemenangan akan Selalu Milik Kita!

Jalan Perdamaian Terbuka? Presiden Putin Setuju Perundingan Damai dengan AS dan Ukraina

October 22, 2026
Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

Puisi-puisi Visual Yusuf Susilo Hartono

October 22, 2026
Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

Bareskrim Telusuri Aset Lebih dari Rp500 Miliar dalam Kasus PT Dana Syariah Indonesia

October 22, 2026
BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

BP3MI DIY Latih 80 Calon Pekerja Migran Indonesia Siap Tembus Pasar Kerja Global

October 22, 2026
Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

Presiden Instruksikan Usut Tuntas Keterlibatan Manusia dan Korporasi dalam Karhutla

October 21, 2026
Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

Film Laut Bercerita: Tentang Keberanian, Persahabatan dan Kehilangan

October 21, 2026
Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

Tinjau Penanganan Karhutla Tahura R Soerjo, Khofifah Tekankan  Keselamatan Petugas dan Relawan

October 21, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Friday, October 23, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Sehari Bersama Whoosh : Dalam Sekejap, Bandung Terasa Lebih Dekat

by admin
November 3, 2025
in Kolom
0
Sehari Bersama Whoosh : Dalam Sekejap, Bandung Terasa Lebih Dekat
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Muhamad Akbar, Pengamat Transportasi

Pagi itu, Bogor masih menyimpan sisa hujan semalam. Udara lembab. Di langit menggantung mendung tipis. Tak banyak yang dibawa hanya ransel kecil, nyaris kosong. Bukan untuk liburan, bukan pula untuk urusan penting. Hanya ingin merasakan sendiri, seperti apa sensasi naik Whoosh, kereta cepat Jakarta–Bandung yang selama ini cukup sering jadi bahan diskusi.

Pernah menulis artikel tentang Whoosh, mendiskusikannya, bahkan memperdebatkannya di berbagai forum, akhirnya ada waktu untuk mencoba langsung. Hari ini, Whoosh tak lagi sekadar proyek infrastruktur besar yang ditelaah dari jauh, melainkan sesuatu yang saya alami sendiri dengan mata, telinga, dan rasa.

Pukul enam pagi perjalanan dimulai, menumpang Gocar dari Bogor menuju Stasiun Halim. Lalu lintas sudah ramai meski belum benar-benar padat saat memasuki Tol Lingkar Bogor dan Jagorawi. Cuaca mendung, dan gerimis tipis mulai turun saat melintasi kawasan Cimanggis. Memasuki wilayah Pasar Rebo hingga Universitas Kristen Indonesia (UKI) lalu lintas mulai merayap lambat, ritme pagi Ibu Kota yang tak bisa dihindari. Meski begitu, perjalanan tetap terasa ringan, karena yang dituju adalah pengalaman pertama menaiki kereta cepat Whoosh.

Tiba di Stasiun Halim sekitar pukul 07.10. Bangunannya tampil modern, bersih, dan terasa masih baru. Suasananya memberi nuansa seperti bandara kecil. Papan petunjuk mudah dibaca, ruang tunggu terasa lapang dan nyaman, tenant makanan berjajar rapi di lantai atas dan bawah. Di sisi timur stasiun, bus Damri ke Bandara Soetta dan Halim sudah bersiap, serta bus TransJakarta jurusan Cawang. Sementara di sisi utara, kendaraan online, seperti Gocar dan Grab bisa dengan mudah menjemput langsung di depan stasiun, tanpa larangan, dan tanpa pungutan terselubung,  suasana yang tertib dan ramah bagi penumpang.

Lobi keberangkatan  tertib dan tidak hiruk-pikuk, memberi ruang bagi penumpang untuk menata langkah tanpa tergesa. Dari raut wajah sebagian penumpang, tersirat antusiasme dan rasa penasaran. Barangkali baru pertama kali mencoba Whoosh. Proses masuk stasiun mengingatkan pada pengalaman di bandara, tapi dalam versi yang lebih sederhana : naik ke lantai dua, pemeriksaan barang bawaan dilakukan cepat dan tidak merepotkan, lalu duduk sejenak di ruang tunggu yang nyaman. Pukul 08.00, suara pengumuman boarding menggema. Penumpang berdiri satu per satu, menempelkan tiket digital berupa QR code di ponsel ke pemindai di pintu otomatis, lalu berjalan menuju peron.

Whoosh sudah menunggu panjang, ramping, dan desain futuristik dalam balutan putih. Ia tampak seperti peluru putih yang siap melesat, bukan hanya menyusuri rel, tapi juga menembus waktu dan persepsi publik yang selama ini ramai membicarakannya lewat berita, kritik, dan debat.

Meluncur di Atas 300 km/jam dan Merasakan Masa Depan

Saya memasuki gerbong 4 dan langsung menuju kursi 10F, tepat di tepi jendela. Sejenak terdiam, menikmati suasana di dalam kabin yang modern dan bersih. Ruang kaki terasa lega, sandaran kursi bisa direbahkan sesuka hati, dan colokan listrik tersedia di bawah tempat duduk. Hanya sebagian kursi yang terisi, sekitar 40 persen, cukup untuk tak merasa sendiri, tapi juga cukup lapang untuk menikmati perjalanan dalam sunyi. Tak ada suara bising, hanya desir halus dari sistem pendingin udara dan bisikan angin yang tertahan di balik kaca.

Tepat pukul 08.25, Whoosh mulai bergerak perlahan. Dalam hitungan menit, kecepatan meningkat. Angka di layar digital di ujung gerbong mencatatkan kecepatannya: 100 km/jam, 200, 300… hingga menetap di 347 kilometer per jam. Saya tertegun. Bukan karena takut, tapi karena takjub. Rasanya seperti meluncur bersama masa depan.

Pemandangan di luar berubah menjadi lukisan yang bergerak cepat. Beberapa menit pertama, lanskap terasa akrab: Jalan Tol Jakarta–Cikampek terlihat dari ketinggian, kendaraan di jalur bawah tampak seperti miniatur yang perlahan ditinggalkan. Selepas Karawang, lanskap berganti—hamparan sawah, perbukitan hijau, dan jembatan-jembatan panjang mewarnai jendela. Sayangnya, keindahan itu sesekali terputus oleh gelapnya terowongan. Tapi bahkan di dalam lorong sunyi itu, gerbong tetap stabil. Tak ada hentakan, hanya goyangan halus, lebih lembut daripada saat pesawat lepas landas.

Sesekali saya menoleh ke sekeliling. Penumpang di dalam gerbong tampak tenang. Beberapa membuka laptop, sebagian lagi hanya duduk sambil menatap keluar jendela membiarkan sawah, bukit, dan jembatan panjang itu melintas cepat di balik kaca. Tak ada percakapan nyaring, hanya keheningan yang sarat makna. Mungkin inilah sensasi naik kereta cepat untuk pertama kalinya: tak sempat mengantuk, karena terlalu sibuk menikmati dan membandingkan.

Tak lama setelah meluncur, kereta berhenti singkat di Karawang, tepat waktu, sesuai jadwal. Dan sebelum rasa nyaman itu sempat berubah menjadi jenuh, pukul 09.05, Stasiun Padalarang sudah menyapa. Empat puluh menit sejak berangkat dari Halim, bahkan belum sempat benar-benar merasa duduk lama. Tapi begitulah kereta cepat: memangkas waktu, bukan untuk buru-buru, tapi untuk memberi kita pilihan.

Setibanya di Stasiun Padalarang, arus penumpang Whoosh langsung diarahkan ke peron bawah. Tak perlu naik eskalator berlapis atau mencari jalur yang membingungkan. Di sana, kereta feeder ke Bandung sudah menunggu—bersih, terawat, dan terkesan masih baru keluar dari pabrik.

Perpindahan moda berlangsung cukup mudah dan lancar. Tak banyak jeda, tak pula terburu-buru. Pukul 09.10, kereta feeder mulai melaju, membelah kawasan pinggiran Bandung. Beberapa menit kemudian, kereta berhenti sebentar di Stasiun Cimahi pukul 09.18. Lalu kembali melaju hingga tiba di Stasiun Bandung tepat pukul 09.32.

Hanya tiga stasiun dalam 22 menit. Pendek, efisien, dan cukup nyaman, sebuah potongan perjalanan yang menunjukkan bahwa konektivitas tak selalu harus rumit. Kadang, cukup dengan arah yang jelas dan kereta yang datang tepat waktu.

Roti Srikaya, Sahabat Lama, dan Jalan Braga

Dari stasiun, saya memutuskan berjalan kaki menyusuri Jalan Otista. Trotoarnya padat, penuh dengan pedagang kaki lima, suara klakson, dan riuhnya kota yang tak pernah betul-betul diam. Langkah saya tertuju pada satu tempat: Warung Kopi Purnama. Sebuah kedai legendaris yang konon sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda. Di dalamnya, waktu seakan membeku. Dinding kayu, pelayan berseragam sederhana, dan menu yang tak berubah. Saya memesan roti panggang selai srikaya dan kopi hitam pahit—sepasang menu yang sudah lama merawat selera banyak generasi.

Tak lama, janji lewat WhatsApp malam sebelumnya terwujud. Kuncara datang—kawan lama semasa kuliah di Akademi Lalu Lintas Bekasi, kini dengan sedikit uban dan senyum khasnya yang tetap ramah. Dengan sepeda motornya, kami berkeliling Bandung, menyusuri ikon-ikon kota: Gedung Merdeka yang gagah, aliran Cikapundung yang dibingkai beton, lorong Braga yang selalu memanggil, hingga megahnya Gedung Sate yang berdiri anggun sebagai pengingat masa lalu yang masih terasa sampai kini.

Menjelang Dzuhur, kami singgah di Masjid Agung Al Ukhuwah. Di dalam, suasana khusyuk berpadu dengan sejuknya udara kota Bandung. Tak jauh dari situ, hanya beberapa langkah ke samping, berdiri Bandoengsche Melk Centrale 1928—restoran bergaya lawas yang seolah berbagi halaman dengan masjid. Di sana, saya menikmati makan siang ringan: ikan steam, tahu, tempe, dan segelas susu murni hangat. Sederhana, tapi cukup pas untuk menutup kunjungan singkat hari ini.

Whoosh Jakarta ke Bandung: Tepat Waktu, Penuh Arti

Usai makan siang yang singkat, saya diantar Kuncara kembali ke Stasiun Bandung, mengucapkan selamat tinggal pada kota ini yang kali ini terasa begitu mudah dijangkau. Gerimis masih setia sejak pagi. Saya menaiki kereta feeder pukul 13.45 menuju Padalarang. Lalu, tepat pukul 15.23, Whoosh melaju lagi—kali ini membawa saya pulang.

Saya duduk di sisi yang berbeda dari keberangkatan pagi tadi. Dari jendela, matahari mulai condong ke barat, mewarnai lanskap dengan cahaya keemasan yang lembut. Layar digital di kabin masih menunjukkan angka di atas 300 km/jam, tapi kali ini saya tidak lagi terpaku pada kecepatannya. Ada hal lain yang menyita perhatian—keheningan, kenyamanan, dan ruang yang cukup untuk merenung. Mungkin inilah bentuk lain dari kemajuan: bukan hanya soal kecepatan, tapi juga tentang bagaimana perjalanan memberi ruang untuk berpikir.

Di tengah keheningan itu, riuhnya wacana publik sempat melintas di kepala—dari lini masa media sosial hingga tajuk utama di berbagai pemberitaan. Isu mark-up , polemik anggaran, hingga perdebatan tentang urgensi proyek kereta cepat mengalir deras. Kritik-kritik itu sah saja. Namun, di dalam gerbong yang meluncur mulus ini, semua perdebatan seakan tertinggal di luar jendela. Whoosh diam-diam membuktikan dirinya bukan lewat pernyataan resmi atau kampanye citra, melainkan melalui akurasi jadwal, kerapihan layanan, dan kenyamanan yang bisa dirasakan langsung. Seolah ia ingin berkata, “Silakan berdebat, biarkan saya bekerja.”

Kereta tiba tepat waktu di Halim. Saya memesan Gocar dan sekitar pukul lima sore sudah tiba kembali di rumah. Ransel masih kosong, seperti saat berangkat pagi tadi. Tapi yang pulang bukan sekadar tubuh—ada pengalaman baru yang ikut pulang, dan rasanya tak mungkin ditinggal di gerbong belakang. (*)

Tags: kereta cepat whooshsehari bersama whoosh
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version