Connect with us

Kolom

Santet dalam Tinjauan Logika dan Filosofi

Published

on

Gde Mahesa

Santet. Kata yang sudah tidak asing lagi, dengan kesan horor, sadis dan tak masuk akal. Sengaja penulis ngoprek dengan tinjauan kacamata “mistis, psikologi, logika dan filosofi?” yang spesial dipersembahkan untuk Jayakarters.

  1. Tinjauan Mistis atau Klenik.
    Santet adalah pengiriman energi negatif kepada seseorang melalui perantara. Tentunya hal ini ada unsur penyebabnya ;

a.  Pelaku: Orang yang memiliki niat, ilmu, dan “kekuatan” tertentu.
b.  Media: Benda perantara seperti rambut, foto, paku, jarum, atau boneka.
c.  Waktu: Biasanya dipilih pada saat-saat tertentu seperti malam Jumat Kliwon atau purnama, yang dipercaya “pintu energi” sedang terbuka.
d.  Target: Orang yang pagar gaibnya lemah atau sedang dalam kondisi terpuruk.
Logika mistisnya sederhana: “Jika percaya, maka energi itu akan menempel.” Simple kan ?

2.  Tinjauan Psikologi
Banyak kasus “tersantet” yang secara medis tidak ditemukan penyebabnya. Mengapa bisa sakit sungguhan?. Ini dapat dijelaskan melalui 3 fenomena psikologi:

a.  Efek Nosebo: Kebalikan dari plasebo. Ketika seseorang diberitahu “kamu terkena santet”, otak memicu stres. Stres menurunkan imunitas, sehingga tubuh benar-benar sakit.
b.  Psikosomatis: Kecemasan berlebihan memengaruhi organ tubuh. Lambung sakit, jantung berdebar, saraf tegang. Semua muncul dari pikiran.
c.  Sugesti: “Aku gatal-gatal”, terus digaruk, lalu benar-benar terjadi iritasi.
Kesimpulannya, santet bisa “berhasil” karena korban mempercayainya 100%. Otak sendirilah yang menyakiti tubuhnya.

3.  Tinjauan Logika
Jika santet benar-benar bisa menembak dari jarak jauh tanpa jejak, mengapa orang-orang zalim masih hidup sehat-sehat saja?
Logika yang lebih masuk akal:

a.  Energi itu ada. Rasa benci, iri, dan dendam adalah energi. Energi ini bisa menular melalui fitnah, gosip, dan perlakuan buruk.
b.  “Pagar gaib” adalah pagar mental. Orang yang imannya kuat, sibuk bekerja, dan pola hidupnya sehat, cenderung tidak mudah “terkena”. Karena fokusnya berbeda.
c.  Santet paling nyata adalah “Santet Sosial”. Yaitu pemboikotan, pencemaran nama baik, dan sabotase. Dampaknya jauh lebih nyata daripada jarum.

4.  Tinjauan Filosofi Jawa
Dalam pandangan Jawa, santet adalah “Pangruwating Rasa” atau ujian untuk menguji isi hati manusia.
Ajaran filosofisnya:

a.  “Ojo Dumeh”: Jangan sombong. Jika kita menzalimi orang, doa dan energi orang terzalimi itu bisa “kembali” kepada kita.
b.  “Sapa Nandur Ngunduh”: Siapa menanam, dia yang menuai. Santet adalah cermin. Ia berasal dari energi negatif yang kita putar sendiri.
c.  Penawarnya bukan melawan. Penawarnya adalah: membersihkan hati, menguatkan iman, dan memperbaiki perilaku. Orang yang bersih hatinya, santet akan mental dengan sendirinya.
Jika nyenggol ngeslank ada peribahasa: “Ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana. Ajining santet ana ing pikirane dhewe.”  
Artinya: Kehormatan diri ada pada lisan, kehormatan raga ada pada pakaian. Dan mempan tidaknya santet ada pada pikiran atau diri kita sendiri.

Lantas bagaimana dengan kabar ditemukannya benda asing didalam tubuh ketika dirontgen?
Hal ini yang paling sering jadi perdebatan.

Yang dipercaya masyarakat:  
Ada cerita orang “tersantet” lalu di Rontgen/USG ditemukan benda seperti jarum, paku, kawat, atau pecahan kaca di dalam tubuh.

Penjelasan logis dan medis:
1.  Fenomena Psikosomatis Berat: Penderita benar-benar merasakan sakit, mual, atau ada “yang berjalan” di tubuh. Ini nyata dirasakan, meski penyebabnya dari otak.

2.  Manipulasi dan Ilusi: Pada beberapa kasus yang pernah diungkap, “pengeluaran benda” dilakukan oleh pelaku ritual. Benda itu sudah disembunyikan di tangan, mulut, atau alat. Ini teknik sulap klasik yang disebut sleight of hand.

3.  Benda yang tertelan/tidak sengaja masuk: Ada juga kasus medis nyata orang menelan jarum, peniti, atau pecahan. Tapi ini bisa dijelaskan secara medis, bukan karena “dikirim”.

Fakta penting: Sampai hari ini belum ada satu pun dokumentasi medis resmi berupa hasil Rontgen, CT Scan, atau rekaman operasi yang bisa diverifikasi publik, yang menunjukkan “benda santet” keluar lalu diteliti di laboratorium.

Jika ada, biasanya berhenti di cerita lisan.
Jadi “bukti” itu lebih banyak bersifat anekdot dan testimoni, bukan data ilmiah yang bisa diuji ulang.

Sejarah kepercayaan terhadap santet tidak muncul tiba-tiba. Ia punya garis waktu.

1.  Masa Pra-Hindu-Buddha dan Animisme:  
 Masyarakat Nusantara percaya adanya energi di alam. Penyakit dianggap karena “roh jahat” atau “pelanggaran pamali”. Pengobatan dilakukan oleh dukun, balian, atau pawang dengan mantra dan sesaji.

2.  Masa Hindu-Buddha hingga Islam Masuk:  
    Konsep “ilmu hitam” mulai disistematisasi. Ada ajaran tentang tenaga dalam, pelet, pengasihan, dan juga “ilmu celaka”. Tujuannya bisa untuk perlindungan diri, tapi juga disalahgunakan.

3.  Masa Kolonial hingga Orde Baru:  
Ini puncak kepercayaan terhadap santet. Tekanan sosial, konflik tanah, persaingan usaha, dan minimnya akses hukum membuat “santet” jadi cara pelampiasan. Banyak kasus main hakim sendiri dengan tuduhan santet.

4.  Masa Reformasi hingga Sekarang: Memudar dan Bertransformasi  
Mengapa memudar?  
Hal ini menyangkut akses informasi dan pendidikan:

Orang lebih paham medis, psikologi, dan hukum.
    – Penegakan Hukum: Tuduhan santet bisa diproses secara hukum jika disertai kekerasan.
    – Transformasi Bentuk: “Santet” modern bergeser bentuknya. Bukan lagi jarum, tapi: cyberbullying, fitnah di media sosial, pembunuhan karakter, dan sabotase usaha. Energi negatifnya sama, medianya yang berubah.
Kepercayaan tidak hilang total. Ia masuk ke ranah budaya, cerita, film, dan tetap hidup sebagai “peringatan moral”.

Mengapa Sampai Kini Masih Dipercaya:
Karena memenuhi 3 kebutuhan dasar manusia:

1.  Kebutuhan akan Penjelasan: Saat sakit aneh dan dokter tidak menemukan sebab, manusia butuh jawaban.
2.  Kebutuhan akan Keadilan: Saat dizalimi dan tidak ada jalur hukum, muncul harapan “akan ada balasan”.
3.  Kebutuhan akan Kendali: Percaya santet membuat orang merasa “ada yang bisa disalahkan” dan “ada yang bisa dilakukan” melalui ritual perlindungan.

Jadi bisa disimpulkan tentang pembuktian :
1.  Bukti Medis:
Belum ada bukti ilmiah yang kuat dan terdokumentasi tentang benda asing yang keluar dari tubuh akibat santet.
2.  Sejarah: Kepercayaan ini sangat kuat di masa lalu, kemudian memudar seiring modernisasi, pendidikan, dan hukum. Kini ia bertransformasi ke bentuk yang lebih modern.
3.  Inti Filosofi : Santet adalah cermin. Ia mengingatkan kita untuk menjaga hati, menjaga lisan, dan tidak menzalimi sesama. Karena energi negatif, bagaimanapun bentuknya, pada akhirnya akan kembali kepada pengirimnya.
“Jagalah pagar. Pagar terkuat bukan mantra, tetapi hati yang bersih dan laku yang benar.”

Bullllll…. bullll…. klepussss……

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement