JAYAKARTA NEWS— Program rehabilitasi jaringan irigasi melalui Instruksi Presiden (Inpres) Tahun Anggaran 2025 mulai memberikan manfaat bagi masyarakat petani di sejumlah wilayah Kabupaten Bangli, Bali. Infrastruktur yang telah diperbaiki kini mulai difungsikan untuk mendukung kelancaran distribusi air menuju lahan pertanian.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proyek Rehabilitasi Jaringan Utama Daerah Irigasi Kewenangan Pemerintah Daerah Wilayah Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida Paket 1 Tahun Anggaran 2025, dengan nilai kontrak sekitar Rp137,36 miliar, yang dilaksanakan oleh PT Hutama Karya (Persero).
Proyek ini mencakup tujuh kabupaten di Provinsi Bali, yakni Klungkung, Gianyar, Bangli, Badung, Tabanan, Buleleng, dan Jembrana, sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan keandalan infrastruktur pengairan serta mendukung ketahanan pangan.
Khusus di Kabupaten Bangli, rehabilitasi dilaksanakan pada sembilan lokasi, meliputi Subak Manuk, Tampuagan, Aya, Pembungan, Bangbanglet, Uma Selat, Tembuku, Bekutel, dan Apuan, dengan total panjang penanganan yang dilaporkan mencapai 7.635 meter.
Saluran di Subak Tampuagan Mulai Difungsikan
Berdasarkan peninjauan lapangan pada Rabu (21/10/2026), kondisi jaringan irigasi di Subak Tampuagan, Desa Peninjoan, Kecamatan Tembuku, memperlihatkan bahwa bagian saluran yang telah direhabilitasi sudah dialiri air dan mulai dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Aliran air yang melintasi saluran tersebut menjadi salah satu indikator bahwa infrastruktur yang telah diperbaiki telah dapat menjalankan fungsinya dalam mendukung sistem pengairan setempat.
Dalam pelaksanaan pekerjaan, sejumlah tantangan kondisi lapangan juga telah ditangani oleh penyedia jasa.
Salah satunya pada pekerjaan DI Tampuagan 1, di mana beberapa bagian saluran sebelumnya mengalami gangguan akibat longsor, banjir, serta gerusan aliran air pada saat curah hujan tinggi.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, pihak pelaksana telah melakukan pekerjaan perbaikan dan perapian pada bagian saluran yang terdampak.
Upaya tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab pelaksana dalam menjaga kondisi konstruksi sekaligus memastikan jaringan irigasi yang telah direhabilitasi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Perbaikan dan penanganan terhadap kondisi lapangan juga menunjukkan pentingnya pemeliharaan infrastruktur setelah pekerjaan fisik selesai dilaksanakan.
Petani Harapkan Pembangunan Irigasi Berlanjut hingga Hilir
Meski rehabilitasi pada sejumlah bagian jaringan telah memberikan manfaat, kebutuhan pengembangan dan perbaikan infrastruktur irigasi di Subak Tampuagan masih memerlukan penanganan lanjutan.
Salah satu infrastruktur yang diharapkan mendapat perhatian pada program berikutnya adalah terowongan irigasi yang belum termasuk dalam lingkup penanganan pekerjaan tahun 2025.
Keberadaan terowongan tersebut memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran distribusi air menuju bagian hilir jaringan irigasi.
Karena itu, keberlanjutan rehabilitasi menjadi harapan masyarakat agar pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat terintegrasi dengan penanganan bagian jaringan lainnya.
Pelaksanaan rehabilitasi secara bertahap merupakan bagian dari upaya peningkatan infrastruktur pengairan berdasarkan prioritas, kebutuhan lapangan, serta ketersediaan waktu dan anggaran.
Dengan adanya pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan, diharapkan penanganan jaringan berikutnya dapat melengkapi infrastruktur yang sudah terbangun sehingga manfaatnya semakin luas bagi petani.
Manfaat Rehabilitasi juga Dirasakan di Subak Bekutel
Selain di Subak Tampuagan, hasil rehabilitasi jaringan irigasi juga dirasakan petani di Subak Bekutel, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli.
Kelian Subak Bekutel, Made Ganti, sebelumnya menyampaikan bahwa perbaikan saluran telah membantu kelancaran distribusi air, termasuk menuju area persawahan yang sebelumnya mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
“Sekarang air sudah lancar malah lebih banyak yang dapat, bahkan yang dulunya di ujung itu sulit dapat air sekarang tidak,” ujar Made Ganti.
Pekerjaan rehabilitasi di Subak Bekutel dilaporkan memiliki panjang penanganan sekitar 1.265 meter, dengan jumlah anggota subak sebanyak 156 penggarap.
Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran manfaat rehabilitasi terhadap sistem distribusi air bagi kegiatan pertanian masyarakat.
Kelancaran pengairan diharapkan dapat membantu petani mengelola pola tanam dengan lebih baik sekaligus mendukung peningkatan produktivitas lahan pertanian.
Keberlanjutan Infrastruktur Menjadi Prioritas Bersama
Rehabilitasi jaringan irigasi merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pertanian dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Pelaksanaan pekerjaan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian konstruksi fisik, tetapi juga pada keberfungsian jaringan dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, kondisi geografis, cuaca, serta kebutuhan pengairan petani menjadi faktor yang memerlukan perhatian dan penanganan sesuai kondisi lapangan.
Melalui koordinasi antara BWS Bali-Penida, pemerintah daerah, penyedia jasa, konsultan pengawas, dan masyarakat subak, diharapkan pengelolaan serta pengembangan infrastruktur irigasi dapat terus ditingkatkan.
Keberadaan jaringan yang telah direhabilitasi diharapkan menjadi fondasi bagi penanganan lanjutan secara bertahap, terutama pada bagian saluran dan bangunan pelengkap yang masih membutuhkan perbaikan.
Dengan saluran yang mulai berfungsi dan dimanfaatkan petani, rehabilitasi irigasi tahun 2025 di Kabupaten Bangli menjadi langkah nyata dalam mendukung ketersediaan air pertanian. Harapan berikutnya adalah keberlanjutan pembangunan agar manfaat infrastruktur tersebut semakin optimal dan menjangkau lahan pertanian hingga ke hilir.
Kelian Subak Puluai tampuagan, Ketut Sirka saat ditemui tim media ini, Rabu (21/10/2026) mengaku sangat bermanfaat dengan adanya proyek irigasi ini. Hal ini karena para petani sangat terbantu.
“Para petani sudah merasakan manfaat dari proyek ini. Tadinya debit air yang mengairi sawah petani sangat kecil. Tapi setelah adanya proyek ini, air yang mengairi sawah petani makin besar paparnya.
Ketut Sirka berharap proyek ini bisa dilanjutkan dan makin ditingkatkan pada tahun anggaran berikutnya,” ucap Sirka. (Cmg)









































