Kolom
Puasa Panjang di Bulan Kemerdekaan
Oleh: Bambang Hermawan. (Jurnalis, bermukim di Tangerang Selatan)
Tunda makan malammu
Iris gunung nasimu
Sisihkan buat mereka
Buat mereka…
Ketika gempa bumi mengguncang Papua dan Bali pada 1976, Gombloh, lewat lagunya bertajuk “Bencana 76”, mengajak kita untuk menoleh pada korban. Dan, penggalan liriknya sangat lembut namun menusuk.
Setengah abad kemudian, hari-hari ini, lagu Gombloh itu tetap relevan. Kemarau panjang yang dipicu El Niño membuat cuaca jauh lebih kering dan kelewat terik. Sejumlah daerah kekurangan air, tanaman pangan puso. Yang paling ekstrem adalah Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Sejak Juni lalu, berhektar-hektar tanaman pangan mati disengat matahari. Apa boleh buat, warga kelaparan.
TNI telah bergerak. Mengirim dua ton bantuan, antara lain sembako dan obat-obatan. Dijatuhkan lewat udara, bantuan lalu dipikul melintasi lereng dan bukit, untuk sampai ke tiga distrik terisolasi: Agandugume, Oneri, dan Lambewi.
Namun dua ton bantuan itu, di tengah medan yang sulit dan besarnya jumlah warga yang kelaparan, terasa hanya setetes air.
Tunda makan malammu
Iris gunung nasimu
Sisihkan buat mereka
Buat mereka..
Bagi sebagian warga Kabupaten Puncak Jaya , Papua Tengah, bulan ini bukanlah bulan kemerdekaan. Mereka melewati hari-hari dengan cemas, mengharap bantuan datang karena perut kosong. Sementara itu, ribuan kilometer ke arah barat, di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, bendera mulai terpasang. Jalan-jalan bersih, lampu hias bersinar, Hari Kemerdekaan dirayakan.
Dua wajah dalam satu negeri: kemegahan plus kemakmuran di satu sisi, dan kemelaratan di sisi lain. Sebagian warga Kabupaten Puncak Jaya berpuasa panjang bukan karena ibadah, melainkan lantaran kelangkaan pangan.
Barat (Jakarta) dan timur (Papua Tengah) bukan kebetulan. Kesenjangan semakin nyata, dari perspektif berbeda. Jarak antara orang-orang di pucuk dan dasar piramida kesejahteraan sangat lebar menganga.
Lembaga penelitian nirlaba CELIOS mengungkapkan, jumlah harta 50 orang super kaya di Indonesia setara dengan total aset 50 juta warga. Angka-angka itu bicara tentang banyak hal, mulai dari nelayan kecil, petani gurem, buruh berupah rendah, hingga pengangguran terdidik.
Nanti, ketika El Niño pergi dan kemarau berakhir. Ketika hujan mulai mengguyur Ibu Pertiwi. Mungkin warga distrik Agandugume, Oneri, dan Lambewi kembali memetik hasil panen, dan mengakhiri puasa panjang.
Namun itu masih lama. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fase El Niño akan bertahan hingga Januari 2027.
Daerah yang terdampak bisa jadi terus bertambah dan krisis pangan menular ke mana-mana.
Dalam penantian kemarau berlalu, di Agustus yang kering ini, memutar lagu Kebyar-Kebyar karya Gombloh terasa begitu pas: mencintai Indonesia tanpa syarat, tanpa jeda, tanpa batas.
Indonesia sudah 81 tahun merdeka, tapi kita tahu, masih banyak warga yang “terbelenggu”, tertinggal, tercecer. Mereka terserak di seluruh negeri, mulai dari pedalaman Papua sampai perkampungan padat penduduk di pojok Jakarta, beberapa kilometer dari Istana Negara.
Indonesia
Merah darahku
Putih tulangku
