Pesta Puisi dengan Beragam Aksi

 Pesta Puisi dengan Beragam Aksi
Sunardian Wirodono memperkenalkan Vey (duduk), penyair asal Kebumen yang menetap di Yogyakarta sesaat sebelum pertunjukan baca puisi di Beranda Seni Mbah Demang. (foto: laksmi)

Jayakarta News – Membaca puisi kini makin beragam caranya. Jika dulu pembacaan puisi identik dengan deklamasi, maka sekarang bisa dilakoni dengan beragam aksi. Inilah yang mengesankan dalam pembacaan puisi karya Vey bertajuk Memadamkan Kegelapan.

Pembacaan puisi yang lebih mirip sebuah pesta ini digelar di Beranda Seni Mbah Demang (BSMD), 15 Agustus 2019 lalu. Lokasinya menyatu dengan kafe Kopi Nogo, Jl. Godean km 4 Yogyakarta. Ada 35 puisi karya Vey yang dibaca 35 seniman dari berbagai kalangan.

Ada yang khusus datang dari Bali, Surabaya, Malang untuk meramaikan pesta puisi tersebut. Tara Nusantara, penari dari Surabaya serta Dimas Gandh mengawali pembacaan puisi dengan tarian khasnya.

Selain tarian, ada yang tampil dengan tembang, iringan musik dari siter hingga yang banyak menyedot perhatian adalah penampilan Iena, grup musik orkestra yang sudah mendunia. Teater Sengkuni yang dibuat oleh Cak Nun pun ikut meramaikan pesta puisi Vey.

Yanjangkrik saat membacakan puisi karya Vey. (foto: sunardian)
Penampilan Iena Orchestra saat pembacaan puisi karya Vey di Beranda Seni Mbah Demang (foto: sunardian)

Donas AS memainkan senar gitarnya dalam membacakan puisi berjudul Perempuan Perkasa. “Saya merasa tersanjung melagukan puisinya Vey,” katanya.

…Dalam diam dia mendekap duka

Tenang meremas duri

Tak perlu ditanya berapa luka…

Itulah salah satu cuplikan puisi Vey yang dibuat lagu oleh Donas.

Lain lagi penampilan Sandi Beib yang membacakan puisi Vey dengan memainkan wayang kertas ciptaannya. Sementara Yanjangkrik tampil lugas namun justru memukau penonton karena berhasil menyuarakan karakter puisi dan penciptanya.

Akhirnya, Vey menutup pertunjukan itu dengan doa Nabi Sulaiman yang diadopsi oleh Sultan Hamengku Buwono VII untuk memperoleh kejayaan. “Saya diberi doa ini oleh keturunan HB VII pada tahun 2010. Sampai sekarang saya hafal. Saya sengaja membacanya di panggung tadi agar kegelapan benar-benar sirna dalam kehidupan kita,” kata Vey usai acara.

Sementara Sunardian Wirodono sebagai penggagas acara tersebut menjelaskan, BSMD memberikan tempat kepada siapa saja yang ingin berkesenian. Sebelum Vey, panggung BSMD juga pernah menampilkan Joko Pinurbo.

Sunardian mengungkapkan, Vey adalah penyair asal Kebumen yang cukup menarik perhatiannya. Sebab, temannya banyak sekali. “Di kalangan medsos Vey ini sangat terkenal. Banyak yang support dia. Ikaria membawa kain ecoprint untuk dekorasi panggung. Juga seniman patung Sandi Beib menambahkan berbagai ornamen untuk panggung,” jelasnya.

Padahal, lanjut Sunardian, Vey yang nama aslinya adalah Addi Siswosoedarmo merupakan sarjana ekonomi dari UGM. Dia pernah mengajar pada sebuah universitas di Solo, namun jiwa seninya terlalu kuat sehingga lebih senang berkesenian di Yogya. (laksmi wuryaningtyas)

Penonton berinteraksi penuh persaudaraan menikmati suguhan baca puisi dalam beragam aksi di Beranda Seni Mbah Demang. (foto: sunardian)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *