Kabar
Novak Djokovic Menyerah, Mimpi US Open Berakhir Tragis
JAYAKARTA NEWS— Ada pemandangan yang jarang terlihat dari seorang Novak Djokovic.
Di tengah gemuruh Stadion Arthur Ashe, petenis Serbia itu meninggalkan lapangan dengan mata berkaca-kaca. Ia melambaikan tangan kepada penonton, membentuk simbol hati dengan kedua tangannya, lalu berjalan pergi setelah perjuangan panjang yang akhirnya harus berakhir dengan kekalahan.
Bukan karena Djokovic kehilangan kemampuan bertarung.
Kali ini, tubuhnya yang menyerah.
Dalam pertandingan putaran pertama US Open yang berlangsung selama 4 jam 36 menit, Djokovic harus mengakui keunggulan petenis Argentina, Mariano Navone. Ia kalah dalam pertarungan lima set dengan skor 7-6 (5), 5-7, 4-6, 6-2, 6-1.
Bagi Djokovic, 39 tahun, kekalahan tersebut terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar tersingkir dari sebuah turnamen.
Sebab, untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, ia gagal melewati pertandingan pertama sebuah turnamen Grand Slam.
Lebih jauh lagi, muncul pertanyaan yang kini sulit dihindari:
Apakah ini terakhir kalinya Novak Djokovic bermain di Arthur Ashe Stadium?
Tubuh yang Perlahan Kehilangan Tenaga
Djokovic sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda masalah fisik sejak pertandingan berlangsung.
Ia beberapa kali mengalami mual dan muntah, merasakan kram, menggunakan inhaler saat pergantian sisi, menerima perawatan medis, serta mengonsumsi obat untuk membantu mengatasi kondisinya.
Tetapi masalah terbesar datang ketika punggungnya mulai terasa kaku.
Pada saat itu, pertandingan yang semula berlangsung sengit berubah menjadi perjuangan Djokovic untuk sekadar bertahan.
“Jelas sekali saya merasakan sensasi yang sangat buruk di lapangan,” kata Djokovic setelah pertandingan.
Ia kemudian menjelaskan bahwa persoalan tersebut bukan sesuatu yang baru.
“Ini adalah masalah yang terus saya alami di hampir setiap pertandingan tahun ini: muntah-muntah, masalah serius di situ. Lalu seluruh tubuh saya mulai kolaps, terutama karena kram dan rasa sakit.”
Kalimat berikutnya terdengar seperti pengakuan seorang juara yang untuk pertama kalinya benar-benar tidak mampu memaksa tubuhnya mengikuti kemauan.
“Pada akhirnya punggung dan bahu saya menyerah, dan saya tidak bisa menuntaskan pertandingan dengan kemenangan.”
Sempat Memimpin, Kemudian Semuanya Runtuh
Yang membuat kekalahan itu semakin menyakitkan, Djokovic sebenarnya memiliki peluang untuk mengendalikan pertandingan.
Ia memulai laga dengan sangat baik dan sempat unggul 3-0. Namun perlahan-lahan kondisi fisiknya mulai merosot.
Saat kedudukan 5-4 pada set pertama, Djokovic bahkan harus meminta bantuan medis dan menerima obat. Navone tetap mampu memanfaatkan situasi tersebut untuk merebut set pembuka melalui tie-break.
Djokovic tidak menyerah.
Pada set kedua, pergerakannya sempat membaik. Ketika tertinggal 4-3, ia memenangkan reli panjang sebanyak 29 pukulan melalui backhand menyusur garis lapangan. Momentum tersebut membantunya menyamakan kedudukan 4-4.
Ia kemudian merebut set kedua 7-5.
Set ketiga bahkan menjadi miliknya dengan skor 6-4.
Untuk sesaat, Djokovic terlihat seperti Djokovic yang selama bertahun-tahun dikenal dunia: tenang, keras kepala, dan hampir mustahil ditumbangkan.
Namun tubuhnya kembali berbicara.
Punggung Menjadi Akhir dari Perlawanan
Memasuki set keempat, Djokovic kembali mengalami masalah fisik. Kram menyerang kaki kirinya, sementara otot punggungnya mulai menegang.
Ia sempat mendapatkan break dan berada dalam posisi yang menjanjikan.
Tetapi sejak gim keempat, masalah tersebut semakin parah.
Servis Djokovic yang biasanya menjadi salah satu senjata terpentingnya kehilangan kekuatan. Kecepatannya bahkan beberapa kali turun secara drastis.
Navone tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Petenis Argentina berperingkat 48 dunia itu merebut dua gim terakhir dan menutup set keempat 6-2.
Djokovic kemudian mengambil medical timeout. Petugas medis memberikan perawatan pada bagian punggung bawahnya, sementara dokter kembali memberinya obat.
Tetapi kali ini tidak ada keajaiban.
Pukulan-pukulan yang sebelumnya menjadi sumber poin mudah bagi Djokovic kini tidak lagi bekerja. Navone terus menekan, sementara Djokovic semakin kesulitan bergerak.
Set kelima pun berubah menjadi antiklimaks.
Navone menang 6-1.
Pertandingan berakhir.
Dan Djokovic hanya bisa menerima kenyataan bahwa tubuhnya tidak lagi mampu membawanya melewati batas.
70 Kesalahan Sendiri dan Malam yang tidak akan Dilupakan
Statistik pertandingan menunjukkan betapa berat perjuangan Djokovic.
Ia melakukan 70 unforced error sepanjang pertandingan. Di sisi lain, setidaknya tiga kali ia mengalami serangan mual dan kram yang cukup serius hingga membutuhkan bantuan medis.
Namun Djokovic menolak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk mengecilkan kemenangan Navone.
“Saya tidak ingin mengurangi nilai kemenangan lawan,” ujarnya.
“Selamat untuknya. Dia orang yang baik, seorang petarung.”
Ucapan tersebut memperlihatkan sisi lain Djokovic. Meski kecewa dan tubuhnya berada dalam kondisi buruk, ia tetap memberikan penghormatan kepada lawannya.
Namun Djokovic juga jujur mengenai apa yang ia rasakan.
“Saya sendiri tidak menikmati pertandingan ini.”
Navone: Mengalahkan GOAT adalah Mimpi yang Menjadi Kenyataan
Bagi Mariano Navone, pertandingan tersebut justru menjadi salah satu hari terbesar dalam kariernya.
Ia berhasil mengalahkan pemain yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai salah satu, bahkan oleh banyak orang sebagai GOAT, dalam olahraga tenis.
“Novak adalah GOAT dalam olahraga ini,” kata Navone.
“Mengalahkannya di US Open, di Stadion Arthur Ashe, adalah salah satu momen yang paling membekas bagi saya dalam dunia tenis.”
Navone bahkan mengaku bahwa ia pernah membayangkan momen tersebut sejak masih kecil.
“Ketika mendapat kesempatan untuk bertanding melawannya, Anda berharap dan bermimpi bisa mengalahkannya di situasi seperti ini karena hal itulah yang mewarnai masa pertumbuhan Anda.”
Lalu ia menyimpulkan semuanya dengan kalimat sederhana:
“Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.”
21 tahun setelah Debut, Apakah Semuanya Berakhir di Sini?
Ada simbolisme besar di balik kekalahan Djokovic.
Tahun ini menandai sekitar 21 tahun sejak ia pertama kali tampil di US Open. Selama perjalanan panjang tersebut, ia membangun salah satu warisan terbesar dalam sejarah tenis.
Sebelum kekalahan ini, Djokovic telah memenangkan 37 pertandingan berturut-turut di putaran pertama dan kedua US Open.
Ia juga tidak pernah tersingkir sedini ini di turnamen Grand Slam selama dua dekade, sejak kekalahan pada putaran pertama Australian Open 2006.
Kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Djokovic pulang dari Grand Slam tanpa melewati pertandingan pembuka.
Dan yang membuat semuanya semakin mengusik adalah kondisi fisiknya.
Dua pekan sebelumnya di Cincinnati, Djokovic juga mengalami muntah dan membutuhkan perawatan medis akibat persoalan kesehatan yang belum sepenuhnya jelas. Di US Open, masalah tersebut kembali muncul.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Djokovic masih mampu memenangkan pertandingan.
Pertanyaannya adalah:
Berapa lama lagi tubuhnya mampu mengikuti ambisinya?
Ketika ditanya apakah masalah fisik itu bisa diatasi, Djokovic hanya memberikan jawaban singkat.
“Saya tidak tahu. Saya sedang berusaha. Saya sedang berusaha. Kita lihat saja nanti.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi bagi penggemar tenis, ada kesedihan besar di baliknya.
Arthur Ashe Mungkin Baru Saja Mengucapkan Selamat Tinggal
Djokovic meninggalkan lapangan dengan lambaian tangan kepada penonton. Ia membentuk simbol hati, menerima tepuk tangan, kemudian berjalan menuju lorong stadion.
Tidak ada kepastian apakah ia akan kembali ke tempat yang sama tahun depan.
Tidak ada pengumuman bahwa ini adalah pertandingan terakhirnya.
Tetapi untuk pertama kalinya, pertanyaan tentang akhir karier Djokovic terasa begitu nyata.
Ia masih memiliki keinginan untuk bermain. Ia masih mampu menunjukkan permainan kelas dunia. Namun usia dan kondisi fisik mulai memberikan batas yang tidak bisa selalu dilawan dengan mental juara.
Mungkin inilah bagian tersulit dari menjadi seorang atlet: mengetahui bahwa hati masih ingin bertarung, sementara tubuh mulai mengatakan cukup.
Djokovic telah melewati ribuan pertandingan, memenangkan gelar-gelar terbesar, mematahkan berbagai rekor, dan berkali-kali bangkit dari situasi yang tampaknya mustahil.
Namun malam itu di New York, ia tidak kalah karena kurang berani.
Ia kalah karena tubuhnya tidak lagi mampu menopang keberaniannya.
Dan ketika Djokovic berjalan meninggalkan Arthur Ashe dengan air mata, publik tenis mungkin sedang menyaksikan bukan sekadar sebuah kekalahan.
Mereka mungkin sedang menyaksikan penghujung sebuah era. (Sumber: New York Post)
