Menkes Budi dan Menko Luhut Tegaskan, Jangan Permainkan Harga Obat Covid-19

 Menkes Budi dan Menko Luhut Tegaskan,  Jangan Permainkan Harga Obat Covid-19

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (Foto:Dok Kemenkes)

JAYAKARTA NEWS – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menetapkan sebelas harga eceran tertinggi obat terapi COVID-19.  Hal ini untuk mengatur harga obat di pasaran agar tidak merugikan masyarakat.  

Meningkatnya angka  positif kasus Covid-19, kebutuhan obat terapi Covid-19  juga menjadi tinggi. Di sisi lain tingginya kebutuhan obat itu dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha untuk menaikan harga jual obat kepada masyarakat.

”Harga eceran tertinggi ini merupakan harga jual tetinggi obat di Apotek, Instalasi farmasi, RS, klinik dan Faskes yang berlaku di seluruh Indonesia,” kata Budi dalam Siaran Pers Kemenkes, Sabtu (3/7).

Menkes mengatakan,  menjadi keprihatinan bersama saat krisis kesehatan masih ada kelompok masyarakat yang memanfaatkan situasi.  Menimbun dan menaikan harga obat di pasaran untuk mengambil keuntungan yang besar dari krisis yang terjadi. Saat ini ditemukan di berbagai platform belanja daring, obat tersebut dijual bebas bahkan dengan harga jauh di atas yang telah ditetapkan.

Masyarakat diminta tidak membeli obat terkait secara bebas, termasuk melalui platform daring secara ilegal. Menkes berharap tidak ada pihak-pihak mencoba mengambil keuntungan yang tidak wajar saat pandemi seperti sekarang yang merugikan kepentingan masyarakat. Kementerian Kesehatan akan dibantu oleh Polri dalam menegakan aturan ini.

Ada 11 obat yang ditetapkan harga eceran tertinggi dalam Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/4826/2021 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Dalam Masa Pandemi COVID-19.  ”Jadi 11 obat yang sering digunakan dalam masa pandemic COVID-19 ini,  kita sudah atur harga eceran tertingginya. Saya tegaskan di sini, saya sangat tegaskan di sini kami harap aturan harga obat itu agar dipatuhi,” tegas Budi.

Kesebelas obat yang ditetapkan harganya adalah:
1. Favipiravir 2OO mg (Tablet) Rp.22.500 per tablet
2. Remdesivir IOO mg (Injeksi) Rp.510.000 per vial
3. Oseltamivir 75 mg (Kapsul) Rp.26.000 per kapsul
4. lntravenous Immunoglobulin 5% 50 ml (lnfus) Rp.3.262.300 per vial
5. lntravenous Immunoglobulin 10% 25 ml (Infus) Rp.3.965.000 per vial
6. lntravenous Immunoglobulin l07o 5O ml (Infus) Rp.6.174.900 per vial
7. Ivermectin 12 mg (Tablet) Rp.7.500 per tablet
8. Tocilizrrmab 4O0 mg/20 ml (Infus) Rp.5.710.600 per vial
9. Tocilizumab 8o mg/4 ml (Infus) Rp.1.162.200 per vial
10. Azithromycin 50O mg (Tablet) Rp.1.700 per tablet
11. Azithromycin 50O mg (Infus) Rp.95.400 per vial 

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Foto:Ist)

Tindak Tegas

Sementara itu, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, orang yang mempermainkan harga obat akan ditindak.  Luhut menegaskan, ini adalah masalah kemanusiaan. Karena itu, harga-harga obat harus dibuat wajar dan harus mengacu pada peraturan menteri yang dibuat oleh Menteri Kesehatan.

”Kita harus tindak tegas orang-orang yang bermain-main dengan angka ini (harga obat). Kita betul-betul jangan main-main karena ini menyangkut masalah kesehatan,” tegas Luhut.

Terkait hal itu, Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan Agung menyoal penegakan hukum bagi pihak-pihak yang menjual obat di atas harga eceran tertinggi.

Bahkan Kapolri sudah mengarahkan kepada jajarannya untuk disusun pasal-pasal yang sudah dikoordinasikan dengan pihak kejaksaan.

”Apabila terjadi menjual obat dengan harga yang lebih mahal, sengaja menimbun obat sampai menimbulkan keselamatan masyarakat jadi terganggu, akan kita lakukan penegakkan hukum dan pihak kejaksaan menyatakan siap untuk mendukung apapun langkah yang dilaksanakan oleh Polri,” tegas Agus. (mel)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *