Kreatif di Tengah Pandemi Covid

 Kreatif di Tengah Pandemi Covid

“Dying but still alive”, mix media karya Nada Husnia, 2021.

Pameran Karya Siswa 2021 SMP IT Alam Nurul Islam Yogya

JAYAKARTA NEWS – Sesosok tubuh laki-laki melayang-layang dalam posisi terjungkir dengan kaki menjulur ke atas. Tubuhnya sedikit tertekuk seperti orang sedang membungkuk. Warna biru dan coklat mendominasi lanskap tempatnya bersalto itu. Rupanya, laki-laki itu sedang asyik menikmati dunianya, jauh di kedalaman laut yang berdasar tanah gersang berbatu-batu. Peristiwa itu bukanlah realitas. Ia hasil imajinasi Arvin. Siswa SMP IT Nurul Islam Yogyakarta itu menuangkan karya lukisnya di atas kertas dengan cat akrilik. “Tenggelam di antara Waktu,” demikian Arvin menjuduli karya lukis berukuran 20 x 30 cm itu.    

“Tenggelam di Antara Waktu”, akrilik di kertas karya Arvin 20 x 30 cm (2021)

Arvin tak sendirian. Ia bersama seratus kebih siswa SMP IT Nurul Islam Yogyakarta memajang hasil kreasi dalam “Pameran Karya Siswa 2021” yang berlangsung di selasar gedung sekolah. Eksibisi bertajuk “Dying But Still Alive” dibuka Senin (1/6) dan akan berlangsung sampai tanggal (6/6). Tema itu diambil di tengah-tengah situasi pandemi. Wabah corona yang belum juga berhenti ini tak menyurutkan semangat siswa siswi sekolah alam itu untuk terus berkarya. 

Pelukis kenamaan, Bintang Tanatimur, menampilkan karya berjudul “Corona Virus Still Here, Paint at Home” (2020). Pelukis remaja ini menorehkan cat akrilik di atas 37 sampul buku yang disusun menjadi kolom dan baris kotak-kotak. Di setiap ruang, Bintang “mencatat” rupa-rupa hal yang ia rekam di seputar wabah corona. Ada tulisan Wuhan, Online School, Covid 19, Corona, Libur, Diam agar selamat dll yang tampil artistik. Di salah satu kotak sampul itu, Bintang menggambar lilin bersayap dengan nyala api berbentuk bintang.  Sepertinya kotak ini jauh dari dunia Corona, tapi bisa jadi ini sebuah ungkapan yang bernada optimistik di tengah-tengah pandemi Covid yang susah diramal  kapan ia akan berakhir.

Kiri: Bintang Tanatimur: “Corona Virus Still Here, Paint at Home”, acrylic on 37 book cover, 2020.
Kanan: Zaidan: “Ingin Bebas”, pencil di kertas, 2021

Nada Husnia berkreasi dengan mix media. Sebuah sinyal wifi yang menjadi kebutuhan vital dikala pandemi ia tampilkan bareng  goresan-goresan artistis yang kental oleh kesan milenial. Jadilah sebuah karya berjudul “Dying but still alive” (2021). Sementara Rizal Zai merekam sosok gajah berbelalai panjang dan bertelinga lebar, lantas menuangkannya ke atas kertas dengan alat pensil.  Jadilah lukisan gajah hitam putih yang dijuduli “Ingin Bebas” (2021).         

“Tulip” karya Najwa media akrilik di kertas,
2020

Media lukis menjadi salah satu upaya kreatif. Selain bahan kertas, bahan lain yang unik juga ditampilkan  seperti kain, bambu, gerabah, kayu, digital printing, desain grafis, videografi, karya sastra, prakarya 3 dimensi, tanah liat, gipsum dan kanvas. Semua benda itu bisa menjadi bagian penting dalam proses belajar mengajar. Pameran ini memberikan pesan bahwa meskipun kondisi pandemi Covid nyaris melumpuhkan sendi kehidupan, namun manusia di atas bumi ini terus harus kuat dan kreatif. 

Pengunjung bisa menyaksikan karya siswa SMP IT Alam Nurul Islam yang berlokasi di Jalan Godean Sleman Yogyakarta ini pada pukul 08.00 – 12.00 WIB. Selain sebagai alat untuk mengukur kecapaian kompetensi siswa, pameran karya siswa ini juga menjadi sarana komunikasi dan meningkatkan apresiasi seni pada masyarakat. (Ernaningtyas)

Kiri: Poster karya Aisyah Huwaida, media akrilik di kertas, 2020
Kanan: Komik “Tim Medis” karya Nada Husnia, media cat air di kertas, 2021

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *