Connect with us

Agribisnis

BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

Published

on

Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor
Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor (Ist)

JAYAKARTA NEWS – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) masih menjadi penopang ekspor sektor pertanian Indonesia yang terus menunjukkan tren positif.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji, menjelaskan bahwa kenaikan ekspor pertanian terutama ditopang oleh produk minyak kelapa sawit dan kimia dasar organik berbasis pertanian.

“Peningkatan secara tahunan ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor minyak kelapa sawit, kimia dasar organik yang berasal dari sumber hasil pertanian,” jelas Pudji dalam paparan rilis BPS, Senin (1/9/2025). 

Pudji menyebutkan, CPO dan turunannya sebagai penopang ekspor pertanian mencatat kenaikan 32,92 persen secara kumulatif  sepanjang tujuh bulan pertama 2025.

“Secara kumulatif, menurut sektor peningkatan nilai ekspor non migas terjadi di sektor industri pengolahan dan pertanian,” papar Pudji.

Sepanjang Juli 2025, BPS juga mencatat, ekspor pertanian, kehutanan dan perikanan naik signifikan sebesar 15,6 persen  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/Y-on-Y.

Kenaikan ini terjadi pada saat sektor industri non migas lainnya mengalami penurunan. Dengan kenaikan tersebut, sektor pertanian memperkuat surplus perdagangan Indonesia. 

 Dengan tren ini, sektor pertanian diproyeksikan terus menjadi motor penggerak utama ekspor nonmigas, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.

Peningkatan nilai ekspor nonmigas secara tahunan utamanya didorong oleh sektor Industri Pengolahan.

Nilai ekspor Industri Pengolahan naik 21,98 persen pada Juli 2025 (Y-on-Y) dengan andil peningkatan sebesar 16,42 persen. Sementara itu, ekspor sektor pertambangan tercatat menurun 28,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya (y-on-y).

BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2025 mencapai 123,57 atau naik 0,76 persen dibanding Juli sebesar 122,64.

Peningkatan NTP tersebut didorong meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,84 persen, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya 0,08 persen.

Adapun komoditas utama penyumbang meningkatnya indeks harga yang diterima petani adalah gabah, kelapa sawit, jagung, dan bawang merah.

Pudji menyebutkan jika dilihat lebih jauh, subsektor tanaman pangan menjadi subsektor yang memiliki kenaikan NTP tertinggi dengan 2,40 persen.

Selanjutnya subsektor tanaman perkebunan rakyat naik 1,24 persen, dan subsector perikanan yang naik 0,78 persen. 

BPS menyebutkan, dari 38 provinsi, sebanyak 26 provinsi mengalami kenaikan NTP. Provinsi Bengkulu mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,89 persen, terutama karena subsektor perkebunan rakyat, khususnya komoditas kelapa sawit, melonjak hingga 7,29 persen. (yog)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement