Connect with us

Kolom

Melihat Kejawen dari Kacamata Cengdem

Published

on

Oleh Gde Mahesa

Kejawen sebagai jalan spiritual yang begitu berbeda dibanding Hindu dan Budha. Kejawen dipahami sebagai spiritualitas khas Nusantara yang berakar pada kearifan lokal dan lelaku olah rasa, sementara agama dipahami sebagai ajaran yang mempunyai sistem disiplin yang lebih terstruktur.

Secara historis, ajaran Hindu Buddha telah masuk ke Nusantara sejak zaman Sriwijaya dan Majapahit. Candi-candi agung seperti Borobudur dan Sewu adalah bukti nyata. Dan jejak spiritual ini tidak hilang begitu saja, melainkan berbaur dengan nilai-nilai lokal yang kemudian melahirkan sistem tradisi Kejawen sebagai sebuah jalan spiritual yang khas. 

Dalam Kejawen, konsep wening (hening), menep (mengendap), dan eling (kesadaran) adalah pegangan pokok dalam perjalanan batin seseorang. Selain itu, juga dikenal tradisi tapa, samadi atau semedi.

Kejawen menekankan pentingnya olah rasa dan kejernihan batin agar seseorang mampu tanggap sasmita (peka terhadap keadaan diri dan lingkungan) serta waskita (memiliki pandangan batin yang melampaui realitas kasat mata).

Salah satu aspek yang membuat Kejawen unik adalah fleksibilitasnya dalam menerima berbagai pengaruh ajaran spiritual, baik itu dari Hindu, Buddha, maupun Islam. Tetapi dalam beberapa hal, Kejawen seringkali kurang memiliki sistem filsafat yang kuat dalam menjelaskan ajarannya secara lebih sistematis, sehingga dunia kebatinan Jawa dipengaruhi oleh ajaran Hindu Budha.

Dalam praktiknya Kejawen memang memiliki banyak bentuk ritual dan laku spiritual, mulai dari tapa ngrame (bertapa di tengah keramaian), tirakat (puasa dan laku prihatin), hingga kungkum (berendam di sungai atau laut untuk penyucian diri). Namun, seringkali praktik-praktik ini dilakukan tanpa pemahaman yang jelas mengenai tujuannya. Namun bisa menjadi rangkaian ritual tradisi.

Menjadi penghayat ajaran Jawa sejati bukanlah mereka yang hanya berpegang pada tradisi leluhur secara kaku, tetapi mereka yang mampu menyerap kebijaksanaan dari berbagai sumber untuk memperkaya spiritualitas mereka.

Kejawen mengajarkan bahwa manusia harus eling lan waspada (sadar dan penuh kewaspadaan), mengajarkan bahwa manusia idealnya harus menjalani laku tapa ngrame dalam kehidupan guna mencapai keseimbangan batin.  

Sebagaimana air yang mengalir mengikuti bentuk wadahnya, Kejawen yang bersifat fleksibel dapat mengambil manfaat dari ajaran lain tanpa harus kehilangan jati dirinya. Karena sejatinya, Kejawen mengajarkan jalan menuju kebijaksanaan dan pembebasan batin.

Kacamata cengdhem memang beda dengan riben atau oackle, seperti halnya kopi hitam tanpa gula diseruput akan ada seribu rasa. (*)

*) Penulis adalah Penggiat Srawung Paseduluran Anggara Kasih

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement