Kolom
“Ketika Zaman Bergeser: Manusia, Kekuasaan, dan Jejak tak Terlihat yang Mengubah Dunia”
Oleh: Brigjen TNI Purn MJP Hutagaol
Pendahuluan
Setiap perubahan besar dalam sejarah manusia—entah di Nusantara, Eropa, Tiongkok, atau Timur Tengah—tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Selalu ada arus besar yang bekerja di belakang layar: perpindahan kekuasaan, perjumpaan peradaban, kemajuan teknologi, benturan ideologi, dan kadang tragedi kemanusiaan. Dalam proses itu, manusia sering tak lebih dari pemeran yang digerakkan oleh dinamika zaman.
Di sinilah muncul pertanyaan besar: sejauh mana manusia bertindak, dan sejauh mana ia ditarik oleh arus perubahan yang lebih besar daripada dirinya?
I. Peristiwa Talas (751 M): Pertemuan Dua Dunia
- Apa yang Terjadi?
Pada tahun 751 M, pasukan Kekhalifahan Abbasiyah dan Dinasti Tang bertempur di dekat Sungai Talas (Asia Tengah).¹
Pertempuran ini bukan sekadar konflik militer, melainkan tabrakan dua pusat peradaban: dunia Islam yang sedang berkembang pesat dan Tiongkok yang kala itu merupakan salah satu kekaisaran paling maju.
- Dampak yang Mengubah Dunia
Akibat perang ini:
Ahli kertas dari Tiongkok ditawan pasukan Abbasiyah²
Teknologi pembuatan kertas dibawa ke Samarkand
Dari Samarkand berkembang ke Baghdad, lalu menyebar ke Timur Tengah dan Eropa
Terbentuklah pusat ilmu seperti Bayt al-Hikmah (House of Wisdom), yang menjadi fondasi sains modern³
Dengan kata lain, satu pertempuran mengubah sejarah intelektual dunia:
ilmu pengetahuan meledak karena manusia bisa menulis dan menyalin lebih mudah daripada sebelumnya.
II. Pola Perubahan Zaman: Nusantara sebagai Cermin
Dalam sejarah Nusantara, pola seperti ini juga terjadi: perubahan besar selalu membawa korban, dan selalu dianggap “keras” bila dilihat dengan mata manusia.
- Peralihan Hindu–Buddha ke Islam
Beberapa tradisi Jawa mencatat ketegangan antara penguasa lama dan penguasa baru. Walaupun detail dalam kronik kuno perlu dibaca hati-hati, satu hal jelas:
transisi spiritual dan politik tidak pernah berjalan tanpa gejolak.
Contoh yang sering hadir dalam ingatan kolektif masyarakat:
Perpecahan antara lingkaran Majapahit, yang kemudian melahirkan pusat-pusat Islam di pesisir⁴
Bergesernya struktur kekuasaan, ekonomi, dan budaya
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketika pola zaman berubah, generasi lama dan generasi baru sering berada pada dua kutub berbeda.
- 1965 dan Runtuhnya PKI
Tanpa tragedi besar itu, ideologi komunis mungkin bertahan lebih lama di Indonesia.⁵
Tetapi pergeseran geopolitik global—Perang Dingin, konflik ideologi, dan tekanan internasional—membuat perubahan itu tak terhindarkan.
- 1998 dan Jatuhnya Orde Baru
Demikian juga 1998:
krisis ekonomi Asia, tekanan global, dan ketidakpuasan internal membuat rezim lama tidak bisa bertahan.
Siklus itu datang seperti gelombang besar: tidak bisa ditahan oleh siapa pun.
III. Perang Dunia I & II: Akselerator Besar Umat Manusia
- Perang Dunia I (1914–1918)
Mewariskan:
keruntuhan empat kekaisaran besar (Ottoman, Rusia, Austro-Hungaria, Jerman)
lahirnya negara‐negara baru
percepatan teknologi aviasi dan komunikasi
Akar semua konflik abad 20 sebagian besar lahir dari reruntuhan perang ini.
- Perang Dunia II (1939–1945)
Dampaknya jauh lebih luas:
Jepang menyerah tanpa syarat (15 Agustus 1945)⁶
Kekosongan kekuasaan di Asia membuka pintu bagi negara jajahan untuk memproklamasikan kemerdekaan
Di Indonesia, Proklamasi 17 Agustus 1945 lahir karena struktur kolonial goyah total
Teknologi militer memicu revolusi ilmiah: radar, komputer awal, nuklir, kedokteran, dan industri pesawat
Tanpa PD II, peta Asia—termasuk Indonesia—mungkin sangat berbeda.
IV. Kebangkitan Tiongkok: Trauma Sejarah dan Strategi 100 Tahun
- Trauma “Abad Penghinaan”
Tiongkok pernah mengalami masa yang disebut Century of Humiliation (1842–1949):
dijajah, dipaksa membuka pelabuhan, dan kalah perang berulang kali.⁷
Trauma ini menjadi motivasi kolektif untuk tidak pernah lemah lagi.
- Strategi 100 Tahun
Setelah 1949, terutama sejak 1978, Tiongkok menjalankan strategi berlapis:
modernisasi teknologi
transfer ilmu lewat pendidikan dan industri
pembangunan militer jangka panjang
penguasaan rantai pasokan global
investasi luar negeri
Hasilnya tampak hari ini:
dalam 40 tahun, Tiongkok beralih dari negara agraris miskin menjadi pusat teknologi dunia.
V. Di Tengah Arus Dunia: Di Mana Indonesia Berdiri?
Geografi Indonesia berada di garis silang perdagangan dunia—sejak zaman Jalur Rempah hingga era digital.
Setiap perubahan global selalu berdampak ke Nusantara:
kolonialisme
perang dunia
Perang Dingin
kebangkitan Asia Timur
ekonomi digital
Indonesia tidak pernah berdiri sendirian; ia selalu berada di persimpangan arus besar sejarah manusia.
VI. Penutup: Manusia di Mata Sang Pemberi Waktu
Dalam setiap perubahan besar dunia—baik perang, revolusi, runtuhnya kekuasaan, atau lahirnya peradaban baru—manusia sering bergerak tanpa sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang berada dalam alur zaman.
Ada manusia yang hidup di masa perubahan.
Ada manusia yang gugur di tengah perubahan.
Ada pula manusia yang ditugaskan menjadi alat perubahan.
Semua berjalan dalam satu tarikan panjang sejarah.
Di mata Sang Pemberi Waktu, bukan kuasa atau jabatan yang menjadi ukuran, melainkan:
ketulusan menjalankan peran
keberanian menghadapi gelombang
kebijaksanaan membaca arah zaman
dan kesetiaan pada amanah kemanusiaan
Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya ditulis oleh yang menang,
tetapi juga oleh yang setia menjaga nurani di tengah perubahan.
Catatan Kaki
- Lihat catatan sejarah pertempuran Abbasiyah–Tang, Talas, 751 M.
- Catatan Arab awal mengenai penangkapan ahli pembuat kertas dari Tiongkok.
- Pembentukan Bayt al-Hikmah di Baghdad sebagai pusat penterjemahan dan ilmu.
- Proses transisi Majapahit–Demak dalam tradisi historiografi Jawa.
- Analisis sejarah Indonesia modern, masa 1965 dan pembubaran PKI.
- Penyerahan Jepang yang mengakhiri PD II, berdampak langsung pada kemerdekaan Asia.
- Istilah Century of Humiliation dalam sejarah Tiongkok modern.
