Kenduren Tutup Suro Doa untuk Negeri

 Kenduren Tutup Suro Doa untuk Negeri

BRAY Iriani potong tumpeng robyong “Baladewa” diberikan ke Timbul Suripto, tokoh spiritual Sukomulyo.

JAYAKARTA NEWS— Ritual tradisional berupa Kenduren Tutup Suro digelar di kampung Pulir, dukuh Sukomoyo, kelurahan Jatimulyo, Girimulyo Kulonprogo pada Rabu Pahing, 8 September 2021. Acara sakral ini dipandu langsung oleh BRAY Iriani Pramastuti Widjoyokusumo dari trah Paku Alam.

Sebelum acara dilakukan, Iriani memberikan air dari tujuh sumber kepada Kepala Dukuh Sukomoyo untuk disatukan dengan air sungai Bambang Sumitro yang melintasi kampung Pulir. Iriani juga memberikan tiga untai dupo kepada Ki Timbul Suripto, tokoh spiritual Jatimulyo, sambal berpesan agar selalu berlaku adil.

Air terjun Grojogan Sewu masih alami, tersembunyi dan belum banyak dikenal orang

Pelataran Baladewa yang berdekatan dengan Gua Pleret dan air terjun Grojogan Sewu dipilih sebagai ajang ritual Tutup Suro. Menurut seniman Ki Godod Sutejo, lokasi ini sangat tepat untuk kegiatan spiritual karena auranya sangat mistis dan alami. “Energinya sangat kuat,” kata Godod. Gemericik air terjun yang mengalir ke kali Bambang Sumitro menambah suasana magis. Tempat ini dianggap wingit oleh warga setempat. Di tepian sungai terdapat gua-gua kecil yang menurut cerita orang tua merupakan petilasan atau tempat pertapaan.

Ritual Tutup Suro ini digagas oleh seniman senior Godod Sutejo dari Yogyakarta dan Ki Timbul Suripto, tokoh spiritual Jatimulyo. Didukung oleh BRAY Iriani Wijoyokusumo dari keluarga Paku Alam, budayawan Ki Satrio Wibowo, Gus Poleng ketua sanggar keris Mataram, kelompok spiritual Hosoko Jowo, Hardo Pusoro, dan beberapa seniman seperti Rakhmat Supriyono dan Kondang Sugito.

Menurut Godod, acara Tutup Suro kali ini bertujuan memakmurkan masyarakat setempat dan sekaligus untuk mengusir Covid-19 dari bumi nusantara. Upaya yang dilakukan adalah dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Ditambah doa permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta yang dipimpin oleh KPH Widjoyokusumo, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng robyong “Baladewa” oleh Iriani dan penuangan air Mataram ke kali Bambang Sumitro yang dilakukan pemuda dukuh Sukomoyo.

Selesai memotong tumpeng, Iriani membagikan udik-udik ke warga masyarakat yang hadir disertai doa agar rejeki terus mengalir. Warga setempat sangat antusias menerima udik-udik dari Iriani. Pada saat yang sama, Gus Poleng melolos (mengeluarkan) keris andalannya di dekat pertapaan Baladewa untuk mengusir pageblug Covid-19.

BRAY Iriani Pramastuti Widjoyokusumo

Acara sakral ini diakhiri dengan tembang pupuh Dandanggulo yasan ndalem KGPAA Mangkunegoro IV yang dilantunankan oleh Kanjeng Widjoyokusumo, diiringi riak air terjun di dekat pertapaan Baladewa dan gua Pleret.

Masyarakat setempat menyambut baik adanya rencana daerah Sukomoyo dijadikan kawasan wisata air. Mereka berharap dengan dijadikannya kampung wisata, kehidupan masyarakat bisa lebih baik dari sekarang. Masyarakat dukuh Sukomoyo cukup antusias menyambut acara ini, terutama juru kunci kawasan Grojogan Sewu dan kelompok pemuda GAS (Gabungan Anak Sukomoyo) desa Jatimulyo.

Menurut penggiat wisata Rakhmat Supriyono, potensi alam di sekitar Sukomoyo sangat luar biasa indahnya. “Seperti perawan desa yang cantik alami, tinggal dipoles sedikit akan sangat mempesona,” tuturnya. Rakhmat menambahkan, Kulon Progo bisa diidentikkan dengan Bukit Menoreh, pesona perbukitan, batu-batuan, dan air terjun yang tetap mengalir di musim kemarau. (Rakhmat S)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *