‘IMEX’ Dihelat di Bali

 ‘IMEX’ Dihelat di Bali

Ki-ka: Wendy Putranto, Ahmad Mahendra dan Franky Raden (foto : IMEX)

JAYAKARTA NEWS – Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar ke empat dan juga negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Selama ribuan tahun Indonesia juga menjadi persimpangan pertemuan peradaban dunia yang datang dari belahan Timur dan Barat. Pertumbuhan budaya ‘world music’ yang beragam sangat luar biasa di republik ini.

Berdasar konteks inilah, Direktorat Perfilman, Musik dan Media Kemdikbudristek menyiapkan sebuah forum bernama ‘Indonesian Music Expo’ (IMEX) di Puri Lukisan Museum, Ubud, Bali, 24 s d 27 Maret 2022. Hal ini guna memperkenalkan kepada dunia budaya ‘world music’ Nusantara di Pulau Dewata, Bali, agar para di industri world music global dapat datang dan berbelanja.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid (ITB)

IMEX bertujuan untuk menjadi rekanan dari WOMAD dan WOMEX di Eropa. “Memang, istilah world music tampaknya sesuatu yang abstrak. Padahal, jenis musik yang satu ini suatu kekayaan budaya luar biasa dan bergerak sangat cepat saat ini,” cetus Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid kepada penulis.

Dalam pergelaran, diskusi dan workshop selama empat hari di Bali inilah para pelaku dan pengamat musik dari seluruh Indonesia akan berkumpul bersama di Bali.”Posisi Indonesia sangat penting dalam percaturan world music, seperti gamelan dan kolintang,” kata Franky Raden, etnomusikolog dan kritikus musik jebolan IKJ.

Disebutkan oleh Franky Raden, Gung Alit bersama kelompok Bona Alit dari Bali adalah pembuat instrumen musik tradisi Bali yang nantinya akan dipamerkan di IMEX.

Franky Raden  (foto: World Press.Com)

Ada 17 grup musik dari seluruh Indonesia yang akan tampil di IMEX, yaitu Kande, Musik Batak Karo, Suarasama, Riau Rhtyhm dan Sako Sarikat dari Sumatera, Indonesian National Expo Orchestra (INO) dengan dirigen Franky Raden dari Jakarta, Sambasunda (Jawa Barat), Bona Alit, Jegog Suar Agung dan Noizekilla (Bali), Dadendate dan Pinkan Indonesia (Sulawesi), Cilokaq dan Aksilarasi (NTB) , Marinuz Kevin dan Folksong of Flores (NTT), Tingkilan Kota Raja (Kalimantan) dan Hawaiian Teluk Ambon (Maluku).

“Ini langkah awal. Keragaman ini tumbuh dan berkembang karena pertemuan berbagai  peradaban manusia selama ribuan tahun  di pelbagai belahan dunia,” urai Ahmad Mahendra selaku Direktur Jenderal Perfilman, Musik dan Media, Kemdikbudristek.

Nah, dengan dihelatnya IMEX di Bali telah membuka sebuah horizon musik baru di milenium ke tiga. “Karena itu, para pelaku world music di negara kita perlu mengambil sebuah posisi yang jelas dan kokoh dalam arena musik global,” timpal Franky Raden. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.